Dark Autumn

Dark Autumn
24. Heartaches.


__ADS_3

Usia kandungan Lea masih baru menginjak bulan keempat. Akan tetapi, perutnya sudah terlihat membuncit besar membuat asumsi berbeda didalam pemikirannya, Lea bahkan tidak tau mengapa—mungkin karena bayinya itu istimewah. Dan juga, tubuhnya terlihat sedikit lebih kurus.


Terdengar samar derit pintu terbuka, menampakkan sosok Val yang sedang memasuki kamar, baru kembali dari tempatnya bekerja. Dia bahkan tak menyapa Lea selama beberapa bulan terakhir, karena setelah kejadian malam hari waktu itu, wanitanya tak pernah mau bertegur sapa dengannya.


Akan tetapi malam ini, Lea mencoba sedikit melunakkan hati untuk sekedar meminta sesuatu pada Val. Masih sama, ekspresi yang ia suguhkan tetaplah dingin bak es dikutub bumi.


"Bisa kau bawa aku ke savana? Aku merindukan tempat itu!" Suara Lea memecah keheningan.


Val yang sedang mengendurkan lilitan dasi dilehernya itu tercekat dengan permintaan tiba-tiba dari Lea.


"Untuk apa kau kesana? Lagi pula ini sudah malam!" tutur Val menolak, dengan bahasa sehalus mungkin, tanpa menoleh atau melirik sedikitpun. Tak ingin menorehkan luka lain dalam hati Lea.


"Tidak ada, yang aku rasakan hanya ingin pergi kesana!"


Pada akhirnya, Val membalik badan demi menemukan presensi Lea yang ia dapati saat ini sedang duduk memandang pepohonan yang bergerak cukup lambat karena tiupan angin.


"Besok! Aku akan membawamu kesana besok pagi!"


Val membawa langkah mendekat, dia mematri kedua manik biru safir itu pada sang wanita berhazel bulat dan Indah yang kini berada pada posisi dihadapannya, namun jarak mereka masih terlampau jauh.


Wajah dan suara Lea yang sangat Val rindukan, membawa langkah pria tersebut kembali mengetuk lantai untuk semakin mendekat, memangkas jarak demi menghapus perasaan dan juga semua keinginan yang ia pendam—bertatap muka. Menatap sendu, sembari mengulurkan telapak tangan ragu demi mengarahkan anakan rambut Lea yang terjuntai untuk tertaut dibalik daun telinga.


Cantik sekali.

__ADS_1


Batin Val dengan sebuah ulasan senyum lembut yang ia suguhkan. Sedang Lea, hanya diam terpaku didepan dada bidang sang suami.


"Ayo kita kesana besok!" tutur Val mengulang sekali lagi. "Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu!" ucap Val sambil menjauhkan telapak tangan, kemudian menjatuhkan lengannya mengapung diudara setelah menyelipkan sebuah usapan samar pada pipi Lea.


Lea tak bergeming, dia hanya mendengar tanpa bersuara. Dia juga berharap apa yang dikatakan Val saat ini, bukanlah sesuatu berharga yang dikatakan Veyly—kakak Val, tempo hari.


Kali ini, pandangan Val turun pada perut Lea yang menyebul dengan cukup kentara. Melayangkan sebuah tatapan sendu dalam belenggu sebuah rindu, Val mengejutkan Lea dengan mengatakan sesuatu yang membuat Lea sedikit gugup.


"Apa dia sudah bergerak?"


Lea mengangguk samar ditengah rasa kejut yang menerpa.


"Emmm, bolehkah aku menyentuhnya?" tanya Val ragu, takut Lea tak memberikan izin untuknya menyentuh bulatan tersebut.


Kembali Lea memberikan sebuah anggukan. Membuat Val mengarahkan dirinya untuk berlutut mensejajarkan diri dengan perut besar Lea, kemudian mengusapnya sangat lembut. Lalu meletakkan kepalanya tepat diperut Lea. Bahkan Val tak menduga jika menjadi seorang ayah dengan keadaannya yang bahkan terasa tidak nyata, adalah sebuah realita.


