Dark Autumn

Dark Autumn
07. Bcz I Want


__ADS_3

Suara dengkur burung hantu di luar ruangan, suara ranting yang bertabrakan, suara detik jam, bahkan suara lolongan serigala dari dalam hutan terdengar samar mengiringi setiap fokus Lea pada pendar komputer yang sejak beberapa jam lalu menemaninya didalam bilik hangat bernuansa kelabu itu.


Dibalik gerakan jemarinya yang tenang diatas tuts keyboard, hatinya berdenyar tak nyaman. Ungkapan yang beberapa waktu lalu didengarnya semakin merundung pikirannya.


Mendesah perlahan, kini Lea menyandarkan punggung lelahnya pada sandaran nyaman kursi kerja berwarna biru tua dan memijat pelipisnya perlahan. Merasa frustasi, entah karena tidak mendapat ide untuk tulisan selanjutnya, atau karena keputusan dan kesepakatan konyol yang ia buat bersama pemuda yang mulai menghantui benaknya, Val.


"Haaah... Aku memang sudah gila! Kenapa aku malah menyetujui semua hal mustahil ini! Aku akan hidup dalam damai? Di neraka sepertinya lebih cocok untuk ungkapan damai disini!" Lea kembali mendenguskan nafasnya kasar, merasa kesal sendiri mengingat hari pernikahannya bersama Val hanya tinggal menunggu bulan penuh sempurna; Purnama.


Ngomong-ngomong tentang bulan, Lea jadi mengingat seseorang yang pernah mengisi harinya dulu. Dia sangat suka bulan Purnama; katanya. Dan entah mengapa dia percaya saja, kendati wajah penyampainya tidak meyakinkan.


Terlihat senyuman kecil diujung bibir ranum Lea kala gadis itu mengingat fitur wajah pemuda yang saat ini berada jauh darinya. Sosok yang penyayang, dan juga---


"Sedang memikirkan aku? Kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu?"


F*ck!!!

__ADS_1


Lea mengumpat keras dalam hati, dia ingin sekali mengutuk pemuda yang tiba-tiba saja berdiri disampingnya itu.


"Kau masih sama tidak sopannya seperti sebelum-sebelumnya!" Ucapnya sembari menegakkan kembali punggung yang baru beberapa menit lalu menyambangi sandaran dan mulai merasa lega.


"Kenapa kau terkejut seperti itu? Aku bahkan tidak mengagetimu! " Timpal Val dengan nada ringan dan tenang sembari sebuah senyuman manis tersemat dibirainya.


Pada detik selanjutnya, Lea mendengus kesal dan beranjak dari tempat duduknya.


Tidak adakah yang ingin bersorak kali ini?


Kendati demikian, rasa benci juga masih bergelayut mesra pada setiap serabut syaraf otaknya saat melihat presensi pemuda yang bahkan bukan manusia seutuhnya itu.


Ia tau betul hidupnya bukanlah sebuah lelucon yang dibuat komedian, ditertawakan, atau bahkan diumpati oleh penonton yang tak sengaja kaget karena guyonan aneh kelewat tidak masuk akal.


Lea mendengus sekali lagi, mendapati itu bukanlah sebuah skenario lawak yang sering ia lihat dikanal internet sebelum tidur.

__ADS_1


"Lalu apa tujuanmu kesini? "


Pemuda itu memangkas jarak, melangkah mendekat dengan sepatu yang mengetuk lembut pada ubin yang hangat. Lalu berucap, "Tidak ada, aku bosan dirumah! Mengerjakan pekerjaan kantor sepertinya bukan keahlianku! "


Persetan dengan curhatan manusia jadi-jadian itu!


Lea tak peduli, malah membuang pandangannya lurus pada hutan yang berada diluar ruangan hangatnya.


"Kalau begitu, bisa tidak kau datang dari pintu depan?! Mengetuk, meminta izin pada mama atau papa saat ingin menemuiku! "


"Aku akan melakukannya lain kali! " sahutnya cepat.


Konyol, atau... lucu? Entahlah, mengapa dia malah menyuruh pemuda itu datang baik-baik jika ingin pemuda itu sirna dari hadapannya, selamanya.


Bagaimana lagi, semua sudah berjalan sebagaimana mestinya. Ya, baiklah. Dia akan mengikuti semua skenario tak masuk akal itu. Apapun resikonya.

__ADS_1


__ADS_2