
Sejak mendengar apa yang dikatakan sang nenek pada waktu makan malam beberapa hari yang lalu, Val cenderung diam dan tak banyak bicara ketika hadir pada acara rutin keluarganya itu.
Keadaan Lea yang sudah lebih baik dari sebelumnya juga tak mampu mengembalikan perasaan Val menjadi lebih baik.
Setelah acara makan malam hari ini berakhir, Lea menanti kedatangan Val dikamar mereka. Sudah hampir tiga puluh menit setelah makan malam berakhir, Val belum juga kembali.
"Sebenarnya kemana dia?" ucap Lea bermonolog. Lea juga khawatir karena Val menjadi lebih diam sejak kejadian hari itu, menambah asumsi didalam kepalanya bertumpuk dua kali lipat. "Apa yang sebenarnya disembunyikan Val dariku?" lanjut Lea.
Hingga suara kenop pintu terbuka mengejutkan Lea yang sedang menatap lurus pada tembok kaca yang menampakkan bias dirinya yang duduk diatas ranjang besar dan nyaman itu.
Sosok Val muncul dengan pakaian yang berbeda. Entah, sejak kapan dia menggantinya. Lea hanya berfokus pada raut cemas yang beberapa hari ini melingkupi Val.
"Apa kau sakit? Mengapa wajahmu terlihat sedikit berbeda dari biasanya?" tanya Lea.
"Tidak! Aku baik-baik saja!"
"Lalu kenapa kau terlihat murung seperti itu?"
Val bergeming, dia hanya berjalan menuju ranjang dan merebahkan diri dibalik selimut tebal yang menutupi separuh tubuhnya.
Diam-diam, Lea turut meluruhkan dirinya dibalik selimut. Melirik sejenak presensi Val yang memejam, kemudian kembali berkata.
"Aku tidak tau apa yang sedang kau sembunyikan dariku Val! Aku harap itu bukanlah sesuatu yang membuatku ingin pergi darimu!"
Seketika, Val membuka kedua maniknya. Membola sempurna dengan raut wajah ketakutan.
"Tidurlah! Sudah malam!"
Mendapat jawaban yang tidak ia inginkan, Lea merubah posisi membelakangi Val. Jemarinya meremat kesal selimut yang menutupi tubuh sebatas dada itu. Berusaha memejam meskipun terasa sangat sulit, hingga pada akhirnya Lea berhasil memasuki alam bawah sadar dan terlelap.
__ADS_1
***
Val tau, malam ini, adalah malam dimana dirinya harus bertemu dengan Henny. Menyerahkan diri sebagaimana mestinya untuk melakukan hal serupa yang mereka lakukan selama ini.
Membuka mata ditengah temaram lampu tidur, Val mendapati Lea yang tertidur pulas di tempatnya. Val menuruni ranjang perlahan, berharap Lea tidak terbangun. Kemudian berjalan keluar kamar tanpa suara—mengendap-endap.
Dan tepat saat pintu itu kembali tertutup, Lea membuka lebar hazelnya. Turut menuruni ranjang dan menarik tuas pintu perlahan agar tak terdengar oleh Val yang mungkin belum terlalu jauh.
Namun, ketika berhasil melewati bilah pintu kamar, Lea tak lagi melihat sosok Val disepanjang lorong yang hanya diterangi beberapa lampu temaram yang menempel pada dinding sebagai penerangan yang akan membantu langkah menapak guna menuju ke ruangan lain.
Sial.
Lea mempercepat pergerakan kakinya, berharap tidak kehilangan Val dan berakhir terpergok oleh salah satu anggota keluarga Val.
Dan entah mengapa, langkahnya terarah begitu saja ke rumah kosong yang ada dibelakang gudang.
Saat hampir mencapai tempat itu, aroma bunga Mawar yang menyengat penghirup terasa begitu jelas. Begitu juga tanda di pergelangan Lea yang tiba-tiba memanas tanpa ia tau penyebabnya. Lea mengibaskan lengan beberapa kali, namun tak membuahkan hasil. Akan tetapi tanda itu semakin menyala seperti bara api yang menyakiti kulit pualamnya. Lea memicing, bahkan menahan suara rintih akibat rasa sakit yang timbul.
Henny?
Merasakan bagaimana hatinya seperti dihancurkan oleh hantaman meteor, sesaat kemudian disusul suara geraman seorang pria yang tidak asing ditelinga.
Val?
Mencoba menolak terkaan yang muncul didalam kepala, Lea bergumam dalam hatinya yang sudah kepalang jatuh berserahkan.
Tidak!
Tidak mungkin!
__ADS_1
Sangkalnya.
Dengan langkah yang terasa berat seperti dibebani ribuan ton beton, Lea mendekat kearah pintu satu-satunya bangunan yang tampak usang itu. Dengan ragu menyentuh kenop yang sedikit berkarat, namun semua yang ia lakukan terhenti seketika, waktupun ia rasa turut terhenti saat ini. Lea menutup mulut tak percaya dengan kedua telapak tangan, tubuhnya bergetar hebat, maniknya memburam dan mengeluarkan airmata deras saat mendengar konversasi dua presensi didalam ruangan itu—Yang diselingi dengan pekikan, dan juga desahan.
Pening, kepala Lea sudah tak sanggup lagi mencerna apa yang sedang terjadi didalam sana. Kakinya bergerak mundur, menjauh dan kini berlari dengan derai airmata yang tak bisa lagi ia bendung. Tertatih, bahkan hampir tersungkur saat menggesa jalanan gelap ditengah legam dan kelam yang hanya di iringi suara derik hewan malam.
"Jadi, yang selama ini ia sembunyikan dariku—"
Lea tak sanggup lagi berucap. Dia hanya berharap ini hanya mimpi buruk yang dialaminya saat tidur karena terlalu memikirkan Val, dan akan hilang saat dia terbangun. Akan tetapi—jika itu sebuah mimpi, seharusnya dia bisa melihat raganya tergeletak dalam lelap disana, diatas ranjang. Namun tidak ada siapapun disana, tidak ia dapati raga yang terbaring diatas ranjang, tidak juga terlihat Val berbaring disampingnya.
Lea mengunci pintu kamar, merosotkan diri perlahan menyentuh lantai yang dingin. Gaun tidurnya pun ikut terjuntai begitu saja saat kedua kakinya bersimpuh.
Ini semua nyata!
Lea menggeleng, mengangkat kedua tangan untuk ia susupkan diantara surai yang sudah sangat berantakan. Merematnya kuat dengan derai yang masih belum bisa berhenti.
Angan yang sempat ia rangkum Indah bersama prianya musnah dalam sekejap. Hanya kecewa yang tersisa, yang dapat ia rasakan dalam dirinya. Lea mencoba kembali berdiri. Mengesat airmata dan menyembunyikan kekecewaan yang mendalam untuk menuntut sebuah penjelasan. Ya—setidaknya Val harus menjelaskan semua ini kepadanya. Tentang apa yang ia dengar malam ini, tentang tempat itu, tentang kebohongan yang disembunyikan oleh keluarga ini, dan juga—
Tentang apa yang dilakukan Val dan Henny. []
•
•
Sampai Jumpa di part selanjutnya.
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. Jangan segan untuk meninggalkan apresiasi sebagai dukungan untuk Vi's.
Salam Hati Warna Ungu,
__ADS_1
💜💜💜
Vizca.