
Sejak kejadian malam itu, Lea tak begitu mempedulikan lagi apapun yang dilakukan Val. Terlebih, saat suaminya itu baru kembali dari tempat kerja, biasanya, Lea akan membuatkan minuman hangat atau apapun untuk menyambut kedatangan Val. Tapi tidak untuk kali ini. Hanya dingin dan rasa tak peduli. Mungkin itu yang disuguhkan Lea.
"Kau sudah makan?" tanya Val memecah keheningan.
"Kau makan saja dulu! Aku sedang kehilangan nafsu makanku!"
"Hilea! Tolong, jangan menyakiti dirimu sendiri!"
"Tidak! Aku sedang tidak ingin makan!" tolaknya tegas. Lea bahkan tak sanggup mengarahkan kedua bola matanya untuk melihat sang suami.
Perlahan, Val keluar dari kamar setelah selesai mengganti pakaian dan menuju meja makan untuk mengikuti kegiatan rutin keluarga tersebut.
Sepanjang menyusuri lorong penghubung yang akan membawanya ke ruang keluarga, Val hanya memasang wajah datar dipenuhi rasa sesal. Dia takut Lea pergi dari rumah ini dan tak ingin kembali setelah tau semuanya.
Mengusap tengkuk leher sekilas, Val terkejut saat Veyly tiba-tiba muncul dan mau tidak mau menghentikan langkah Val. Berakhir keduanya mengedarkan pandangan pada bentangan hutan hujan dari jendela lorong.
"Kau sedang bermasalah dengan Lea?" tanya Vey membuka percakapan.
Val mengangguk samar, menggigit bibir bawahnya ragu. Seolah ingin sekali menyembunyikan masalah yang sedang ia emban pada siapapun.
"Dia tau apa yang terjadi padaku dan Henny!" tutur Val pelan sembari tersenyum getir dalam tundukan kepala dan meremat jemari yang berada di sapuan udara.
Suasana kembali hening sejenak, hingga suara rintik hujan kembali memenuhi rongga telinga. Menambah suasana sendu dihati Val yang beku.
"Aku menyuruhnya kembali kepada orang tuanya!"
__ADS_1
Vey terkejut, ia terbeliak dengan bola mata yang membulat sempurna. Ia tak tau jika sang adik akan melakukan hal yang membuat Henny murka nantinya.
"Kau tau apa yang kau lakukan?!" ketus Veyly.
Sebuah anggukan dan tautan mata ia suguhkan pada Veyly.
"Hanya itu satu-satunya cara agar mereka berdua selamat!"
"Dan kau akan kehilangan dirimu!" sahut Vey dengan cepat.
Val mengedikkan bahu, dia sudah tau konsekuensi dari apa yang ia katakan. Bahkan jika dirinya harus sirna, membaur bersama angin, dia akan melakukannya. Karena dia tak mau kehilangan—
"Kau mencintai Lea?"
Senyuman kembali Val sematkan diujung bibir.
"Seharusnya kau tidak perlu menaruh perasaan pada gadis itu! Kalian berbeda, dan tentu dia hanya sebagai penebus semua—"
"Aku lelah! Aku sudah hidup terlalu lama dalam belenggu kehidupan yang bahkan aku sendiri tidak tau akan berakhir seperti apa nantinya, kak! Aku benar-benar lelah!"
Vey bahkan kehabisan kata-kata untuk pernyataan yang dikatakan Val.
Barangkali, adiknya itu sedang kalut dan tidak dapat berfikir jernih, hingga tanpa sadar mengatakan semua itu kepadanya—mungkin, pikir Veyly.
"Selama ini, aku mengira hidup seperti ini cukup menyenangkan! Memiliki usia yang panjang, membaur bersama manusia dan juga hidup tanpa kekurangan apapun!"
__ADS_1
Sebuah helaan nafas dalam keluar dari birai Val. Terdengar dipenuhi rasa frustasi.
"Tapi semuanya menjadi samar saat aku mengenal Lea! Kau tau, aku adalah penyebab semua kekacauan ini! Jadi, aku akan menebusnya sendiri!"
"Val—"
"Tolong rahasiakan ini dari siapapun, termasuk Nana dan Lea!"
Rahasia,
Lagi?
Val bahkan tak tau harus berbuat apalagi sekarang. Melibatkan semua orang karena kesalahan yang ia buat dimasa lalu membuatnya merasa seperti orang yang paling buruk. Dan Val ingin menebus semua itu dengan dirinya sendiri, bukan siapapun, apalagi Lea. Wanita yang sangat tidak bisa ia pungkiri sudah memenuhi hatinya itu.
Vey menepuk bahu Val sekilas. "Asalkan jangan menyerahkan satu hal paling berharga yang kau miliki, padanya! Atau kau akan benar-benar lenyap!" Kemudian berjalan mendahului. Meninggalkan Val dalam ketertegunan kisah hidup miris yang bahkan tak ia harapkan jika dirinya adalah bagian dari skenario tersebut.
Val beranjak, kembali melangkah untuk menyusul Veyly yang sudah menghilang di perpotongan lorong dan menuruni anak tangga menuju ruang keluarga. Val sempat berbalik untuk kembali manatap sepanjang lorong di balik punggungnya, berharap Lea benar-benar tidak keluar dari kamar dan mendengar percakapan rahasianya dengan Veyly.
Sedangkan disisi lain, dibalik sebuah tembok bangunan yang kokoh, manik Lea berpendar lurus saat mendengar sendiri ucapan Val yang bahkan ingin menyelamatkan dirinya.
Beberapa menit sebelumnya, Lea memang sempat menolak ajakan makan malam Val. Namun dia mengurungkan niat dan berencana menyusul Val. Hingga, hal yang mengejutkan tersebut ia dengar tanpa sengaja. Bahkan Val dan Vey tidak bisa merasakan keberadaan Lea disekitar mereka, karena Lea memang istimewa.
Lea berjalan kembali menuju kamar dengan langkah teramat lemah. Dia bahkan harus kembali menelan pil pahit, berupa sebuah kenyataan.
"Kau akan terus hidup sebagai hukuman karena sudah menyakiti dan membuat kecewa diriku Val! Kau harus tetap hidup untuk menyaksikan bagaimana aku pergi, agar kau tau bagaimana rasanya jika hatimu tersakiti!" Lea menitihkan airmata hingga pintu kamar itu berhasil ia lewati, Lea kembali bergumam. "—dan juga, kau harus merawat anak kita saat aku benar-benar tidak mungkin lagi untuk menjaganya! Ya! Kau harus melakukan dan menerima semua itu, agar kau tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat kau cintai!"[]
__ADS_1