Dark Autumn

Dark Autumn
04. About


__ADS_3

Woody Hill memiliki sebuah legenda, dimana pada zaman dulu ada sebuah kelompok rakyatnya yang mendapat kutukan dari sang penguasa. Mereka menjalani setiap harinya dengan tanpa arah. Hidup tapi tak merasa lapar, tak memiliki denyut nadi, darah yang menghangatkan tubuh mereka; pucat. Serta tak pernah menua barang sedikitpun meski usia terus berubah setelah berabad-abad lamanya.


Sedangkan mati tapi raga mereka benar-benar masih berwujud, sama seperti manusia pada umumnya.


Otaknya seolah diombang ambing oleh informasi yang sempat ia remehkan beberapa waktu lalu. Ia kembali mencari informasi pada portal lain yang nyatanya semua isi rangkuman itu sama saja. Membuat Lea mendengus frustasi dan melempar persegi pintarnya karena kesal.


Bahkan penuturan pemuda itu masih terngiang jelas didalam gendang telinganya. Tak pernah sirna meski sudah berlalu lebih dari tiga hari.


"Tapi ini bukan ilusi! Kau akan melihat semuanya menjadi nyata jika kita bersatu! "


Binarnya merotasi pada tirai yang mulai bergerak karena tiupan angin dari hutan yang jaraknya tak jauh dari rumah yang ia tinggali. Langkah kecilnya kembali tertuju pada balkon.


Berdiri mematung sembari menatap rumah yang terlihat sepi diseberang sungai itu. Tidak ada tanda pemuda itu akan muncul tiba-tiba seperti tempo hari.


"Itu memang tempat tinggal kami! Tapi disinilah kami sebenarnya tinggal!"


Penuturan itu membuat nafasnya tersendat hebat, membuatnya terbatuk hingga meringkuk ketakutan dengan wajah memerah padam. Seberapa jauh lagi dirinya akan mendapati hal menakutkan seperti itu.


Ingatannya kembali menguar tentang sebuah kastil megah yang diselimuti kabut tebal, suara riuh dari para penghuni kastil saat dia menapakkan kaki melewati bentangan pintu. Sungguh, memori itu seperti terpatri dan terputar kembali tanpa ia minta.


Ayahnya juga tak mau menceritakan apapun padanya. Hatinya semakin berdenyut sakit kala mengingat penuturan pemuda diakhir pertemuan mereka."Kau adalah takdirku! Kau yang akan menghapus semua kutukan ini! Hanya dirimu!"


Lea meremat pakaian tepat didadanya, air sejernih telaga mengalir membasahi pipinya. Bagaimana bisa semua ini akan berakhir padanya. Lantas bergumam pelan, "Tidak mungkin... Itu tidak mungkin!"


Suara sumbangnya terdengar pilu, mengusap perlahan airmata yang membasahi pipinya, kemudian membawa torsonya kembali berdiri walaupun rapuh.


Namun dia kembali dikejutkan oleh bunyi pintu kamar yang berderit terbuka, menampilkan sosok sang ayah yang membawa satu kotak coklat kesukaannya. Memang, hanya makanan persegi berwarna gelap dan juga meleleh saat didalam mulut itulah yang mampu menenangkan semua fikiran kalut yang menerpanya.


Lea menarik kedua sudut bibirnya perlahan, membuat simpulan senyum palsu yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Papa libur? "


Pria itu hanya mengangguk pelan, menyodorkan satu kotak coklat yang dibawanya dengan merk terkenal dari salah satu pabrik ternama seantero negri.


Untuk beberapa alasan, Lea menghapus seluruh senyumannya seketika, lalu melempar pandangan intens pada sang ayah. Ingin tau seberapa jauh informasi yang diketahui sang ayah tentang desa tempat tinggalnya kini.


"Kau betah disini? "

__ADS_1


"Eummm... Tapi pasti papa lebih tau jika aku lebih ingin tinggal dikota! "


Membuat keduanya saling melempar senyum, sang ayah tau betul jika Putri semata wayangnya itu ingin sekali berlari dan kembali kekota, tapi tidak bisa karena tidak ada kendaraan yang bisa ia pergunakan untuk pergi.


"Pa, aku ingin bertanya tentang satu hal! "


"Katakan! " Jawaban cepat yang dilontarkannya sembari kembali membuka tepat pada tanda lipatan dan membaca buku tebal tentang ilmu bedah.


"Apa desa ini memang benar desa yang dikutuk?"


Sang ayah terdiam, stagnan. Jemarinya yang semula membolak-balikkan lembar buku itu berhenti seketika. Bahkan dinginnya udara yang semakin membebat tubuh keduanya tak dapat di artikan. Tautan manik keduanya lebih tak terbaca.


Sang ayah kini membawa torsonya untuk menghadap dimana putrinya berada, memberikan presensi yang signifikan.


Ayahnya juga tak mau memberikan stigma yang membuat putrinya itu semakin menciut kendati tau jika putrinya itu seorang bernyali kecil; penakut.


"Papa tidak tau betul tentang hal itu! Apa kau membaca disebuah laman berita di internet? "


Gadis itu mengangguk mantap sembari tertunduk, namun kembali mengangkat pandangannya kala suara madu sang ayah kembali merangsek kedalam Indra perungunya.


