Demian

Demian
BAB 13 - Couple Goals


__ADS_3

Setelah aku dan Mas Bagas turun, Alfi langsung menjelaskan konsep foto bersama dan kami mulai berjalan menuju tempat yang telah ditentukan. Kami melakukan berbagai macam gaya untuk pengambilan foto. Sesekali kami menggoda Jihan dan Alfi yang kadang bergantian untuk mengatur timer kamera. Mas Bagas akhirnya keluar dari formasi untuk mengambil foto kami berenam, dilanjutkan dengan Ines yang juga keluar dari formasi untuk mengambil foto kami berlima sebagai tim KKN dulunya di desa ini.


Setelah puas foto bersama, akhirnya kami bergiliran untuk foto sendiri maupun berpasangan. Aku foto berdua dengan Jihan dan Ines yang dilanjutkan dengan foto bertiga. Selain itu, aku juga foto dengan Alfi karena Tante Asti meminta foto kami berdua. Aku juga didorong yang lainnya untuk foto berdua dengan Bian. Sebenarnya tidak masalah aku foto berdua dengannya, tapi yang bikin aku malas dan kesal yaitu ledekan dari teman-teman ketika aku berpose cukup intim dengan Bian.


“oke…yak pertahankan ya posisinya kayak gitu. Bian ditahan tatapannya...1…2…3” ingin rasanya kubanting kameranya Alfi karena dia dengan seenaknya mengatur gayaku dan Bian dengan posisi yang membuat jantungku ingin meledak rasanya karena saat ini kami berpose dengan saling berhadapan dengan wajah yang sangat dekat seperti hampir berciuman. Ditambah aku mengalungkan kedua tanganku di pundaknya, sedangkan kedua tangan Bian melingkar di pinggangku.


“oke…sekarang gayanya Demi naik ke punggungnya Bian, trus kalian pose seakan-akan sedang tertawa bahagia ya” mataku membulat sempurna mendengar perintahnya.


“gak gak gak…gue gamau foto lagi” sungutku sambil menyilangkan tangan di dada, “lo ngerjain gue kan Al?? Maksud lo apaan nyuruh gue sama Bian foto dengan pose kayak mau prewedding gitu??” Jihan, Devan, dan Ines tertawa mendengar ucapanku, sedangkan Bian dan Mas Bagas diam dengan ekspresi datar.


“ck…liat penampilan lo sama Bian sekarang” aku langsung melihat penampilanku dan Bian saat ini, “kalian tuh couple goals banget tau gak…gue nyuruh lo pose kayak gitu buat koleksi studio gue…kan bentar lagi mau ngadain pameran, ntar gue kasih kalian berdua bonus kalau pameran gue sukses nanti” ucap Alfi sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


Penampilanku dan Bian saat ini memang cocok jika dijadikan model untuk foto berpasangan. Aku saat ini menggunakan kaus dengan lengan ¾ yang dilapisi overall jeans selutut ditambah dengan jaket yang kulilitkan di pinggang. Aku melihat penampilan Bian yang menggunakan kaus berkerah lengan pendek dipadukan dengan celana cargo selutut. Kami juga kompak menggunakan alas kaki yang sama, yaitu sandal gunung.


“ayo buruan pose yang gue suruh tadi” perintah Alfi sambil berjalan ke arahku dan Bian untuk mengatur pose kami.


“gamau ah gue…kan ada Ines sama Devan. Mereka aja yang foto dengan pose kayak gitu” aku mencoba mencari alasan agar tidak lagi melakukan foto bersama Bian.


“Ines sama Devan udah kemarin” ucap Alfi santai.


“Jihan??” tanyaku sambil melirik ke arah Jihan.


“Jihan udah foto buat pose yang sendiri” balas Alfi.


“Jihan sama Bian maksudnya Al…” ucapku yang geregetan dengan jawaban Alfi


“Bian terlalu tinggi badannya buat Jihan. Lo yang cocok sama dia…udah nurut aja sih ama gue, ntar juga gue bayar jasa lo kok…gak Cuma-Cuma ini…” ucap Alfi yang mulai kesal denganku.


