Dark Autumn

Dark Autumn
10. Roses


__ADS_3

Pintu itu berderit pelan, Val keluar dari bilik tersebut sambil mengusuk rambut basahnya dengan sebuah handuk berukuran sedang berwarna abu-abu. Entah mengapa Lea tak begitu peduli akan sosok dalam balutan bathrobe berwarna senada dengan handuk itu. Duduk tenang sambil menunggu jaringan internet berhasil masuk kedalam ponselnya dan menampakkan berita yang ingin diketahuinya.


Ranjang terasa memantul beberapa kali saat Val duduk ditepian ranjang, tepat diujung jemari kakinya. Lea tetap tak tertarik untuk merotasikan bola matanya, menanggapi presensi seharum chamomile itu berada dihadapannya.


Val tersenyum datar. Merasa diabaikan, Val membuka topik pembicaraan dengan suara baritone dan manly nya. Menarik perhatian sang lawan.


"Apa yang dikatakan Nana padamu tadi pagi?"


"Tidak ada! Dia hanya memintaku menemaninya menyulam! "


Val tidak bisa membaca apa yang ada didalam fikiran gadis dihadapannya itu. Tapi dia bisa menebak jika neneknya itu berkata sesuatu. Lea berubah sedikit dingin padanya.


"Kau yakin? Pasti nana mengatakan sesuatu padamu! "


Lea memutar maniknya malas, dia tak suka dipaksa. Apalagi jaringan itu belum juga terhubung pada apa yang sedang ia selami didunia Maya itu. Membuatnya semakin kesal saja.


"Stop Val! Kau pasti tau aku tidak suka dipaksa! "


Baiklah, Val mengalah. Dia berdiri dan berjalan memutari ranjang, menuju sisi lain ranjang yang merupakan tempatnya melepas penat setelah seharian bekerja.


Kini, dia harus berbagi ranjang dengan wanita yang dua hari menjadi pendamping hidup dan juga, pendamping tidurnya saat ini.


Val memposisikan dirinya untuk merebah senyaman mungkin demi menghapus semua lelahnya. Mengambil sebuah guling untuk menjadi teman tidur yang bisa ia peluk saat menyelami alam mimpi nanti, kemudian menaikkan selimut sebatas dada dan memejam perlahan.


"Selamat malam, jangan lupa matikan lampunya jika kau sudah ingin tidur! "


Dengan ragu gadis itu membalas, "Eoh. "


♛♛♛

__ADS_1


Sore ini, suhu menunjuk pada angka 19° pada persegi pintarnya. Dia merasa sangat penasaran mengapa di hutan suhunya terasa lebih dingin dari pada di kota. Apa karena dia hidup dalam lingkup manusia--- ah, tidak, dia tidak tau harus menyebut mereka makhluk apa. Tidak ada kata yang cocok.


Namun, diantara dinginnya suhu tersebut. Rasa penasaran lebih membuatnya terasa mati saja. Berjalan kembali melewati bentangan bunga Mawar yang Indah, sebuah gudang.


Dan,


Oh, dia baru sadar jika ada satu ruangan lain disana. Letaknya tepat disisi belakang bangunan tak berpenghuni tersebut, tertutupi sempurna oleh bangunan kayu didepannya. Terlihat seperti sebuah rumah dan masih terawat. Catnya coklat, dan tiangnya besar.


Sebenarnya seperti apa keluarga misterius ini?


Menepis itu, namun presensi seorang wanita cantik bersurai panjang berjalan keluar dari sana membuat Lea tercekat. Henny.


Lea buru-buru bersembunyi dan merunduk diantara bangunan kayu tempat menyimpan barang tak terpakai itu. Merapal do'a agar wanita itu tak menyadari kehadirannya.


Aroma parfumnya mulai menyambangi Indra penciumannya. Seperti aroma alam---sangat natural.


Dalam hatinya dia menerka, pasti aroma kamar itu sangat pekat karena dia juga melihat sebuah lilin aroma therapy menyala kecil.


"Wanita itu menata kamar untuk siapa? Ah, pasti suaminya akan pulang hari ini! Aku belum pernah melihat suaminya sejak tujuh hari berada disini! " gumamnya mencoba berfikir positif.


