Dark Autumn

Dark Autumn
02. You,


__ADS_3

Jika di deskripsikan, suhu disana seperti tiga kali lebih dingin dari suhu perkotaan.


Lea yakin dia sudah menutup rapat pintu geser kamarnya, tapi entah mengapa ruangan itu masih saja terasa dingin meskipun dengan penghangat ruangan yang menyala dan bekerja dengan baik sejak semalam dia menempati kamar tersebut.


Mentari sudah hampir terbenam di balik cakrawala, namun dia masih sibuk berkutat dihadapan komputer dengan rentetan huruf-huruf yang berjejer membentuk beberapa suku kata dalam baris paragraf.


Menariknya untuk segera beranjak dari tempat duduk dan memeriksa kembali pada bilah kaca disamping meja kerja yang mang sudah tertutup sempurna.


"Sudah sempurna! Tapi kenapa udaranya masih terasa dingin? "


Netranya merotasi sejenak pada penghangat ruangan yang menampakkan warna jingga diantara sela besi yang mengungkung. Menyala.


"Ahh... Mungkin aku perlu merenggangkan punggungku sebentar! " ucap Lea sembari menggeser belahan pintu dan berjalan menuju tepian balkon demi mendapatkan pemandangan yang barangkali bisa membuat mood membaik.


Dan dengan lancang, dia juga melirik pada jendela tetangga, dimana sore lalu dia melihat sosok pemuda yang sedikit banyak menarik perhatian. Lea ingat betul bagaiamana pemuda itu menatapnya, begitu nyalang.


Ah, ini gila.


Tepat disaat yang bersamaan pemuda itu kembali muncul. Lea tertegun dalam kejut, namun sepersekon kemudian dia mengalihkan netranya untuk memandang tempat lain. Meneguk saliva kasar karena tak mampu menahan malu. Rasanya seperti menjadi seekor kucing yang tertangkap basah sedang mencuri ikan majikan saja. Menggelikan.


Buru-buru Lea memutar langkah untuk masuk kembali kedalam kamar, tapi langkah kaki itu kembali terhenti, tubuhnya roboh kebelakang dengan kasar kala mendapati seseorang tiba-tiba sudah berada tepat dihadapannya.


Lea terkejut bukan main. Netra biru safir bak air di samudra itu membuatnya stagnan. Terjebak beberapa detik dalam sunyi, hingga akhirnya kesadaran Lea kembali.


Hal gila macam apa ini? Mengapa dia tiba-tiba berdiri disini, padahal beberapa detik yang lalu jelas-jelas dia berdiri dibalik jendela kamarnya?


Seperi itulah yang terbaca dari raut wajah yang di lukiskan dari paras cantik Lea.


"S-siapa k-kamu? "


Tanya Lea gugup sembari mengerjap beberapa kali dengan kerlingan yang terlihat lucu, membuat pria itu menatap pribadi yang saat ini sedang melangkah mundur untuk menambah jarak jangkau. Memperjauh dirinya dari torso yang kini sedang mensejajarkan diri.


Tepat saat telapak besar pemuda itu menyentuh kulit pualam pada lengannya, detik jam seolah berhenti berputar. Dunianya seolah berubah menjadi tak terkendali. Aneh, aneh sekali.

__ADS_1


Pupilnya tak putus dari Netra teduh berwarna biru safir milik sang pemuda.


"Kau sudah datang? Aku ucapkan selamat datang di duniaku! "


Gila.


Apa maksudnya? Bahkan otak cerdas yang biasanya dengan mudah mendeskripsikan sesuatu saja tak mampu mencerna maksud perkataan pemuda itu. Apa itu sebuah sapaan karena dia kini bertetangga? Tapi darimana dia datang? Lea bahkan tak mendengar seseorang mengetuk pintu.


Nyalinya menciut, karena pada dasarnya gadis itu bukanlah gadis pemberani. Penakut sekali sampai-sampai ibunya terkadang kesal saat diminta untuk mengantar kekamar mandi, dulu, saat masih tinggal dikota.


Jika ditanya seberapa takut Lea saat ini, mungkin jawaban yang tepat adalah tak terkira. Karena keringat dingin, wajah pucat karena mual, dan juga seluruh permukaan tubuh yang bergetar menariknya pada sudut terdalam relung jiwa yang mulai lemah.


Pandangan mulai diselimuti nebula yang cukup tebal, serta perasaan kalut yang menambah pening kepala dalam satu waktu bersamaan. Sungguh, dia tak ingin dihimpit dalam situasi yang membuat gejolak mual pada perut semakin menjadi. Membawa pendar netranya semakin menggelap.


"B-bagaimana bisa k-kau---"


Tak menjawab, pemuda itu semakin mendekat. Memangkas jarak yang selalu dibuat oleh Lea. Melihat itu, sang gadis mengacungkan jari telunjuknya kearah pemuda, menggantung di udara dengan wajah yang semakin pucat saja.


