Dark Autumn

Dark Autumn
03. Story


__ADS_3

Ibunya pernah bercerita jika; hantu itu muncul tanpa diduga, bisa menembus tembok sekalipun, bisa menghilang bersama angin yang berhembus. Membuat takut saja.


Kepulan asap dari kuah masakan sang ibu mampu membangkitkan rasa lapar Lea. Suara riuh penghuni perut yang meminta untuk segera diisi terdengar jelas. Berkeriuk dalam lambung.


Tak perlu menunggu lama, dengan wajah yang masih terlihat sembab dan mata yang menyipit, Hilea duduk pada salah satu kursi meja makan yang sudah tersedia beberapa menu masakan rumah diatas meja dan berjejer rapi seperti biasanya.


Haruskah dia bercerita tentang kejadian tempo hari pada ibunya? Lea terlihat ragu, tapi...


"Mom, apa hantu itu nyata? "


Sang ibu tetap menata makanan dan sesekali mengecek ulang rasa masakan yang dibuatnya sambil melihat sang Putri dari sudut matanya.


"Kenapa? Apa semalam kau melihat hantu? "


Lea tersenyum tipis, meraih segelas susu buatan sang ibu lalu meneguknya beberapa kali. Rasa manis yang Lea suka, tidak berlebihan. Dan juga---


"Jika kau bertanya pada ibu, jelas jawaban ibu adalah iya! Meskipun tidak dapat dilihat oleh kebanyakan orang! Hanya orang tertentu yang bisa melihat kehadiran mereka! "


Lea mengangguk mengerti, dia tau akan hal itu. Bahkan hal anehpun sudah terjadi tepat didepan matanya; seseorang hadir tanpa mengetuk pintu dan pergi entah bagaimana caranya, yang jelas dia sudah melihatnya. "Lalu apakah mereka juga akan pergi dan berlalu dengan cepat? Aku tidak ingin terjebak!" ucapnya tertahan dalam benak.


Walau dulu ibunya itu menceritakan hal mustahil hanya untuk menakut-nakuti dirinya agar cepat memejam saat tak dapat tidur, nyatanya mereka memang ada.


Siang yang tidak begitu cerah, cahaya yang dihasilkan masih tetap terasa hangat ditengah rendahnya suhu pegunungan. Lea menghabiskan waktu hari ini seperti biasa, dia berada didepan layar komputer.


Namun fokusnya kembali terburai kala suara maskulin itu menyapa tepat di telinga. Sejenak membuat Lea terkejut dan meremang dalam waktu bersamaan. Akan tetapi rasa kejut itu tidak sama seperti saat pertama kali pemuda itu menyapa di balkon kemarin malam.


Jantungnya berdegup tak karuan, nafasnya seolah habis jika dia tak segera meraup oksigen sebanyak mungkin. Seraya berkata "K-kenapa kau muncul lagi... "


"Kita belum saling mengenal! Dan aku datang untuk menyapa dirimu kembali! "

__ADS_1


Karena tak kuasa menahan emosi dan rasa penasaran yang bergejolak didalam hati, Lea menatap nyalang pada sosok pemuda yang saat ini berjalan menjauh beberapa langkah darinya menuju balkon yang terlihat menggoda untuk dikunjungi.


"Kau hantu ya?? "


Suara itu menghentikan langkah pemuda bersurai coklat emas. Bersama hembusan angin yang menyapa wajah, pemuda itu menoleh dan memberikan atensinya yang dibubuhi dengan senyuman tipis. Sungguh mempesona.


"Kau pikir seperti itu? Apa aku terlihat seperti hantu?" jawabnya sedikit dibuat-buat, lalu menyambung "Kalau aku hantu apa kau takut? "


Sontak Lea terbangun dari kursi yang sudah menopang tubuhnya sedari tadi. Birainya mungkin saja akan meloloskan sebuah jawaban jujur jika saja pemuda itu tidak kembali berujar. "Apa kau tertarik untuk melihat duniaku? "


Kau tau sebuah gada? Yah, benda itu rasanya menghantam raga dan hati sang gadis. Nafasnya tersengal hebat, kakinya bergetar kala mendengar tawaran itu tiba-tiba saja merangsek kedalam Indra pendengar.


Pemuda itu berjalan kembali mendekat, mengulurkan telapak tangan besar dan pucat tepat didepan pertengahan dada dan perutnya. Mengapung diudara menunggu untuk disambut.


Namun perasaat takut, kalut dan lain-lainnya merangkak naik menghampiri otak pemilik surai selegam malam itu. Hatinya mencelos, bagaimana dia bisa pergi ke dimensi lain sedang dirinya hidup pada kenyataan yang valid. Gila, sudah gila. Tangan itu masih tetap menanti keputusannya.


Dunia seolah berputar cepat. Rasa pusing, mual ingin muntah, dan semua berkelebat cepat seperti sebuah memori yang di putar kembali; Memuakkan, saat jemari mereka saling tertaut. Entah karena dihantui rasa penasaran, atau sosok pemuda yang ada dihadapannya saat ini, Lea menerima ajakan tersebut.


