
Seoul yang dingin, musim gugur 2021.
Mungkin, akan menjadi sebuah luka jika mengingat bagaimana sang ayah menceritakan bagaimana ayah dari putrinya itu pergi meninggalkan mereka begitu saja. Ya, Lea cukup tau saja tentang masa lalunya itu dan berharap semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Karena hidup akan terus berlanjut, tak peduli itu akan menjadi baik atau semakin memburuk.
Lantas, tanggung jawab yang ia emban kali ini melebihi nyawanya sendiri. Putri kecilnya, juga membutuhkan kasih sayang dan pastinya, hanya dia sendiri yang bisa memberikan itu. Well, seorang diri.
Lea kembali menekuni pekerjaan yang sempat ia tinggal beberapa waktu tanpa sebab yang sama sekali tidak ia ingat. Yang ia tau, dia sudah pernah menikah dan berkeluarga, kemudian sekarang memiliki Putri kecil yang cantik.
Duduk disebuah kursi yang terbuat dari kayu, Lea mengeluarkan buku catatan kecil untuk menulis beberapa ide yang tiba-tiba saja terbesit saat melihat bangunan kuno yang ada didepan kedua maniknya.
"Pertemuan mereka berawal di sebuah rumah tradisional yang cukup terlihat kuno!" tulisnya. Kemudian kembali melihat pada salah satu sudut bangunan yang menjadi destinasi wisata untuk turis tersebut.
Kali ini, Lea sedang berada dikota karena urusan pekerjaan. Hampir satu minggu dia berada di sini, dan dia sangat merindukan Putri kecilnya, Aurora.
Namun bersamaan dengan pendar pandangan yang ia alihkan pada tiang penyangga rumah yang masih kokoh itu, seorang pemuda berjalan dengan kamera pada salah satu telapaknya. Pakaian dan rambutnya tertata rapi, lebih terkesan ala-ala retro. Lea memicing, meyakinkan pada apa yang ia lihat.
Tidak asing sama sekali, dia pernah melihat pria itu, tapi—entah dimana.
Bagai sebuah kaset usang yang kembali diputar dan disaksikan pada monitor televisi modern, gambar dalam memori tersebut terputus-putus. Membuat pusing hingga tiba-tiba muncul perasaan tidak nyaman di perutnya—mual.
"Sial! Kenapa kepalaku mendadak pusing begini?" gumamnya pelan, memejam, memijat pelipis yang semakin berat, kemudian kembali mematri pandangan pada sosok yang semakin menarik minatnya—semakin membuatnya ingin tau.
Namun yang terjadi pada detik selanjutnya ialah, tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Netra keduanya bersirobok bersama sapuan angin yang membelai wajah serta menerbangkan beberapa anakan rambut panjangnya, Lea tertegun, stagnan pada paras pria yang sedang menatapnya kali ini. Mendadak hatinya pilu, kelopaknya bergetar, dan manik indahnya itu mulai berair.
Bayangan dimana wajah, senyum, bahkan tatapan tajam itu terpapar nyata dihadapannya. Bagai gambar monokrom, sekelebat kejadian yang sama sekali tidak ia ketahui dan ia ingat itu terbesit dalam benaknya.
Aku mencintaimu...
SIAL!!!
Lea mengaduh, kepalanya semakin pusing dan sungguh ia tak sanggup menahan gejolak yang timbul dari dalam perutnya lebih lama lagi.
God, ini tidak baik.
Lea dapat melihat pria itu berjalan mendekat kearahnya. Lea berusaha bangkit dengan pandangan yang semakin memburam, berdiri terhuyung karena entah mengapa, tubuhnya refleks ingin pergi begitu saja. Hingga tubuhnya berada dalam tangkupan seseorang saat dia hampir jatuh tersungkur.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?"
Suara ini? Bahkan aku pernah mendengarnya?
Lea tak menjawab, yang ada dalam benaknya hanya menjauh dari jangkauan pria yang tak ia kenal tersebut.
"Nona, anda pucat sekali! Mari saya bantu kerumah sakit terdekat!"
Lea sempat menolak, namun pada menit selanjutnya ia tak mengingat apapun, dan kembali membuka mata. Disambut oleh Aroma disinfektan, juga bau obat-obatan yang begitu menyengat. Lea tau ia berada dimana saat ini. Rumah sakit.
