Dark Autumn

Dark Autumn
01. Home


__ADS_3

Dedaunan yang mulai menguning, udara yang dingin seolah menggigit sampai tulang belulang akan datang.


Jika saja diberi kesempatan untuk memilih, dia tak mungkin mau ikut kesana. Ketempat dimana hanya dikelilingi oleh pepohonan yang menjulang tinggi; Pinus dan Akasia. Keduanya bersinergi, membuat suasana alam begitu terasa.


Menghirup udara dari cela kaca jendela mobil yang ia turunkan beberapa centi, terasa sejuk dan juga alami. Tidak ada asap kendaraan yang menyesakkan disana. Harusnya dia akan betah tinggal ditempat diam seperti ini.


Netranya mendapati sekelompok rusa liar dan kelinci yang kembali berlari masuk hutan dan bersembunyi dibalik batang pohon yang sungguh tak terkira besarnya. Namun senyuman ia sematkan saat mendapati pemandangan langka tersebut. Pemandangan yang sama sekali tak pernah ia dapati di hiruk-pikuk nya kota tempat tinggalnya dulu.


"Kau suka pemandangannya Lea? "


Gadis itu menjauhkan dagunya dari telapak yang beberapa saat lalu sudah menopangnya. Merotasikan kedua manik hazelnya pada sumber suara; sang ibu.


Kemudian hanya mengangguk samar, sembari kembali melihat keluar jendela kaca hitam pekat mobil yang kini sudah memasuki sebuah perbatasan desa. Semakin membawanya masuk ke jantung tempat yang berliku, menanjak, dan bahkan menurun dengan beberapa jurang yang sudah terlewati.


Terlihat pula bebatuan yang tersusun rapi di bahu jalan. Sepertinya alami, bukan buatan manusia. Iya, mustahil. Karena bebatuan itu cukup besar untuk diangkat bahkan oleh beberapa orang.


Jemarinya kembali menilik persegi pintar yang kini menampakkan sebuah informasi disana. Woody Hill, desa terpencil dengan jumlah penduduk lebih sedikit dari wilayah lain yang berada diwilayah yang sama.


Sebuah Desa yang terkenal dengan kutukannya, memiliki wilayah hutan terluas dan juga misteri yang belum bisa dipecahkan oleh siapapun.


Benarkah? Desa terkutuk?


Dia bahkan tersenyum tipis dengan sedikit seringaian tak percaya atas berita yang sedang ia cerna dalam otaknya tersebut.


Dia pikir, tempat itu akan sangat nyaman dan cocok untuk pekerjaannya saat ini. Menjadi seorang penulis nyatanya lebih membutuhkan ketenangan dan juga kenyamanan, serta konsentrasi yang tinggi, dan dia berfikir tempat barunya itu sangat cocok untuknya.


Akan tetapi setelah membaca berita tersebut, rasa ingin kembali kekota semakin menguat. Disepanjang perjalanan menuju rumah barunya, hanya terlihat beberapa hunian yang berdiri diantara belukar. Tidak ada suara berisik segerombolan anak muda yang sedang berjalan sambil tertawa lepas, tidak ada bunyi klakson yang saling bersahutan. Hanya ada suara desiran angin yang meniup dedaunan pada tangkai pohon, memaksa mereka untuk segara memisahkan diri dari sana--- sunyi.


"Kau akan berfikir tenang dan bisa menyelesaikan tulisanmu sayang... "


Sebenarnya bukan hanya itu alasan mereka untuk pindah ke tempat berkabut meskipun waktu masih menunjukkan pukul empat sore tersebut. Hilea mengangguk pelan sembari tersenyum dengan kedua hazel menyipit.


"Aku akan berusaha sebaik mungkin Mom!"


Satu bangunan rumah,


Dua bangunan rumah,


Tiga bangunan rumah,

__ADS_1


Menghitung, bahkan mengamati. Seperti itulah dia mengatasi kebosanan saat menuju tempat tinggal baru mereka. Tidak ada yang berbeda juga, jaraknya terlampau jauh untuk mencapai dinding tetangga.


Hingga kini terlihat sebuah bangunan sedikit mewah; berbeda dengan bangunan yang ia lihat sebelumnya. Dilindungi oleh tembok berwarna coklat tua yang mengelilingi setiap sudut. Sang ayah turun dan membuka pintu gerbang.


Dan akhirnya, untuk pertama kalinya dia menapakkan kakinya pada halaman rumah yang terlihat luas dan Indah. Ada beberapa tanaman hias dan bunga-bunga berwarna-warni masih bermekaran. Disebelah kiri tak jauh dari taman bunga ada sebuah kolam ikan; sepertinya itu milik sang ayah. Dan juga sebuah air mancur tepat didepan kanopi rumah. Luar biasa.


Dia bahkan sempat tak percaya jika tempat tinggal barunya tersebut merupakan sebuah hunian yang begitu besar dan terlihat sedikit mewah.


Benar-benar diluar dugaan.


Tapi yang membuatnya semakin bertanya-tanya dan bingung, disaat semua rumah jaraknya sangat berjauhan, mengapa justru rumahnya bersebelahan tepat dengan sebuah tempat tinggal yang terlihat jauh lebih mewah dari rumah keluarganya. Hanya saja ada sebuah aliran sungai yang terlihat memisah jarak mereka, tadi.


"Mom... "


Sang ibu segera meluncurkan tatapan penuh kasihnya pada Putri semata wayangnya itu.


