
Aku hanya diam sepanjang perjalanan pulang, kuabaikan Luna yang sedang mencoba mengajak berbicara kepadaku sambil mengendarai mobilku.
Flashback On
Bian tidak menghentikan aksinya menciumku. Aku yang ikut terbuai dalam sentuhannya hanya bisa memejamkan mata menikmati tangan Bian yang bebas menyentuhku. Saat Bian mencium leherku, aku hanya bisa mengerang nikmat. Mungkin bawaan hamil sepertinya, dimana aku merasakan nafsu dalam diriku meningkat. Kesadaranku kembali saat Bian mencoba menyusupkan tangannya ke dalam gaun yang masih kukenakan.
“Bian stop…” lirihku saat Bian mencoba menyentuh perutku. Aku tidak ingin Bian curiga dengan kondisi perutku yang terlihat lebih kencang karena kehamilanku.
Perlahan Bian membantu merapikanku kembali. Berulang kali aku mendengar ungkapan maaf darinya yang menyesal atas tindakannya yang diluar kendali.
Cup…
“stop bilang maaf. Aku gapapa kok” ucapku menenangkannya dengan mencium bibirnya singkat. Bian langsung diam melihat aksiku.
“I miss you” lirihnya dengan menatapku dalam. Ingin rasanya aku berteriak untuk mengatakan bahwa aku juga merindukannya, tapi aku tidak boleh lemah karenanya. Aku bangkit dari ranjang dan bergegas packing.
“hilangkan rasa kangen itu Bi…aku sudah melepasmu. Aku harap setelah ini kita tidak bertemu kembali” kataku pelan tapi tegas kepadanya sambil mengemasi barang-barangku.
“kenapa?? Apa karena kejadian itu? Aku mau tau alasan kamu melepasku Demetra!!” aku terkejut dan reflek memegang perutku saat mendengar bentakan Bian. Semoga dia tidak menyadari sikapku.
“aku bingung saat kamu memutuskanku secara sepihak di telepon. Trus saat kita ketemu kembali, kamu bersikap seolah-olah kamu merindukanku. Kamu peluk aku tiba-tiba, kamu memakan jatah makanan milikku, dan sekarang?? Kamu kembali bersikap dingin sama aku. Aku bingung sama sikap kamu Demiii!!” geramnya frustasi sambil mengacak rambutnya kasar.
Aku berjalan ke hadapan Bian dan memeluknya, “maafkan sikapku yang membuat kamu bingung Bi…aku janji setelah ini aku tidak akan bersikap seperti ini denganmu. Seperti yang aku bilang sebelumnya, kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dariku. Lupakan perasaan itu Bi, kita emang gabisa melanjutkan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius. Cukup kita berteman seperti ini. Lagipula aku belum bisa menyembuhkan luka itu. Kita sama-sama terluka atas kejadian itu” jelasku yang membuat matanya memancarkan kekecewaan dan kesedihan.
Aku tidak ingin membebanimu dengan hadirnya buah cinta kita, biarkan aku yang menanggung semuanya, lanjutku dalam hati.
Aku mengambil kunci kamar yang berada di saku celana Bian saat dirinya fokus menatapku. Tanpa mengucapkan apapun lagi, aku bergegas keluar kamar meninggalkan Bian yang kembali terluka karena ucapanku.
Maafkan aku Bi…aku gamau kamu juga ikut andil dalam menanggung ini semua. Biar aku saja yang menanggungnya, ucapku dalam hati sambil mengusap pelan perutku. Aku bertekad menjalani hidup baru bersama anak-anakku kelak tanpa bayang-bayang Bian.
Flashback End
“pasti daritadi mbak ngelamunin papanya anak-anak ya?” tanya Luna yang membuatku tersadar dari lamunanku.
“aku bingung deh sama Mbak Demi…orang jelas-jelas Mas Bian itu cinta mati sama mbak, tapi mbak malah ngelepas gitu aja. Mbak Demi gamau bersikap egois apa buat anak-anak? Kalopun Mas Bian punya cewek lain, ya harusnya cewek itu tau diri dong kalau Mas Bian itu cintanya sama Mbak Demi. Tuh udah ada buktinya” jelasnya panjang lebar sambil menunjuk perutku.
