
Suasana dingin kembali menyapa permukaan kulit Lea saat kembali ke Woody Hill. Rumah keluarga Val yang menjadi tempat tinggal Lea saat ini adalah persinggahan terakhir.
Sepanjang berjalan di lorong rumah, entah mengapa perasaan Lea berubah tidak nyaman. Sebab angin yang datang dari balik jendela yang masih terbuka terasa sangat dingin, seolah sesuatu sedang mengikuti langkahnya berjalan.
Lea berhenti tepat saat angin dingin itu menampar wajah dan tubuhnya. Tak terlihat, namun terasa sangat sakit dan menimbulkan rasa ngilu pada beberapa persendian.
"Siapa dirimu?" gumam Lea sambil meremat lengan atas sebelah kanan dengan telapak tangan kiri, berbicara dengan sesuatu yang ia yakini sedang mengikutinya.
Tak ada jawaban atau sahutan apapun, hanya gemerisik daun dari luar yang masih menebar remang dan membuat nyali Lea menciut. Sebab, pada dasarnya, Lea bukanlah gadis pemberani.
Lea tersenyum miring. Sedikit teringat akan cerita Val beberapa saat lalu. Saat mereka berada di Savana. "Henny? Kau kah itu?"
Mendadak, bahu Lea terdorong keras hingga jatuh terduduk di lantai bangunan besar, dingin dan sepi rumah Val. Memicing karena merasakan sedikit nyeri pada tulang ekor yang tiba-tiba saja harus menumpu bagian atas tubuhnya.
"Bagaimana kau bisa tau kalau itu aku?" jawab Henny yang sudah menampakkan diri didepan Lea. Wajahnya masih tetap sama— datar penuh benci.
Mendongak, Lea memberanikan diri mematri hazelnya dengan red eye milik Henny.
"Siapa lagi memangnya yang ingin menyakiti diriku? Kalau bukan kau orang satu-satunya yang bisa melakukan itu padaku!" sarkas Lea mencoba mengikis rasa takut yang ia tahan setengah mati.
Gaun merah menyala yang dikenakan Henny turut menggesa lantai saat sang empu membawa langkah semakin mendekat pada Lea.
Val... Please... Datanglah, aku takut...
Lea membawa dirinya mundur sesuai jumlah langkah Henny. Wanita itu tertawa sumbar, tidak, lebih tepatnya tertawa dengan aura membunuh yang dominan. Lea tau dan sadar betul jika saat ini, Henny bisa saja menghabisi nyawanya yang hanya manusia biasa dalam satu kali jentikan jari. Lea tak akan mungkin mampu menghindar.
Akan tetapi, tiba-tiba saja tanda serupa bunga Mawar pada tubuh mereka masing-masing berpendar. Lea mengaduh, sedangkan Henny hanya memalingkan tatapan ke arah bahu kanan. Val berdiri dibelakang Lea, menangkup bahu Lea yang bergetar dan memeluknya erat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Val sambil menjauhkan tubuh Lea dan memeriksa keadaan Lea
Anggukan samar Lea menyalurkan gelenyar lega pada benak Val, bersyukur karena Henny tidak dan belum melakukan apapun pada Lea. Meraih tanda pada pergelangan tangan Lea dan menyentuh perlahan hingga pendaran itu meredup dan rasa nyeri itu perlahan memudar, hingga hilang sepenuhnya.
__ADS_1
Henny, jangan ditanya seperti apa raut wajahnya saat melihat itu. Matanya bahkan turut memancarkan warna merah—sarat amarah.
"Henny, tolong jangan ganggu Lea!" pinta Val dengan suara rendah yang ia miliki.
"Kenapa? Apa kau jatuh Cinta pada wanita ini? Vallen, aku tegaskan sekali lagi padamu, dia hanya penebus! Jika kalian saling menaruh perasaan, jangan harap aku hanya diam saja!"
Val menajamkan pandangan pada sosok Henny yang masih berdiri angkuh dihadapan dirinya dan Lea.
"Kau tidak lupa dengan apa yang aku lakukan pada Abel bukan?"
Mandadak, suara angin diluar rumah terdengar semakin berisik. Bahkan gemuruh turut timbul saat Val mulai mengeratkan rahang.
"Kau marah?" tanya Lea seduktif, diikuti seringai tajam pada bibir merekahnya. "Harusnya kau sadar siapa dirimu, atau kau ingin aku mengatakan pada wanita ini siapa dirimu, dan siapa diriku!"
