
Di alam bawah sadar sang ratu Diajeng
“Arghhh!”
“Panas sekali! Tolong aku!”
“Hei kau manusia pendusta!”
“Sang ratu Mangkubuana, kembalikan tanah leluhur yang bersimbah darah ini!”
“Dimana hewan warisan leluhur untuk menjaga Buana? Kau tidak becus dan tidak pantas menjadi pewaris terakhir!”
...🔥...
Suara orang-orang yang bermandikan larva api yang sangat panas melelehkan kulit, daging mereka meleleh. Teriakan mereka merintih melontarkan kata-kata kasar melihatnya. Dia kembali berada di tempat yang sama. Di jembatan panjang di bawahnya terdapat lautan api. Setiap langkah sang ratu di iringi gumpalan asap hitam.
“Ibu! Ibu! Tolong aku!” panggilan bayi Alundra berada di dalam lahar api mendidih.
Dahulu di dalam mimpi, pertama kali berada di tempat itu dia sangat ketakutan hingga meraih tangan sosok makhluk halus agar dia menyelamatkannya. Kini sang ratu ingin masuk meleburkan diri ke dalam api demi menyelamatkan bayi Alundra.
Lautan api yang menyala itu seperti terpasang pembatas mistis sehingga saat kakinya menapak terasa berdiri di atas kaca bening yang tidak terlihat.
“Alundra!” teriak sang ratu.
Berusaha sekuat tenaga mengeluarkan kekuatannya. Sang bayi di telan larva api mendidih. Setelah melewati beberapa dekade tidak pernah menitihkan air mata, kini dia menangis berharap sang bayi dapat dia selamatkan. Sang rat uterus menerus memanggil sang bayi. Sampai teriakan dan tangisnya terbawa ke alam. Sang pengawal Suga mengetuk pintu memastikan apa yang terjadi dengan sang ratu.
__ADS_1
Tok,tok,tok.
“Yang mulia, apakah anda tidak apa-apa?” teriaknya dari luar pintu.
“Ya, aku tidak apa-apa. Kembalilah engkau beristirahat.”
Kehadiran sang bayi di dalam hidup sang ratu meluluhkan hatinya yang sempat membeku. Sang pengawal terkejut mendengar ucapan sang ratu. Dia memberi kabar pada para siluman dan dayang bahwa sang putri sudah di temukan. Mimpi sang ratu terasa nyata, dia menepisan genangan air matanya. Melihat sang bayi berada di sampingnya sang ratu membelai lembut wajahnya.
Dari kejauhan dia mendengar suara hentakan kaki kuda mendekati wilayahnya. Sang ratu menerbangkan sihir menutup ruangan kebesarannya. Kekuatan hitam yang tidak tertandingi memberi pelindung di dalam ruangan. Tidak ada yang bisa masuk bahkan mendekati. Peperangan pada malam itu di pimpin oleh sang raja Tumenggung. Dia memakai baju zirah yang terbuat dari besi putih. Bagitu pula semua peralatan perang pasukannya. Sihir-sihir di udara memberi kekuatan pada para pasukan siluman yang melemah terkena senjata besi putih.
Suara kesakitan, tembok pembatas hutan berhasil di hancurkan. Untung saja malam ini sang putri berada di dalam istana. Rumah milik si wanita tua di hancurkan oleh para pasukan. Seekor siluman terbunuh, perutnya tertusuk pedang besi putih. Siluman kelinci lain lari kocar-kacir ketakutan sedangkan dayang Ursa dan dayang kedua bersembunyi menghindari serangan.
Setengah pasukan tewas, para siluman tidak tahan menahan serangan dari senjata besi putih tajam. Si raja Tumenggung menggunakan peralatan perang menerbangkan bubuk mesiu di isi serbuk besi putih membobol benteng pertahanan istana.
Sang pengawal terjatuh, dia belum terkena sihir seperti lainnya. Hanya dia, penjaja istana dan kedua dayang pendamping yang berubah wujud menjadi siluman. Sang pengawal dan penjaga istana menyerang sang raja. Raja yang sudah berumur itu kekuatannya terlihat semakin kuat menyerang keduanya. Menyerang, memukul, membanting hingga keduanya sekarat di kalahkan oleh sang raja. Siluman gagak membawa mereka pergi ke atas perbukitan.