__ADS_1
“kalau dia udah lebih dulu dekat sama cewek itu ya mbak harus ngalah lah...mbak juga ngerasa bersalah sama cewek itu kalau dia sampai tau mbak dan Bian udah berhubungan sejauh itu” jawabku pelan, “udah…pokoknya mbak gamau bahas apapun tentang Bian. Dia cuman masa lalu dan mbak anggap kejadian itu hanya kecelakaan. Toh nanti kalau mereka sudah lahir dan menanyakan papanya mbak akan mengenalkan mereka pada Bian secara baik-baik kok. Tapi itu nanti, bukan sekarang” lanjutku.
Luna yang mendengar penjelasanku hanya geleng-geleng kepala, “terserah Mbak Demi deh…yang jelas Mbak Demi jangan ngeluh kalau nanti mbak akan kesusahan sendiri dengan kehamilan mbak yang ngidam berhubungan dengan Mas Bian” ucapnya yang tidak kutanggapi lebih lanjut. Aku hanya bisa berdoa dan berharap agar tidak mengidam hal-hal yang menyulitkanku nantinya.
Kalian yang kuat ya…mama harap kalian tidak protes dengan keputusan mama yang menghindari papa kalian, ucapku dalam hati sambil mengusap perutku.
*****
Ternyata keputusanku untuk menghindari Bian mendapat protes dari calon buah hati kami. Setelah kembali dari Puncak, morning sicknessku semakin menjadi dan aku merasa sangat ingin berdekatan dengan Bian. Aku hanya bisa memandangi fotonya yang kudownload dari sosial medianya sebagai pengganti kehadiran Bian. Ajaibnya, saat aku mencium foto Bian sebelum tidur, rasa mualku sedikit berkurang pada pagi harinya. Dua vs satu, tentu saja aku akan kalah.
Luna dan Tisha yang prihatin dengan kondisiku ingin menghubungi Bian. Aku yang mengetahuinya langsung mengeluarkan amarahku kepada mereka. Akhirnya mereka mengurungkan niatnya dan hanya membantu meredakan rasa mualku. Semenjak hamil, emosiku menjadi tidak stabil. Aku yang memendam rasa rinduku pada Bian terlalu dalam melampiaskannya dengan amarah dan uring-uringan tidak jelas. Aku masih keras kepala dan merasa gengsi untuk sekedar berkomunikasi dengan Bian via suara maupun tulisan. Luna, Tisha, Jihan, Ines, Devan, dan Alfi yang akhirnya mengetahui kehamilanku menyerah untuk membujukku berdamai dengan Bian.
Ketika aku melakukan pemeriksaan yang kedua di usia kandungan 12 minggu, Dokter Gina menyuruhku agar bisa mengontrol emosi dan mencoba berdamai dengan diriku. Konsultasiku dengan Dokter Gina membuatku sadar karena kandunganku menjadi taruhannya. Setelah diperiksa, ternyata kandunganku cukup lemah akibat kurangnya asupan gizi dan faktor stres dariku. Hatiku sakit saat melihat pergerakan dua janin kembarku yang terlihat lemah ketika dilakukan usg.
“Bu Demi, coba lakukan meditasi secara mandiri atau melakukan kegiatan ringan untuk merilekskan pikiran ibu. Saya tau ibu sedang dalam masa sulit karena kondisi saat ini, tapi coba pikirkan calon anak yang ada di dalam perut ibu. Mohon maaf bila saya lancang berkomentar tentang permasalahan Bu Demi, tapi Tuhan sudah menitipkan mereka karena ini sudah menjadi takdir ibu. Mungkin dengan adanya mereka, bisa memperbaiki hubungan Bu Demi dengan ayah biologis dari janin ibu. Saya sebagai dokter hanya bisa memberikan dukungan moril dan membantu sesuai kemampuan saya. Saya harap bulan depan saat kita bertemu kembali, kondisi ibu dan janin sudah membaik ya. Ini saya tambahkan resep dari yang sebelumnya untuk menguatkan kandungan Bu Demi” jelas Dokter Gina sambil menuliskan resep tambahan.
Setelah masuk ke dalam mobil, aku menangis di pelukan Tisha yang menemaniku memeriksakan kandungan. Aku menyalahkan diriku yang tidak bisa menjaga kandunganku dengan baik.
“hiks mbak takut tidak bisa menjadi ibu yang baik bagi mereka dek…” isakku dalam pelukan Tisha. Aku melepas pelukanku dan mengusap perutku yang mulai membuncit, “maafkan mama sayang…mama begitu egois tidak memikirkan kalian…hiks” Tisha menggenggam tanganku yang sedang mengusap perutku.