“yaudah gapapa Dem…kita ikutin aja apa kata Alfi” kata Bian yang akhirnya bersuara.


“rese banget sih…tau gini mending gue pake hoodie sama training aja biar gak jadi model dadakan lo Al” sungutku sambil bersiap memasang gaya yang diinstruksikan oleh Alfi.


“lo mau pake baju apapun juga bakal tetap gue pasangin sama Bian. Kan gue udah bikin konsep sebelumnya. Badan lo sama Bian itu proporsional…pas banget kalau disandingin” aku hanya mendecakkan lidah kesal.


Selesai berfoto, kami memutuskan untuk pergi ke curug yang ada di bawah desa agar bisa kembali ke rumah sebelum waktu solat Jumat tiba. Mas Bagas menghampiriku ketika aku selesai melakukan foto dengan Bian.


“nih aku beliin minum tadi di warung…pasti kamu capek harus beberapa kali ulang foto” kata Mas Bagas sambil menyerahkan botol air minum kepadaku.


“oh, thanks Mas Bagas” aku langsung membuka tutup botol dan meneguknya hingga tersisa setengah. Ternyata melakukan photoshoot cukup menguras tenaga.


Aku berjalan menuju curug berdampingan dengan Mas Bagas di belakang teman-temanku yang sudah jalan terlebih dahulu. Bian jalan paling depan memimpin perjalanan kami menuju curug. Sejak Mas Bagas mendekatiku, Bian tiba-tiba menghindariku. Jihan, Alfi, Ines, maupun Devan juga tidak ada yang berani mendekatiku jika aku sedang bersama Mas Bagas. Sepertinya mereka segan jika berinteraksi dengan Mas Bagas. Aku juga merasa jika Mas Bagas hanya berniat untuk mendekatiku saja, tidak berusaha untuk mengakrabkan diri dengan teman-temanku yang lain. Sebenarnya aku merasa kurang nyaman jika hanya berdua dengan Mas Bagas, tapi mengingat janjinya yang hanya menganggapku sebagai teman, aku berusaha menepis rasa cemas dalam diriku.

__ADS_1


Sesuai dengan kesepakatan, kami bermain di curug hanya sampai jam 11 siang. Ketika di curug, Mas Bagas benar-benar menahanku untuk tetap bersamanya. Aku baru bisa lepas darinya ketika Alfi memanggilku dan Mas Bagas untuk kembali berfoto seperti di taman hutan pinus. Aku dan Bian juga diminta Alfi untuk kembali foto berpasangan. Berbeda dengan foto di taman hutan pinus, kali ini Bian lebih inisiatif untuk mengatur sendiri pose kami. Alfi merasa sangat puas dengan pose yang kami berikan atas ide dari Bian karena terlihat lebih intim dan lebih mendapatkan chemistry sebagai pasangan.


Entah mengapa setiap kami melakukan pose saling menatap, aku melihat tatapan Bian yang sedih dan seperti menahan amarah. Aku juga merasa setiap Bian melakukan pose memelukku, dia melakukannya dengan sedikit posesif. Aku mencoba mengabaikan sikapnya dan tidak terlalu memikirkannya. Aku tidak ingin mengacaukan kembali perasaanku dengan mencoba menerka-nerka isi hatinya.


Kami memutuskan untuk kembali ke rumah lebih awal agar Alfi, Bian, dan Mas Bagas bisa melakukan bersih-bersih sebelum solat Jumat. Setelah para cowok pergi ke masjid, aku mengajak Jihan, Ines, dan Devan untuk pergi ke pasar yang berada di kecamatan sekalian isi bensin untuk mobilku. Untungnya Bian meletakkan kunci mobilku di kamarnya bersama dengan kunci mobil Alfi. Namun Ines dan Devan menolak karena mereka ingin istirahat.


“kalian jangan ngelakuin hal aneh-aneh ya mentang-mentang gue tinggal berdua” ancamku sambil memicingkan mata.


Saat ini Bu Rima sedang tidak ada di rumah. Mas Bagas tadi memberitahu kami saat di curug jika Bu Rima harus ke kota menemani saudaranya yang sedang sakit. Bu Rima tadi dijemput oleh keponakannya dan akan kembali Minggu pagi. Jadi selama Bu Rima pergi, Mas Bagas akan menemani kami berlibur.


