Demian

Demian
BAB 9 - Sakit


__ADS_3

“mmmhhh Dem…ini udah sampai mana?” tanya Bian yang sudah bangun.


“Tegal, bentar lagi keluar tol…oiya tadi pas aku lihat maps ada telepon sama chat beberapa kali dari Sarah tuh…” ucapku datar tanpa melihat ke arah Bian.


“oh iya? Nanti abisnya keluar tol berhenti dulu aja Dem…kan HP-nya mau aku pakai dulu buat telepon sekalian tukar posisi lagi kita” kata Bian setelah sadar sepenuhnya kemudian memperbaiki posisi duduknya.


Aku tidak merespon ucapan Bian. Sambil tetap menyetir, aku membuka tas selempang yang kuletakkan di sisi kiriku dan mengambil HP untuk kuaktifkan.


“nih kalo kamu mau pakai HP…buat maps aku pakai HP-ku aja” ucapku sambil menyerahkan HP Bian yang kuambil dari dashboard.


“eh tapi maps**nya….” ucap Bian, “dari HP-ku aja…kita juga gausah tukar posisi lagi” aku langsung memotong ucapan Bian.


“tapi Dem…” Bian menghentikan ucapannya saat mendengar notifikasi panggilan dari HP dengan nama seseorang yang menjadi sumber kekesalanku.


Siapa itu Sarah? Mengapa di kontaknya Bian menambahkan ikon love? Apa dia pacar Bian? Mungkin sepertinya iya karena beberapa kali dia menghubungi Bian. Aku diam-diam mendengarkan percakapan Bian di telepon dengan seseorang yang bernama Sarah itu.


“waalaikumsalam Sar”


…..


“iya maaf ya mas gak ngabarin kamu…ini mas masih di perjalanan. Udah di Tegal kok tapi belum sampai di tempatnya”


…..


“iya mas usahain Senin dah balik ke rumah”


…..


“hahaha iya cantik...nanti chat aja mau dibeliin apa”


…..


“ck bukan gitu, mas kangen juga kok sama kamu. Tapi emang gak sempat aja ngasih kabar”


…..


“iya-iya nanti bakal mas kabarin, kalo perlu tiap 3 jam sekali”


…..


“loh mas serius kok. Kalo gak ngabarin ngambek, giliran mau ngasih kabar tiap 3 jam juga salah. Trus gimana dong?”


…..

__ADS_1


“iya dehh intinya mas akan usahain cepat balas pesan kamu”


…..


“kamu juga hati-hati ya disana, waalaikumsalam. Love you too”


Ingin rasanya aku menangis saat ini juga mendengar percakapan Bian yang terdengar mesra dengan perempuan yang bernama Sarah itu. Setelah 3 tahun aku berusaha menghapus perasaan itu yang berakhir GATOT alias GAGAL TOTAL, dan ketika bertemu kembali aku dihadapkan fakta yang sangat menyakitkan. Apakah ini jawaban dari perasaanku selama ini? Memang dulu aku bertekad untuk tidak kecewa ketika mendapatkan jawaban atas perasaanku yang terpendam ini, tapi mengapa saat mengetahuinya terasa begitu menyakitkan?


“Dem kamu kenapa? Kok megang kemudinya kenceng banget? Apa kamu nahan sakit?” tanya Bian yang khawatir melihat kondisi tanganku setelah menyelesaikan panggilannya.


Aku yang tenggelam dalam pikiranku tidak sadar jika aku memegang kemudi mobil terlalu erat sampai tanganku memucat, “oh nothing…I’m good thanks” jawabku singkat.


Aku tahu Bian tidak langsung percaya dengan ucapanku karena dia masih melihatku dengan raut wajah khawatir. Bian akhirnya mengalihkan pandangan ke HP-nya setelah memastikan aku benar baik-baik saja.


Aku langsung fokus terhadap jalan yang ada di hadapanku dan sedikit menambah kecepatan mobil agar bisa segera sampai. Aku tidak tahan jika harus berlama-lama menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Bian awalnya sempat kembali menawarkan diri untuk bertukar posisi atau beristirahat sejenak, tapi aku mengacuhkannya karena perasaanku yang kacau membuatku tidak mampu jika harus berinteraksi dengan Bian saat ini.


