
Pernah mendengar jika angka tujuh itu sebuah pertolongan? Ya, semua itu hanya sebuah mitos yang beredar dimasyarakat dan nyatanya memang dipercaya karena mereka selalu menghubungkan sesuatu dengan sebuah hal yang bahkan belum tentu kebenarannya itu.
Jika di pelajari lebih jauh mengapa bumi itu bulat bukan persegi, mengapa rasa gula itu manis bukan asin, dan mengapa rasa kopi itu pahit bukan asam. Percayalah, itu semua memang rahasia alam. Sang penguasa sudah membuat rencana pada masing-masing yang tinggal di semesta ciptaan-Nya.
Bahkan sebuah namapun memiliki sebuah makna yang akan membawa sang pemilik menjadi seperti yang diharapkan, semacam do'a.
Lalu apa hubungan namanya dengan sebuah cerita masa lalu. Tentang sebuah kutukan yang membelenggu sebuah kelompok dan ia harus menebusnya, Lea tak habis pikir akan hal itu. Apalagi orang tersebut kini sedang duduk santai dan mengayunkan kedua kakinya di udara, di atas ranjangnya. Sungguh memuakkan.
Tak banyak bicara, Lea beranjak menuju lemari pakaian berwarna senada dengan tirai dan pintu kamarnya. Mengambil sebuah pakaian berwarna peach yang akan ia kenakan untuk menemui tamu mereka. Ia mantap dengan keputusannya.
Menatap nanar penuh sarkasme pada Val yang tertangkap basah sedang melihat padanya.
Hah, sial!! Kenapa pemuda itu terlihat semakin tampan saat mengenakan setelan jas seperti itu??
Lea tak akan berhenti mengutuk diri sendiri jika nanti sampai sebuah kata pujian lolos dari birainya. Meski tak dapat dipungkiri pemuda itu memanglah sangat mempesona meski wajah dan kulitnya pucat seperti mayat.
"Kenapa melihatku seperti itu? Aku tampan bukan? Apa kau mulai menaruh perasaan padaku? "
"Eewww..." sahutnya dengan ekspresi yang dibuat-buat kemudian melanjutkan, "Jangan harap! Bagiku kau hanya benalu yang perlu dibabat habis agar tak semakin menjalar keseluruh permukaan bumi! "
Val terkekeh lantang mendengar perumpamaan yang gadis itu berikan padanya. Dari sekian banyak orang yang ia jumpai dan kenal, Lea sangat berbeda. Dia mampu membuatnya tertawa hanya dengan mendengar suara madu yang terasa lembut melewati Indra pendengarannya.
"Kau yakin dengan ucapanmu itu! Hei, perlu kau tau! Banyak gadis mengejarku! "
"Itu karena mereka bodoh! Dan juga tidak tau jika kau adalah hantu yang berkeliaran siang dan malam! "
Val tak sakit hati, dia bahkan menunjukkan sisi lembutnya dengan berkata. "Maka dari itu, terima saja aku dan ubahlah diriku menjadi nyata! Kau akan semakin mengagumi diriku yang---"
"Apa kau tidak bisa diam?! Kau sangat berisik!! "
Buru-buru Lea melangkah kedalam kamar mandi sebelum mendengar sahutan penyangkalan dari pemuda yang menurutnya hantu yang datang dari dimensi lain dan berwujud menyerupai seorang manusia.
Begitu menginjakkan kaki di ambang pintu kamar mandi, Lea kembali melayangkan tatapan nyalang yang memprovokasi.
"Awas kalau sampai kau mengintipku! Diam disana atau keluar saja! Aku merasa lebih aman jika kau tidak ada disini!! "
"Aku akan masuk kesana dengan kekuatan magisku! Bersiaplah terkejut! " godanya dengan mata mengerling.
"Issshhh...!! Jika kau melakukan itu, jangan harap asetmu baik-baik saja!"
__ADS_1
Val menelisik pada hazel milik Lea, mencoba mencari makna kata yang baru saja dilontarkan gadis yang sudah terbenam didalam kamar mandi. Menggaruk tengkuk lehernya dengan wajah merona meski tak tau-menau dengan ucapan Lea.
🍁🍁🍁
Dua orang sedang duduk tegap diatas sofa, satu orang sedang menatap penuh tanda tanya, dan satu orang lainnya sibuk didapur untuk membuat minuman hangat, ditengah dinginnya suhu malam ini.
"Kau pasti tau maksud kedatangan kami kesini tuan John? "
Sebuah suara bertempo rendah memecah keheningan. Sang pemilik nama tersenyum hambar sembari membuang pandangannya kearah dimana sang istri sedang menata beberapa makanan ringan dari dalam nakas, mengambil beberapa buah-buahan dari dalam lemari pendingin, menyusunnya dengan bersemangat dan senyuman riang, serta menata beberapa gelas dan membuat minuman hangat didalam teko berwarna silver.
"Kau tau kami hidup seperti ini dan menunggu lama kehadiran putrimu itu! "
"Kau pikir aku akan menyerahkannya begitu saja? Jangan berfikiran dangkal mister Hudson! Aku tidak akan menjadi ayah bodoh yang menyerahkan kehidupan putriku untuk membuat impian kalian terwujud! "
"Itu berarti kau sudah melanggar apa yang dijanjikan tetuamu! "
"Tetua omong kosong!! " gumamnya dengan seringai tajam penuh sarkastik.
