Dark Autumn

Dark Autumn
06. Hope


__ADS_3

Sesuatu, jika dipaksakan itu akan menjadi sebuah beban. Beban berat yang mendominasi semua sistem kerja tubuh, berusaha keras menerima namun semua itu ditolak percuma.


Tak bisa diterima meski sudah menyakiti beberapa bagian rapuh didalam diri seseorang, benar-benar menyakitkan. Bahkan lebih menyakitkan dari sebuah usaha mengakhiri hidup sendiri.


Suara derap langkah terdengar semakin mendekat, rambut panjang yang diikat kemudian digulung. Hidung mancung, netra dengan bulu mata lentik, alis tegas namun membentuk bulan sabit sempurna, kulitseputih salju. Paras ayu nya benar-benar sempurna.


"Papa... " Sapa Lea memecah keheningan suhu hangat kamar.


John sedang duduk disebuah sofa panjang didalam kamar yang menghadap kearah taman samping rumah. Bunganya masih bermekaran, membuat kagum setiap mata yang memandang.


Pria itu hanya menoleh searah jam tiga. Kemudian kembali menatap pada taman dan menautkan tatapannya pada sebuah Mawar merah yang masih kuncup.


Lea membawa bantalan duduknya di sofa yang sama dengan sang ayah, kemudian melingkarkan kedua lengannya pada pinggang dan menyandarkan kepalanya pada bahu beraroma harum yang sangat ia sukai.


Tidak ada conversasi beberapa saat, hingga rintik hujan mulai turun. Seolah mewakili suasana hati pria itu.


"Sekarang katakan apa yang harus papa lakukan?! "


Suaranya serak, intonasinya begitu sendu, tatapannya kosong; putus asa. Lea tak melepas pelukannya dan tetap bersandar sembari tersenyum getir.


"Tidak ada! Papa hanya perlu hadir dan memberi restu di hari itu! "

__ADS_1


"Kau tau apa akibat dari keputusanmu itu? "


Sebenarnya Lea tak tau apapun yang akan terjadi karena dia bukan cenayang yang bisa meramal dan melihat masa depan dengan mudah. Tapi dia punya keyakinan jika keputusannya itu adalah jalan yang terbaik, meskipun itu hanyalah sebuah omong kosong.


Omong kosong yang tercipta diatas sebuah kesepakatan konyol, Lea membenamkan wajahnya pada lengan sang ayah.


"Aku akan baik-baik saja papa...! "


Terlihat wajah pria itu penuh sesal.


"Andai saja papa menceritakan hal ini lebih awal, dan papa tidak membawamu kesini... pasti semua ini tidak akan terjadi!"


Lae mengangguk perlahan, kendati demikian menahan tangis mati-matian mungkin jalan yang terbaik. Mencoba tegar dan menerima mungkin alasan yang tepat untuk menguatkan diri.


"Lea akan baik-baik saja pa, jadi papa jangan pernah menyalahkan diri sendiri seperti ini! Ini keputusan Lea! Percayakan semua pada Lea, dan jangan pernah menceritakan hal ini pada mama! Lea tidak ingin mama khawatir! "


🍁🍁🍁


"Menikah dan berikan aku keturunan yang akan mengangkat kutukan itu! "


Lea terbelalak, menghentikan langkahnya yang sudah hampir mencapai ambang pintu. Pendaran cahaya seolah lenyap, binarnya mulai memburam. Tubuhnya bergetar, jemarinya mengepal kuat pada kedua sisi.

__ADS_1


Sial!!


Gadis berbalut dress berwarna peach itu berbalik dan mendapati wajah serius Val yang sedang menatap padanya.


"Cuma itu?? " tantangnya, kemudian menyahut kembali. "Aku akan memberimu banyak!"


"Aku hanya butuh satu!"


Lea terkekeh dalam gundah, entah apa yang mendorongnya untuk tertawa seperti cicitan tikus itu. Tapi jujur hatinya tergores. Pemuda itu ingin menikahinya hanya untuk menghapus kutukan yang selama ini membebat diri dan kelompoknya. Egois sekali.


"Kenapa? Bukankah banyak akan lebih baik! Semua akan terbebas dari kutukan sialan itu!! " ujarnya sembari mengusap kasar satu tetesan air mata yang melesat tanpa aba-aba dan membasahi pipinya.


Val berdiri, mungkin yang ada dalam fikirannya saat ini hanyalah rasa ingin segera mengakhiri semua kesialan yang mengitari hidupnya. Namun melihat gadis itu tersedu, Val malah menariknya kedalam pelukan yang mungkin akan membuat gadis itu menggigil. Mengusap perlahan surai yang diikat tinggi dan menampilkan leher jenjang pualam.


"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang! Tapi kau perlu tau, sesuatu akan terjadi padamu setelah melahirkan anak pertama kita nanti! "


Lea menghentikan tangisnya, tak membalas pelukan dingin Val. Hanya menghirup aroma Chamomile yang menguar dari tubuh pemuda itu. Harum yang menenangkan, dan juga membuat Indra penciuman Lea semakin meminta lebih lama menikmati.


"Apa aku akan mati? "


Val sukses bungkam, tak ada yang bisa ia jelaskan kendati semua yang menjadi rahasia haruslah disimpan rapat. Benar begitu bukan? Matanya memejam merasakan sensasi lain yang tidak pernah ia rasakan pada raga matinya selama ini--- Hangat.

__ADS_1


Val menarik dirinya sendiri kemudian menatap Lea yang masih tertunduk, menahan letupan emosi barang kali.


"Kau tau makna sebuah pengorbanan?! " seru Val tiba-tiba. "Kau akan hidup dalam damai..."[]


__ADS_2