Dark Autumn

Dark Autumn
16. The Reasons *2


__ADS_3

Val masih belum bisa berhenti. Katakan saja ini sebuah hukuman untuk dirinya. Val tidak tau jika kutukan itu semakin menyakitkan dengan adanya sesuatu yang memaksanya untuk melakukan hal yang sama sekali tidak dia inginkan.


Dan untuk kesekian kalinya Henny mendesahkan namanya. Wanita itu benar-benar tak melepaskan dirinya hanya dalam sekali.


Gila. Ini benar-benar sudah tidak masuk di akal, tapi Val tak bisa berbuat apapun. Semua bergantung pada dirinya. Dia bahkan bersumpah tidak akan memaafkan dirinya jika sampai Lea tau akan hal ini.


Keduanya terengah dibalik selimut tebal yang masih dipenuhi sisa-sisa bunga Mawar yang sudah hancur.


Val bangun dari tidurnya dan meraih pakaian serta mengenakannya kembali.


"Kau sudah akan kembali? Diluar masih hujan, dan wajahmu masih terlihat sangat kelelahan!" tutur Henny disertai sebuah seringaian. "Kau mau menemuinya dengan wajah seperti itu?"


Val melihat pada jam dinding yang selama ini menjadi saksi kegilaan ini. Pukul satu dini hari.


"Tak masalah! Dia pasti sedang tidur! " timpalnya sambil mengikat tali samping bathrobe nya.


Val telah menyelesaikan berpakaiannya dan bergegas meraih kenop pintu, berbalik sekali lagi untuk menautkan pandangannya pada Henny.

__ADS_1


"Jangan pernah menyentuh Lea! Atau kau berhadapan denganku! "


Val pergi, kedua kakinya yang masih bergetar ia paksa untuk melewati derasnya hujan yang masih membasahi bumi.


Hingga sampailah dia didepan kamar pribadi dimana Lea mungkin sedang terlelap didalam sana.


Dengan baju yang sedikit basah dan wajah serta surai yang berantakan, Val masuk kedalam bilik. Kedua matanya terbelalak saat tak mendapati Lea disana. Hampir saja dia kembali berlari keluar jika saja dia tak melihat presensi Lea keluar dari bilik kamar mandi.


Netra biru safirnya bertemu dengan hazel Lea. Ekspresi wanitanya itu sungguh datar, mungkin dia mengantuk. Pikir Val.


Hanya itu yang ia dapati disana. Ia lihat Lea kembali menuju ranjang dan menaikkan selimutnya kembali tanpa berkata apapun dalam tiga detik selanjutnya.


"Kau membohongiku bukan? "


Hanya itu, tak ada lagi yang Lea katakan. Val sempat terkejut dan menganggap mungkin saja Lea sedang berbicara dalam mimpi; mengigau, sebab Lea tak bergerak sedikitpun atau melihat padanya saat bicara.


Val bergegas masuk kekamar mandi seperti yang sudah ia rencanakan. Memakan waktu sepuluh menit berada didalam sana, dan itu adalah waktu yang paling cepat dalam catatan Val saat berada didalam sana.

__ADS_1


Bergegas kembali merebahkan diri, Val membelakangi Lea. Mencoba memejam namun semakin terbuka lebar kala Lea menyambung kalimatnya yang beberapa menit lalu ia jeda.


"Ada banyak dari ribuan kebohongan didunia ini, tapi mengapa harus dia? "


Val terbelalak menyedari Lea belum terpejam. Berusaha tetap tenang, berbalik menangkap presensi Lea yang saat ini terlihat hancur.


"Apa maksudmu? "


Tersenyum sarkas, Lea menitihkan airmata. Dirinya saat ini jauh dari kata baik-baik saja.


"Kau berbicara seolah tidak ada apapun yang terjadi! " sarkas Lea tajam.


Lea membuka selimutnya dan memperlihatkan tanda pada pergelangan tangannya. Berwarna merah dengan sedikit kilat menyerupai api, kulit pualam Lea turut merona karena rasa panas dan sakit yang timbul.


Val bangkit, meraih telapak Lea dengan paksa dan memperhatikan lamat tanda tersebut. Lea mendesis menahan rasa sakit.


Val tau betul, tanda tersebut berpendar mungkin karena dirinya melakukan penghianatan pada pemilik tanda yang tak lain adalah Lea.

__ADS_1


"Katakan padaku, kapan tanda ini akan hilang?! " Lea menjeda, memilih mengusap airmatanya dan kembali berucap. "Apa jika aku sudah memberi anak padamu? Atau---"


Val tak dapat berkata apapun. Dilihatnya Lea yang sedang mencoba menata diri agar terlihat tegar. "---jika aku mati? "[]


__ADS_2