“yaelah lebih enak di rumah sendiri kali daripada di rumah orang” ucap Devan yang terkekeh mendengar ancamanku.


Aku tertawa kecil mendengar jawabannya, “kalo gak tahan mending kalian check in di hotel sekitar Guci aja ahahaha” aku berlalu dengan Jihan menuju ke mobilku sambil menertawakan Ines dan Devan. Wajah Ines merah menahan malu mendengar ucapanku.


Devan tahu jika aku hanya bercanda ketika membicarakan hal tersebut, tetapi dia paham maksudku ucapanku yang memberi peringatan kepadanya. Aku mengetahui jika Devan dan Ines sudah melakukan hubungan lebih jauh dan tidak menutup kemungkinan jika mereka akan nekat melakukannya disini karena hanya berdua di rumah ini setelah kepergianku dan Jihan.


Aku mengetahui hal tersebut karena ketika dulu aku sempat satu kos dengan Ines, aku sering memergoki Devan keluar masuk dari dalam kamar Ines dan sering menjumpai Ines dalam kondisi berantakan setelah kepergian Devan. Ines yang kudesak untuk bercerita akhirnya mengaku jika dia telah melakukan hubungan "itu" dengan Devan. Dulu aku sempat memperingatinya agar tidak terlalu sering melakukan di kosan karena takut mengundang tanya tetangga di sekitar kos. Walaupun kosanku dan Ines bebas untuk cowok maupun cewek, tetap tidak elok rasanya jika Devan terlalu sering menginap di kosan kami.


“kamu dekat banget sama Mas Bagas ya Dem?” tanya Jihan yang membuka pembicaraan dalam perjalanan.


“ya begitulah…dia ngajak aku berteman. Ya…aku sama dia hanya teman” jawabku sambil fokus dengan jalan.


“iya aku tau kok dia suka sama aku. Bahkan dia ngajakin aku nikah” jawabku santai.


“HAHH??? DIA NGAJAKIN KAMU NIKAH?? TRUS KAMU MAU??” tanya jihan yang heboh mendengar pernyataanku.


“ya enggak lah…aku bilang masih mau fokus dulu sama karirku. Lagian dia itu ngajak nikah dari pas kita KKN tau…tadinya dia mau nunggu, trus pas tadi nanya lagi ya aku jawab tetap gamau soalnya dari aku sendiri belum ada rencana itu” jelasku yang membuat mulut Jihan terbuka lebar saking terkejutnya.


“KKN Dem??? Ini KKN lohh….waktu itu kamu masih 20 tahun kan dan Mas Bagas umur…” ucapan Jihan menggantung.


“25. Sekarang aku 25 dia 30” jawabku cepat.


“umur 20 kamu dilamar sama orang dan kamu gaada cerita apa-apa sama aku??? Jahat kamu Dem” Jihan mulai merajuk kepadaku.


“ya buat apa aku cerita?? Malah makin parah nanti ledekannya. Aku sama Bian yang gaada apa-apa aja kalian gencar terus ngegodain aku” aku memasang wajah datar.


“ternyata benar ya…kalo KKN itu pasti ada aja yang dilirik sama pemuda desa. Ya contohnya kamu ini…disukai sama orang yang cukup berpengaruh di desa” aku menggelengkan kepala mendengar ucapan Jihan. “tapi aku kurang setuju Dem kalau kamu sama Mas Bagas, aku gak merestui. Aku sudah terlanjur merestui kamu sama Bian soalnya. Kalian tuhh benar-benar couple goals banget kalau kata Alfi” kata Jihan sambil mengedipkan sebelah matanya kearahku. Aku hanya mengernyit melihatnya.


“apaansi…basi banget tau gak…lagian juga Mas Bagas bukan tipeku, aku udah menganggap dia sebagai kakak aja. Dia harus nyari yang umurnya gak beda jauh sama dia atau nyari yang sepemikiran sama dia. Pemikiran kita berbeda soalnya” Jihan kembali akan menggodaku, “tapi bukan berarti aku berharap sama Bian loh ya…Bian juga udah punya cewek kok…gamau aku jadi pelakor lah…” aku langsung membungkam mulut Jihan dengan ucapanku.


