Dark Autumn

Dark Autumn
29. MAGOA


__ADS_3

Warning!!!


Mature Content. Terdapat kata-kata yang berhubungan dengan darah dan kekerasan.


Ada pula beberapa hal yang tidak masuk akal yang hanya ada didunia fiksi dan fantasi.


Be a wise!


And Happy Reading...



Malam itu,


Terdapat banyak kata yang ingin ia sampaikan pada wanita yang sangat dicintainya, terlebih ingin sekali melihat sang buah hati terlahir kedunia. Membayangkannya saja sudah membuat jantungnya berdebar kencang, tersenyum, bahkan sebuah perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata muncul secara tiba-tiba.


Tapi Val tau itu mustahil, bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi.


Kedua manik biru safirnya meredup, berkabut, dan hanya bisa mendengar samar saat langkah kaki seseorang perlahan mendekat.


Tubuhnya sudah bersimbah darah, dan juga tak mampu lagi bergerak sama sekali karena pukulan, hantaman, dan juga benturan keras yang menyerang pada setiap inci dirinya.


Val terbatuk, memuncratkan cairan pekat berwarna merah dari dalam mulut saat tersungkur kembali di lantai lembab dan berdebu itu. Henny menatap iba pada pria yang sebenarnya sangat ia cintai itu berada dalam kondisi seperti saat ini, karena dia tak bisa menahan hasrat untuk menghabisi pria tersebut dengan tangannya sendiri. Sebab tak lagi mau menuruti keinginannya—berkhianat.


Henny berjongkok dengan anggun dan angkuh didepan Val yang tersungkur, bahkan untuk bangkit saja ia tak sanggup.


"Ah, sayang sekali aku harus membuatmu seperti ini," tuturnya sembari menarik surai Val dengan keras dan kasar. "Kenapa Nana malah membuatmu tersiksa dengan pemberiannya? Harusnya kau sudah berakhir ditanganku sejak tadi!"


Henny bangkit, berjalan menjauh dari Val. Sedangkan dia—Val, hanya mampu bertahan dengan nafas berat. Masih terlihat cukup jelas saat dua pengikut Henny itu mendekatinya, dan salah satu dari mereka meraih paksa dan membangunkan tubuhnya secara paksa.


"Kau siap menyusul Nana Val?" tanya Henny angkuh.


Val menyeringai tajam diantara semua nyeri yang menyergah tubuhnya. Sekelebat bayangan tentang Lea terbesit, membuat hatinya tenang dan menghangat. Hingga tanpa sadar jika sesuatu menerpa tubuhnya. Sakit, bahkan mampu membuatnya tak sanggup lagi membuka kedua mata.


Val merasakannya, sebuah akhir.


Dan dibatas kesadaran yang semakin menipis, sebuah cahaya berpendar terang dan menyilaukan bak sebuah perisai. Perlahan, seseorang mengurai surainya yang sudah basah oleh cairan anyir yang mengalir dari dirinya sendiri.


Val memperhatikan lamat, kemudian berkata tanpa suara dengan bibir yang bergetar.


Abel...


Wanita itu tersenyum, dan Val dapat mendengar samar suara lembut wanita yang menempati hatinya dulu.


Kau masih keras kepala seperti dulu. Kenapa kau tidak menyelesaikan ini bersama yang lainnya?


Sontak Val tersenyum, menutup matanya sejenak dan meraih telapak Abel.


"Aku pantas mendapatkan semua ini! Dan aku tidak ingin melihat wanita yang aku cintai, sekali lagi harus berakhir dengan—"


Suara Val terhenti seketika kala Abel segera menyahut kalimat tersebut.


Kau akan bertemu mereka kembali, pada musim gugur ditahun berikutnya...


Abel menjeda sejenak, manatap lurus pada sosok Val yang terlihat menahan rasa sakit dalam bentuk sebuah senyum.

