Dark Autumn

Dark Autumn
27. Lost The Time (Nana Has Gone and never come back)


__ADS_3

Kebohongan.


Katakanlah semua itu adalah bagian terpenting dari sosok seorang Val meskipun dia tak menginginkannya. Ia tau, sadar dan faham betul jika berbohong tidak akan menghasilkan apapun selain sebuah kehancuran mutlak. Kehilangan kepercayaan, atau bahkan Cinta dan kasih sayang seseorang.


Val tersenyum tipis saat melihat Lea memeluk sang ayah dari kejauhan. Nafasnya kembali terengah saat harus membawa manusia melewati batas waktu tanpa sesuatu yang paling berpengaruh dalam dirinya itu. Dan kini, Val harus kembali lagi kedalam dunia yang terasa semakin memuakkan—Abel Wood.


Ruangan yang sepi. Lorong yang diterangi temaram lampu dinding redup berwarna kemerahan, dan juga aroma gunung yang tak pernah lepas dari penghirup. Val berjalan dengan langkah tertatih, nafasnya terengah hebat, dan sesekali terbatuk saat pasokan udara di paru-parunya terasa hampir habis.


Manik biru safir itu berdenyar samar. Sebisa mungkin Val menata diri, agar kembali normal seperti semula.


Lolongan serigala, dan juga derik hewan malam terdengar jelas. Tidak ia dapati seorangpun melintas, rumah sepi sekali. Sampai diperpotongan tembok rumah, Menuruni anakan tangga dengan kepala yang masih terasa pusing, Val sampai di lantai dasar. Masih tak terlihat siapapun, sunyi.


Hingga langkah kaki jenjangnya sampai di ambang pintu yang menghubungkan rumah utama dengan taman Mawar dan juga rumah tinggal Nana.


Val berjalan mendekat saat mendengar suara renta yang mencari-cari dan menyebut dirinya.


"Nana?" gumamnya pelan, namun masih bisa didengar oleh seluruh penghuni ruangan. Dan betapa terkejutnya Val saat melihat Nana, wanita tua baik hati yang menolong dan menjadikan dirinya bagian dari keluarga ini, tergeletak tak berdaya diatas sofa. Wanita tua itu tertawa lembut.


"Kalian bisa tinggalkan aku dan Val berdua?"


Tentu saja semua tidak bisa membantah ucapan wanita tua yang sangat mereka sayangi itu. Satu persatu berdiri lalu pergi meninggalkan ruangan tengah yang saat ini sangatlah sunyi.


"Kemarilah nak!" pintanya pada Val. Suaranya terdengar lirih dan bergetar, membuat Val tak kuasa menahan bobot tubuhnya sendiri. Menahan sesak dan juga tangis yang sangat menyakitkan.


Val duduk disisi Nana, meraih telapak tua dan berkerut lalu mengusap dengan penuh kasih. Seraya berkata, "Siapa yang membuat Nana seperti ini?"


"Lea baik-baik saja bukan?"


Val mengangguk. "Dia berada ditempat pertama kali kita dipertemukan dulu!"


"Jadi, kau mencintainya?"


Nana ingat betul saat Val memberitahunya dulu, Val saat itu berkata tidak akan membawa siapapun kesana, selain wanita yang sangat ia cintai. Val menjawabnya dengan sebuah anggukan ragu, dia tidak ingin membuat Nana kecewa. Tapi apa yang ia dengar sangatlah berkebalikan dengan asumsi yang sedang ia fikirkan.


"Syukurlah! Henny tidak akan bisa masuk kesana! Lea akan aman!"

__ADS_1


"Jadi—"


"Ssst... Mendekatlah padaku!" titah Nana, yang tidak bisa disangkal oleh Val sedikitpun.


Val membungkukkan badan, membiarkan Nana meletakkan jemarinya dipipi kemudian mengarahkan ke belakang surai, lebih tepatnya pada tengkuk leher Val, dimana lambang tersebut tersemat. Terasa dingin, dan juga aneh, rasa dingin itu juga seperti merasuk melalui tanda dibalik tengkuk lehernya.


"Apa yang kau—"


"Waktuku sudah tidak banyak lagi! Dan kau membutuhkan ini semua untuk melawan Henny dan menyelamatkan Lea juga anak kalian! Henny kembali dengan sebuah dendam!"


