Dark Autumn

Dark Autumn
11.


__ADS_3

Lea fikir, jika bertanya pada nenek. Apa wanita tua itu akan menjawabnya?


Namun dari semua rasa janggal dan semua sisi yang bahkan tak ia ketahui, keluarga tersebut nyatanya mampu menyembunyikan berjuta misteri yang ingin ia ungkap satu persatu.


"Nana, aku datang... "


"Masuklah... "


Suara renta itu terdengar samar, lembut, dan juga membuatnya merinding. Lea berjalan melewati bentangan kayu dan kembali mencium aroma Mawar yang sangat menyengat didalam kamar ini.


"Duduklah... " perintah sang nenek dengan lembut. Membuat Lea hanya bisa menyanggupi apa yang wanita tua itu katakan.


Beberapa detik hanya hening. Wanita itu sibuk dengan kegiatan yang masih sama, merajut.


Hingga pada detik berikutnya, suara bergetar Nana memecah keheningan. "Jadi apa yang membawamu kemari nak? "


Hati Lea menghangat, ia suguhkan senyuman terbaiknya untuk nenek tua dihadapannya. Meraih telapak yang sudah berkerut dan menggenggamnya erat.


"Aku hanya ingin mengunjungimu Nana!" menjeda sejenak, kemudian melanjutkan. "Aku sedang merindukan kedua orang tuaku, tidak ada cara lain selain bertemu dengan wanita baik dan lembut serpertimu Nana! "


Wanita tua itu kembali mengulum senyuman lembut, meraih pucuk kepala Lea untuk diusapnya.

__ADS_1


"Aku tau kau sedang ingin mengatakan sesuatu! Itulah sebabnya kau datang kesini! " ucap Nana pelan. "Katakan, apa yang sedang mengganjal didalam hatimu? "


Lea tertunduk sempurna, tawa getir, dan hati yang berdenyut sakit, serta rasa gelisah dan perasaan penuh tanya membuncah, hingga ia tak sanggup lagi menahan semua gejolak tersebut.


Menatap Nana lekat, kedua manik berdenyar sayu, dan nafas yang tercekat, Lea bertanya, "Sebenarnya, ada hubungan apa antara Val dan Henny? A-aku melihat mereka berjalan dari arah yang sama, kemarin malam! " tanya Lea dengan suara terbata, mencoba menguatkan dirinya sendiri.


Sebenarnya, jika hal buruk memanglah terjadi, tentang Val dan juga Henny. Kemudian Lea pergi begitu saja juga tak masalah, toh Val belum menyentuhnya sama sekali setelah menikah.


"Memangnya, apa yang kau fikirkan tentang suamimu itu nak? "


Bibir Lea terkatup rapat, hatinya terasa nyeri, berdenyut sakit dan terasa semakin sakit saat mendapati Nana memandangnya dengan pupil yang bergetar.


Lea mati-matian menahan tangis. Dia tidak ingin terlihat lemah didepan siapapun, termasuk Nana.


Udara pagi yang berhembus pelan, yang mampu menerbangkan anakan rambut serta menebarkan semerbak dari taman Mawar didekat kamar sang nenek menjadi terasa begitu berbeda.


"Aku rasa, Val yang lebih berhak mengatakannya padamu!"


Jawab sang nenek terlalu singkat. Bahkan bukan itu jawaban yang diinginkan Lea, dia ingin mendengar yang sesungguhnya meskipun, mungkin, akan menyakiti atau bahkan menghancurkan hatinya.


"Baiklah, jika memang seperti itu! " jawabnya sembari mengulum senyum.

__ADS_1


"Jangan pernah meninggalkannya meskipun semua yang terjadi tidak sesuai keinginanmu! Dia membutuhkan mu untuk bebas Lea! Maksudku, kami membutuhkanmu untuk bebas! "


"A-apa maksud anda nek?! "


Sang nenek menatap sayu, kemudian membuang tatapannya keluar jendela. Memandang bentangan tanaman mawar merah yang berada tepat dihadapan jendela tersebut.


"Kau tau, setiap sisi keindahan pastilah ada sisi dimana dia akan membuatmu terluka! "


Lea mengerutkan dahinya penuh tanya. Mencoba mencerna setiap ucapan wanita renta di hadapannya.


"Kau lihat Mawar itu dan kau tau dia memang Inda, hingga kau sering lupa jika dia memiliki duri! "


"Anda benar! " sahutnya cepat.


Benar, dirinya bahkan tertusuk duri tersebut beberapa waktu lalu. Wanita itu kembali menatapnya lembut, sembari menyematkan sebuah senyuman.


"Sebab itulah, temani Val hingga akhir! Dia memerlukan dirimu! "


Lea tertunduk sejenak, tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga tersebut hingga keluarga tersebut benar-benar membutuhkan dirinya.


"Aku akan melakukannya, jika anda memberitau apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga ini! Dan ada hubungan apa antara Val dan Henny! "[]

__ADS_1


__ADS_2