
Berkacalah, maka kau akan mendapati bayanganmu disana.
Sudah, bahkan Lea sudah melakukannya hampir ribuan kali. Mencoba mendapati apa yang pernah ia selami sebelum ini.
Ada banyak kepingan memori acak yang muncul, tapi tidak satupun mengingatkan pada apa yang terjadi di kehidupan masa lalunya, yang katanya 'pahit' itu.
Lea meraih sebelah lengannya untuk ia usap.
Pakaian formal yang terlihat elegan, Lea siap menghadiri janji bertemu editor dari pihak penerbitan hari ini. Sapuan make-up yang membuatnya terlihat menawan, juga tubuh dengan lekuk yang sempurna meskipun ia sudah memiliki seorang putri kecil. Lea mendesah lelah, saat menyadari satu hal. Dimana dia meletakkan kunci masa lalu yang ingin ia selami itu?
Aroma therapy lavender yang menguar dari alat otomatis pengharum ruangan begitu membuatnya terpuruk.
Meraih tas kecil yang beberapa hari lalu ia bawa untuk mencari inspirasi, Lea kembali teringat wajah pria yang menolongnya saat melihat kartu nama untuknya itu tergapai pertama kali dari dalam. Merogoh kedalam tas, ia baru menyadari jika sesuatu yang sangat penting baginya tidak ada disana. Buku catatan berisi materi dan juga ide untuk penerbitan buku baru yang akan ia rilis bulan depan, tidak ada disana.
Mengacak seluruh isi tas, akan tetapi nihil, tak ada barang yang sedang dicarinya.
"Sial!!" umpatnya lantang, terang-terangan didepan bayangannya sendiri. "Bagaimana bisa aku menghilangkan barang paling penting seperti ini?" rutuknya, kesal dengan keteledorannya sendiri.
Sungguh, dia tak habis pikir kenapa bisa kehilangan benda paling penting tersebut. Mengacak singkat surai yang sudah tertata rapi, Lea tiba-tiba mengingat satu hal. Kartu yang diberikan pria bernama Vallen Hudson.
Memijat pelipisnya sesaat, Lea menggigit bibir bawahnya gugup—Seperti sedang dipermainkan saja. Namun detik berikutnya, tanpa berfikir panjang, dia meraih ponsel untuk menghubungi seseorang. Meminta maaf karena harus menunda pertemuan, yang beruntungnya, pihak editor tersebut memaklumi dan mempersilahkan Lea untuk menyelesaikan masalahnya, secepatnya.
Bernafas lega, Lea kembali menatap pendar layar ponselnya. Duduk kasar sembari bersandar dipunggung sofa, pandangan Lea beralih pada sebuah kertas yang juga tergeletak diantara isi tas yang berantakan.
"Apa aku harus menghubungi dia untuk menanyakan buku catatanku?" batin Lea, "Hanya itu harapan satu-satunya, semoga dia menemukan buku itu dan menyimpannya! Atau jika tidak—"
Tanpa banyak bicara lagi, Lea segera menghubungi nomor yang tertera diatas kertas kartu itu.
Butuh beberapa detik hingga suara berat dan maskulin itu menyapa dari seberang.
"Ma-maaf mengganggu pagi anda! Ini—saya, "
Tidak ada sahutan dari seberang, mungkin sedang berfikir keras.
__ADS_1
"Maksud saya—nama saya Lea. Saya wanita yang anda tolong tempo hari!"
"A~h..?!"
"Saya mau menayakan satu hal!"
"Oh, tentu silahkan!"
Lea memilin ujung blazernya ragu, takut salah bicara.
"Itu... Apa, anda menemukan buku catatan saat menolong saya beberapa hari yang lalu?"
Beberapa detik diam, hingga akhirnya nafas lega berhembus dari penghirup Lea. Tersenyum bahagia karena barang tersebut selamat dan berada ditangan orang baik. Ya, orang baik.
"Sebenarnya saya ingin menghubungi anda, tapi saya takut mengganggu! Jadi saya menunggu anda yang menghubungi saya!"
Sungguh, Lea sangat berterima kasih kepada Tuhan. Dan juga...
Terdengar kekehan samar diseberang. Lea mengatur nafas sebab hatinya jantungnya mulai berdetak cepat.
"Lalu, dimana saya bisa mengembalikan buku anda? Atau kirim saja alamat anda, saya akan mengantarnya ketempat anda!"
Formal sekali Lea sampai bingung memilih kata untuk mengimbangi kata-kata sopan dari pria bernama Vallen itu.
"Ah, tidak-tidak! Biar saya yang datang ke tempat anda! Alamat anda ada dikartu nama itu bukan? Saya akan kesana!"
"Ah, saya sedang tidak berada di alamat itu! Saya sedang ada pekerjaan, dan berada di Seoul sekarang!"
"Ah, saya juga!"
Diam sesaat, hingga suara familiar bagi Lea itu kembali mengudara.
"Bagaimana kalau ditempat anda menjatuhkannya saja! Saya rasa lebih baik bertemu disana!"
__ADS_1
Dipikirkan berulang kalipun, Lea sebenarnya tak ingin bertemu atau sekedar melihat pria itu. Namun keadaan sangat genting, dan dia perlu bukunya kembali.
"A-apa tidak merepotkan?"
"Tentu saja tidak! Besok sore, jam lima, saya sedang luang!"
Lae menahan nafas. "O-oke! S-saya akan sampai disana jam lima sore. Sekali lagi terima kasih sudah menjaga buku catatan saya!"
"Eung, sampai jumpa besok."
Dan disinilah Lea hari ini. Ditemani senja yang membentuk warna violet yang Indah, bersamaan hembusan angin segar dimusim gugur yang nyaman, Lea menunggu seseorang.
Wajahnya merona tiba-tiba saat berfikir hal semacam ini, yang nyatanya sangat konyol dan, tidak masuk akal.
Senyuman mengembang di bibir ranum bergincu sewarna guguran daun dimusim dingin, Lea menggeleng, menampik hal konyol yang muncul dari dalam kepalanya.
"Jangan mempermalukan diri sendiri Lea! Ini bukan sebuah kencan," gumamnya disela rona serta senyuman yang masih terkembang.
Hingga Lea memutar pandangan searah jarum jam tiga. Melihat seorang pria berjalan begitu berwibawa, dalam balutan coat coklat tua dan celana bahan dengan warna sedikit terang, serta kacamata bulat yang bertengger dihidung mancungnya sungguh terlihat sempurna.
Pria itu terlihat menyunggingkan sebuah senyuman dikejauhan, membuat jantung Lea berdebar begitu saja.
"Val..." panggilnya tanpa sadar. Nama itu lolos begitu saja, seolah pernah menempati hatinya.
Tidak salah 'kan? Mereka pernah bersama bukan?
Bolehkah Lea menyapanya sekali lagi?
Hanya 'hai' dan semuanya kembali berakhir.
Boleh 'kan?
[]
__ADS_1