Dulu perjalanan dari Kota Tegal ke desa tempat KKN kami membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam. Tapi karena aku mengemudikan mobil dengan kecepatan cukup tinggi dan kebetulan kondisi jalan yang cukup lengang, aku hanya membutuhkan waktu kurang dari 45 menit untuk tiba di tempat tujuan.


Kami disambut oleh Bu Kharimah yang biasa kita panggil Bu Rima. Sewaktu KKN, Bu Rima secara sukarela meminjamkan rumahnya sebagai tempat tinggal kami. Kami dulu menganggap Bu Rima sebagai ibu asuh karena segala akomodasi selama KKN dari makanan sehari-hari sampai transportasi disediakan oleh beliau. Saat ini Bu Rima tinggal berdua dengan anak semata wayangnya, Mas Bagas yang juga ikut menyambut kedatanganku dan Bian. Suami Bu Rima meninggal sejak 10 tahun yang lalu.


“Mbak Demi….apa kabar mbak??? Dah 5 tahun gak lihat Mbak Demi makin cantik aja mbak” sapa Bu Rima dengan aksen Tegalnya ketika menyambutku pertama kali.


“alhamdulillah saya baik bu…Bu Rima apa kabar??” ucapku sambil membalas pelukannya.


“mungkin saya kecapekan bu…tadi kan gantian sama Bian nyetirnya” jawabku sambil melihat Bian yang berjalan kearahku dengan membawa koper kami.


Aku langsung mengambil alih koperku dari tangannya ketika Bian temu kangen dengan Bu Rima. Melihat Mas Bagas di samping Bu Rima yang sedari tadi menatapku, aku hanya tersenyum kecil sambil menganggukkan kepala menyapanya.


“yaudah ayo Mas Bian dan Mbak Demi masuk dulu…kalian langsung bersih-bersih terus istirahat dulu aja. Kan capek tadi abis perjalanan jauh” kata Bu Rima sambil menggiringku dan Bian masuk ke dalam rumah.


“yang lainnya kemana bu?” tanyaku saat tidak melihat keberadaan Jihan, Alfi, Devan, dan Ines.


“oh itu…pada jalan-jalan keliling desa. Katanya mau nostalgiaan gitu” aku hanya menganggukkan kepala mendengar jawaban Bu Rima. Aku langsung diantar oleh Bu Rima menuju kamar yang akan kutempati bersama Jihan dan Ines, sedangkan Bian diantar oleh Mas Bagas.


“beneran Mbak Demi gapapa? Kalo kecapekan kenapa Mbak Demi tadi yang nyetir, bukannya Mas Bian?” Bu Rima kembali bertanya ketika kami sudah masuk ke dalam kamar untuk memastikan kondisi wajahku yang masih terlihat merah.


“awalnya Bian yang nyetir bu sampai setengah perjalanan, trus saya yang lanjutin karena kemarin Bian kurang tidur. Saya gamau ambil resiko kalau Bian tetap nyetir sampai sini bu” balasku dengan sopan, “tapi beneran ini saya gapapa kok. Istirahat sebentar juga nanti fresh lagi” lanjutku meyakinkan Bu Rima.


“yaudah kalau begitu ibu tinggal ke dapur dulu buat bikin minum kalian” kata Bu Rima, “mmm bu…saya nanti aja minumnya. Ini saya mau mandi dulu trus langsung istirahat. Ibu bikin buat Bian aja gapapa” aku mencegah Bu Rima yang akan keluar meninggalkanku.


“oh yaudah kalo gitu Mbak Demi langsung mandi aja di kamar mandi yang biasanya…masih ingat kan tempatnya dimana? Nanti biar Mas Bian mandi di kamar mandi yang ada di warung” ucap Bu Rima kemudian keluar kamar.


