
Warning!!
Terdapat beberapa penggunaan kata yang berhubungan dengan darah, dan lain-lain. Perlu ditanggapi dengan bijak.
Bagi yang merasa tidak atau kurang nyaman, silahkan di skip.
Thank You.
—
Matahari benar-benar bersembunyi dibalik bingkai malam. Tak bisa dibantah jika kelam semakin membawa suasana pertemuan kali ini menjadi sebuah bilik benci karena kehilangan seseorang.
Butuh waktu cukup lama bagi Val untuk mencari tempat lembab ini, hingga akhirnya di bertemu dengan sosok yang sangat ia benci saat ini, Henny.
Henny cukup tau maksud kedatangan Val ketempatnya, seorang diri. Dan satu orang yang patut disalahkan mengapa semua ini terjadi adalah Val, sumber semua petaka—menurut Henny.
Pada detik selanjutnya, beberapa tetes darah tiba-tiba berjatuhan dari tanda yang dimiliki Val. Dia hanya menyeringai saat tau Henny sedang berusaha menguasai dirinya melalui bawah sadar. Sedangkan Val, menolaknya dengan tegas. Tak ingin kembali terlihat lemah dibawah kuasa Henny.
Entah mengapa, Val tidak ingin melibatkan seluruh anggota keluarga dan ingin menyelesaikannya sendiri. Karena merasa semua adalah kesalahan yang ia timbulkan. Maka, pergi diam-diam adalah jalan terbaik.
Telapak Val meraih tengkuk leher dan mengusap cairan kental dan anyir tersebut hingga membuat satu sisi berubah pekat.
"Jadi, wanita tua itu memberikannya untukmu?"
Sempat terkejut, Val hanya menatap datar dengan sebuah seringai dibibirnya. Akan tetapi, semua tau jika Nana memang sangat menyayangi Val melebihi dirinya sendiri.
"Aku merasakan aura lain dari tubuhmu!" lanjut Henny yang kali ini membawa langkahnya untuk mengikis jarak, memperdekat diri pada sosok Val yang berada dibarisan depan dan hampir terasa asing baginya.
Val hanya diam, tak ingin menimpali apapun hingga Henny benar-benar berdiri didepannya, tersenyum sarkas sembari mengulurkan tangan guna meraih tetesan darah yang masih mengalir dari ceruk leher Val, kemudian menjulurkan lidah untuk merasakan sesuatu yang paling ia sukai dari sosok Val.
"Berbeda!" tuturnya. "Waah, aku tidak menyangka Nana akan bertahan selama itu demi dirimu Val!"
Val mengeratkan rahang, lengannya sudah terkepal rapat, menahan semua kecamuk amarah yang sedang merambat naik memenuhi isi kepala.
"Kenapa kau lakukan itu?" kini Val mulai membuka mulut, mencari alasan mengapa tiba-tiba saja Henny melakukan hal buruk kepada Nana yang pasti sudah ia tau, jika wanita tua itu adalah orang baik.
Seperti mendengar sebuah lelucon paling lucu sedunia, Henny tertawa, lantang sekali. Jika mereka semua manusia seutuhnya, atau paling tidak, mereka tidak tau siapa Henny, pasti bulu kudu mereka akan terbangun begitu saja. Lantas kembali menautkan tatapan bengis pada Val yang masih Setia menunggu jawaban.
"Kau masih sanggup bertanya itu kepadaku?" jawab Henny singkat, kemudian memutar langkah menjauh, berdiri kembali diantara kedua orang pengikut berwajah garang dikedua sisi. "Harusnya kau tanya dirimu sendiri, mengapa aku melakukan itu! Lagi pula, memang sudah waktunya Nana pergi dari dunia fana ini bukan? Semua orang pasti mati!"
Nyatanya jawaban itu justru mematik emosi Val semakin kuat, dia memfokuskan diri pada sosok Henny. Berusaha melumpuhkan Henny dibawah kendalinya. Dan untuk sejenak berhasil, karena Henny tiba-tiba memekik dan tersungkur di lantai usang yang bahkan tak berbentuk dan berdebu tebal.
__ADS_1
Sontak kedua pengikut Henny itu bergerak cepat untuk menghentikan Val, tapi Henny menghentikan keduanya. Mencoba berdiri, kedua mata yang berubah merah menyala. Dan aliran darah yang cukup banyak keluar dari hidung melewati bibir.
Henny berhasil bangkit. Menyeringai tajam pada sosok Val yang kini merasa nafasnya tercekat hebat.
"Kau, sudah berani menghianatiku! Dan sekarang, kau juga ingin membunuhku? Kau terlalu berani melakukan itu, Val!"
Val berjuang seorang diri saat ini.
-
Lea merasakan nyeri pada tanda di pergelangan tangannya, mengaduh lirih merasakan tanda tersebut terlihat menyala seperti bara api. Perasaannya kalut, ia takut sesuatu terjadi pada Val.
"Apa yang terjadi?" batin Lea. Bahkan tanda tersebut semakin membuat kebas dan nyeri yang tak bisa ia gambarkan.
"Kenapa?"
"Papa, bisakah papa membawaku keluar dari sini?"
Sang ayah ragu, bahkan dirinya tau jika itu mustahil—mengingat dirinya hanya seorang manusia biasa. "—Aku merasa sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Val!" lanjut Lea menarik kembali atensi sang ayah.
