
Saat kembali dari membeli obat, Val tidak serta merta kembali kerumah. Dia berhenti pada salah satu jembatan yang menjadi pembatas antara dunia luar dan desa yang ada didalam bentangan hutan tempat mereka tinggal.
Val keluar dari mobil, diikuti Lea setelahnya. Berdiri tepat diatas jembatan yang menampakkan alam begitu Indah. Sebuah air terjun yang dikelilingi berbagai macam tumbuhan tinggi dan besar disekitarnya, dapat disaksikan langsung didepan mata. Lea menyesal mengapa sudah berbulan-bulan tinggal di hutan dan baru sekarang melihat pemandangan Indah tersebut.
"Indah bukan? " tanya Val membuyarkan rasa kagum Lea terhadap pemandangan alam dihadapannya.
"Eummm...! Aku menyesal baru melihatnya sekarang! "
"Kau bisa meminta padaku untuk mengantarmu ketempat yang jauh lebih indah jika kau menginginkannya! "
Mendadak, Lea merasa penasaran seperti apa tempat yang sedang dibicarakan Val.
"Benarkah?! Beri aku pandangan seperti apa tempat yang kau maksud! "
Val kini melihat kearah Lea yang juga sedang menautkan kedua manik padanya. Memberikan senyuman lembut berikut usapan lembut pada pipi Lea yang merona karena dingin.
"Banyak! Kau mau yang seperti apa? "
"Jangan bercanda! Tidak ada tempat yang seperti itu! "
"Kau tidak percaya? "
Lea menganggukkan kepala sebagai jawaban. Tiba-tiba Val mengulurkan telapak tangannya, meminta Lea untuk meletakkan telapak kecil diatas miliknya. Tak kunjung menyulurkan tangan, Val memiringkan sedikit kepala sambil melirik pada telapak yang sudah terbuka sebagai isyarat agar Lea segera melakukannya.
Lea berdecih remeh, menganggap semua hanya bualan.
Akan tetapi ada satu hal yang Lea lupakan dari seorang Val, bahwa Val bukanlah manusia seperti dirinya. Tidak, lebih tepatnya dia pura-pura lupa akan itu.
"Pejamkan matamu, percayakan dirimu padaku! Kau akan melihat tempat yang Indah saat membuka mata!"
Lea menyanggupi, meletakkan telapak kecilnya diatas telapak Val. Memejam seperti yang sudah di instruksikan Val, namun sedetik kemudian Lea merasakan sesuatu menyapa birainya.
"Jangan membuka mata sebelum aku menyuruhmu!"
Lea menahan diri, membiarkan Val merasai bibir ranum itu beberapa saat. Hingga pada detik selanjutnya, Val menyudahi, menarik diri dan masih melihat bibir Lea yang merona.
__ADS_1
"Kau boleh membuka matamu sekarang!"
Perlahan, dengan penuh kehati-hatian Lea membuka maniknya. Buram, namum perlahan menampilkan sebuah pemandangan di luar batas wajar.
Bentangan bunga berwarna-warni membentuk savana yang indah. Terlihat sebuah telaga dengan air sewarna daun dikejauhan, beberapa pohon akasia tumbuh diantara rindangnya bunga yang bermekaran. Lea ternganga, bibirnya tak berhenti membentuk kurva huruf O.
"Ini ilusi buatanmu bukan?" tanya Lea memastikan.
Val hanya mengedikkan bahu. Tak serta merta memberikan jawaban, membuat Lea mengerutkan dahi kesal.
Dress panjang yang dikenakan Lea perlahan menyapu bunga yang mengelilingi dirinya, menyapukan telapak pada bagian bunga setinggi pinggang orang dewasa itu perlahan. Senyuman mengembang di bibir Lea, dia bahkan tak pernah melihat tempat seindah ini didunia nyata.
"Kau suka?" teriak Val dikejauhan, menarik atensi Lea guna memberikan tanggapan. Lea mengangguk, masih dengan senyuman kagum dan bahagia yang tersemat nyaman dibibirnya.
Val berlari mendekat, meraih telapak Lea untuk ia genggam dan ia ajak berlari menuju telaga.
Rona diwajahnya tak dapat Lea sembunyikan lagi, sekarang, dia begitu bahagia bersama Val. Didunia indah yang diciptakan oleh pria yang perlahan menyentuh celah hati yang sebelumnya tertutup rapat.
Nafas mereka terengah kala raga mereka berhenti ditepian telaga yang berair jernih. Ada beberapa teratai yang tumbuh mengapung ditelaga itu.
"Bagaimana kau bisa menciptakan ilusi seindah ini?"
"Ini bukan ilusi Lea! Ini nyata!"
Lea menoleh seketika, manik hazelnya bersirobok dengan manik biru safir sang dominan. Tak percaya.
"Ini memang ada di dunia kami! Dan kau adalah manusia pertama yang datang kesini!"
Lea kembali mengedarkan pandangan, merasa istimewa setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Val. Namun, tetap tak ingin berbesar kepala begitu saja. Bisa saja Val hanya membual agar dia terkesima.
"Kau adalah wanita pertama yang aku ajak ketempat dimana aku dilahirkan!" ucapnya sambil meraih pinggang kecil Lea untuk ia lingkari dengan kedua lengan, berhasil membawa Lea dalam sensasi kejut yang luar biasa.
Val meletakkan dagunya di pucuk kepala Lea, membuat jantung gadis itu berdegup semakin kencang. Ternyata Val seromantis ini.
"Jadi kau dilahirkan disini?"
__ADS_1
"Lebih tepatnya, nana menemukan aku disini!"
Apa? Apa lagi ini? Apa yang sedang ia katakan?
Pertanyaan itu berputar cepat di dalam kepala Lea.
"Orang tuaku membuangku disini, dan nana menemukan diriku dalam keadaan sekarat, lalu membawaku kehadapan Henny!"
Henny? Lagi-lagi wanita itu!
"Jika tidak, aku pasti sudah tidak lagi ada didunia ini?"
"Lalu siapa Henny?"
Val diam sejenak, menjauhkan diri dari Lea. Kemudian berdiri membelakangi Lea dan menarik kerah baju yang ia kenakan hingga memperlihatkan sebuah tanda bunga yang sama dengan milik Lea, namun, ukurannya sedikit lebih besar.
"Dia adalah pemilikku! Pemilik Woody Hill, dan seluruh darah keturunan Abel, yang tak lain adalah, pemilik ayahmu!"[]
•
•
Teruntuk yang masih membaca cerita ini,
Maaf Vi's lama updatenya... 😥
Tapi, Vi's masih tetap akan melanjutkan sampai ending kok! Jangan sampai ketinggalan untuk menyediakan tissu di samping kalian saat membaca Dark Autumn,
Canda...
Terima kasih sekali lagi masih mau mampir, membaca, ataupun yang menunggu update-an yang lama. Tinggalkan jejak jika berkenan, karena hanya dukungan kalian yang bisa membuat Vi's tetap bersemangat. 😉
Salam Hati Warna Ungu,
💜💜💜
__ADS_1
Vizca.