Dark Autumn

Dark Autumn
25. A Heart.


__ADS_3

Ruangan yang lembab, basah, berlumut, bahkan memiliki aroma yang tidak biasa—aneh, mengerikan. Sejak Val meminta dia meninggalkan tempat tinggal keluarganya dan juga setelah mendengar cerita semua yang terjadi, Henny benar-benar pergi dan tak pernah muncul disana. Val yang akan datang jika dia memanggil, hanya beberapa kali.


Henny mengepal kuat, Menyadari bahwa Val kini tak lagi mengindahkan panggilannya untuk memenuhi hal yang sudah menjadi kewajiban sejak dulu.


Dua orang pengikut setia Henny yang selama ini bersembunyi di tempat ini, meringkuk memberi hormat pada pemimpinnya. Mereka menyebut Henny 'Ratu'.


"Kalian sudah menemukannya?"


"Belum Ratu! Kami juga tidak bisa masuk ke dalam kediaman mereka, benteng pertahanan yang dibangun Val dan keluarganya itu terlalu kuat! Kami tidak bisa menghancurkannya!"


Henny tertawa sarkas.


"Dia sudah berani menolakku?" ucap Henny bermonolog dengan seringai mengerikan dibibir merah merekahnya. "Apa sebenarnya yang sedang direncanakan Val? Apa dia mau berkhianat? Tidak mau menyerahkan penebusnya untukku?" gumam Henny pelan, nyaris tak bersuara. "Kita lihat saja, apa dia juga siap melihat anggota keluarganya mati perlahan satu persatu ditanganku?"


***


Rekomendasi Playlist > Day & Night by Jeong Seung Hwan.


Sesuai janjinya, Val berjalan menuju salah satu balkon kesukaannya saat menikmati pemandangan dan melihat Lea dari kejauhan, dulu. Val tersenyum mengingat kenangan Indah itu. Dimana jantung yang biasanya hanya diam dan beku, mendadak berdegup cepat dan membuat tubuhnya semakin menggigil saat melihat Lea untuk pertama kalinya. Dan kali ini, wanita itu berdiri tepat disampingnya, mengandung calon anaknya, dan juga terlihat masih cantik dimata Val meskipun fisiknya perlahan berubah kurus sejak mengandung.


Wanita dalam balutan gaun panjang berwarna putih itu mengedarkan pandangan pada bentangan pohon tinggi yang terlihat sedikit menakutkan saat senja seperti ini. Sedangkan Val, mengenakan kemeja hitam polos berlengan panjang, dan celana bahan warna senada.


"Kau akan kagum saat melihat indahnya savana saat senja!" tutur Val mengarahkan pandangan yang sama dengan Lea.


Lea hanya diam, menahan cuaca dingin pegunungan yang disertai rintik gerimis yang turun cukup lebat.


"Kau siap?" tanya Val, kini menautkan maniknya pada presensi Lea disampingnya.


Lea menengok Val dan mengangguk, mengiyakan. Sesaat kemudian melihat Val mengulurkan telapak pucat dan besarnya kehadapan Lea. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian serta rasa ragu dan canggung yang membelenggu, Lea menyambut telapak Val.


Seketika, merasakan dunia seolah berputar. Seperti berputar-putar melewati lorong waktu yang menimbulkan mual dan pusing secara bersamaan. Val tidak mencium bibirnya seperti yang dulu dilakukan saat pertama kali melakukan perjalanan waktu itu. Lea hanya mendapati manik biru safir Val yang tiba-tiba berpendar, mengeluarkan cahaya biru yang belum pernah ia lihat. Ini pertama kalinya.


Perjalanan kali ini membutuhkan waktu sedikit lama, tidak secepat saat itu. Akan tetapi, mereka akhirnya sampai ditempat yang diinginkan sang wanita. Savana yang sedang digulung senja, menampakkan alam bak lukisan yang sangat Indah. Lea terperangah sekali lagi, saat melihat keindahan tempat dimana Val dulu ditinggalkan dengan kejam oleh kedua orang tuanya. Mendadak rasa pilu menyergah pikiran Lea, saat menoleh pada objek dihadapannya saat ini, Val.


Lea menarik telapaknya dari genggaman erat Val dan melangkah jauh menuju telaga yang masih sama indahnya. Kali ini teratainya lebih banyak, dan juga berbunga.

__ADS_1


Jauh disana, nafas yang sedari tadi ia tahan akhirnya bisa ia hembus dengan leluasa saat Lea sudah menjauh, Val terengah. Tenaganya terkuras habis. Ia tau, ini adalah efeknya. Meremat kuat kemeja hitam tepat didada, Val mulai mengatur nafas agar tenaganya kembali. Kemudian berjalan kearah Lea yang sedang bermain air sewarna daun itu dibibir telaga.


Langkah Val sedikit terseok, namun ia terus berusaha sekuat tenaga menyembunyikan dihadapan Lea.


Dan kini, kaki jenjangnya itu berdiri tepat disisi Lea. Menyematkan senyuman terbaiknya saat melihat Lea mendongak padanya.


"Kau bisa meminum airnya! Pasti bayimu akan suka!"


Lea tak serta-merta percaya, lantas dia berdiri dan mengedarkan pandangan pada langit savana yang perlahan berubah orange. Sangat Indah, Lea terpukau. Ternyata yang dikatakan Val benar, tempat ini sangat Indah saat menjelang malam.


"Indah bukan?"


