
"Hahah! Kau sangat antusias menyelamatkan anak yang sudah kau kutuk ini?” tanya sang raja menyerangnya menggunakan pedang yang terbuat dari besi putih.
“Menyelamatkan anak itu atau tidak, di masa depan kau tetap membunuhnya. Kau adalah pria gila melebihi hati setan! Cepat serahkan anak itu pada ku!”
Di luar istana, para pasukan di serang siluman Buana. SIhir-sihir hitam menghirup hawa murni hingga tubuh para pasukan mengering menjadi tengkorak. Sesepuh siluman pohon menyalakan sinar sumber kekuatan terbesar miliknya.
“Arghh!” teriak para pasukan.
Anak panah yang terbuat dari besi putih menghujani tubuhnya. Siluman gagak mengepak sayap melindungi agar sumber pohon penjaga terbesar wilayah Buana itu tetap selamat. Dia juga mencari Alundra sementara sang ratu berkelahi dengan sang raja.
Merasa terdesak, tubuhnya penuh luka-luka tetap bertahan menahan semua serangan. Sang raja menarik jebakan jaring besi raksasa, perangkap itu berhasil melemahkan kekuatan sang ratu. Si wanita tua tertawa terbahak-bahak. Dia menarik Alundra dari tempat yang dia sembunyikan.
“Ratu, serahkan tongkat mustika hitam itu jika kau tidak mau anak ini mati di tangan ku! Ahhaha” ucap si wanita tua.
“Ibu! hiks” teriak alundra.
Panggilan sang putri meluluhkan hatinya. Dia tidak mau anak itu terluka. Sang ratu menerbangkan tongkat miliknya ke tangan si wanita tua. Si wanita tua menerima tongkat itu lalu mendorong Alundra ke lantai. Semua tubuhnya terluka, dia menangis ketakutan di gendong sang ratu yang semakin melemah. Dia bersama Alundra di dalam perangkap besi putih.
Menggunakan sisa kekuatannya, sang ratu mengubah siluman gagak menjadi raksasa. Dia juga memberikan kekuatan sihir hitam ke tubuhnya. Berubah wujud menjadi hewan raksasa, siluman menarik perangkap besi putih menggunakan cakarnya.
Krak__
“Pasukan, cepat serang!” bentak sang raja.
Kekuatan sang ratu semakin melemah, perangkap jaring raksasa menyerap energinya. Dia tidak bisa berbuat apapun karena tongkat miliknya sudah di tangan si wanita tua.Alundra menangis sesenggukan, dia memeluk sang ratu minta keluar dari tempat itu.
Serangan sang raja Tumenggung akan membunuh mereka berdua. Siluman gagak menarik paksa jaring besi putih, dia menepis setiap serangan raja dan pasukan. Berusaha sekuat tenaga membantu sang ratu keluar dari istana Wanua Ubun.
__ADS_1
“Yang mulia ratu, cepat bawa keluar putri dari sini!”
Sang siluman menutupi gerakan sang ratu meskipun sekujur tubuhnya sudah dihujani anak panah dan senjata tajam yang terbuat dari besi putih. Di atas istana Wanua Ubun, dia meledakkan dirinya sendiri demi membantu semua siluman Buana keluar dari sana.
“Aku akan mengenang jasa mu siluman gagak” gumam sang ratu.
Dia masih bersembunyi di dalam hutan, jarak pertengahan istana dan hutan. Si penyihir mencoba menggunakan tongkat mustika hitam milik sang ratu. Tapi dia sudah mengucapkan mantra, menghentakkan tongkat ke tanah sebanyak tiga kali namun tongkat itu tidak mengeluarkan apapun.
“Makhluk kecil tunggu disini, aku akan segera kembali”
Sang ratu menitipkannya pada siluman kelinci. Dia terbang membawa pusara ombak laut mengambil kembali tongkat miliknya. Meniup hembusan sihir menggulung tubuh si wanita tua, menarik tongkat dari tangannya menggunakan gulungan air.
“Kembali kan kekuatan ku, kau tidak pantas memilikinya! Hiya!"
Sang ratu memecahkan tubuhnya di dalam air laut, dia terbang kembali menuju Alundra. Melihat kedatangan sang ratu, siluman kelinci meminta ijin untuk pergi. Sang ratu memperhatikan Alundra berdiri menatap istana Wanua Ubun, dia melihat sangat lama sampai sang ratu menggendongnya pergi. Perjalanan menyebrang laut, sang putri tertawa menatap burung-burung yang berterbangan.