Luar biasa.


Dia tidak yakin akan menapakkan kaki pada bangunan kuno seperti itu. Tapi tunggu, apa ini nyata? Atau hanya ilusi yang dibuat pemuda yang saat ini sedang berjalan mendahului dirinya itu. Memijat perlahan pelipis, berharap mual itu segera hilang, Lea berjalan gontai mengikuti langkah besar pemuda berkaki panjang dan jenjang dihadapannya.


Netra Lea tak berhenti berputar khawatir. Kau taukan, jika didalam film thriller atau horor fantasi sesuatu akan tiba-tiba muncul, menyerang atau bahkan menerkam mangsanya dengan cara mengejutkan. Sungguh, ini benar-benar gila! Dan juga menakutkan.


Pepohonan yang rindang, kabut yang menyelimuti seantero kastil. Membuat bulu roman Lea bergidik merinding.


Kaki Lea melompat kecil kala suara rendah itu kembali menyapa dalam kejut, "Ada apa? Apa kau ingin masuk kedalam hutan juga? Aku bisa membawamu kesana! "


"T-tidak..! "

__ADS_1


Tentu saja itu jawabannya, dia masih ingin hidup lebih lama. Ingin merasakan kebahagiaan membina sebuah rumah tangga kecil, dengan seorang suami dan dua orang bertubuh kecil dan menggemaskan, serta— ah, tidak tidak! ini bukan saatnya membayangkan sebuah bangunan berpondasi janji suci itu.


"Kau akan tinggal disini nanti kalau kau mau! "


Nanti? kalau aku mau? Hei! Apa kau sudah gila?! Tentu saja aku tetap ingin tinggal didunia nyata! Bukan dunia ilusi seperti ini! Otaknya benar-benar sudah kacau balau.Akan tetapi, Lea melihat kedua Netra pemuda itu tulus---penuh kasih.


"Apa kau sekarang sedang berfikir ini semua hanya ilusi? atau delusi?"


Nafas Lea tercekat. Lea juga sempat berfikir apa pemuda ini bisa membaca fikirannya atau bagaimana. Hazel itu berputar-putar tak tenang, mencari sebuah jawaban yang tepat dan benar untuk ia lontarkan. Namun sekali lagi, semua deskripsi yang biasanya akan muncul dengan cantik dan cepat itu sirna kala menatap wajah tampan dan teduh milik pemuda yang bahkan belum menyebutkan namanya itu.


"Panggil aku Val! "


Demi apapun yang sedang terbang diudara, Lea sempat menghentikan Buru nafas dan juga detak jantungnya sesaat. Pemuda itu memang sedang membaca fikirannya.


"Apa profesimu seorang dukun?"


Pria itu menghapus semua senyum diwajahnya, menatap aneh penuh penasaran dari air muka gadis bertubuh sedikit kurus itu. Lalu memiringkan sedikit kepalanya guna memasuki hazel sang gadis.


"Kau fikir aku ini apa? Pertama kau bilang aku hantu, dan sekarang, dukun?"


Pria itu terkekeh pelan, menutup mulutnya dengan satu telapak, lalu melayangkan telapak lain diudara serta menggerak-gerakkan kekanan dan kekiri. "Tidak! Aku hanya makhluk biasa! Bukan dukun apalagi monster menakutkan! Kau tidak perlu khawatir, aku tidak bisa membaca fikiranmu! Kau istimewa! " tegasnya sembari berjalan mendekat dan mengusuk pelan anakan rambut yang sedikit berantakan.


"Kau benar, aku bisa menilai apa yang ada dalam fikiran seseorang hanya dengan menatap kedua matanya!" pemuda itu menjeda sejenak, lalu kembali berucap. "Tapi tidak denganmu! Aku tidak melihat apapun dari dalam hazel indahmu itu! Kau benar-benar murni! Seperti air telaga yang ada di antara gemuruh air terjun! "


Lea tak mengerti, sama sekali. Kepalanya semakin pusing saja. Sok puitis!! Hanya itu yang bisa ia deskripsikan saat mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan pemuda yang mengaku bernama Val tersebut.


"Aku akan membawamu kebanyak tempat jika kita sudah bersama nanti! "


Helaan nafas dalam kembali Lea hembuskan. Tatapan jengah kembali ia suguhkan, bersamaan senyuman tipis diujung bibir yang menyusul, "Kita tidak akan pernah bersama! Aku tidak mau hidup ditengah ilusi yang kau ciptakan ini! Val-ssi!

__ADS_1


Pria itu mengerjap beberapa kali, mendekatkan wajah mereka. Udara dingin perlahan menyapa wajah Lea saat pemuda itu menghembuskan nafasnya bersamaan sebuah senyuman kecil. Kemudian meletakkan telapak tangannya untuk ia letakkan pada sebelah pipi Lea yang sedikit merona. Seraya berbisik dan mengunci pupil keduanya.


"Tapi ini bukan ilusi! Kau akan melihat semuanya menjadi nyata jika kita bersatu!"[]


__ADS_2