Tirai hijau yang mengililingi tempatnya berbaring itu tertutup rapat, tidak ada siapapun dan Lea dapat menghela nafas lega karena pria yang tadi ia hindari itu tidak ada disini bersamanya.
Akan tetapi, tidak sesuai dengan spekulasinya sendiri. Tiba-tiba seseorang membuka salah satu sisi tirai, kemudian muncul seseorang yang sejak awal ingin ia hindari, berdiri bahkan saling kembali bertatap mata.
Matanya Indah.
"Anda sudah bangun nona? Maaf saya pergi sebentar untuk membeli minuman di kantin rumah sakit!" ucap si pria, membuat Lea terperanjat dan mengedip beberapa kali karena gugup.
Demi Tuhan, Lea ingin sekali lari. Dia tidak ingin terjebak dalam situasi mamuakkan seperti ini. Bahkan, dia sekarang berhutang Budi pada pria yang kini sedang membuka salah satu botol minuman, kemudian menyodorkan itu kepadanya.
Sial, tidak biasanya dia kalah dengan tubuhnya sendiri seperti ini.
Mencoba bangkit, Lea sedikit kesulitan hingga pria itu reflek membantunya untuk bangung dari ranjang putih yang ia tempati.
"Terima kasih!" ucapnya, sembari menampik telapak pria tersebut agar tak menyentuh dirinya.
"Saya bukan orang jahat! Anda tidak perlu sewaspada itu kepada saya, saya hanya ingin membantu!"
Demi infus yang sedang menusuk salah satu otot tangannya, Lea merutuk diri sendiri mengapa menjadi selemah ini.
"Dokter juga bilang, anda hanya perlu beristirahat beberapa saat! Setelah itu anda boleh kembali pulang dengan syarat beristirahat dengan cukup!" lanjut si pria, menyampaikan apa yang dikatakan dokter pemeriksa padanya, beberapa saat lalu. "—akan aku antar anda sam—"
"Tidak perlu! Aku akan pulang sendiri dengan taksi!"
Kalimat pria itu terhenti saat tiba-tiba Lea menyela dengan airmata yang meluncur begitu saja. Lea juga tidak tau mengapa dia malah menangis sekarang.
__ADS_1
"M-maaf!" tutur si pria, merasa tak enak dan juga bersalah dengan tatapan lurus, saat melihat Lea menangis. Kemudian menjauh beberapa langkah dari Lea yang semakin tergugu.
"Tolong tinggalkan saya sendiri!" pinta Lea dengan suara parau dalam tangis. Mengusap kasar airmata yang jatuh membasahi pipinya itu.
"Ba-baiklah, saya akan pergi sekarang!"
Lea tertunduk, sama sekali tidak ingin meihat wajah pria tersebut. Sebab sangat menyakitkan. Pria tersebut merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompet kulit berwarna hitam miliknya. Meletakkan sebuah kartu nama diatas nakas yang tak jauh dari Lea duduk.
"I-ini kartu nama saya! Anda bisa menghubungi saya jika memerlukan sesuatu, atau—"
"Aku mengerti! Sekarang, tolong tinggalkan aku!" sahut Lea masih tanpa mengalihkan pandangan dari selimut yang menutup sebagian tubuhnya.
"Saya pergi sekarang!"
Secuil rasa bersalah tiba-tiba terbesit dalam benak Lea saat pria itu sudah menghilang dibalik tirai. Hingga tanpa sadar dia memutar arah pandang keatas nakas, dimana pria tadi meletakkan kartu namanya disana. Perlahan Lea mengulurkan tangan, meraih kertas putih tersebut. Maniknya membola sempurna pada apa yang kembali mengejutkannya saat ini. Nama pria tersebut, dengan nama yang selama ini ada dalam benaknya.
Vallen Hudson.
Lea terbelalak, hatinya terasa kacau balau. nafasnya terasa semakin mencekik di kerongkongan.
"Pria itu... "
Dia benar-benar ada. Dia nyata.[]
•
•
•
Hope You Enjoy This chapter.
I'll be back soon...
💜💜💜
__ADS_1
Vizca.