__ADS_1


Tentu saja Abel tidak mengatakan semuanya , ucapannya ia hentikan sampai disana. Hingga gelap benar-benar menguasai Val yang hanya mampu menyuguhkan senyuman yang mungkin tidak akan pernah ia berikan lagi untuk siapapun. Abel mendekati salah satu Indra pendengar Val, lalu membisikkan sesuatu yang sempat ia hentikan tadi, rapat setelah kedua manik Val sudah terpejam rapat, kemudian bibir Abel tersimpul sebuah senyuman getir.


Abel mengusap lembut surai pria terkasihnya dulu, mematri pandangan pada rahang tegas yang sejak dulu sangat ia sukai. Hingga tanpa ia sadari, satu titik airmata luruh, jatuh tepat di satu sisi wajah Val.


Semoga, kau bahagia dan juga berhenti menyalahkan dirimu sendiri dengan akhir seperti ini...


-


Api dan air, selamanya kedua unsur tersebut tidak akan pernah bisa bersatu. Dengan tujuan dan juga makna yang berbeda mereka diciptakan.


Setelah berkali-kali mencoba menaklukkan sosok Abel, Henny belum juga bisa membuat sang air terbakar.


Henny berdiri angkuh, bahkan terlihat sama sekali tak suka dengan kehadiran abel ditempatnya.


"Ternyata benar, kau masih hidup!" sarkasnya, penuh dengki dan manik serupa bara api yang menyala.


"Kau belum juga berubah sedikitpun kak!"


Henny tersenyum kaku saat mendengar sebutan 'kak' meluncur melalui bibir Abel. Sepersekon kemudian, dia bahkan berusaha menyerang abel. Yang nyatanya tidak bereaksi apapun terhadap gadis dihadapannya tersebut.


Berbanding terbalik dengan Henny, Abel justru tersenyum lembut, bahkan tak sedikitpun menunjukkan adanya dendam yang tersirat dari dua manik biru safir indahnya.


"Kau mencintai Val, tapi caramu untuk mendapatkan dia itu salah..." tutur Abel, masih dengan senyuman Indah yang membingkai wajah berserinya.


"Hahaha... Kau mengatakan itu karena kau juga kecewa tidak bisa mendapatkannya bukan? "


"Tidak! Aku sudah melepas seluruh perasaanku pada Val sejak saat itu! Aku juga lega saat tau Val bertemu dengan garis keturunanku!"


Abel menegaskan jika dia benar-benar sudah merelakan Val, melindungi siapapun yang menjadi garis kehidupan selanjutnya, termasuk keluarga Lea.


Abel menatap lembut pada sosok yang sedari tadi ia sebut kakak itu, bahkan rasa iba mulai menjalar kedalam hati saat melihat Henny sudah banyak kehilangan tenaga hanya untuk mencoba mempertahankan egonya.


"Kak~semua orang pasti akan mati! Aku, kamu, bahkan semua yang ada dibumi ini akan berakhir dan kembali pada sang pencipta!"


"Jangan banyak bicara!"


Henny kembali mencoba menyerang Abel. Dan entah mengapa, semakin diserang, Abel semakin tak bisa disentuh sama sekali.


Henny terengah, dua orang gagah yang sebelumnya berdiri dan menjadi pengikutnya itu sudah sirna. Henny, bahkan tak bisa sedikitpun melewati bias cahaya yang seolah menjadi pelindung untuk abel itu.


"Sial!" umpat Henny sembari meludah.


"Kak, aku mohon berhentilah!" pinta Abel tulus, tak ingin melihat Henny semakin terluka. "Tolong..."


"Dan kau fikir, aku akan berhenti? Begitu?"


Sebuah memori masalalu berputar di ingatan Abel. Keduanya, memang terikat tali persaudaraan. Meskipun Henny tak pernah menganggap demikian. Keduanya sama-sama tumbuh dewasa dilingkungan yang berbeda, hingga Val hadir diantara keduanya. Kemudian, saat tau Abel menjalin sebuah hubungan dengan Val, Henny tak terima dan selalu berusaha memisahkan mereka berdua. Meskipun mengorbankan adiknya sendiri.