"Lalu bagaimana menurutmu? Apa kau percaya? "


"Ayahmu menyimpan sebuah rahasia besar darimu! " Suara baritone itu kembali terngiang, membuat Lea menikam manik sang ayah dengan tatapan nyalang. Apa sulitnya membuka sebuah laci yang tidak terkunci? Lea terus berusaha membuat dirinya mendapatkan sesuatu didalam sana. Dengan caranya sendiri.


"Bagaimana jika Lea bilang... Lea percaya??! "


Sang ayah tertegun, ia sadar sesuatu telah terjadi pada putrinya. Seolah udara dingin menyesap seluruh kasadarannya, berdiri memucat seperti seseorang diambang maut.


"Kau akan tau makna kata Rune yang tersemat dalam namamu! " Suara itu kembali menginterupsi semua sistem kerja otaknya, Lea benci seperti ini. Namun tak bisa berbuat apa-apa.


Kelopak matanya terasa berat sekali, ia sudah terjaga hampir dua puluh empat jam tanpa memejam semenitpun. Semua tidak dalam keadaan baik-baik saja, menurutnya. Ayahnya yang tetap bungkam, suara yang terus menganggunya. Dia merasa bisa gila jika terus seperti ini.


Insomnia yang sudah lama pergi datang kembali, pupilnya bergetar. Dia tidak ingin kembali terjerumus pada lubang yang sama, masa kelam yang hampir membawanya kesebuah fasilitas rehabilitas mental. Tidak, dia tidak ingin itu terjadi.


Dan pada menit selanjutnya, semua terasa pudar. Hilang bersama terpejamnya sepasang manik Indah itu kedalam alam mimpi. Yang mungkin akan membawanya dalam suasana damai, atau bahkan lebih menakutkan.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Malam ini, ditemani suara hening dari pendingin ruangan yang masih Lea hidupkan karena dia merasa cuacanya sedikit panas. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Jarinya menari diatas papan keyboard komputer, otaknya sibuk menyusun kata demi kata untuk merangkum sebuah kalimat yang enak dibaca.


Dia juga mendengar samar-samar suara televisi menyala dengan volume agak keras. Ibu dan Ayahnya mungkin sedang melihat berita atau jika tidak, mungkin sebuah film yang diputar dari DVD.


Suasana hatinya lebih tenang, dia juga tak mendapati pemuda itu muncul beberapa hari ini.


Disusul bunyi bel rumah yang tiba-tiba berdenting. Siapa? Sudah dua minggu sejak kepindahan mereka kerumah ini, baru hari ini ada seseorang yang membunyikan bel rumah.


Tiba-tiba pintu bilik dengan suhu 20° celcius yang ditempati Lea terbuka perlahan. Muncul sang ibu yang berjalan pelan dan menepuk kedua bahunya ragu.


"Seseorang mencarimu? "


Tidak, dia bahkan tidak memiliki teman disini. Netranya melihat jam, pukul tujuh lebih lima belas menit. Atau jangan-jangan...


"Mengapa kau tidak bercerita pada mama jika sudah memiliki kekasih setampan itu? "


Raut wajah ibunya berubah menggoda, yang bahkan Lea sendiri tak tau apa maksud perkataan sang ibu. Dia hanya mengerutkan dahi dan menghentikan jemarinya yang sedari tadi menekan tuts pada keyboard.


Ayolah, jangan bercanda seperti ini? Siapa yang tiba-tiba datang dan mengaku sebagai kekasihnya.


"Dia bahkan membawa kedua orang tuanya kesini sayang! Bergegaslah, rapikan dirimu! Pakailah pakaian sopan, karena mama tidak ingin calon besan mama kabur melihat calon anak menantu mereka yang berantakan seperti ini!"


Sumpah demi apapun, Lea tak mengerti sama sekali apa yang dimaksud sang ibu.


"Mom, mereka pasti salah rumah! Aku tidak punya keka---"


Belum menyelesaikan ucapannya, sang ibu dan juga Lea terpaku pada sosok yang sedang berdiri diambang pintu. Val.


"K-kau... "


"Hai, kenapa tidak segera turun? Ayah dan ibuku menunggumu! "


Sial! Dia benar-benar datang kesini!


Lea mengumpat kesal dengan rahang mengeras, dia juga mendapati ibunya hanya mengumbar senyum. Kemudian berbisik "Mama rasa harus turun dan menemui kedua orang tuanya! "


Kerlingan mata sang ibu semakin membuat darah Lea mendidih. Sembari menyuguhkan senyuman tipis tak memiliki arti, Lea lantas menatap sengit pada Val. Berharap semua kegilaan ini hanya sebuah mimpi. Mimpi yang akan hilang bersama hembusan nafas pertama saat ia terbangun.

__ADS_1


Digulung rasa penasaran yang teramat menyakitkan, Lea berharap banyak kepada sang ayah. Berharap pria itu menariknya dari sebuah kenyataan pahit yang sedang mempermainkan hidupnya atas nama sebuah kutukan.


Lea memutar bola matanya jengah saat melihat pemuda itu melangkah masuk, memangkas jarak diantara mereka berdua, seraya berbisik. "Sekarang, apa kau sudah siap membebaskan kami? "[]


__ADS_2