Demian

Demian
BAB 23 - Pernikahan Ines & Devan


__ADS_3

Suasana villa terlihat sibuk dari subuh karena persiapan acara pemberkatan Ines dan Devan akan berlangsung dalam hitungan jam. Aku dan Jihan sibuk mengurus Ines dan mengecek kembali persiapan pemberkatan di bangsal villa. Selesai solat subuh, aku minum susu hamil dan vitamin untuk menguatkan kandunganku sebelum beraktivitas, serta memakan cokelat yang semenjak hamil aku tidak bisa lepas darinya untuk meredakan rasa mual yang biasa muncul di pagi hari. Aku tidak ingin merusak momen bahagia Ines dan Devan dengan kondisiku yang kurang fit. Walaupun beberapa kali aku harus pergi ke toilet, sebisa mungkin aku totalitas dalam berperan sebagai bridesmaid karena sebelum-sebelumnya aku belum berkontribusi dengan persiapan pernikahan Ines dan Devan.


Sebelum pemberkatan dilaksanakan, tim dokumentasi dari studio Alfi mengambil video persiapan Ines yang dibantu oleh aku dan Jihan. Video tersebut nantinya akan menjadi after movie pernikahan Ines dan Devan. Selesai pengambilan gambar, Jihan tiba-tiba ijin keluar karena mendapat telepon. Selepas kepergian Jihan, tiba-tiba terdengar suara anak kecil berteriak memanggil seseorang.


“MAMA!!!” teriak anak kecil tersebut yang berlari menghampiri Ines.


“eh sayangnya mama…” Ines langsung memangku anak kecil tersebut yang terlihat lucu mengenakan gaun seperti Ines.


Pertama kalinya aku melihat Gabriella, buah cintanya Ines dan Devan. Benar-benar terlihat seperti Devan versi perempuan dengan wajah khas orientalnya. Aku tersenyum saat bertatapan dengan kakaknya Ines yang bernama Kak Alex yang mendampingi Gabby saat ini.


Aku berinisiatif mengambil Gabriella yang biasa dipanggil Gabby dari pangkuan Ines karena aku tidak ingin Gabby merusak penampilan Ines saat ini.


“hai Gabby” sapaku riang kepadanya. Gabby hanya tersenyum malu melihatku.


“kok malu sama tante sih…kita kenalan dulu yuk” ajakku yang mencoba berjabat tangan dengannya. Dengan malu-malu, Gabby berusaha mencium tanganku. “kenalin, nama tante Demi…” lanjutku.


“hai tante Demi…” sapanya malu-malu yang membuat aku, Ines, dan Kak Alex tertawa melihat tingkahnya.


“Gabby mau nemenin tante Demi gak?? Tante kesepian nih gaada temen” ucapku yang pura-pura merajuk. Gabby langsung melihat Ines meminta persetujuannya. Setelah mendapat persetujuan Ines, Gabby langsung merentangkan tangannya kepadaku, meminta untuk digendong. Aku langsung menggendong Gabby.


“Gabby sayang…Gabby jalan sendiri ya…kan udah cantik pakai gaun dan sepatu princess. Kasihan perut tante Demi didalamnya ada adik bayi” mendengar ucapan mamanya yang mengatakan “adik bayi”, Gabby berusaha turun dari gendonganku. Setelah aku menurunkannya, tiba-tiba Gabby memegang perut datarku.


“mana adik bayinya ma?? Kok perutnya tante Demi gak besar seperti perut Mommy Celine?” tanyanya bingung dengan ekspresi yang sangat lucu bagiku.


“kan adik bayinya masih kecil sayang…nanti juga perut tante Demi akan seperti Mommy Celine kalo adik bayinya udah tumbuh besar” jelas Kak Alex yang membantu menjawab pertanyaan Gabby.


“nanti Gabby akan punya tambahan dua adik dari tante Demi loh…” kata Ines yang membuat Gabby senang, “makannya Gabby jangan nakal ya…kasihan tante Demi. Gabby harus bisa jagain tante Demi dan adik-adiknya Gabby” lanjutnya.


“yeaayy…adik-adik, ini kak Gabby, jangan nakal ya di perut tante Demi. Kak Gabby akan jagain kalian dan tante Demi” ucap Gabby kemudian mencium perutku sebanyak dua kali yang membuatku terharu.


