
Iblis mata satu sedang di sembah oleh ribuan para pengikutnya. Bulan suro adalah bulan panas namun bulan kemenangan bagi para penganut aliran hitam yang menyalakan kekuatannya semakin kuat. Sesajian di tepi laut selatan menjadi saksi para manusia sesat. Mereka hanya melihat garis besarnya saja meminta ilmu-ilmu atau keinginan lain dari dalam laut. Tidak semua manusia mengetahui apa-apa saja yang ada di dalam sana, berbagai jenis makhluk hidup bahkan yang tidak kasat mata.
Meskipun sudah menjadi bagian dari tanah yang paling di takuti dari seluruh negeri, masih banyak orang-orang yang meminta pada si penguasa laut selatan. “Apakah semua itu atas kehendak atau jawaban dari sang ratu?” tanya dayang Kumetra.
“Tidak, semua itu bukan seutuhnya balasan dari sang ratu. Di dalam lautan dunia ini ada banyak makhluk jin dan lainnya yang memanfaatkan kesempatan dari kekuasaan sang ratu” ucap ratu nagin.
Sosok ular penjaga lintas wilayah itu mengingat kesalahan di masa lalu sebelum dia menjadi pengikut setia sang ratu. Pernah dia ingin menguasai lautan, hingga menetaskan ribuan telur siluman. Dia di beri pengampunan dari sang ratu Selatan. Mendapat belas kasihan darinya, Nagin menyerahkan batu mustika ular hijau miliknya dan mengabdikan diri sepanjang hidupnya untuk sang ratu. Walau para pengikut iblis mata satu sering membisikkan godaan di telinganya.
“Engkau adalah penjaga wilayah Selatan yang terhormat, aku ucapkan terimakasih mau bertatap muka dan berbincang-bincang dengan ku. Dayang yang rendahan ini”ucap Kumetra menunduk.
“Hahah, sosok siluman yang di depan ku ini bukanlah dayang biasa. Dia bisa menundukkan hati penguasa ratu daratan pemangku bumi sehingga memilih mu menjadi kaki tangannya yang paling dekat”
Mereka berdua kini saling tertawa sambil memandang laut, menunggu tabib lautan utara dan selatan mengobati luka pada senopati Kuma. Dia hampir menjadi siluman vampir pengisap darah atau mayat hidup, jika tidak segera di tangani sang ratu Mangkubuana sebelumnya.
Hubungan kerjasama dan interaksi kedua penguasa ratu lautan dan daratan itu semakin terjalin erat. Hal itu mengakibatkan permusuhan, kedengkian ratu Lenggo geni si penguasa laut Barat. Di atas tahtanya dia mengerang tidak terima melihat sosok asal manusia itu bisa menguasai setengah lautan hingga mendapat kepercayaan penuh dari ratu selatan.
“Ini tidak bisa di biarkan! Manusia pemangku bumi itu seharusnya sudah mati!” teriak sang ratu.
__ADS_1
“Mohon bersabar yang mulia ratu, hamba akan mencari titik kelemahan wanita itu” ucap pendampingnya.
“Ya kau benar, siapa lagi kalau bukan mayat Alundra yang sisanya masih di makamkan di balik istananya. Ahahahh!”
Sisa tulang ekor milik sang putri yang terkutuk kini menjadi perebutan para siluman dan iblis. Banyak yang ingin mencurinya untuk di jadikan pemujaan, ilmu dan kini sebagai tawanan agar sang ratu pemangku bumi mau menuruti kemauannya.
Tepat di malam hari yang larut, sosok siluman hitam pengikut iblis mata satu di perintahkan ratu Lenggo geni untuk mengambil sisa tulangnya. Makam yang di lapisi kecubung dan cangkang mantra sang ratu itu pecah berhasil di tembus dari ilmu sang iblis.
“Ada penyusup!”
Bunyi sofar bersahutan di seluruh penjuru negeri, pasukan dari dalam laut selatan menyerang kerajaan siluman laut Barat yang memasuki gerbang istana Mangku buana. Sang ratu Diajeng memutar tongkat menggelarkan cemeti api hitam menebas setengah pasukan iblis.
“Gawat Yang mulia, pasukan ratu laut barat bekerjasama dengan pasukan iblis mata satu menyerang mangkubuana!” ucap Suga.
Dari atas langit, Garuda ikut berperang menghujani pasukan laut Barat dengan batu-batu raksasa yang dia cengkram. Sang ratu Diajeng mengangkat sinar ratu duyung dari dalam tubuhnya. Para penghuni lautan duyung berbondong –bondong naik ke daratan menarik kaki pasukan laut barat menggunakan kekuatan mereka.
Merampas sisa tulang milik Alundra, wanita tua penganut iblis mata satu dan ratu lautan Barat tertawa lalu menghilang di udara. Tulang itu di sembunyikan di segitiga Bermuda dekat kerajaan iblis mata satu. Dari Zaman ke zaman iblis tetaplah kekal abadi. Dia adalah makhluk penentang yang nyata. Kerajaannya tetap bersemayam di dalam lautan yang tidak dapat terdeteksi oleh siluman dan makhluk apapun di muka bumi.
__ADS_1
“Yang Mulia, kita tidak bisa ke segitiga Bermuda iblis mata satu. Hal itu sama saja mengantarkan nyawa kita sendiri. Mohon ratu mempertimbangkannya lagi mengingat rakyat yang membutuhkan kepemimpinan yang mulia” kata Suga menunduk.
“Hanya itu yang ku punya untuk mengenang anak ku Alundra!”
“Maaf yang mulia, jika tanah penguasa pemangku bumi dan lautan Utara di kuasai di tangan pemimpin yang salah maka akan menimbulkan mala petaka baru di tanah leluhur” ucap dayang Kumetra.
Memancing umpan agar masuk ke dalam perangkap. Di tengah pusara jebakan itu sudah menunggu ribuan bahkan jutaan pasukan untuk membunuh ratu Diajeng. Para pengikut setia sang ratu menghalangi kepergiannya menuju kesana.
“Jika ingin menemani sang ratu maka sangat mustahil tidak mengerahkan seluruh pasukan laut dan daratan. Belum ada satu bangsa jin atau siluman yang berani ke wilayah inti iblis mata satu” kata Senopati Kuma.
“Ratu, mohon beri kebijakan atas masalah ratu pemangku bumi” ucap nagin.
Di Singgahsana, sang ratu Selatan memikirkan cara pemecahan atas masalah ratu pemangku bumi. Tukang ekor milik putri Alundra ibarat sisa kutukan di dalam sisa peninggalan jasadnya yang tertinggal. Di dalam pikiran sang ratu adalah memberi pemahaman pada penguasa pemangku bumi agar mengikhlaskan sisa kutukan yang di tawan para iblis.
Ketidak ijinan ratu selatan pada ratu Diajeng menuju ke segitiga Bermuda menjadi bumerang di hatinya. Dia tau resiko jika menentang kehendak alam yang laut yang tidak biasanya campur tangan. Sang ratu hanya bisa berharap ada cara lain agar bisa memecahkan masalahnya.
“Jika dalam seratus hari dia tidak mengambil sisa milik anaknya maka aku akan meminta pada ibu ku agar membangkitkannya menggunakan ilmu iblis mata satu. Kita lihat bagaimana wajahnya menghadapi musuh yang tidak lain adalah anaknya sendiri. Ahahah!”
__ADS_1