Hati Val berdenyut sakit sebab marah dan kecewa pada dirinya sendiri. Ia yakin ini semua terjadi akibat dia tak pernah datang meskipun Henny menginginkannya.


"Tapi—" suara Val tercekat. Nana sudah tidak bergerak tepat saat rasa dingin itu sudah sirna. Kedua manik Val membola, memperhatikan Nana yang sudah terpejam.


"Nana! Bangun!" panggilnya dengan wajah panik. Airmata sudah tak bisa ia tahan lagi. Val menangis, meluapkan segala kesedihan yang sedari tadi menggulung perasaan. Menggenggam telapak berkerut milik Nana yang perlahan terasa menghangat dan pucat.


Sebenarnya, untuk apa dia menerima itu dari Nana. Val bahkan sudah tak berharap apapun pada kenyataan yang perlahan menjadi abu-abu dalam benaknya sendiri—putus asa. Apalagi Nana meninggalkannya sekarang, siapa yang akan disalahkan?


"Tentu saja aku!" ucap Val bermonolog. Memangnya siapa lagi yang mengubah keadaan menjadi seperti ini selain dirinya yang tak peduli lagi pada panggilan Henny. Ia masih mengingat saat pertama kali Nana mengatakan sesuatu diusia remaja dulu, sebelum abel hadir dalam hatinya.


"Karena itu adalah caranya melindungi diri!" jawabnya mengingat apa yang ia katakan puluhan, tidak, lebih, mungkin ratusan tahun yang lalu. "Tapi, kau bilang jawabanku itu salah!" lanjutnya dengan wajah datar tanpa ekspresi sembari masih menggenggam telapak Nana.


Bersamaan dengan itu, pintu ruangan dibuka. Anggota keluarga yang sedari tadi menunggu diluar masuk begitu saja, sebab sadar jika aura Nana sudah sirna. Nana telah pergi.


Bahkan kini, semua tertunduk sedih karena satu-satunya orang yang mereka kasihi telah pergi.


"Henny yang melakukannya?" tanya Val tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.


"Benar! Dia datang diam-diam, kemudian Veyly menyadari itu! Dan saat kami sampai disini, Nana sudah tidak berdaya!"


Val mengepal kuat, rahangnya mengeras. Dia benar-benar murka.


"Henny akan menerima balasannya! Aku tak peduli jika harus hancur ditangannya!" Val tersenyum getir diantara tatapan tak terartikan di wajahnya.


"Kau tidak bisa pergi sendirian?" tutur sang ayah.

__ADS_1


Val menoleh, kali ini wajah sendunya terlihat begitu tersakiti. Saat menerima kenyataan bahwa Nana telah pergi untuk selamanya.


"Tidak! Ini, urusanku dengannya! Ayah dan ibu, juga kak Veyly tidak perlu ikut untuk semua ini! Aku sudah—"


"Tidak! Kami akan tetap pergi bersamamu!" sahut sang ibu, meyakinkan Val.


Val tertunduk dengan sebuah senyuman getir. "Terima kasih, dan maaf sudah membuat keluarga kalian harus terlibat untuk kedua kalinya karena kesalahan yang aku perbuat!"


Sang ibu mendekat, memeluk Val penuh kasih. "Kau tidak sendirian! Ada kami!" lirihnya sembari mengusap surai Val. "Kami memang sempat tidak suka dengan kehadiran Lea, tapi kami sadar jika gadis itu adalah gadis baik! Dia bahkan rela menyerahkan diri demi membebaskan kita! Jadi, kita harus berjuang bersama!"


Sang ibu menjauhkan tubuh Val, menangkup kedua pipi serta kembali berucap. "Lindungi mereka berdua! Kami akan membantu sebisa kami!"


Val mengedarkan pandangan, melihat satu persatu anggota keluarga yang tersenyum padanya.


Kini, kekuatan dalam dirinya seolah kembali. Tekad yang semula sirna, kembali membara.


"Aku akan melindungi mereka berdua ibu! Aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayangi untuk kesekian kali!"[]




Maaf, baru bisa Update.🙏😔


Dark Autumn memang slow Update ya, gak bisa Up setiap hari.


Sekali lagi terima kasih untuk yang masih membaca dan bertahan di Dark Autumn. Semoga ada hal baik yang bisa diambil dari cerita ini.


Happy Reading,


semoga terhibur.


Big Love,


Vi's.

__ADS_1


__ADS_2