Entah mengapa waktu seolah melambat, lama sekali. Sampai-sampai pria bernama John itu ingin meraih jam dinding dan menghancurkannya.
"Kau menamai putrimu Rune agar kami tak mencarinya bukan?! Kau salah!! "
John merotasikan bola matanya tajam, menusuk jauh kedalam setiap pasang manik yang menatapnya. Ucapan itu lahir dengan tulus dari dalam hatinya. Dia benar-benar menyesal sudah masuk kedalam lingkaran yang membawanya semakin dekat pada sosok yang tidak pernah ia akui keberadaanya, yang nyatanya mereka berada dihadapannya saat ini.
Berbeda dengan John, Hudson malah tersenyum puas karena pria dihadapannya mulai menunjukkan air muka cemas, dia bisa melihat dan membaca dengan jelas jika pria itu sedang tidak nyaman.
"Mereka juga mengincar putrimu! Harusnya kau berterima kasih karena kami yang menemukan kalian terlebih dahulu! Bukan mereka! " kali ini sang wanita pucat yang membuka birainya untuk memberi penjelasan. Mencoba meyakinkan dengan wajah tenangnya.
Namun perang dingin itu terhenti kala ketukan sepatu menuruni anak tangga menginterupsi.
John melebarkan irisnya kala mendapati sang Putri turun dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya. Padahal beberapa menit yang lalu dia ingin melihat pemuda itu turun seorang diri, tanpa putrinya yang berjalan dihadapannya seperti saat ini.
Lea duduk tepat disampingnya, lalu disusul sang ibu yang berjalan mondar-mandir membawa suguhan untuk tamu yang menurutnya spesial itu.
"Lea, apa yang kau lakukan---"
"Papa tenang saja! Aku baik-baik saja! " jawabnya masih dengan senyuman lembut kelewat lugu. Membuat sang lawan bicara terpatri dengan iris yang berembun.
Lea meraih jemari seputih salju sang ayah, mengusap punggung telapak itu penuh afeksi dengan tatapan penuh kasih.
__ADS_1
"Papa tidak perlu seperti ini! Aku baik-baik saja!"
Namun semuanya berjalan seolah baik-baik saja seperti permintaan sang putri. Ibunya yang tertawa bahagia karena tak tau apapun, sang ayah yang mencoba menyembunyikan semua gelisah dibalik topeng yang mulai ia sematkan dibalik senyuman. Dan juga Lea yang sedang mencairkan suasana dengan bertegur sapa dengan kedua orang asing didepannya.
🍁🍁🍁
"Perjanjian?? "
"Eung!! Aku mau menerima lamaran konyolmu ini jika kau mau memberikan jaminan padaku! "
Val tersenyum sinis, mencoba menerka apa yang ada didalam otak gadis dihadapannya yang sama sekali tidak terbaca olehnya.
"Katakan!! "
"Aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah aku memutuskan ide konyol ini! Tapi aku mohon jangan sakiti kedua orang tuaku! "
Val mendadak merasa bersalah dan ragu akan semua yang sudah ia rencanakan. Rencana yang akan membebaskan sebuah belenggu dengan nyawa seseorang. Tidak masuk akal memang, tapi itulah adanya.
"Ada berapa orang didalam kastilmu itu?! Aku punya phobia!! " ucapnya mencoba memberi penjelasan pada sosok yang kini sedang menatap sayu.
"Aku takut pada keramaian, aku juga takut pada orang asing yang membuatku tidak nyaman! " lanjutnya sembari mengaplikasikan liptint pada bibir lembab dan ranumnya.
"Ada beberapa orang keluarga, dan beberapa orang asisten rumah tangga! "
"Kalau begitu kita harus hidup terpisah dari mereka! Aku tidak bisa hidup dengan banyak orang seperti itu! "
Val terkejut, bahkan mungkin semua itu mustahil. Mereka tidak bisa hidup terpisah. Val tertunduk.
"Kenapa? Tidak mau?! " jawabnya sembari menghentikan mengoles liptint.
Val kembali membawa pandangannya untuk menatap punggung sang gadis yang terlihat kuyu. Termangu saat mengingat pusaran konyol kehidupan yang membelenggu hingga membuatnya ingin merasakan nyawanya dicabut.
"Baiklah! Beri aku waktu! "
Lea menyematkan senyuman getir pada wajah cantiknya. Apa dia sedang melakukan perundingan saat ini? Sungguh tak habis fikir.
"Aku tau kau akan mengatakan itu!"
Lea berdiri, membawa torsonya untuk mendekat pada sosok Val yang masih duduk diatas ranjangnya. Meletakkan telapak tangannya untuk mengusap lembut pipi si pemuda, terasa dunia seolah berhenti saat kulit mereka bersentuhan. Namun Lea berhasil menyembunyikan rasa kejut itu dibalik pupil mata indahnya.
__ADS_1
"Aku harap kau tidak menyesal jika aku sudah meletakkan hatiku padamu! Itu keinginanmu bukan?! Dan juga aku harap kau tidak putus asa saat aku pergi darimu! Karena semua akan menjadi rahasia didalam benakku, tentang semuanya!! "[]