
"Val... "
Sungguh, Lea tak tau mengapa nama itu selalu muncul bagitu saja. Apalagi kenyataan yang sedang berada dihadapannya saat ini adalah pria yang memiliki nama yang hampir sama.
Lea terperangah pada sosok yang berjalan mendekat padanya itu. Beberapa detik menahan agar maniknya tak berkedip, hanya untuk sekedar menatap lekat dan mengagumi pria bertubuh tinggi dan berparas rupawan itu. Tiba-tiba saja semuanya berubah berkabut, saat melihat siapa yang berjalan dibalik punggung kekar pria berbalut coat hangat itu. Seorang wanita cantik berambut panjang yang sangat anggun dan mempesona.
Senyuman Lea memudar begitu saja.
Hingga keduanya berhenti tepat dihadapan Lea, yang sontak membuat Lea turut berdiri dan membungkuk untuk menyapa pada keduanya. Dari ekor mata, Lea dapat melihat, wanita cantik itu meraih salah satu lengan pria tersebut dengan lembut, dan tak mendapat tolakan sedikitpun dari si pria.
Lea mencoba tersenyum, disela sesak dalam dadanya melihat kehangatan mereka berdua.
"Hai,"
Sapaan ini, yang ingin Lea katakan sejak tadi. Sejak melihat pria pemilik boxy smile tersebut mendekat padanya. Kedua manik Lea mendadak panas, menahan mati-matian agar tak ada tetesan dari kelopak mata.
"Ah, hai! Selamat sore, maaf merepotkan anda!" jawab Lea atas sapaan Val.
"Tidak! Saya juga merasa tidak enak menyimpan barang milik orang lain!"
Lea mengalihkan tatap pada sang wanita yang ada disamping pria yang ia tau bernama Vallen tersebut. Kemudian mengulurkan tangan dengan senyuman yang ia coba tulus.
"Lea, " katanya, pilu memaksa senyum, dengan suara yang nyaris tercekat oleh salivanya sendiri.
"Abel!"
Keduanya saling bertukar nama, dan sungguh, bak sebuah bongkahan es yang mencair, semuanya luruh, habis tak bersisa. Entah ini sebuah takdir, kutukan, atau hukuman untuk dirinya, Lea mendadak merasakan ngilu pada ulu hati yang memang sedari tadi sangat menyiksa. Meringis dan meremas sesaat kaos longgar berwarna putih yang ia kenakan, Lea merasakan sakit. Sakit sekali.
"Ah, anda baik-baik saja?" Tanya wanita yang baru saja memperkenalkan diri dengan nama Abel tersebut. Memapah Lea yang terlihat sedang tidak baik, dengan sarat khawatir dimatanya.
Lea kembali menegakkan tubuh, menepis lembut telapak Abel dengan sebuah senyuman yang tak kalah sendu. "Saya baik-baik saja!" jawabnya, sambil sekilas melirik pada pria tinggi disamping Abel. "Maaf..." ucap Lea selanjutnya.
Abel membawa Lea untuk duduk pada kursi yang berada tepat dibelakang mereka, menatap khawatir.
__ADS_1
Dan tak mau membuat semua semakin berlarut, Lea mengangkat wajah guna melihat pada sosok Vallen. Kemudian menyematkan senyuman lembutnya sembari bertanya, "Saya membutuhkan buku catatan saya!"
Vallen tersentak kaget, lalu mengerjap cepat—gugup, kemudian menyodorkan buku catatan bersampul hitam legam yang ia genggam itu pada sang pemilik.
"Gadis kecil dalam foto itu sangat cantik!" tutur Val tiba-tiba, dengan senyuman tipis dibibirnya. Tak menampik, membuat Lea sontak terperanjat dengan maniknya yang membulat.
Sekali lagi, hati Lea berdenyut sakit. Hingga nafas Lea kembali tercekat erat hingga membuatnya tak bisa bernafas. Dan untuk kesekian kalinya juga, Lea mencoba tersenyum, meskipun mungkin, terlihat kaku.
Menyadari ekspresi yang ditunjukkan Lea, Val merasa tak enak. "Maaf..."
"Itu—putri saya! Namanya Aurora!" jawab Lea masih mendongak, memperhatikan Vallen yang masih juga memperhatikannya.
"O-eoh," jawabnya gugup. "Maaf sudah lancang, seharusnya saya tidak melihat foto tersebut!"