"Papa tidak bisa melakukannya sayang, kau tau papa bukan makhluk seperti mereka!"
Oh, tidak. Ini buruk. Lea tak menyangka jika hal ini akan benar-benar terjadi. Wajah Lea berubah cemas, gelisah memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Val saat ini.
Bahkan, nuansa yang tadinya terasa Indah bagi Lea, kini berubah mencekam. Desir angin yang lembut seolah memperingati untuk segera pergi. Kedua telapaknya saling tertaut, kemudian meletakkan dahi diatas kepalan yang tercipta, Lea mulai tersedu.
"Sayang, tidak terjadi apapun dengan Val!"
"Aku mohon lakukan sesuatu, Pa! Aku ingin kembali dan memastikan jika Val baik-baik saja!"
Tembok benci yang sudah ia bangun dan berdiri kokoh beberapa waktu lalu, mendadak hancur begitu saja. Lea tak bisa menampik perasaannya pada sosok Val yang sangat dia benci. Bahkan saat ini, ingin sekali Lea melihat Val berdiri untuk memeluk dia dan calon anak mereka. "Aku mohon..." lanjut Lea dengan suara pilu yang menyayat hati sang ayah.
"Papa akan mencobanya!"
Seketika, Lea mendongak dan menatap lekat pada sang ayah. Hingga beberapa detik kemudian, Lea merasa tubuhnya begitu ringan diantara cahaya putih bersinar yang menilaukan, ia lihat bayangan wajah seseorang yang begitu cantik dan berbisik, "Cintai dia apa adanya! Maka kau akan melihatnya kembali disisimu!"
Bagai terbangun dari mimpi buruk, Lea membuka dengan cepat kedua kelopak mata. Terbangun kasar kemudian melihat sekeliling yang memang terlihat tidak asing. Dia berada dikamar pribadinya, dirumah ayahnya.
Sinar matahari menerobos masuk diantara tirai yang bergerak pelan karena tertiup udara yang berhembus dari pendingin ruangan yang menyala. Kemudian melirik sekilas jam dinding yang tergantung, dan juga kalender yang berwarna merah.
Musim gugur, ditahun yang berbeda.
__ADS_1
"Kenapa aku berada disini? Lalu, bagaimana dengan Val?" gumamnya pada diri sendiri.
Val? memangnya siapa Val?
Dia tidak merasakan apapun selain lelah pada bahu dan punggungnya. Telapaknya yang tertancap jarum kecil melewati nadi dengan kantung berisi cairan bening yang tergantung pada sisi kananya, juga dengan defibilator yang berdenting teratur seperti denyut nadinya, yang memenuhi rungu dan ruangan, Lea mencoba mengingat apapun kedalam ingatannya, apapun itu. Tapi nihil, tidak ada bayangan yang terlintas.
Meremas satu sisi kepalanya yang mendadak pusing, Lea memicing menahan nyeri.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Lea memutar bola mata, menilik setiap sudut rumah, dan tercium aroma bayi yang sangat nyata. Dan juga, ada sebuah box bayi tak jauh dari jendela yang seingatnya, akan membawanya sampai pada balkon dan memperlihatkan pemandangan alam yang Indah.
Pelahan, Lea menuruni ranjang dengan fikiran kalut. Menatap angka berwarna merah dan dicetak tebal, tepat dibagian atas kertas kalender.
2021?
Seingatnya, terakhir ia melihat angka disana masih—ah, Lea benci perasaan ini. Perasaan yang membuat hati dan matanya tidak bisa sejalan. Terasa nyeri, hingga tanpa ia duga airmatanya meleleh tanpa sebab.
Langkahnya pelan menuju box bayi yang terlihat tenang. Hingga kedua kakinya berdiri terpatri tepat disamping pembatas kayu yang tertutup rapat. Seorang gadis kecil sedang tidur dengan kedua kaki dan tangan terlentang dalam balutan pakaian hangat membungkus seluruh tubuh. Cantik dan terlihat sangat menggemaskan dengan kedua pipi gembil dan bibir semerah cherry, serta kulit seputih salju.
Lea menutup mulut dengan kedua telapak tangan tak percaya. Membawa tungkai mundur beberapa langkah, kemudian terhenti kala suara pintu dibuka lembut, mengejutkan dan menarik atensinya secara bersamaan.
Suara yang tidak asing, itu adalah ibunya.
"Lea, kau sudah sadar sayang?"[]
•
•
PS: Jika bingung dengan bab ini, silahkan baca ulang bab sebelumnya, atau tulis pertanyaan pada kolom komentar.
Dan juga, maaf baru bisa update. Real life Vi's sibuk mengurusi balita. Mohon maklum. Terima kasih untuk yang masih membaca Dark Autumn hingga sejauh ini. Akan ada beberapa bab lagi menuju Ending, semoga nanti suka dengan endingnya ya...
Jangan lupa untuk selalu memberikan apresiasi pada Dark Autumn. Dan juga mampir ke story Vi's yang lain.
Sampai jumpa di bab selanjutnya yang pastinya nanti tidak kalah menegangkan.
Terima kasih.
Salam Hati Warna Ungu,
__ADS_1
💜💜💜
Vi's.