“yahh…sayang banget ya Bian udah ada yang punya…aku juga beberapa kali sih lihat dia teleponan gitu…mana sambil ketawa-ketawa sendiri lagi” Jihan menghentikan ocehannya saat melihat perubahan raut wajahku, “eh…sorry Dem…aku gak bermaksud…” aku langsung tersenyum menenangkannya.

__ADS_1


Jihan langsung mengganti topik pembicaraan dengan hal lain dan berusaha untuk tidak menyinggung soal Bian. Untungnya kami segera tiba di pasar. Sebelumnya aku dan Jihan mampir ke musholla terdekat untuk melaksanakan solat dzuhur. Jihan juga mengirim pesan di grup bahwa aku dan dia pergi ke pasar sekalian makan siang, jadi mereka tidak perlu menunggu kami.


Selesai solat, aku dan Jihan langsung menuju ke toko bahan kue. Aku ingin membuat beberapa kue dan snack sebagai camilan. Ketika membantu di dapur, aku melihat peralatan masak dan membuat kue milik Bu Rima cukup lengkap. Selain itu, aku dan Jihan juga membeli sayur, daging, berbagai bahan makanan lainnya, dan bumbu masak untuk kami. Mas Bagas juga menyampaikan jika Bu Rima meninggalkan bahan makanan di dapur untuk kita olah, tetapi kami tidak ingin terlalu memanfaatkan kebaikan Bu Rima. Bahan yang kita beli nantinya digunakan sebagai pengganti bahan Bu Rima yang akan kita gunakan. Kami juga membeli sembako sebagai ucapan terima kasih kepada Bu Rima dan Mas Bagas karena sudah menerima kami. Pemberian sembako diusulkan oleh Bian yang membalas pesan Jihan.


Lelah berbelanja, aku dan Jihan berjalan menuju warung bakso yang berada di dekat pintu masuk pasar. Saat sedang menunggu pesanan kami, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Bian ke HP Jihan.


“halo assalamualaikum” sapa Jihan ketika menjawab panggilan.


…..


“iya ini baru selesai belanja Bi…lagi mau makan bakso. Ada yang mau nitip?”


…..


“kamu mau ngomong sama Demi?”


…..


“perasaan daritadi kamu nyebutin nama Demi mulu…nih Dem bojomu” aku mendelikkan mataku ketika menerima HP Jihan.


“ha-halo Bi?” sapaku ragu.


“kamu kebiasaan banget sih suka nelantarin HP” geram Bian yang terdengar frustasi ketika mendengar suaraku.


“ck kan aku ke pasar Bi…ngapain coba bawa HP. Lagian juga ada Devan sama Ines kok di rumah tadi pas aku pergi. Ini juga Jihan bawa HP” sungutku kesal karena sikap protektif Bian kembali kambuh.


Aku mendengar helaan napas Bian di dalam panggilan, “kamu balik jam berapa?” tanyanya dengan nada yang lebih halus.


“abis makan bakso aku sama Jihan langsung balik kok…paling nanti mau isi bensin dulu. Udah limit banget ini tadi pas jalan” jawabku sambil menerima pesanan bakso yang sudah datang.


“yaudah hati-hati di jalan ya nanti pas baliknya, aku tutup dulu kalau kamu mau makan. Assalamualaikum” kata Bian yang mengakhiri panggilan kami.


“waalaikumsalam” aku langsung mengembalikan HP Jihan.


“kok aku ragu ya kalo Bian udah punya cewek…dia aja segitu protektifnya loh sama kamu” ucap Jihan sambil menuang sambal ke mangkuk baksonya.


“gatau lah…aku gamau mikirin itu dulu…aku mau makan” balasku cuek, kemudian mulai menyantap bakso.


Kami menghabiskan makan siang dalam diam. Setelah selesai makan siang, aku dan Jihan langsung menuju ke mobilku yang berada di parkiran. Sebelum kami pulang, aku mencari SPBU terdekat untuk melakukan isi bensin pada mobilku.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2