
Saat Lea masih dirundung rasa penasaran akan sebuah tanda pada pergelangan tangan dan juga rasa sakit yang terasa menghancurkan raganya, dia harus tetap menghadiri kegiatan rutin pagi hari keluarga Val.
Melewati lorong yang begitu sepi, suara hentakan sepatu pantofel yang dipergunakan Val terdengar menggema hingga ke ujung.
"Dia benar-benar bukan manusia! " gumamnya pelan saat berjalan dibalik punggung lebar Val. Langkahnya sedikit terganggu karena rasa nyeri itu tak kunjung menghilang.
"Sudah aku katakan, jangan menyesal! " sahut Val sambil menengok pada bahu kirinya demi mendapati presensi Lea tanpa menghentikan langkah kaki jenjangnya.
"Setidaknya, perhatikan dan bedakan! Aku ini manusia, bukan makhluk sepertimu! "
Val mengedikkan bahu tak mau tau. Toh yang meminta bukan dirinya.
"Kalau begitu, jangan lakukan lagi! "
Langkah Val terhenti seketika, berbalik dan mendekat pada Lea yang sedang terkejut. Mensejajarkan wajah kemudian menarik senyuman pada ujung bibirnya, sarkas.
Bibir Lea terkatup sempurna, udara dingin yang berhembus dari luar bangunan megah ini kembali membuatnya meremang. Lantas Lea menjauhkan diri, menegakkan punggung yang beberapa detik lalu beringsut karena merasa tegang.
"Kenapa? " suara baritone itu kembali menyapa Indra perungu Lea, menarik kembali kesadaran yang beberapa detik lalu terbang entah kemana.
"Karena kau menakutkan! "
"Menakutkan? " lanjut Val dengan kedua alis terangkat.
"Jelaskan tentang ini! "
__ADS_1
Mendadak Lea memiliki keberanian sambil mengangkat lengan dan memperlihatkan tanda pada pergelangan tangannya yang ia dapat setelah semalam.
Berjalan mendahului, Lea berusaha mempercepat langkahnya agar Val tidak dapat menyusulnya. Tapi, dia salah. Val mampu berada disampingnya hanya dalam waktu kurang dari satu detik.
"Kau akan mendengarnya nanti!".
Sesampainya dimeja makan, sesuatu membuat Lea bertanya-tanya. Tidak ada sosok Henny diantara lingkaran keluarga Val. Tidak ada yang bertanya, atau memberitahu tentang keberadaan Henny, sepertinya mereka benar-benar menyimpan rapat semua kejadian yang berhubungan dengan Henny.
Saat sesi sarapan berakhir, Lea bermaksud mengunjungi Nana pagi ini. Namun badai dan hujan datang tanpa dia tau, membuatnya memutar langkah dan kembali kekamarnya.
Hanya bayangan hujan dan angin yang terlihat pada pupil matanya saat ini, sampai sebuah ketukan pada pintu kamarnya membuyarkan semua lamunannya pada hujan.
Lea berjalan mendekat pada pintu, memutar kunci dan mendapati Nana berada diluar sana.
Entah mengapa, tiba-tiba saja dirinya merasa tenang saat melihat sosok renta dihadapannya. Nana menempelkan satu jarinya pada bibir, memberi isyarat agar Lea tidak membuat kegaduhan.
Membawa Nana masuk kedalam kamar adalah hal yang menurutnya terasa asing, sebab selama ini hanya dirinya dan Val yang berada didalam sana.
Mengarahkan tubuh renta Nana menuju kursi yang menghadap keluar, Lea duduk bersimpuh dibawah kakinya.
"Kenapa kau duduk dibawah? "
"Tak masalah! Tadi, saya hendak kekamar Nana, tapi hujannya bercampur badai! Jadi saya kebali kekamar! "
Wanita tua itu mengusap pipi halus Lea dengan sangat lembut dan menyematkan sebuah senyuman. Menarik pelan lengan Lea dan melihat tanda pada pergelangan tangan sang wanita muda.
__ADS_1
"Terima kasih... "
Lea sontak menatap Nana penuh tanya. "U-untuk apa anda berterima kasih pada saya? "
Lea pikir, tidak akan ada orang yang sadar jika dirinya dan Val sudah melewati malam penyatuan.
"Val sudah melakukannya bukan? "
Mendadak jantung Lea berdegup berantakan. Muncul spekulasi dalam benaknya jika tanda itu adalah bukti penyatuan yang sudah mereka lakukan.
"D-dari mana Nana tau, akan, hal itu? " tanya Lea dengan rona merah dikedua sisi pipinya. Tertunduk menahan malu.
"Aku tidak perlu mengatakannya! Aku hanya perlu berterima kasih padamu! "
Lea terdiam, namun belum sempat dia berkata-kata, Nana kembali melanjutkan pembicaraan.
"Satu kehadiran yang selama ini menjadi sebuah belenggu untuk kami telah pergi! "
"Maksud Nana? "
"Henny! "
Beribu-ribu pertanyaan semakin memenuhi isi kepala Lea. Siapa Henny sebenarnya, adalah salah satunya.
"Bisakah Nana memberitahu pada saya, siapa sebenarnya Henny?! "[]
__ADS_1