
Udara dingin dan lembab memenuhi ruangan. Diluar, cahaya bulan bersinar cukup samar dalam Purnama. Val berjalan dengan langkah lelah dan hancur.
Jika saja ia tau kehidupan yang ia jalani harus seperti ini, ia akan sangat bersyukur saat orang tuanya dulu membuangnya ditelaga tanpa seorangpun yang akan menemukan—mati. Namun semua tidak seperti itu, setelah meregang nyawa, kini ia hidup dalam lingkup yang lebih mengerikan dari sebuah kematian.
Entah mengapa, lorong yang ia tapaki saat ini terasa lebih dingin dari permukaan kulitnya. Lebih menakutkan dari dongeng yang dulu selalu dibacakan oleh Nana untuknya saat masih kecil.
Dan sialnya, saat berhasil membuka daun pintu kamar yang ia tempati bersama Lea, dia menemukan gadis itu duduk ditepian ranjang dengan perasaan yang terlihat kacau dan hancur.
Val dengan cepat menutup pintu dan hendak menghampiri dimana posisi Lea saat ini berada. Namun, langkahnya terhenti kala Lea mengapungkan lengan diudara. Memberi isyarat pada Val untuk tak mendekat. Seketika langkah lebar itu terhenti, stagnan dengan pupil mata berdenyar diantara temaram. Wajah kuyu itu berubah menegang.
Surai yang terjuntai berantakan, terlihat kilatan airmata yang tertahan dari manik Lea, dan juga gaun tidur panjang yang terlihat berantakan dan kotor. Val dirundung rasa takut yang amat sangat.
"Le—" tuturnya sambil mencoba menambah jumlah langkah untuk memangkas jarak diantara mereka.
"Berhenti kataku!" ujar Lea dengan nada datar.
Mendadak, senyap menyelubungi ruangan luas itu. Val yang diam, dan Lea yang mencoba menahan semua gemuruh amarah yang kapan saja siap meledak tak terkendali.
"Cukup jawab saja pertanyaan yang aku utarakan!"
Val menatap dengan raut tak terartikan, semua bergumul menjadi satu saat mendengar samar Lea menarik nafas lemah.
"Apa hubunganmu dengan Henny?"
Val terkekeh, menertawakan dirinya sendiri yang bahkan tidak lucu. Bodoh, dia merasa dirinya benar-benar bodoh.
"Kau tidak akan percaya jika aku mengatakannya!"
__ADS_1
"Katakan saja!" sahut Lea datar. Dia sudah kehilangan separuh kendali dirinya, namun mencoba untuk tetap meredamnya.
Hati Val mencelos.
"Kau pasti sudah melihatnya!"
"Tidak! Aku hanya mendengarnya! Jadi beri penjelasan padaku!"
Val tidak tau dia harus mengatakan apa. Semua itu adalah aib yang ia ubah menjadi sebuah rahasia.
"Henny, adalah pemilikku!" jawabnya singkat.
"Jadi, maksudmu, kau juga miliknya saat diatas ranjang?" ucap Lea dengan denyut sakit yang mengerikan.
Lea mengusap kasar wajahnya yang berantakan saat menyaksikan anggukan dari Val. Menatap langit-langit kamar untuk menahan airmatanya.
"Hanya itu cara satu-satunya agar aku bisa bertahan hidup!"
"Aku tidak akan memaksamu tinggal, jika setelah tau semua ini, kau ingin meninggalkan aku! Kau bebas pergi dari sini jika kau mau!"
Lea memiringkan kepalanya memperdalam tautan mata pada sosok Val.
"Tapi satu hal yang perlu kau tau, Henny tidak akan melepas dirimu semudah yang kau pikirkan!"
Lea tersenyum miris. "Lalu kenapa? Apa bedanya jika aku hidup atau mati?"
Val tercengang, tatapannya berubah sendu saat mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Lea.
__ADS_1
"Aku tau jika harus berakhir sebagai penebus, tapi—" Lea menjeda sejenak demi memangkas jarak dengan Val. "—tidakkah lebih baik kau mengatakannya lebih awal!" bisiknya tepat di hadapan wajah Val.
Jemari Val terkepal sempurna saat hangat nafas Lea menyapa wajah dan remangnya.
"Agar tidak melukai hatiku sesakit ini!" lanjutnya masih mematri pandangan pada manik biru safir milik Vallen.
Sesaat kemudian, Lea melangkah mundur. Kaki tanpa alas dan kotor akan percikan tanah basah terseret diatas lantai, gontai, hingga terhuyung dan jatuh kembali diatas tepian ranjang.
"Maaf..." tutur Val pelan sekali, nyaris seperti sebuah bisikan.
Lea menggeleng, tidak ada yang perlu dimaafkan menurut Lea. Sebab semua sudah begitu terlambat, dan menyakitkan. "Tidak perlu meminta maaf! Semua sudah berjalan sebagaimana semestinya! Seperti yang kalian semua inginkan!" tuturnya sembilu.
Keduanya diam sesaat, hanya saling memandang satu sama lain dalam kehancuran yang tau-tau sudah berdiri dengan pondasi kokoh, dan siap dibangun untuk semakin menjulang tinggi.
"Kembalilah pada ayahmu! Hanya itu satu-satunya cara agar dirimu dan calon anak kita selamat!"
Lea tersenyum miring, "Anak kita? Bahkan kita melakukan itu tanpa didasari rasa Cinta!"
Val kembali dikejutkan oleh kalimat pedas yang terlontar dari bibir Lea. Val terbelalak dengan manik biru safir yang meredup.
"Jika kau menghadirkan anak ini hanya sebagai penebus kutukan kalian—" Lea menjeda, tersedak saliva yang tiba-tiba turun melewati kerongkongan. "—dengan senang hati aku menggantikan posisinya!"
"Tidak! Aku akan melindungi kalian berdua!"
"Melindungi? Kau bahkan menjadi budak—"
"Aku akan melakukannya!" sahut Val cepat. "Melindungi kalian meskipun pada akhirnya harus kehilangan diriku sendiri!"
__ADS_1
Entah mengapa, Lea tidak rela mendengar itu.
"Jadi aku mohon sekali lagi, untuk yang terakhir kali, padamu! Bertahanlah bersamaku setelah tau semua hal yang memalukan ini! Aku mohon bertahanlah..."[]