"Kk-kau!! J-jangan mendekat! "


"JANGAN MENDEKAT KATAKU! APA KAU TIDAK MENDENGARNYA HUH??!! "


Pemuda itu berhenti seketika, kala melihat kepanikan diraut wajah cantik dihadapannya itu.


Nafas yang tak beraturan, bahkan beberapa kali tersengal kala ingin menambah pasokan udara kedalam paru-paru.


Sial!


Pandangan Lea semakin gelap saja. Semua itu terjadi bukan tanpa sebab, gadis itu memang memiliki phobia. Dimana dia akan merasakan semua bercampur aduk didalam diri. Bahkan kini telinganya mulai berdenging, telapak tangan sudah tak sanggup lagi menopang kesadaran yang semakin terkikis.


"Kenapa? Aku bukan makhluk—"


Belum sempat menuntaskan ucapannya, pemuda itu melihat gadis itu semakin melemah. Bak sebuah adegan slow motion, sang pemuda berhasil meraih tubuh kecil dan ramping sang gadis dalam dekapan.

__ADS_1


Mendengus kesal karena tak berhasil memperkenalkan diri, lalu tersenyum miring saat mendapati wajah tenang terlampau pucat dengan bibir yang masih terlihat ranum.


"Kau tau? Aku datang kesini untuk menyapa calon pembebas kami! Tapi lihatlah, dia malah tidur seperti Putri yang menghabiskan sekeranjang apel beracun dari nenek jahat! " kemudian pemuda itu berdecak lidah dan mendengus kasar, lalu menyambung ucapannya, "Haah... benar-benar!! Dia memang istimewa! "


Namun pemuda itu tak bisa menahan diri untuk tak menyentuh pipi yang merona itu, entah karena suhu yang dingin, atau ketakutan, atau malah malu karena beberapa saat lalu tertangkap basah melihat ke arah jendela rumahnya tanpa izin. Pamuda itu membuka birai untuk tersenyum lebih lebar.


"Cantiknya... " gumamnya dengan suara baritone yang manly.


Jemari panjangnya mengusap lembut kemudian membawa tubuh ramping itu untuk ia letakkan diatas ranjang empuk yang memantul lembut, menaikkan selimut sebatas leher agar tubuh terlampau dingin itu kembali menghangat.


Pemuda itu bangkit dan menjauh, seraya berkata, "Kita akan bertemu lain waktu! Aku harap kau tidak seperti ini dipertemuan kita selanjutnya! "


Pamuda itu melangkah keluar, hilang bersama tiupan angin yang membuat tirai kamar Lea bergerak kasar.


🍁🍁🍁


Suara gemerincing lonceng yang ia pasang tepat ditengah pintu geser membangunkan Lea dari tidurnya, oh Ralat, dari pingsan yang mungkin sudah berlalu selama beberapa jam. Dan Lea sadar saat melirik jam dinding yang bertengger nyaman diatas nakas yang ada disebelah kanan tempat tidurnya.


Tepat pukul sebelas malam, dan dia juga mendapati sepotong kue lapis dan air putih diatas nakas, dia berfikir pasti ibunya yang melakukan itu; lantas siapa lagi?.


Kepalanya terasa berat, juga pusing. Mencoba bangkit dan bersandar pada kepala ranjang mungkin bukan pilihan buruk, sembari mencoba mengingat apapun yang tersisa dalam ingatan.


Ah, sial sekali lagi. Dia harus bangkit dan menuju kamar mandi karena merasa sesuatu memaksa keluar dari salah satu bagian dirinya, ia memasuki periode bulanan wanita pada umumnya.


Dengan keberanian yang nyaris tak ada, Lea melangkah keluar kamar dan berharap ayah atau ibunya berada disana. Tapi tak ada seorangpun disana dan membuat Lea kembali memutar langkah dan kembali menenggelamkan dirinya didalam bilik yang cukup nyaman itu.


Kembali menatap layar komputer meskipun pening masih menyerang.


"Apa maksudnya? Kenapa menakutkan sekali! Apa Mommy dan Daddy tau akan hal ini?" Tanyanya lantas menggeleng mantap. "Tidak, tentu mereka tidak tau! Berkunjung kesana saja belum?!"


Gadis itu mencoba mencari cara agar dirinya kembali tenang dari rasa takut yang menyelimuti seluruh perasaan.


Akan tetapi,

__ADS_1


Oh My god, dia tak menemukan jalan keluar. Semua sistem otaknya tidak bisa bekerja dengan baik. Suara maskulin, senyuman manis, bahkan wajah tampan itu terus menghantui pikiran Lea.


"Sial!! "[]


__ADS_2