Perang mereda, kemenangan berpihak di tangan Mangkubuana. Aroma anyir tajam di bawa angin. Jejak kekalahan, rakyat yang di telan habis para makhluk yang tidak terkendali. Kerajaan Mangkubuana di kenal dengan kemistikannya.
“Ratu, kondisi sang penjaga istana dan pengawal pendamping terlihat kritis. Pedang yang menancap di tubuh mereka sulit di lepas” ucap sang siluman gagak.
Ratu Diajeng membalikkan tubuh ketika mendengar tangis sang bayi. Dia menuju ke kamar membuka kembali penutup sihir menggendong sang bayi. Wanita itu terlihat seperti seorang ibu yang amat menyayangi anaknya. Berdiri duduk di singgahsana, para perdana menteri istana melongo melihat kehadiran sang bayi.
“Menghadap ratu, buakan kah bayi itu sudah terkena kutukan?” tanya perdana menteri utama.
“Ratu bayi itu akan membawa musibah jika berlama-lama disini. Terlebih lagi kasus kematian pak Poh ada kaitannya dengan sang bayi” ucap penasehat istana.
__ADS_1
Sisa para kaki tangan pak Poh di habisi sang ratu meninggalkan jasad tanpa sepasang bola mata. Teriakan para perangkat istana histeris, mereka semua tidak berani berkutik atau melawan.
“Hari ini, aku nobatkan bayi Wanua ubun menjadi bayi Alundra Mangkubuana. Anak dari ratu Diajeng Mangkubuana. Siapapun yang berani menyentuhnya maka dia meminta kematian yang sangat dekat di pelupuk mata!” titah sang ratu.
“Baik yang Mulia!”
......................
Para dayang kembali ke istana, mereka menjadi dayang pendamping sang putri. Terkadang banyak gangguan makhluk halus hampir mencelakakannya. Mengadu pada sang ratu hanya akan membuat keduanya terkena amukan amarah merasa tidak becus mengurus sang putri.
Sihir mengobati pengawal dan penjaga istana tidak memberi efek apapun. Pedang itu selama berhari-hari masih tertanam di tubuh mereka.
“Argghh! Aku sudah tidak kuat lagi! Tolong bunuh saja aku dari pada menderita seperti ini!” keluh sang pengawal.
“Aku mohon beri aku minuman beracun. Tolong lepaskan aku dari rasa sakit ini!” kata sang penjaga istana.
“Suga, bertahanlah. Kau adalah pengawal pendamping ku yang paling terkuat. Aku akan menarik pedang kalian berdua!” bentak sang ratu.
Sihir-sihir yang di nyalakan tidak bisa mengobati mereka. Pedang besi hambar berbalik menyerang sang rati. Kini dia menggunakan kedua tangannya sendiri mecabut paksa pedang. Meski tangannya sudah melempuh, sang ratu tidak melepaskan tetap menarik sekuat-kuatnya.
“Hentikan ratu, tangan mu sudah terbakar. Bagaiamn engkau bisa melindungi alundara dan rakyat Buana?” ucap sang pengawal.
“Ibu!” panggil sang bayi di dalam gendongan siluman gagak.
Dia melepaskan pedang yang masih tertancap di tubuh keduanya. Meraih sang bayi sambil menahan rasa sakit. Dia berpikir ulang bagaimana menyelamatkan mereka. Sang bayi sudah kenal pengawal dan penjaga istana yang sering mengganggunya ketika dia menangis. Dia mengeliat, mengulurkan tangan minta di gendong. Sang ratu mendekatkan, tangan sang bayi Alundra menyentuh pedang itu. Keajaiban pun terjadi, pedang yang tersentuh berjatuhan. Darah bercucuran di tutup oleh sang ratu menggunakan sihir mustika bola hitam.
__ADS_1
“Arghhh!”