Mendadak, hati Lea terasa sakit. Teremat kuat hingga menimbulkan ngilu yang memaksanya untuk menitihkan airmata. Sungguh, Lea ingin sekali mengusap surai Val saat ini. Menyalurkan setiap inci sebuah perasaan yang ia simpan rapat-rapat. Telapaknya bahkan hampir menyentuh pucuk surai tersebut, namun terhenti kala kembali teringat apa yang sudah terjadi akhir-akhir ini. Ia telan kembali seluruh keinginan itu mentah-mentah dalam rasa kecewa. Lalu mengesat airmata yang hampir saja jatuh diatas surai Val.


Val menjauhkan diri setelah merasakan sebuah tendangan lembut dari dalam perut Lea, mengusap penuh perhatian dan senyuman tulus. "Jangan nakal didalam sana! Agar ibumu tetap kuat!"


Tak dapat disangkal sedikitpun, hati Lea terasa semakin hancur saat ini. Dirinya terasa seperti pemeran utama dalam sebuah dongeng dalam cerita fantasi di dunia nyata.


"Cukup! Tolong berdiri!" pinta Lea dengan lembut, menguatkan dirinya sendiri agar tidak terbawa suasana sendu yang dibangun Val, semakin jauh.

__ADS_1


Baiklah, Val merasa tidak pantas memang. Dia sudah terlanjur membuat dinding pembatas maaf dari Lea semakin tebal.


"Jika kau berkenan, tolong ajak papaku kesini! Aku ingin bertemu dengannya!"


Val membolakan kedua manik biru safirnya saat mendengar permintaan Lea. Bukannya tidak mau, Val hanya tidak ingin jika sesuatu terjadi diluar kendali yang ia miliki. Dia takut Henny akan tau kehadiran ayah Lea, dan membuat bencana besar terjadi.


"Kau tidak mau?" sergah Lea membuyarkan semua kecamuk dalam benak Val.


Bahkan Val bertanya pada dirinya sendiri, tentang jawaban apa yang harus ia berikan. Sedangkan dihadapannya, Lea sudah menanti keputusan berupa sebuah jawaban.


"Aku tidak bisa bertindak semauku disini! Aku bisa mengabulkan permintaanmu yang pertama, tapi aku tidak yakin pada yang kedua! Jadi aku akan bertanya kepada ayahku terlebih dahulu atas permintaanmu itu!" jawab Val dengan pandangan tertunduk dan terkunci pada ubin dingin dalam pijakan.


Lea mengangguk paham, dengan hazel yang sudah berembun. Lea bahkan menahannya agar tak menetes. Entah mengapa perasaannya menjadi semakin mudah dirapuhkan, bahkan hanya karena hal kecil pun Lea sudah ingin sekali menangis. Semua menjadi berkebalikan dengan dirinya yang dulu.


Sial!


Lea fikir, dia sudah terjebak terlalu jauh dan sudah kepalang basah, jadi dengan alasan itulah Lea berusaha tetap mengikuti semua yang menjadi keputusan Val. Tak menuntut terlalu jauh.


"Kau membuatku bingung, tapi... Baiklah! Bahkan akupun tau jika diriku juga tidak bisa berbuat semauku disini! Beristirahatlah! Kau pasti lelah!"


Val terdiam, dia hanya mampu membiarkan Lea menjauh dari jangkauan netranya. Membiarkan Lea mendahului untuk menyelami alam mimpi.


Val mengusap tengkuk lehernya yang berpendar sakit. Henny memanggilnya, akan tetapi dia tak peduli. Dia hanya tidak ingin kejadian beberapa bulan yang lalu kembali memperkeruh suasana. Dia juga tak peduli jika nanti dirinya harus menerima akibat dari penolakan ini.

__ADS_1


Val masuk kedalam bilik mandi, menatap bayangan dirinya yang terlihat menyedihkan. Tersenyum sarkas diujung bibir. Menahan mati-matian ngilu dan perih dari balik tengkuk lehernya yang semakin menjalar.


"Aku tau kau tidak akan membiarkan aku begitu saja setelah ini!" gumam Val sambil melihat pantulan kulit pucatnya yang seperti terbakar. Val kembali tertawa. "Aku sudah lelah dengan semuanya! Jadi meskipun aku kehilangan diriku sendiri aku tidak peduli, karena dua kehidupan lain lebih berharga untukku saat ini!"[]


__ADS_2