"Kau itu tidak lebih dari seorang penggod*! Dan aku puas saat melihatmu hancur di tanganku!"


Henny tertawa lantang sekali. merasa berhasil mematik api pertikaian sekali lagi, dengan saudaranya, Abel.


"Kak, aku mohon berhenti!"


Tapi bukannya berhenti, Henny semakin menjadi dengan kata-kata tak patut yang keluar dari birainya.

__ADS_1


"Kau dan ibumu sama saja! Sama-sama seorang perebut!"


Kelam, Abel tersulut saat Henny mulai membawa sang ibu dalam pembicaraan yang awalnya bukan apa-apa dan biasa saja.


"Ibumu itu perusak! Dia sudah menghancurkan kebahagiaan ayah dan ibuku dulu!" lanjutnya, kali ini dengan wajah datar dan tajam memandang Abel.


"Cukup,"


"Kenapa? Apa kau baru tau itu? Dan sekarang lihatlah! Buah. Memang. Jatuh. Tak. Jauh. Dari. Pohonnya!"


Henny menekan setiap perumpamaan yang ia lontarkan untuk Abel, membuat kesabaran Abel seketika sirna. Tanpa sadar manik biru safir itu berdenyar, menyala-nyala bak gulungan ombak yang dingin dan menghancurkan dikutub Utara. Henny, tersentak. Tubuhnya kaku hingga tak sanggup meraup udara sedikitpun—tercekik.


Rahang Abel mengeras sempurna, jemarinya terkepal kuat saat melihat Henny meronta. Namun tak sedikitpun terdengar sebuah ucapan penyesalan keluar dari bibirnya.


"Kau sudah terlalu banyak membuat kesalahan kak! Dan asal kau tau, semua yang kau katakan tentang ibuku itu tidak benar!"


Abel dapat melihat jika Henny tersenyum sarkas diantara erangan dan ronta tubuhnya yang kini sudah tersungkur, bahkan berguling diatas lantai sama yang mereka pijak.


"Aku hanya ingin kau kembali menjadi sosok baik sebelum iblis menguasai dirimu dulu! Tapi, kesempatan itu sudah hilang! Kau menyia-nyiakannya!"


Henny melemah. Perlahan bara api dimatanya meredup bersamaan nafas yang semakin menipis.


"Kak, Kau—"


Akan tetapi, suara Abel terhenti kala ia mendengar samar suara Henny berucap, nyaris seperti sebuah bisikan.


"Maafkan a-ku..."


Berhenti. Abel berhenti dan terpaku diantara rasa sedih saat melihat kakaknya yang perlahan berubah menjadi serpihan abu dan membaur bersama angin dingin yang berhembus.


Terlambat.


Tapi setidaknya, Abel melihat kembali sosok sang kakak tersenyum tulus kepadanya saat semua sirna. Bagaimanapun, dan sebenci apapun Henny padanya, mereka tetaplah saudara dan Abel menyayangi Henny sebagai kakaknya.


Hanya bisa menjadikan semua masalalu kelam tersebut sebagai pelajaran hidup, Abel hanya ingin semua lebih baik di kehidupan berikutnya yang mungkin ada. Meskipun mungkin hanya berupa sebuah harapan.


"Tidak ada yang abadi didunia ini! Tidak ada yang sempurna, kecuali Sang Pencipta! Tempat semua makhluk beradu dan kembali pulang."[]




Btw, part ini cukup panjang. Dan Vi's harap ada sesuatu yang bisa diambil sisi positifnya. Bab ini merupakan Puncak konflik, dan beberapa bab selanjutnya akan menjadi Klimaks sebagai ending. Terima kasih banyak untuk pembaca yang Setia memberikan apresiasi untuk Dark Autumn. Jangan lupa mampir juga ke karya lainnya.


Seeya in next chapter.


Thank's.


°•°•°•°•°•


Salam Hati Warna Ungu,


💜💜💜


Vi's.

__ADS_1


__ADS_2