Gertakan yang diucapkan Henny mampu membuat Val meredam amarahnya. Dia tak ingin Lea mendengar apapun tentang mereka, Val tidak ingin menyakiti hati Lea.
"Kau tidak perlu mengatakannya!" jawab Val tegas dengan manik menatap kosong—Hampa. Lea dapat menyaksikan itu. "Tinggalkan kami, biarkan aku mengatasi ini sendiri!"
Henny berdiri, tersenyum tajam dan mengerikan lalu menghilang secepat angin. Meninggalkan Val yang menatap lurus sejauh lorong bangunan, dan Lea dengan asumsi yang berkecamuk didalam sel otaknya.
Val menunduk, menengok kembali sosok Lea dengan tatapan sendu dan khawatir. Menyibak surai yang jatuh menutupi sebagian wajah cantik Lea ke bagian belakang telinga, menyematkan senyuman menenangkan kemudian memapah seluruh tubuh Lea dalam gendongan.
Sontak Lea terbelalak dan refleks mengalungkan kedua lengannya pada leher kekar Val. "Tu-turunkan aku, a-aku bisa jalan sendiri ke kamar!" suara Lea terbata, ia gugup setengah mati saat melihat wajah Val sedekat itu.
"Istirahatlah dikamar, tidak perlu ikut makan malam hari ini! Aku akan menyuruh pelayan untuk mengantar makanan kekamar!"
Lea menatap manik biru safir Indah dihadapan kedua hazelnya, tanpa sadar Lea menarik kedua lengan hingga Val sedikit membungkuk, menautkan bilah bibir mereka beberapa detik dengan pagutan singkat. Lea memejam, meneteskan airmata, dan menahan rasa sakit pada ulu hati dan tanda dipergelangan tangan yang kembali berpendar.
***
Val menikmati makan malam dimeja makan keluarga tanpa Lea, mengundang berbagai pertanyaan dari presensi yang ada disana.
__ADS_1
"Dimana Lea?" ucap sang ayah membuka pembicaraan.
"Dia sedang kurang sehat, jadi aku melarangnya keluar dari kamar dan menyuruh pelayan untuk mengantar makanan ke kamar!"
"Bukankah dia hanya perlu duduk dan menikmati makanan sebentar disini? Mengapa sepertinya sulit sekali untuk para manusia berbaur dengan kita?" cerocos Veyly, kakak Val.
"Henny mendatangi Lea!"
Sontak membuat semua mata tertuju pada Val yang sedang mematri tatapan tajamnya pada Veyly.
"Untuk apa?" tanya Nana khawatir.
Val hanya diam tak memberikan jawaban, dia malah memasukkan sesendok besar nasi kedalam mulutnya.
"Val, katakan apa yang sebenarnya terjadi saat kami tak berada dirumah?" suara sang ayah kembali menginterupsi, memaksa Val menelan makanan didalam mulutnya kemudian melirik pada sang ayah.
"Tidak ada, lebih tepatnya dia belum melakukan apapun pada Lea! Dan aku tidak tau apa yang akan terjadi jika aku tidak datang!"
Semua terdiam, hanya memandangi Val dengan tatapan mengintimidasi.
"Kau mencintai Lea?"
Kini suara madu sang ibu mengudara. Pertanyaan sama yang membuat Val muak, bahkan dia sebenarnya tidak ingin menerima kenyataan atau mengakui perasaannya bahwa dia mencintai Lea. "Jangan lakukan itu, atau kau akan kehilangan wanita itu Val!" sambung sang ibu memberikan kepastian agar Val menarik diri sebelum terjerumus pada jurang perasaan yang semakin jauh.
"Ibu, tunjukkan bagaimana caranya padaku! Agar aku bisa membunuh perasaanku pada Lea!" sarkas Val kemudian berdiri kasar dan hampir melangkah meninggalkan meja makan begitu saja.
Kemudian seseorang menyahut,
"Kembalikan dia kepada orang tuanya, dan kita datangi lagi saat waktunya tiba!"
Val terhenti. Dia jelas-jelas tak menginginkan itu. Mengembalikan Lea sama saja membangun tembok besar yang tidak akan bisa dia hancurkan. Ayah Lea mampu membuat perlindungan dan juga bisa menjaga putrinya itu dengan segenap jiwa dan raga, yang Val tau tak akan bisa di hancurkan oleh siapapun, kecuali Lea.
__ADS_1
"Tidak! Lea tidak akan kemanapun! Dia akan tetap disini! Aku akan melindunginya!"[]