“yahh kok tante Demi nangis?? Adiknya nakal ya di dalam perut tante?” tanya Gabby khawatir.


“tante Demi senang melihat Gabby sayang sama adik-adik yang ada di perut tante” ucapku kemudian mencium seluruh wajah Gabby. Gabby tertawa geli melihat tingkahku.


“yah…daddy tersingkirkan sekarang. Gabby sudah tidak sayang daddy lagi” ucap Kak Alex memasang wajah pura-pura sedih.


“ihh kan daddy masih ada Mommy Celine. Sekarang Gabby mau gantian jaga tante Demi” gerutu Gabby sambil mengerucutkan bibirnya kesal yang membuat kami kembali tertawa melihat tingkah lucu Gabby. Melihat ekspresi Gabby mengingatkanku akan ekspresi Devan ketika sedang kesal. Sangat mirip sekali.


Akhirnya Gabby tidak ingin lepas dariku sembari menunggu mamanya selesai dirias. Gabby yang bosan menunggu tiba-tiba mengatakan jika dia lapar. Aku yang kebetulan ingin keluar untuk menelepon Luna akhirnya mengajak Gabby keluar untuk mencari makan.


Setelah menelepon Luna, aku mengikuti Gabby menikmati cereal yang tersedia di dapur karena saat melihat Gabby makan membuat rasa laparku kembali muncul. Padahal tadi aku sudah sarapan cukup banyak. Mungkin karena saat ini ada dua nyawa tambahan dalam perutku membuat nafsu makanku bertambah 3x lipat.


“PAPA!!!” teriak Gabby memanggil Devan.

__ADS_1


“eh anak papa…kok bisa disini?” tanyanya yang bingung melihat Gabby bebas berkeliaran dan belum menyadari keberadaanku.


“loh Demi??” panggil Devan yang terkejut melihatku di dapur bersama Gabby, “lo yang nemenin Gabby?” lanjutnya.


“hmm…kenapa? Lo kaget karena gue udah tau anak lo? Ck ternyata lo udah punya buntut…mana copyan lo banget lagi” balasku datar. Devan hanya tersenyum malu mendengar ucapanku.


“Alfi sama Bian udah tau?” tanyaku yang membuat Devan menggelengkan kepalanya.


“nanti gue kenalin pas pemberkatan. Tadinya Ines juga gitu kan? Kok lo udah tau?” tanyanya balik kepadaku.


“semalam Ines udah cerita semuanya” jawabku singkat karena aku sedang menghabiskan porsi cerealku.


“tante Demi mau nambah lagi? Biar adik kembar Gabby gak rewel lagi di perut tante” mataku melebar mendengar ucapan polos Gabby di depan Devan. Aku melihat Devan mengangkat kedua alisnya menatapku penuh arti. Susah payah aku menelan sisa cereal dalam mulutku.


“wow…kayaknya gue tau alasan Ines ngasitau lebih dulu” gumamya pelan sambil tersenyum penuh arti kepadaku.


“Dev…g-gue…gue…” ucapku yang terbata-bata karena bingung bagaimana menjelaskan semuanya.


“berapa minggu?” tanyanya langsung tanpa menunggu penjelasan dariku.


“8 minggu” lirihku menjawab pertanyaan Devan, “gue mohon lo jangan ngasitau Alfi dan Bian tentang kondisi gue…janji?” awalnya Devan ingin protes dengan permintaanku, tapi setelah kudesak akhirnya Devan menyanggupi permintaanku untuk tidak memberitahu kondisiku kepada Alfi dan Bian.


“tapi Bian berhak tau Dem…dia papanya anak-anak. Ikatan mereka gabisa diputus gitu aja” ucap Devan yang memperingatkanku.


Setelah kepergian Devan, aku akhirnya berusaha berbicara kepada Gabby agar tidak memberitahu kondisi kehamilanku kepada yang lain. Gabby yang menganggap ini merupakan misi rahasia akhirnya menyanggupinya untuk tetap menjaga rahasia ini.


*****


Isak tangis haru memenuhi bangsal villa ketika Ines dan Devan saling mengucapkan janji suci yang membuat mereka resmi terikat dalam ikatan pernikahan secara hukum dan agama. Terdengar suara riuh tepuk tangan saat Devan mencium Ines dihadapan kami. Kami juga tertawa melihat Gabby yang merengek untuk digendong Devan saat memeluk Ines. Aku dan Jihan saling berpelukan menikmati hari bahagia Ines dan Devan.