Setelah Bu Rima menutup pintu kamar dari luar, aku langsung duduk di atas ranjang. Aku melihat sekeliling kamar yang dulu kutempati bersama Jihan, masih sama seperti dulu. Aku menghembuskan napas secara kasar melihat kondisiku yang sangat kacau saat ini. Aku sampai merasa tidak enak hati dengan Bu Rima yang mengkhawatirkan kondisiku. Aku tahu wajahku pasti saat ini memerah karena aku sekuat tenaga menahan air mataku agar tidak keluar.

__ADS_1


Damn…kamu kan kesini niatnya mau liburan Dem, refreshing, reunian sama teman-teman kamu, jangan kamu rusak acara ini dengan cerita galau kamu yang gak jelas itu, gumamku dalam hati.


Aku duduk berdiam diri selama 5 menit untuk mengontrol diriku. Setelah merasa tenang, aku segera membuka koper dan mengeluarkan baju ganti serta perlengkapan mandi. Aku melihat koper Jihan dan Ines yang terletak di samping meja rias dan perlengkapan pribadinya di atas meja. Setelah megeluarkan barang yang kubutuhkan dari dalam koper, aku bergegas keluar kamar menuju kamar mandi yang terletak di belakang rumah. Aku sempat diam di depan pintu kamar untuk mendengar apakah Bian masih ada di dalam kamarnya yang terletak di samping kamarku. Mungkin Bian sudah pergi ke warung untuk mandi karena aku tidak mendengar suara apapun.


Kurasakan dinginnya air mengalir dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kurang dari 10 menit aku membersihkan diri karena tidak tahan dengan dinginnya air di rumah Bu Rima yang mengalir dari Gunung Slamet. Aku juga merasakan kondisi badanku tiba-tiba drop setelah dibasuh air. Terkadang aku benci dengan tubuhku yang selalu cepat drop apabila aku sedang merasa kacau atau terlalu kelelahan. Setelah berganti pakaian dengan kaus lengan panjang yang dilapisi sweater rajut model turtleneck berwarna maroon dan celana training panjang berwarna abu-abu tua, aku membungkus rambutku yang masih basah dengan handuk yang kulilitkan di atas kepala.


Setelah keluar dari kamar mandi, tiba-tiba seseorang menarikku dari arah samping kamar mandi.


“kamu pasti sakit Dem. Aku udah feeling pas kita sampai di Tegal, kamu tiba-tiba diam. Ini wajah kamu makin merah Dem…kita ke dokter ya?” ucap seseorang yang ternyata Bian. Aku melihat tatapan khawatir dan bersalah dari matanya.


“aku gapapa kok Bi…” lirihku sambil berusaha melepaskan genggamannya, “Bi, let me go. Aku mau istirahat dulu” pintaku dengan tatapan memohon.


Tiba-tiba aku merasakan pandanganku sedikit berputar akibat sakit yang menyerang kepalaku secara tiba-tiba. Aku yang merasa kakiku lemas tidak mampu lagi menopang berat tubuhku seketika jatuh ke pelukan Bian. Bian langsung menggendongku dan membawaku menuju kamar. Aku sebenarnya ingin meminta bantuan kepada Bu Rima, tapi aku yakin pasti Bu Rima lagi melayani pelanggan di warungnya bersama Mas Bagas. Mengapa harus Bian yang ada di sekitarku? Aku drop kan gara-gara stress memikirkan dia. Rasanya aku tidak sanggup jika harus berdekatan lama dengannya.


Setelah menyandarkanku di atas ranjang, Bian mengambil tas yang kubawa berisi pakaian kotor dan perlengkapan mandi, kemudian meletakkannya di atas koperku.


“kamu mau ngapain?” tanyaku waspada saat melihat tangan Bian bergerak menuju kepalaku.


“aku mau ngeringin rambut kamu…pasti kamu ngerasa pusing kan sekarang. Kalo dililit handuk terus, pusingnya gak hilang nanti” jawabnya sambil melepas handuk yang melilit kepalaku, kemudian berusaha mengeringkan rambutku.


