
Gemuruh petir tak kunjung mereda, dimana dirinya digulung semakin dalam oleh sebuah rasa penasaran yang berkecamuk dan menyiksa.
Mawar? Duri? Keduanya bahkan berada didalam satu Batang yang sama.
Lea menggeleng kala menyadari makna ucapan Nana. Val membutuhkannya? Bukankah pria itu bahkan hampir tak peduli padanya setelah mereka mengikat janji suci?
Dia bahkan seperti seorang musuh yang perlu diwaspadai saat berada ditengah keluarga misterius ini, terutama dimata Henny.
"Benar, wanita itu tak pernah memperlihatkan wajah suka saat melihatku!" gumam Lea meyakinkan asumsinya.
Suara petir kembali terdengar, Lea jadi merindukan keluarganya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, menampakkan sosok Val yang masih berbalut pakaian rapi khas pengusaha kaya.
"Kenapa kau berdiri disana? "
"Tidak ada apa-apa! Aku rindu ibu dan ayah! "
Val berjalan semakin kedalam, meletakkan tas kerjanya dimeja dan berdiri disamping Lea. Harum maskulin dari tubuh Val masih sama dengan yang ia cium tadi pagi. Tak dapat dipungkiri jika harum itu sungguh menggoda dan menggelitik di Indra penghirup Lea.
"Kalau kau rindu mereka tinggal mengambil ponsel dan menghubungi mereka! Simple bukan?! "
Lea menatap tajam Val yang saat ini sedang memasukkan telapaknya pada kedua saku celana yang masih licin tak berkerut.
"Percuma aku bicara denganmu! "
Lea beranjak, menempatkan diri untuk segera memejam karena hari sudah malam. Menarik selimut dan membelakangi Val yang masih berdiri didekat bentangan kaca yang memperlihatkan hutan.
"Makan malamnya sudah dingin---"
"Aku sudah makan diluar! "
Lea berbalik, menatap torso tinggi yang entah sejak kapan sudah berada disisinya.
__ADS_1
"Beristirahatlah! Aku akan mandi terlebih dahulu! " titah Val sambil membelai surai Lea.
Lea kembali membungkus diri dengan selimut, suasananya tetap dingin meskipun penghangat ruangan sudah dinyalakan. Pria itu sudah tenggelam dibalik pintu kamar mandi, Lea mencoba memejam namun pikirannya masih belum dapat menghapus kemungkinan buruk yang terus menghantui. Tentang Val dan Henny.
Tiga puluh menit berlalu, Val duduk disisi ranjang dengan mengenakan bathrobe. Menatap serius pada ponsel yang berdenyar.
Lea membuka mata paksa, tak mampu lagi menahan rasa penasaran yang terus bergejolak didalam hati.
"Sebenarnya ada apa antara kau dan Henny? "
Val sedikit terjingkat karena mengira Lea sudah tertidur. "Aku? Henny? Tidak ada apapun!!" jawab Val enteng tanpa mengalihkan manik dari pendar persegi pintarnya.
"Kau membohongiku bukan? Val, katakan padaku! "
"Tidak ada yang perlu aku katakan! "
Lea terduduk kasar dan menatap sarkas pada Val.
"Kalau begitu lakukan! "
"Apa maksudmu?! "
Mendadak, Lea menjadi seperti gadis gampangan yang menawarkan dirinya untuk diterkam habis sang lawan.
Kami menanti kehadiran keturunan darimu dan Val untuk menghapus kutukan yang melilit hidup kami.
Lea ingat, sebelum dia pergi Nana sempat mengatakan hal yang tidak begitu jelas itu dengan suara yang terlampau pelan. "Keturunan yang akan menghapus kutukan pada keluarga kalian?! "
Kedua manik Val membola sempurna. Dia terkejut saat Lea mengatakan hal itu, dia bahkan lebih bingung darimana Lea mengetahui kebenaran tersebut.
Val tertawa kecil. "Kau mengada---"
"Lakukan saja! Aku sudah muak dengan semua ini! " Sahut Lea mulai berkaca-kaca. "Kepindahanku, kehadiranmu yang tiba-tiba, serta pernikahan ini! Semua sudah menjadi takdirku bukan?! Dan sekarang, aku harus menebusnya! Jadi lakukan saja! "
__ADS_1
Val terdiam, dia meletakkan kasar ponselnya diatas nakas kemudian memposisikan diri tidur dan membelakangi Lea.
"Tidurlah, ini sudah malam! " sembari menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama dengan remote.
"Chhh, " cibik Lea dengan suara menyebalkan. "Kau tau apa yang ada dalam fikiranku tentang dirimu dan Henny? "
Vel tercekat sekali lagi, telinganya ia pasang lamat-lamat untuk mendengar kalimat selanjutnya yang akan keluar dari belah birai ranum Lea.
"Aku yakin kau dan Henny bukan saudara! Kau tidak ada hubungan apapun dengan wanita itu, kan?! "
Dengan wajah sedikit menampakkan emosi, Val bangkit dari tidurnya, menatap Lea nyalang. Dalam benaknya bertanya-tanya, bagaimana gadis itu bisa berfikir demikian? Dia rasa keluarganya salah kali ini, Lea gadis yang cerdas. Dia tidak termakan muslihat.
"Apa maksudmu mengatakan hal itu? "
Lea tertawa kecil, ia rasa telah berhasil menjebak Val untuk mengikuti alur yang sudah ia susun.
"Jadi kau pilih aku yang memberikan alasan, atau kau yang menjawabnya sendiri? "
Nafas Val seolah sedang ditawan, tubuh dinginnya seolah semakin membeku. Betapa tidak, seorang gadis kecil seperti Lea mampu membuat dirinya terpojok. Benar-benar diluar dugaan.
"Jadi kau mencoba memancingku? Katakan saja alasanmu karena aku tidak berminat untuk mengatakan apapun! "
"Kau dan Henny memiliki sebuah hubungan istimewa! Semacam, berselingkuh dariku... mungkin? " jawab Lea dengan tawa kecil diujung bibirnya, mencibik, dan berhasil membuat Val terbelalak.
"Kau salah! "
Lea tak peduli, dia hanya ingin menyampaikan apa yang mengganjal dalam fikirannya. "Lalu?"
Tak memberikan jawaban, Val mendekat pada Lea. Mensejajarkan wajahnya dengan wajah milik Lea. "Aku yakin kau akan pergi jika mendengarnya! Jadi sebelum kau meninggalkan aku, aku akan menyanggupi apa yang kau katakan tadi! Aku akan melakukannya! Dan jangan menyesal setelah kau tau bagaimana diriku yang sebenarnya!"[]
Jangan lupa beri dukungan kepada Vi's sebagai apresiasi. Terimakasih.
Salam Hati Warna Ungu,
__ADS_1
💜💜💜
Vizca.