“mbak mulai sekarang fokus sama mereka ya…jangan jadikan permasalahan mbak sebagai beban yang terlalu berat. Adek, Luna, dan teman-teman mbak akan selalu mendukung dan memberikan yang terbaik untuk mbak dan anak-anak mbak” ucap Tisha yang menasihatiku dengan menangkupkan kedua tangannya di pipiku.
*****
Saat ini aku, Ines, Devan, dan Alfi sedang berkumpul di ruang kerja cake shop. Jihan tidak bisa ikut karena baru seminggu yang lalu dia mengunjungiku. Ines dan Devan juga tidak mengajak Gabby dan menitipkannya ke mama Ines. Setelah dua minggu aku merilekskan pikiran, akhirnya aku merasa lebih baik dan kuat dalam menikmati kehamilanku. Usia kandunganku yang memasuki minggu ke-14 perlahan membuat bobot tubuhku meningkat dan perut buncitku semakin terlihat jelas. Untungnya aku sudah tidak mengalami mual-mual, tapi aku masih merasakan ngidam terutama yang berhubungan dengan Bian.
“lo bilang apa ke dia pas nyuruh ke Jakarta?” tanyaku was-was kepada Alfi. Aku takut jika Alfi meminta Bian ke Jakarta untuk memenuhi permintaanku.
“gue bilang sodara gue pengen *C*okelatKu langsung dari pabriknya, dan karena dia tau gue kenal ownernya, dia minta buat dianterin langsung ama si owner“ jelas Alfi yang membuatku menatap jengah kearahnya.
Ines dan Devan tertawa mendengar ucapan Alfi karena sebenarnya orang yang dimaksud saudara oleh Alfi adalah AKU. Sudah beberapa hari ini aku menginginkan CokelatKu langsung dari pabriknya. Sebenarnya aku sedikit merutuki keinginanku yang mulai tidak masuk akal, tapi membayangkan cokelat yang baru selesai dikemas dan belum dilakukan pendistribusian membuatku menelan saliva karena membayangkan rasa cokelat tersebut yang masih benar-benar fresh.
Ketika Alfi mencoba memenuhi keinginanku dengan membawa cokelat yang kuinginkan, aku langsung melempar cokelat itu ke wajahnya. Aku tahu Alfi membelinya dari distributor CokelatKu yang berada di Jakarta. Setelah menerima amukanku, Alfi langsung menghubungi Bian untuk mewujudkan ngidamku yang “luar biasa” itu. Dia ikut kesal karena menjadi sasaran amukanku.
“fix Bian bikin anaknya sendiri bakal ileran setelah lahir” celetuk Devan yang membuatku melempar pulpen kearahnya karena kesal. Aku mengacak rambutku karena merasa frustasi dengan ngidamku yang terancam tidak tercapai.
__ADS_1
“arghh coba lo chat dia, bilang ke Jakarta 2 hari aja…ntar tiket biar gue yang urus. Gue dah melihat bayangan CokelatKu di seluruh ruangan ini” erangku frustasi. Aku mulai putus asa dengan situasi saat ini. Alfi mengirimkan pesan kepada Bian yang langsung dibalas dengan panggilan. Ines meminta agar suara panggilan dikeraskan.
“assalamualaikum Al…duh gimana ya, aku juga disini lagi hectic banget ini. Kalo aku suruh asistenku yang nganterin gapapa? Nanti aku akan bicara lewat telepon ke sodaramu itu pas asistenku ngasih barangnya” jelas Bian langsung ketika panggilan terhubung.
“duh gimana ya Bi…soalnya sodaraku juga minta kamu mengusap perutnya juga. Dia ngefans kamu selaku owner dari cokelat favoritnya” aku mendelikkan mataku mendengar ucapan Alfi yang sedang bernegosiasi dengan Bian sambil mengerlingkan matanya ke arahku. Ines dan Devan cekikikan mendengar ucapan Alfi.
“kalo lusa gimana? Aku harus reschedule agendaku dulu disini. Tapi aku gabisa nginep nanti, soalnya ini kan dadakan diluar agendaku. Nanti kamu tanyakan sodaramu ngidamnya masih bisa ditahan sampai lusa gak…gitu” tawar Bian yang membuatku berpikir jika Bian benar-benar sibuk disana. Aku kesal dengan Bian yang tidak peka jika itu merupakan keinginanku. Mungkin naluri orang tuanya belum muncul karena tidak mengetahui kehadiran calon buah hatinya. Okelah, aku harus mengalah kali ini untuk menuntaskan keinginanku.