Saat prosesi pemotongan kue pernikahan, aku diberi kesempatan untuk menyampaikan pidato singkat selaku pemberi hadiah kue tersebut. Gabby berusaha melepaskan diri dari gendongan Devan dan berlari kearahku. Aku langsung sigap menggendongnya ketika melihat Gabby berlari sambil merentangkan kedua tangannya.


“tes tes…satu dua…oke selamat siang semua, saya Demi selaku sahabat dari Ines dan Devan ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian. Saya tau perjalanan cinta kalian hingga sampai di tahap ini tidaklah mudah, jadi saya berharap semoga pengalaman cerita kalian sebelumnya bisa menjadi pelajaran berharga untuk kedepannya agar lebih baik lagi” ucapku yang mendoakan pernikahan mereka.


“oiya Gabby sayang…Gabby mau punya adik lagi dari mama Ines gak?” Gabby langsung tepuk tangan heboh mendengar pertanyaanku, “mau banget tante…Gabby mau punya 3 adik” jawabnya sambil mengacungkan kelima jarinya. Aku dan yang lain tertawa melihat tingkah Gabby, aku berusaha membetulkan posisi jarinya.


“Ines…Devan…mungkin gue hanya tau kisah cinta kalian selama kuliah. Tapi banyak hal yang gue lihat dari kalian. Gue berharap, kalian bisa lebih bijak dan dewasa dalam mengambil keputusan untuk keutuhan rumah tangga kalian. 5 tahun sudah kalian saling mengenal satu sama lain, ditambah kalian juga sudah menjadi orang tua. Gue hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga kalian. Gue sangat mengapresiasi hubungan kalian yang bisa dibilang luar biasa ini. Sebagai sahabat, gue cuman bisa memberi kue pengantin ini sebagai hadiah kalian. Kue pengantin ini sengaja gue bikin 5 tingkat sebagai simbol perjalanan cinta kalian” dengan berlinangan air mata, Ines dan Devan berjalan menghampiriku dan memelukku. Pertama aku berpelukan dengan Ines, kemudian dengan Devan.


“gue juga berharap yang terbaik untuk hubungan lo dan Bian. Demi buah cinta kalian” bisik Devan ketika memelukku. Aku hanya tersenyum mendengarnya sambil melihat Bian yang sedang duduk melihatku.


*****


Acara dilanjutkan dengan dansa yang dipimpin oleh pasangan pengantin dan dilanjutkan dengan keluarga yang lain. Aku mencoba mencari Luna dan beberapa karyawan yang kuperintahkan untuk mengantar kue pengantin Ines dan Devan.

__ADS_1


“Mbak Demi!!!” panggil Luna ketika melihatku. Ternyata mereka sedang menikmati hidangan yang diberikan oleh petugas catering Ines.


“selamat yaaa…kalian semua…” aku mengacungkan kedua jempol untuk mengapresiasi semua karyawanku yang sudah terlibat dalam pembuatan kue pengantin super ini. Mereka semua bahagia menerima pujian dariku.


“Mbak Demi cantik…” puji Luna melihat penampilanku saat ini, “mbak baik-baik aja kan?” bisik Luna yang mengkhawatirkan kondisiku. Aku mengangguk sambil tersenyum menjawab kekhawatirannya karena melihat aku berada dalam satu tempat yang sama dengan Bian.


“oiya Lun…nanti baliknya kamu sama mbak aja ya…mbak gamau kayak kemarin. Mual-mual sepanjang perjalanan” pintaku kepada Luna.


“sekarang mbak mual gak? Mbak Demi udah makan?” tanyanya yang khawatir denganku.


“mbak kan harus nunggu pengantinnya dulu kalo mau makan. Sebenernya mbak udah laper sih…padahal hari ini mbak udah makan 2x loh. Gatau nih sekarang mbak gampang lapar masuk usia 2 bulan” Luna langsung menawarkan makanannya yang langsung kutolak. Sebenarnya aku ingin makan sesuatu tapi belum mengetahui apa yang kuinginkan. Sepertinya aku mulai kembali merasakan ngidam.


Saat aku kembali ke tengah pesta, terlihat orang-orang mulai sibuk mengantri untuk mengambil makanan. Saat aku sudah mendapatkan jatah makananku, aku melihat Jihan melambaikan tangan memanggilku.