Lea mengangguk, tak menyangkal sedikitpun apa yang dipertanyakan Val. Tempat ini benar-benar Indah. Langitnya orange, udara bertiup sejuk membuat bunga-bunga turut melambai, dan juga pantulan cahaya orange yang berpadu dengan hijaunya telaga, sungguh Lea tak pernah melihat pemandangan seindah ini sepanjang hidupnya selama ini.


"Terima kasih sudah memperlihatkan tempat seindah ini padaku!"


Val tersenyum, memutar torso menghadap Lea dan meraih kedua pundak ringkih tersebut kedalam pelukan. Hangat. Val memejam, ia sangat merindukan Lea.


"Kau pantas mendapatkan semua keindahan ini—" Val menjeda, mengusap surai belakang Lea dengan sangat lembut, penuh perhatian dan rasa Cinta dan sayang yang tulus dari dirinya. "Kau sudah bersedia memberikan dirimu kepada kami, jadi kau berhak mendapatkan semua ini!" lanjut Val dengan sisa tenaga yang ia miliki.


Lea kembali mendapati manik biru safir Val berdenyar redup.


"Kenapa matamu mengeluarkan cahaya seperti itu?"


"Itu karena aku sangat bahagia!" sahut Val cepat, masih dengan senyuman tulus pada birainya.


Mendadak, Lea mendapati kalut dihatinya sendiri saat melihat manik Val. Val sedang tidak baik-baik saja, Lea dapat merasakan itu dengan jelas.


Tanpa banyak berucap, Val mendekatkan wajah mereka. Meraih birai Lea, lembut, dengan birainya. Sebuah cahaya biru safir berpendar dari tautan bibir mereka, Val menyalurkan sesuatu yang sudah sejak tadi ia tahan didadanya, dan Lea dapat merasakan sesuatu sedang mengaliri tenggorokannya hingga ke seluruh inci urat nadi dan darahnya. Lea memejam, meneteskan airmata. Membiarkan Val memberikan satu hal paling berharga itu padanya. Lea tau, dia sadar akan semua itu. Saat hendak menjauh dan menolak, Val menarik tengkuk leher dan mempererat pelukan dipinggangnya hingga Lea tak berkutik.


Setelah Val rasa semua sudah berpindah pada Lea, Val melepas tautan bibirnya. Masih dalam pejaman mata yang basah, birai Val bergetar. Seperti kehilangan tenaga sepenuhnya. Kemudian kembali tersenyum saat melihat Lea membuka mata, mengusap lembut airmata Lea yang turut jatuh.


"Tolong rahasiakan ini dari siapapun!"


"Kenapa kau lakukan ini?"

__ADS_1


"Hanya ini hal yang bisa aku lakukan untuk melindungi kalian berdua! Dan tolong, jaga anak kita baik-baik!"


Lea menyentuh telapak Val, tidak sedingin biasanya.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?"


"Tidak! Aku akan baik-baik saja! Jangan khawatirkan aku!"


Lea tak begeming, dia hanya menundukkan kepala, tergugu, bahkan terisak lirih karena Val benar-benar memberikan kehidupan yang selama ini ia punya kepada dirinya.


"Aku akan membawa ayahmu kesini, karena aku tidak bisa mempertemukan kalian dirumah kami!" lanjut Val dengan nada suara rendah yang sendu. "Tempat ini aman, dan tidak ada seorangpun yang bisa kemari selain Nana!"


Lea masih tertunduk, "Tolong, ambil kembali semuanya dariku! Aku yakin kau lebih membutuhkan Val!" ucapnya dengan suara parau karena tangis yang tak bisa lagi ia bendung.


Meskipun Lea tak melihatnya, Val menggeleng, dia tak akan mengambil kembali apa yang sudah ia berikan. Akan tetapi, perlahan Lea melangkah mundur, menjauhkan diri dari presensi Val. Dicekik luar biasa erat oleh rasa semakin bersalahnya pada diri sendiri.


"Percayalah padaku, aku akan kembali dalam keadaan baik-baik saja!" tutur Val meyakinkan.


Lea terhenti, stagnan dengan deru nafas yang memburu.


"Katakan padaku, kutukan sial seperti apa yang wanita itu ucapkan, hingga dia mempermainkan hidup seseorang seperti ini?"


Val tercekat dalam teguk salivanya sendiri. Menatap Lea dalam getar tubuh yang semakin menghujam.


"Lalu—" jeda Lea sejenak, kemudian melanjutkan. "...beritau aku! Bagian terpenting apa dari dirimu yang sudah kau berikan padaku?"


Val diam, bibirnya sedikit terbuka demi meraup udara yang sangat ia sukai sejak dulu. Gelap mulai merangkak, suara derik samar terdengar di sisi lain Savana, berikut kunang-kunang yang mulai menampakkan diri disekitar Val berdiri. Seolah memberikan kesadaran bagi Lea, bahwa Val adalah hal yang paling Indah yang ia temui dan ia dapatkan.


Val meremat jemarinya yang terasa me-ringan dalam kebas meskipun suhu disini cukup hangat. Bibirnya sedikit terbuka ragu untuk memberikan jawaban.


"Hati!" ucapnya pelan, mengangkat wajahnya guna memandangi Lea yang terlihat dipenuhi rasa kejut.


"Aku memberikan hatiku!"


Masih tak ada jawaban dari Lea yang berdiri tidak terlalu jauh. Hingga suara rendah Val kembali menyambangi rungunya. "Aku mencintaimu!"[]

__ADS_1


__ADS_2