Dark Autumn

Dark Autumn
08. Wedd-day


__ADS_3

Hidup bahagia, mungkin itulah mimpi semua orang. Membina rumah tangga yang bahagia, dengan suami yang sangat mencintai, serta suara teriakan canda dan tawa buah hati yang lahir karena cinta yang mereka pupuk subur hingga berakar kuat. Hanya tinggal harapan.


Dihadiri oleh pihak keluarga, dan tetangga yang nyatanya juga berkulit pucat sama seperti seseorang yang siap menyambut telapak tangannya di ujung altar sana.


Sekilas ia melihat senyuman lebar dari birai pemuda itu mengiringi setiap langkah mempelai wanita yang saat ini masih tertutup oleh tudung yang tersemat Indah diatas surai panjang selegam malam.


Alunan musik klasik nan romantis yang mengiringi setiap deru nafas yang kian memburu. Diikuti tepukan tangan yang bersahutan, mampu menggetarkan hatinya.


Apa ini nyata?


Lea tak percaya kini dirinya sudah berdiri tepat dihadapan sang mempelai pria, dia juga merasakan telapaknya disambut lembut penuh afeksi oleh kulit putih yang terasa sangat dingin saat sang ayah menyerahkan dirinya sepenuhnya pada pemuda tersebut.


Mengucap janji suci dengan Khidmat, pemuda itu membuka kain tipis yang sedari tadi menutupi wajah cantiknya. Saling menyematkan cincin dijari manis masing-masing, menerima ciuman meskipun bukan dibibir. Lea nyaris percaya jika upacara pernikahan ini adalah benar didunia nyata. Dalam benaknya. Suara riuh tepuk tangan kembali memburai bersama tiupan angin yang terasa dingin. Pesta berakhir dengan sempurna.


Pendaran temaram lampu kamar, dan aroma chamomile yang memanjakan Indra penciuman. Membuat Lea semakin geli membayangkan jika dirinya sudah bersuami diusianya yang masih muda.


Jemarinya melepas satu persatu asesoris yang masih tersemat pada cuping dan juga surainya. Bahkan gaun berwarna pink muda itu masih bertengger nyaman pada tubuhnya. Memperlihatkan setiap inci kulit pada bahu seputih pualam itu.


"Jangan berbuat macam-macam malam ini! "


Val berhenti menggeser layar ponsel yang berdenyar dengan pendar samar di tangannya. Lalu senyuman nakal ia sematkan kala menanggapi ucapan gadis yang berstatus istrinya itu.


"Memangnya kau berfikir aku akan melakukan apa?"


Lea menatap kesal, dia merasa harga dirinya jatuh di dasar jurang lalu terseret arus hingga hilang diujung samudra. Mengapa penuturan itu seolah menggambarkan sebuah pemikiran mesum pada dirinya. Lea mengutuk dirinya sendiri jika sampai pria itu malah menyentuhnya setelah ancaman ringan itu.

__ADS_1


"Hei, aku hanya memperingatkan! Aku tidak ingin kau membuatku-"


"Mendesah??! " Sahut Val tanpa ragu. Membuat Lea semakin mengeratkan rahangnya.


"Ah, sudahlah! Aku menyesal berbicara denganmu! Perlu kau ingat, jangan berbuat macam-macam! Dan juga, jangan lupakan jika aku benci keramaian!! "


Pemuda itu mengangguk paham dengan bibir mengerucut lucu.


"Aku akan diam, tapi aku tidak yakin jika kau tidak berisik! "


"Diam!!! "


Lea beranjak dari meja rias yang berada tak jauh dari ranjang tempat Val menyamankan diri. Dia membanting kasar pintu kamar mandi, membuat Val menggeleng dalam senyum. "Gadis aneh! Apa yang sedang dia fikirkan?"


-


Sialan memang!!


Lea membuka perlahan pintu kamar mandi dan mendapati Val masih berkutat dengan ponselnya. Dengan ragu dia bersuara,


"Bisa kau bantu aku sebentar saja?! "


Val merotasikan bola matanya demi melihat sosok yang bersuara dibalik pintu kamar mandi itu. Surai Lea yang berantakan, gaunnya masih bertengger nyaman di tubuh gadis itu.


Val menyibak selimutnya, mengenakan sendal lantai dan berjalan menuju dimana Lea berada.

__ADS_1


Mendapati wajah gadis itu panik dan tegang, Val malah tersenyum tipis diujung bibirnya. Namun maniknya membola kala tiba-tiba Lea menutup kembali pintu bilik dan menguncinya saat Val mengulurkan lengannya untuk meraih kenop.


Val ingin tertawa namun ia tahan kuat-kuat. Ternyata hidup bersama dengan seorang gadis di dunia nyata itu merepotkan; batinnya.


Alih-alih mengetuk atau mendobrak pintu berwarna putih tulang tersebut, Val malah diam mematung. Menunggu gadis itu membuka pintu itu dengan suka rela. Agar pintu itu tak rusak dan mengeluarkan biaya untuk perbaikan. Ide briliant bukan?


"Kau yakin dengan keputusanmu ini? "


"Pergi saja! A-aku bisa sendiri!"


"Hei, aku tidak akan melakukan hal aneh selain membantumu membuka pengait dan resleting gaunmu itu! "


Lea mengumpat kesal yang terdengar jelas oleh gendang telinga Val. Sedetik kemudian bunyi kunci diputar terdengar samar. Lea membuka dan mengintip dari balik pintu kemudian membiarkan Val berjalan beberapa langkah melewati pembatas pintu.


Suasana yang semula tegang bertambah canggung. Lea meremang saat jemari dingin Val tanpa sengaja menyentuh permukaan kulit punggungnya. Terjadi lagi, seolah waktu berhenti berputar. Dan itu nyata terasa.


Lea juga menahan nafas dan memejam sepanjang Val menurunkan resleting gaun sepanjang tulang ekornya itu, hingga pangkal punggung, hampir mencapai bantalan duduknya. Menampilkan Brasier hitam yang melekat erat pada kulit seputih pualamnya.


"Be-berhenti disitu! A-aku rasa cukup! Aku bisa melanjutkannya se-sendiri! "


Sial!!


Lea merutuk dirinya sendiri yang malah tergugup. Memejam menahan malu hingga rona merah mulai menjalar memenuhi pipinya.


Hingga nafas dingin Val menyambangi ceruk lehernya, merasakan hembusan nafas Val sama seperti menginjak salju di kutub Utara bumi.

__ADS_1


Pria itu berbisik lembut penuh kemenangan dan penuh seringai, sambil menyibakkan rambut berantakan serta meletakkan telapak lain pada pinggang tipis Lea. "Kau memiliki lekuk tubuh yang sempurna! ".[]


__ADS_2