Dilihatnya jam pada layar ponselnya, pukul setengah enam malam. Dia merasa seperti tidak pantas datang kekamar seorang nenek menjelang malam seperti ini. Jadi dia memutuskan untuk kembali dan menunggu sesi makan malam keluarga barunya yang aneh ini selesai, setelah itu datang kekamar sang nenek. Diapun berjalan kembali kearah bangunan kastil disana.


-


Seperti biasanya, makanan sudah terhidang pada bentangan meja panjang berbentuk oval. Semuanya sudah berkumpul, menunggu nenek memulai makan malam tersebut. Sembari menunggu, Lea menyatukan kedua telapak tangan dan meletakkannya di dagu. Menjadikannya pusat perhatian, dia sedang berdoa menurut ajaran agama yang dianutnya.


Dan saat membuka mata, Val tersenyum padanya sambil mengusap anakan rambutnya yang sedikit terbawa angin tadi.


Dan masih sama, wanita bernama Henny itu menatapnya sengit. Waah, Lea ingin sekali mengumpati wanita itu tepat dihadapannya. Agar Henny sadar jika dia benar-benar tak suka diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


Seperti biasa, makan malam berjalan khidmat. Dan waktu juga dengan cepat menunjuk angka sepuluh, namun dirinya belum juga mendapati sosok Val kembali kekamar. Lea berfikir, mungkin Val sedang membicarakan sesuatu dengan ayah atau keluarga lainnya tentang bisnis mereka yang ada diluar daerah lembab ini.


"Ah, aku perlu mencari udara segar malam ini!"


Lea melangkah keluar. Maksudnya ingin menghirup harum bunga Mawar didekat tempat tinggal nenek. Benar, disana sangat menenangkan.


Dia memetik sebuah bunga berwarna merah itu dan tanpa sengaja tertusuk durinya hingga memunculkan setitik kecil darah keluar dari balik kulitnya yang tersayat kecil. Mengisapnya perlahan sambil memperhatikan sekitar. Dan dirinya terkejut kala melihat sosok yang sangat ia kenali berjalan searah dengannya yang sedang berdiri.


Val berjalan dengan air muka tak terartikan. Berbagai spekulasi dari yang baik hingga terburuk muncul dalam benaknya. Netranya sedikit menelisik pada Val yang terlihat lesu, sedikit berantakan dari apa yang dilihatnya beberapa saat lalu saat menyantap makan malam. Begitu juga aroma Mawar yang samar saat dia mengangkat lengannya untuk menggaruk sisi kiri tengkuk leher kekarnya.


"Sedang apa kau disini Val? "


Dia tak menjawab, hanya tersenyum tipis diantara wajah lelahnya. Dan balik bertanya, "Kau sendiri? Mengapa malam-malam begini ada di luar kamar?! Ayo pulang, suhunya semakin turun! Kau akan terserang flu! "


Dia menarik pelan lengan Lea, tapi gadis itu menampiknya tegas. Matanya berdenyar dengan kilat penuh tanya. "Jawab aku! Darimana kau malam-malam begini? "


"Aku dari tempat Nana! " sahutnya cepat.


Oh, pantas saja. Bau Mawar ini familiar dihidungnya, pasti wanita renta itu memeluk Val dan mentransfer aroma Mawar yang lembut itu ke badan suaminya itu. Iya, seharusnya seperti itu bukan?


Mendengar itu, Lea sedikit lega. Dia berjalan mengekor dibelakang Val. Aroma Chamomile yang bercampur aroma Mawar itu membuatnya kembali menoleh kebelakang.


Matanya membola kala mendapati presensi yang sangat memuakkan untuknya. Henny, sedang mengunci pintu kamar yang tadi sore dilihatnya. Mengapa di jam yang hampir tengah malam seperti ini dia keluar dari tempat itu. Apa melakukan semacam ritual?


"Val!! " Panggil Lea memecah suara derik hewan malam dan gemerisik angin hutan, sekaligus menghentikan langkah Val.


Telunjuknya mengarah pada bangunan dibelakang gudang, dimana seorang wanita sedang berjalan sedikit mengendap samar. Val tercekat, menelan saliva kasar saat mendapati Lea kini beralih menatapnya.


"Apa yang dilakukan wanita itu disana! "[]

__ADS_1


__ADS_2