“Siluman gagak sudah mati, semua demi menyelamatkan mu” gumam sang ratu.
Di dalam ruang kebesaran sang ratu mengobati semua luka di tubuhnya dan di tubuh sang putri. Dia mengingat kebencian sang raja pada anaknya sendiri.
Waktu buruk tidak pernah berhenti di lalui. Beberapa hari ini sang ratu tampak sibuk. Pagi-pagi sekali dia sudah pergi sebelum sang putri terbangun, dia kembali pada malam yang larut saat sang putri terlelap. Sampai pada suatu malam, sang putri berpura-pura tidur menunggu kepulangan sang ratu. Seperti biasa sang ratu pulang melihat Alundra sudah tertidur. Ruangan kebesaran itu di terangi lilin raksasa. Di bagian jendela yang berukuran besar, tirai di buka membentang memperlihatkan rembulan bersinar indah. Alundra berpura-pura menggeliat, dia memeluk tubuh ratu Diajeng yang terasa sangat dingin melebihi es yang membeku.
“Kenapa tubuh ibu dingin sekali?” gumamnya.
Usianya kini sudah menginjak enam belas tahun, dia tumbuh berkembang pesat di dalam istana musuh kedua orang tuanya. Alundra di urus dengan sangat baik disana. Segalanya di penuhi hingga kedua dayang penjaganya menua, tidak menjadikan sang putri meminta pengganti selain mereka. Di dalam istana yang megah itu, hanya beberapa dayang dan siluman saja yang dekat dengannya. Hingga kini dia bertanya di dalam benak kenapa banyak yang menjauhi dirinya.
Pagi ini sang putri bermain di halaman istana bersama para kelinci. Mereka tetap memainkan permainan petak umpet. Kali ini siluman kelinci Kila yang berjaga. Pada hitungan ketiga, dia mencari sang putri dan kawanan siluman lain.
__ADS_1
Siang bagai malam di langit Mangkubuana. Sihir hitam sang ratu melapisi membentuk sinar kemerahan yang menyala. Alundra mendongak ke atas, dia juga memperhatikan di sekeliling. Setelah dia dewasa baru menyadari semua keanehan itu.
Dia mendekati tembok pembatas raksasa berduri. Dia menyentuh dinding sihir itu berselang beberapa detik tembok hitam pecah menimbulkan gempa besar yang mengguncang tanah Buana. Retakan tanah terbuka lebar, para siluman kelinci menarik sang putri segera menghindari serpihan duri yang bertebaran.
“Celaka! Ratu pasti akan marah pada kita!” ucap siluman kelinci Kila.
“Biar aku saja yang menanggung semua ini, jangan beritahu siapapun kalau bukan aku yang menghancurkannya” ucap Priti.
Kekacauan itu di redam dengan sihir hitam sang ratu, tembok raksasa berduri berdiri seperti semula. Belum ada kekuatan yang bisa menandingi kekuatannya.
“Siapa yang sudah menghancurkan pembatas itu?”
“Hamba yang mulia ratu, maafkan lah kecerobohan hamba” ucap siluman kelinci Priti.
“Masukkan lah kau ke dalam api pemanggangan abadi!”
“Ibu! Tidak! Aku lah yang salah. Priti hanya mencoba membela dan menutupi kesalahan ku. Jangan hukum dia ibu” jawab Alundra.
“Bagaimana bisa makhluk kecil seperti mu bisa menghancurkan benteng raksasa itu?”
“Aku hanya menyentuhnya___”
Ratu Diajeng terbang menggulung pusara air ombak meninggalkan halaman istana. Di tempat lain, sang putri menangis melihat perubahan sikap sang ratu yang semakin dingin terhadapnya. Di dalam pelukan dayang pendamping, dia menangis hingga kedua matanya bengkak.
“Tuan putri jangan bersedih, sang ratu hanya sibuk menjaga istana seorang diri. Wilayah Mangkubuana sedang terancam serangan dari kerajaan luar.”
“Tidak Kumetra, aku merasa ibu tidak menyayangi ku lagi. Hiks.”
__ADS_1