Dark Autumn

Dark Autumn
13. MoonSky


__ADS_3

Warning!!


Mature and depiction of sexual intercourse, skip untuk pembaca dibawah umur. Jangan ngeyel!! Jadilah pembaca bijak.


---o0o---


Entah untuk keberapa kali, nafasnya seperti tercekat. Dibawah temaram dan hujan yang masih belum bisa berhenti hingga detik ini.


Ini memanglah yang pertama kali untuknya merasakan sebuah sentuhan dari seorang pria, yang sialnya ternyata pria tersebut bukanlah manusia dalam artian yang sesungguhnya. Permukaan kulitnya yang terasa sedingin es masih menjamah beberapa bagian dirinya. Lea sadar, barang kali yang mereka lakukan saat ini bukanlah karena Cinta. Melainkan sebuah hubungan sebab akibat dan timbal balik yang harus ditanggungnya akibat sebuah kutukan yang menyeret kehidupannya.


Suara Lea hampir saja terdengar saat merasakan sesuatu menyapa dirinya, membuat ngilu dan sakit secara bersamaan yang teramat sangat. Bahkan membuat nyawanya seolah dipaksa terlepas dari raga. Tulangnya seolah hancur didalam raga kala pria yang mengungkungnya itu mulai bergerak. Rasa nyeri semakin menjalar keseluruh engsel tubuh. Entah bagaimana bisa dia menahan semua yang saat ini sedang mengoyaknya hingga seperti habis tak bersisa.


Val semakin meremang dalam hangat saat dirinya terbenam. Mungkin, ini bukanlah pertama kali dirinya merasai tubuh seseorang. Tapi, Lea berbeda. Dia membuat dirinya menggila. Cengkraman kuat pada punggungnya tak seberapa dengan sesuatu yang menyelimuti dan memberikan kehangatan padanya saat ini. Dia tak mengira jika bersatu dengan Lea akan menjadi segila ini. Bergetar hebat, dan tak dapat lagi menahan seberapa dirinya ingin meledak, Val melepasnya.


Diliputi suara engahan dan cengkraman yang semakin kuat pada lengannya. Bersama, untuk pertama kalinya. Val dan Lea menyatu.


Gadis itu mendadak menggigil. Val sadar jika tubuh manusia tak bisa menerima ledakan itu begitu saja. Bibir Lea memucat dan bergetar dalam dingin. Dengan segera Val mengakhiri dan menyelimuti tubuh polos Lea dengan selimut tebal, berharap rasa dingin itu segera membaur dengan suhu Lea yang hangat.


"Inilah alasan mengapa aku selalu menahan diri untuk tak menyentuhmu! " ucap Val khawatir sambil mengecup lembut pucuk kepala Lea yabg masih bergetar hebat.


Lea hanya mampu mendengarnya dan memejam perlahan menahan semua celah tubuhnya yang seperti membeku. Membiarkan Val memeluknya karena sejujurnya dia merasa nyaman.


***


Henny merasakan sesuatu yang salah terjadi pada dirinya, merasa panas seperti terbakar. Wajahnya memerah sempurna. Merasa geram akan hal yang disadarinya.


"Jadi mereka sudah bersatu? Mmmphhh..." gerutu Henny pelan.

__ADS_1


Berusaha mati-matian menahan rasa sakit dan panas yang terlalu menyiksa dirinya, Henny menenggelamkan diri didalam bak mandi agar panas itu sedikit mereda.


"Sial, aku tidak bisa membaca fikiran gadis itu! Aku kira dia akan menolak saat Val menyentuhnya! "


Menggeram, meluapkan semua buncahan emosi yang semakin membumbung.


"Jika seperti ini, aku tidak bisa terus berada disini! Aku harus pergi sampai garis keturunan mereka lahir! "


***


Cahaya Mentari mulai menyapa, cuitan burung bersahutan terdengar nyaring dari dahan pohon yang berdiri kokoh di hutan.


Lea membuka maniknya, dingin masih tersisa didalam dirinya. Selimut yang semalam membungkus tubuhnya masih tergulung rapi melilit, memberikan rasa hangat.


Terdengar samar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, dia menduga Val pasti berada didalam sana. Bersamaan dirinya yang berusaha bangkit, Val memutar kenop pintu. Menampakkan dirinya yang berbalut Bathrobe abu-abu dengan surai yang basah.


Lea hanya diam, menahan tubuhnya yang sakit dan porak poranda, memicing kemudian bersandar pada kepala ranjang.


"Masih menggigil? " tanya Val memastikan.


"Tidak! Tapi kau menghancurkan tubuhku! "


Val terkekeh, mendekat pada Lea yang masih berbalut selimut.


"Mau aku bantu ke kamar mandi? "


"Terima kasih, tapi aku bisa pergi sendiri! "

__ADS_1


Val meningkatkan alisnya, berjalan kembali ke arah lemari dan mengeluarkan sepotong kemeja dan celana hitam.


"Aku harus kekantor, ada hal penting yang harus aku lakukan! "


"Pergi saja! "


"Kau yakin baik-baik saja? Aku bisa libur dan merawatmu seharian dirumah! "


Sial, Lea membenci ucapan Val barusan. Yang ada dia akan semakin hancur bahkan mati jika Val melakukannya lagi.


"Tidak, pergi saja! Aku tidak apa-apa! Nanti juga sakitnya hilang! "


Lea turun dari ranjang, menahan sakit yang teramat sangat menyiksa diantara kedua paha dalamnya dan berjalan menuju kamar mandi dengan selimut yang menjuntai dilantai.


Val hanya memperhatikan bagaimana Lea berjalan susah payah hingga hilang dibalik pintu kamar mandi.


Didalam sana, Lea sekali lagi tidak bisa menahan rasa sakit itu dan sedikit membungkukkan tubuhnya didepan sebuah cermin. Memeriksa apakah Val meninggalkan tanda lain ditubuhnya selain rasa sakit yang membuatnya seolah meregang nyawa itu.


"Dia tak membuat tanda apapun di tubuhku! Tapi dia, a-aaww... "


Masih tergambar jelas bagaimana wajah Val yang berada diatas tubuhnya semalam. Begitu maskulin. Sebuah senyuman mendadak hadir, namun segera ia tepis dalam rona pipi yang semakin memerah. Lea malu pada bayangannya sendiri, dan merasa terkejut saat sebuah tanda tiba-tiba muncul di pergelangan tangannya.


Sebuah tanda serupa bunga Mawar, kemerahan, dan ukurannya sangat kecil.


"Tanda apa ini? "


Mencoba memutar kembali memorinya semalam, hingga sebuah bayangan melintas saat Val seperti mencium lengannya tadi malam, dalam gulungan gairahnya.

__ADS_1


"Apa mungkin---"[]


__ADS_2