"Tidak apa-apa!" sahut Lea cepat membenarkan, pun memaklumi. Lalu, dengan tiba-tiba Lea bertanya. "Apa kalian pasangan menikah?"
Entah, mengapa Lea begitu ingin bertanya demikian—tentang status mereka. Sekedar—ingin tau, mungkin.
Pria bernama Vallen itu tersenyum hangat. Senyuman yang begitu Lea kenali.
"A~h..." jawab Lea tak mau memperkeruh sesuatu yang bahkan tidak ingin ia usik sama sekali. Semua hanya sebuah kenangan. Ya, kenangan yang bahkan sudah usang dan terlupakan.
Semburat keunguan dilangit senja mulai sirna, menuju titik dimana semua penat akan berakhir bersama hari yang menggelap pekat. Berganti kehangatan didalam rumah bersama orang yang dicinta.
"Kalau begitu, Val-ssi—terima kasih sudah menjaga buku saya dengan baik! Saya harap kebaikan anda akan mendapat balasan yang sepadan!" tutur Lea, berharap menjadi do'a terbaik untuk pria tersebut atas kebaikan hatinya. "Dan juga—, semoga pernikahan yang kalian rencanakan itu berjalan dengan baik!"
"Ah, terima kasih!"
Suara berat yang sangat Lea rindukan, entah mengapa dia sangat merindukannya sekarang.
Dan cukup untuk hari ini. Lea hanya sanggup melihat kedua sosok itu berjalan menjauh darinya dengan saling menautkan telapak. Ada buncahan kesedihan yang tak dapat Lea katakan, tapi dia menyimpannya dengan sangat rapi. Benar. Seharusnya begitu.
"Mereka pasangan yang serasi..." gumamnya bersamaan udara dingin yang menerpa wajah, menerbangkan anakan rambut hingga menutup sebagian wajah sendunya. Lalu tanpa ia sadari, airmata itu telah jatuh membasahi kedua sisi wajah cantiknya. Untuk pertama kali, setelah ia mencoba mengingat semuanya, dia berhasil membawa semua memori itu kembali.
__ADS_1
Sempat menampik, hingga kesadaran seolah menariknya kembali akan hal yang tak bisa lagi ia sangkal. Sebuah kenyataan, meskipun pahit.
"Papa salah tentang dia! Val adalah pria baik dan dia rela menyerahkan hidupnya demi aku, dulu..." gumamnya, mengingat kembali mimpi yang memperlihatkan semuanya dalam semalam. "Aurora akan bahagia hanya dengan sesuatu yang aku katakan nanti!" lanjutnya dengan airmata yang semakin deras. Tergugu dalam ringkuk dan kenyataan. "Ayahnya adalah orang baik! Sangat baik!"
Lea tau, Val adalah orang yang berharga untuknya, tapi semua sudah berubah. Saat bahagia, juga sedih yang sudah mereka lewati. Semua adalah kenangan. Lalu membiarkan berjalan sesuai takdir, dan dia harus menerima itu.
Mereka tidak dapat bersatu. Hanya di masa lalu. Cukup dia yang tau, dan berpura-pura baik-baik saja setelah semalaman menumpahkan semua tangisnya adalah jalan terbaik.
Val-nya telah pergi.
Val boleh melupakan dia untuk selamanya, tapi satu hal yang akan selalu Lea simpan seorang diri, bahwa dia tidak akan pernah menghancurkan kebahagiaan Val yang mungkin sudah melupakan dirinya, untuk selamanya.
Ya, Val nya kini telah bahagia, bersama wanita yang seharusnya memang menemani dan bersamanya seperti pada masa lalu. Bukan dengan dirinya.
Abel Wood yang dingin adalah sebuah dongeng dan juga kenangan yang indah untuk Lea. Tak akan pernah ia lupakan sampai suatu saat waktu benar-benar berhenti untuknya, nanti.
—END—
•
•
Akhirnya...
Lega rasanya sudah menyelesaikan satu lagi story. Maaf jika kurang memuaskan. Dan, Terima kasih sudah mengikuti Dark Autumn hingga tamat.
Jangan lupa kunjungi juga story Vi's yang lain. Klik aja profil Vi's. Ada story yang tak kalah seru yang mungkin sesuai dengan readers sekalian.
Jika tidak keberatan, tinggalkan jejak dan juga Follow akun Vi's sebagai dukungan.
Terima kasih.
VizcaVida.
__ADS_1