“kamu darimana Dem?” tanyanya ketika aku sampai di meja makan.


“nemuin karyawanku dulu Ji” jawabku sambil duduk.


Aku tidak langsung memakan jatahku. Kulihat di sekelilingku, aku menemukan Bian sedang bersiap untuk makan juga namun tidak satu meja denganku. Saat dia menyendokkan makanan ke mulutnya, aku menyadari jika aku ingin makanan milik Bian. Jihan yang menyadari aku tidak segera makan, mengikuti arah pandanganku. Melihat Bian mengunyah makannya membuatku menelan salivaku sendiri. Rasanya menggiurkan melihat makanan yang dimakan oleh Bian.


Tiba-tiba Jihan berdiri membawa piringku, aku yang tidak sempat mencegahnya hanya bisa melihat apa yang dilakukan olehnya. Ternyata Jihan membawa piringku untuk ditukar dengan piring Bian. Awalnya Bian sempat kesal melihat piringnya ditukar secara tiba-tiba oleh Jihan. Aku melihat perdebatan mereka yang cukup alot dan membuatku merasa bersalah kepada mereka. Tapi, aku juga tidak bisa menolak keinginanku yang membuatku bingung juga. Akhirnya Bian mengalah dan membiarkan piringnya ditukar oleh piringku. Jihan kembali berjalan ke arahku.


“awas ya kalo kamu sampai gak abis makannya. Harus perang dulu ini buat dapat makanannya” sungut Jihan saat memberikan makanan milik Bian kepadaku.


Dengan mata berbinar aku langsung menyantap makanan milik Bian dengan lahap tanpa mempedulikan omelan Jihan dan tatapan Bian yang memandangku tajam dari kejauhan. Padahal sebenarnya makanan Bian sama dengan makanan yang kuambil, tapi entah mengapa makanan milik Bian terlihat lebih menggiurkan di mataku.


“kayaknya setelah lahir, mereka akan memiliki wajah dan sifat seperti Bian Dem…buktinya bekas Bian aja kamu lahapnya minta ampun” sindir Jihan kepadaku. Aku mengacuhkan sindiran Jihan dan fokus menghabiskan makananku.


Setelah menghabiskan makanan, tiba-tiba aku merasa tidak nyaman dengan perutku. Aku segera menemui Ines dan Devan yang sedang bercengkerama dengan kerabatnya.


“Dev, Nes…gue duluan ya…perut gue gaenak banget ini. Sorry loh gue gabisa ikut sampai kelar” ucapku menyesal.


“iya Dem gapapa…tapi sebelum lo pulang kita foto dulu ya…sama yang lain juga” kata Devan kemudian memanggil Alfi, Bian, dan Jihan untuk melakukan sesi foto.


“guys aku tinggal dulu ya…aku bareng sama karyawanku soalnya, mereka udah nunggu di depan” pamitku pada yang lain. Aku berpelukan dengan Jihan dan Alfi serta beberapa keluarga Ines dan Devan yang lain. Gabby awalnya menangis saat aku akan pergi, tapi setelah mendengar Devan yang berjanji akan mengajaknya bertemu denganku nanti, Gabby langsung diam.


“aku anterin kamu keluar” ucap Bian yang langsung menarik tanganku.


“e-eh Bian…lepasin tanganku” aku berusaha melepas genggaman tangannya, “aku mau ambil barang-barangku dulu di kamar” Bian akhirnya mengikutiku yang berjalan menuju kamar untuk mengambil barang-barangku.


Saat aku memasuki kamar, Bian mengikutiku dan langsung mengunci pintu kamar. Aku yang terkejut berusaha mengambil kunci kamar yang dipegangnya, tapi percuma karena tenaga Bian lebih besar dariku. Aku justru dibaringkan ke ranjang oleh Bian dan langsung terkurung dibawah tubuhnya.


“kamu mau apa Bi?” tanyaku pelan dan takut. Bian mengacuhkan pertanyaanku dan mulai menempelkan bibirnya ke bibirku. Aku memukul dadanya berusaha melepaskan ciuman kami, tapi hal tersebut malah semakin membuat dia memperdalam ciumannya kepadaku.

__ADS_1


Damn…mengapa ciuman ini terasa memabukkan, umpatku dalam hati.


...****************...


__ADS_2