Dark Autumn

Dark Autumn
15. Hidden.


__ADS_3

Lea pernah mendengar jika sesuatu yang pergi tanpa alasan jelas, pasti suatu saat nanti akan kembali dengan membawa sebuah dendam dan bencana. Meskipun itu tidak terbukti adanya pada dunia nyata, tapi sepertinya sudah menjadi sebuah memori yang menakutkan didalam ingatannya.


Val pulang dari tempat kerjanya, wajahnya terlihat segar sebab baru saja keluar dari kamar mandi guna membersihkan diri.


"Aku membuatkanmu teh panas! " menunjuk secangkir teh diatas meja kecil disamping tembok kaca aestetic menghadap hutan dengan bahasa mata.


"Ah, terima kasih! "


Lea menaikkan selimut sebatas pangkal paha sambil membaca sebuah buku dongeng fantasi.


"Tentang bunga itu---" ucap Val membuka pembicaraan, namun terhenti tepat saat Lea menyahut dengan cepat.


"Bukti penyatuan?! Benar bukan?! "


Val menoleh, ingin sekali bertanya darimana dia tau akan hal yang tak pernah mereka beritahukan pada siapapun tersebut. Tatapan Val menelisik kedalam Netra hazel Lea, tetap sama, tak dapat melihat apapun atau mendapatkan sesuatu disana.


"Darimana kau tau? Apa Nana yang memberitahumu? "


"Tidak, aku hanya menebaknya! "


Val kembali menatap bentangan hutan yang sudah sangat gelap, bahkan tak terlihat apapun. Hanya lolongan serigala atau dengkuran burung hantu yang saling bersahutan yang terdengar. Val mengangguk, menyesap teh panas buatan Lea perlahan.


"Lalu---" Lea sedikit ragu, hendak mengurungkan niat bertanya. Namun meyakinkan diri, menarik nafas dalam dan melanjutkan. "---kapan itu akan bekerja? "


"Apanya? "


Lea membulatkan mata, mengeratkan rahang dan kedua telapak mengepal dibawah selimut. "Ah, lupakan! "


"Maksudmu---hasil kita semalam? "

__ADS_1


Pipi Lea merona seketika. Bahkan bertanya pada dirinya sendiri, mengapa Val bisa bicara segamblang itu dihadapannya.


"Jika dia bertemu dengan cepat, satu bulan pasti sudah jadi! Tapi jika tidak, kita harus mengulangnya lagi!"


"Ck!!! "


Lea meluruhkan badannya, menutup tubuhnya, menaikkan selimut dengan sempurna. Membuat Val tergelak tawa.


"Lalu, dimana Henny?! Kenapa aku tak melihatnya dimeja makan pagi ini?"


Benar, seharusnya dia bertanya sejak tadi.


"Henny, dia pergi kesuatu tempat untuk sementara! "


"Kemana? "


"Kau sudah makan malam?"


Lea tak bergeming, hanya menggerakkan selimutnya sekilas. Mungkin dia sedang menyamankan posisi, pikir Val. Lalu kembali menyesap teh dalam cangkir di tangannya dengan tatapan kosong. Seolah memikirkan apa yang akan terjadi saat Henny kembali nanti.


"Hei, kau sudah tidur? " tanya Val memastikan.


Tak ada pergerakan. Tatapan yang tadinya tegar seperti tanpa sebuah beban, kini berubah sayu. Penuh khawatir dan iba pada gadis yang ada dihadapannya saat ini.


Rasa panas dan menyengat tiba-tiba terasa pada tanda yang ada dibalik tulang leher Val. Menahan dengan menggigit bibir bawahnya, Val berjalan keluar kamar. Berlari cepat menuju sebuah bangunan yang ada disisi gudang tanpa sepengetahuan Lea.


Diluar, hujan mulai turun. Deras sekali. Dengan pakaian sedikit basah Val masuk kedalam bangunan tersebut. Seseorang sudah menantinya didalam sana.


"Ada apa? " tanya Val dingin.

__ADS_1


"Kau lupa? Malam apa ini? "


Val mengepal kuat telapaknya. Nafasnya seperti tercekik di kerongkongan.


"Kau lupa karena sudah berhasil melakukannya bersama gadis itu? "


"Bukan begitu, aku---"


"Jangan menghindar dariku, atau gadis itu berada dalam masalah! "


Val terbelalak, benar dugaannya. Jika Henny akan menjadikan Lea sebagai senjata untuk melemahkannya.


Val mendekat dan duduk ditepian ranjang yang sama dengan Henny, meraih pundak wanita itu dan mendaratkan satu kecupan pada telapak tangannya.


"Jadi, kau mau aku bagaimana? " tanya Val seduktif, sembari menautkan maniknya pada pupil merah milik sang wanita.


Tubuh Val terdorong perlahan, hingga terbaring sempurna diatas ranjang yang penuh dengan taburan bunga Mawar dan semerbak chamomile dari lilin aroma yang menyala.


Wanita itu menindih Val dengan agresif, memancing gairah pria Val dengan caranya sendiri.


"Berikan aku kepuasan tak terhingga, melebihi wanita itu! "


Val tersenyum sarkas, membelai surai jatuh wanita yang sedang bergerak tidak jelas diatas tubuhnya.


"Kau tau? Tubuhku selalu terasa seperti terbakar setelah kau melakukannya bersama wanita itu! " lanjut Henny dengan ekspresi penuh sarat emosi.


Val tercekat, dia baru tau tentang itu.


"Baiklah, ayo lakukan hingga kau merasa muak dan menyerah padaku! "[]

__ADS_1


__ADS_2