"Aku takut berada di sini! Aku ingin kembali kekota saja! "


"Lea, dengarkan Mommy! Daddy mu sudah berusaha keras dan mengorek semua tabungannya untuk membangun rumah ini! Jadi jangan membuat daddy mu kecewa! Okey?! Percayalah pada Mommy, kau akan betah disini! "


"Tapi aku takut Mom... "


Gadis itu mendongak resah, dia tak ingin masuk kedalam. Saat melempar pandangan kearah lain, ia dapati sang ayah yang sudah menutup kembali pagar rumah berjalan hendak masuk kedalam juga. Suhu udaranya terasa lebih dingin dari sebelumnya.


"Kenapa tidak masuk baby?! Ayo kita lihat rumah baru kita?! " Ajaknya penuh afeksi dan meraih lengan putrinya itu untuk ia bawa kedalam rumah.


"Dad, aku masih ingin melihat-lihat diluar! Nanti aku akan menyusul! "


"Okey, jangan terlalu lama! Suhunya mulai menurun! Daddy punya penghangat ruangan yang kau idamkan selama ini! " sahutnya sembari menautkan poni sang gadis dibalik cuping telinga bertindik dengan anting kecil berbentuk bulat berwarna emas.


"Eummm... " jawabnya lembut disertai senyuman tipis pada birai ranumnya.


Ayahnya memasuki rumah, namun Lea membawa langkahnya menuju taman bunga yang menarik perhatiannya.


Dia berhenti dan mensejajarkan diri diantara bunga-bunga tersebut, mengagumi ciptaan Tuhan yang Indah itu. Lea suka membuat fantasi tentang apa yang dilihatnya, dan kemudian menuangkannya kedalam tulisan yang sudah berhasil ia bukukan beberapa waktu lalu.


Dia kembali bangkit, mendongak untuk menangkap presensi pepohonan yang menjulang tinggi, mengitari setiap lingkup dengan kedua hazelnya. Semua sama, pepohonan yang rindang dan jauh lebih tinggi dari apapun. Seolah menunjukkan kekuasaannya.


Namun kini netranya teralihkan pada sebuah bangku bercat putih, membawa dirinya untuk duduk dan mengeluarkan persegi pintar yang ukurannya lebih besar dari yang sebelumnya; gadget.

__ADS_1


Jemarinya menari diatas layar yang berpendar, mendeskripsikan sesuatu dan menulisnya didalam cerita yabg sedang ia kerjakan. Penuh afeksi dan juga konsentrasi.


Alih-alih merasa dingin karena suhu yang semakin memintir nadi, dia malah meremang karena merasa seseorang sedang menatapnya dari jauh, entah apa. Hanya suara desir angin, suara derit ranting yang bergesekan, dan suara hewan tonggeret yang bersuling nyaring; membuat bulu kudu merinding--- takut.


Aroma gunung yang ia sesap nampaknya bekerja baik didalam paru-parunya. Buktinya dia terlihat kembali tenang setelah merasa takut saat diluar tadi.


Nampaknya, kedua orang tuanya sedang membicarakan sesuatu di ruang utama. Terlihat serius, namun terhenti kala mendapati kehadirannya yang berjarak hanya beberapa meter.


"Lanjutkan saja perbincangan kalian!" tungkasnya dengan wajah tanpa ekspresi.


"Dimana kamarku Mommy? Aku ingin beristirahat!" lanjutnya, membuat sang ibu berdiri dan meraih lengannya. Kemudian membawanya untuk menaiki anakan tangga yang akan membawa mereka menuju ke sebuah lantai atas.


Ternyata, diatas sana terdapat sebuah ruangan yang terlihat dibangun khusus. Pintu kamarnya dari kayu tebal berwarna coklat tua.


Aroma cat dan perabot baru menyambut Indra penciumannya saat sang ibu membuka bilah tebal itu. Menelisik setiap sudut ruangan bercat krem dengan tirai dua lapis berwarna putih tulang dan coklat tua, sama seperti warna pintu tadi.


"Kau suka design kamarnya sayang? Mommy dan Daddy yang memilihkannya untukmu! "


"Eumm... "


Lea lantas memandang pada sosok ibu yang menyematkan senyuman hangat, sekedar membuat sebuah ekspresi untuk mengucapkan kata terima kasih.


"Thanks Mom, I Love You... "


"Mommy juga sayang padamu! "


-


Seperginya sang ibu dari dalam bilik pribadinya, Lea mulai memeta satu persatu isi ruangan. Sebuah ranjang empuk berukuran King size, sebuah meja rias, disampingnya ada meja lain dengan komputer keluaran terbaru dari sebuah brand ternama.


Dan yang menarik perhatiannya saat ini, sebuah pintu geser yang terbuat dari bentangan kaca, tebalnya sekitar sepuluh centimeter yang akan membawanya menuju balkon. Dia mendapat pemandangan menakjubkan disana. Netranya membola takjub dengan birai setengah terbuka karena kagum.


"Uwaaah... Luar biasa... "


Sebuah air terjun yang berada dalam jarak pandang tidak terlalu dekat namun masih jelas bisa dinikmati keindahannya. Angin berhembus perlahan, menyapa wajah cantik dengan lesung pipit dikedua sisi pipinya. Kabut yang menyelimuti area itu cukup tebal memberi kesan sedikit manakutkan namun tak dipungkiri mengagumkan juga.


Satu hal yang membuatnya terkejut lagi, tepat saat ia merotasikan pandangan pada bangunan di sebelah rumahnya.


Seorang pemuda tampan menatapnya dari balik jendela kamarnya. Tatapannya lurus, tak berekspresi, dan....

__ADS_1


tak tetartikan. []


__ADS_2