Aku diam melihat aktivitas Bian mengeringkan rambutku. Sesekali aku memejamkan mata merasakan sentuhan tangan Bian yang mengusap kepalaku. Pasti dia juga akan melakukan hal yang sama dengan pacarnya si Sarah itu karena aku merasa dia terbiasa melakukannya. Tapi tunggu dulu, ada apa ini? Mengapa tiba-tiba rasa sakit yang menyerang kepalaku berangsur hilang ketika tangan Bian menyentuh kepalaku?


“mmm udah Bi. Aku bisa lanjutin sendiri kok” aku menjauhkan kepalaku untuk menghentikan aktivitas Bian.


“tapi ini belum kering Dem…nanti pusing kamu makin lama hilangnya” tangan Bian kembali mengulurkan tangannya ke arah kepalaku.


“udah gapapa kok aku. Lagian aku juga belum solat, mau wudhu lagi. Tadi batal wudhunya karena bersentuhan sama kamu” ucapku sambil menahan tangannya. Aku beranjak dari ranjang untuk keluar kamar.


“ayo aku antar” ucap Bian yang bersiap mengikutiku dari belakang.


“gausah, kamu mending istirahat aja di kamar” aku melihat tatapan protes dari Bian, tapi melihat tatapan memohonku akhirnya dia mengalah untuk keluar dari kamarku menuju ke kamarnya.


Aku langsung buru-buru kembali ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan segera balik ke kamarku dan mengunci pintunya agar Bian tidak kembali menggangguku. Aku bergegas melaksanakan solat dzuhur dan setelah selesai, aku segera membereskan perlengkapan mandiku yang tadi diletakkan oleh Bian di atas koper. Tidak lupa, aku mengambil HP dari dalam tas selempang di atas koper untuk memberi kabar ke mama. Setelah memastikan tidak ada tanda-tanda Bian akan kembali ke kamarku, aku langsung membuka kunci kamar karena takut Jihan dan Ines tidak bisa masuk setelah kembali dari luar. Setelah naik ke atas ranjang, aku langsung membuka selimut tebal yang telah disediakan oleh Bu Rima dan langsung merebahkan diri.


Runtuh sudah pertahananku yang selama ini kutahan. Mengingat kejadian sebelumnya dimulai dari mendengar percakapan mesra Bian dengan seorang perempuan yang mungkin memiliki hubungan khusus dengan Bian dan perlakuan manis Bian kepadaku setelah aku selesai mandi membuat hatiku sesak. Air mata mengalir deras di wajahku. Mengapa semuanya harus terjadi? Susah payah aku berusaha menghilangkan dia dari pikiran dan hatiku selama 3 tahun ini, tapi mengapa perlakuan manisnya kepadaku akhir-akhir ini membuat perasaan yang awalnya kuanggap telah mati kembali hidup?


“kamu jahat Bian…kamu tega menghidupkan kembali perasaan ini setelah mati suri selama 3 tahun dan setelah itu kamu lukai dengan kenyataan yang menyakitkan bahwa kamu telah bersanding dengan orang lain” gumamku sambil terisak pelan.


“sakit rasanya mendengar kamu bermesraan dengan orang lain di depanku Bi…bukan ini jawaban yang aku mau Bi…bukan ini huhuhu” aku menangis histeris untuk meluapkan emosiku.


“lebih menyakitkan lagi saat mengetahui kamu udah ada yang punya ternyata masih memberi perhatian lebih ke aku. Mau kamu apa Bi? Jangan buat aku merasa bersalah dengan perempuan itu karena terlena bersamamu saat kamu tidak bersamanya” aku tidak berhenti meracau sambil menangis.


Aku tidak tahu berapa lama aku menangis. Kurasakan kepalaku kembali berdenyut dan mataku mulai perih karena tangisanku. Aku tidak mempedulikan itu, yang kumau saat ini adalah aku bisa dengan puas meluapkan emosiku yang sudah tidak mampu kupendam lagi. Aku bersyukur Jihan dan Ines belum kembali. Aku tidak peduli jika nantinya mataku akan bengkak, yang jelas aku harus merefresh diriku agar kedepannya aku bisa menikmati acara reunian ini dengan tenang tanpa mengusik perasaanku.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2