“oke deh nanti coba kutanyakan sodaraku dulu. Thanks ya Bi…maaf lho udah ngerepotin kamu” ucap Alfi akhirnya, “santai aja Al…” balas Bian yang terkekeh dengan permintaan saudara Alfi alias AKU.
Sial…awas kamu Bi kalau kamu tau ini permintaan anak kamu, kujamin kamu gak bakal santai dan terkekeh seperti itu, sungutku dalam hati.
“gue kesana aja deh…ntar malam gue berangkat” ucapku setelah panggilan Alfi menutup panggilannya.
Alfi terperangah mendengar keputusanku, “gila lo Dem…lo gabisa nahan ngidam lo sampai lusa apa?? Ini demi sebatang cokelat doang loh…”
“gabisa…CokelatKu udah bikin pikiran dan penglihatan gue jadi error. Mulut gue rasanya cuman bisa nerima CokelatKu doang” erangku frustasi. “lo gabakal ngerti Al….tunggu aja nanti kalo lo punya istri yang lagi ngidam aneh-aneh. Gue akan jadi orang pertama yang tertawa diatas penderitaan lo” sinisku pada Alfi.
Ines menyudahi perdebatanku dengan Alfi, “yaudah kalo lo nekat mau ke Kediri, lo ditemenin Jihan ya…kalo disana pasti dia bisa nemenin lo. Bentar gue hubungin Jihan dulu” saran Ines kemudian dia menghubungi Jihan untuk meminta kesediaannya menemaniku di Kediri, tempat dimana Bian berada saat ini.
“Jihan mau nemenin lo Dem. Kebetulan dia abis ngelarin job disana, jadi Jihan sekarang masih di Kediri. Lo mending pesen tiket sekarang biar besok bisa dijemput Jihan” aku menuruti ucapan Ines dan langsung membeli tiket kereta yang sampai di Kediri besok pagi. Jihan langsung menghubungiku setelah aku memesan tiket dan menanyakan waktu kedatanganku di sana.
Ines, Devan, dan Alfi segera pamit dari cake shop untuk memberiku waktu bersiap-siap. Luna dan Tisha yang kuberitahu rencana dadakan ini awalnya sempat tidak mengijinkanku, mengingat aku akan berangkat sendiri. Tapi karena tekadku sudah bulat demi terwujudnya keinginanku ini, aku bisa meyakinkan mereka. Tisha bahkan sempat ingin menyusulku dari Solo mengingat saat ini dia sedang pulang ke rumah, tapi aku melarangnya karena aku berkata jika ada Jihan yang menemaniku.
Mama dan papa yang akhirnya mengetahui cerita kehamilanku hanya bisa memberi wejangan agar aku selalu berhati-hati di jalan dan tetap berkomunikasi selama perjalanan. Mereka mengetahui kondisiku saat mengunjungiku di apartemen dua minggu lalu secara diam-diam. Mama khawatir dengan kondisiku yang tidak pulang selama beberapa bulan terakhir, akhirnya nekat mengajak papa mengunjungiku. Awalnya papa sempat emosi dan memaksaku untuk meminta pertanggungjawaban, tapi aku meyakinkan papa jika aku tidak masalah membesarkan anak-anakku sendirian nantinya. Mama dan papa akhirnya menerima keputusanku dan siap membantu secara finansial untuk keperluan calon cucunya.
Luna akhirnya membantu persiapan keberangkatanku dan menyiapkan jajanan untuk camilanku selama perjalanan. Luna juga yang mengantarku ke stasiun dan menemaniku sampai aku masuk ke dalam kereta.
“Lun…makasih ya selama ini udah mau mbak repotin. Kamu pasti repot ya mengurus cake shop sendirian karena sering mbak tinggal? Mbak janji setelah mbak melahirkan, mbak akan kembali fokus dengan cake shop” Luna tersenyum mendengar ucapanku.
“mbak gausah mikir yang berat-berat ya…justru Luna yang berterima kasih sama mbak karena mau nerima dan percaya sama Luna. Mbak Demi secara tidak langsung membantu Luna memenuhi kebutuhan sehari-hari Luna dengan mengurus cake shop ini. Luna juga bisa meneruskan kuliah karena kerjaan yang Mbak Demi berikan” aku terharu mendengar penjelasan Luna yang sudah kuanggap adik karena usianya sama dengan Tisha.
“Mbak Demi tetap stay HP ya…banyak yang menunggu kabar dari Mbak Demi nanti. Kalau udah sampai jangan lupa memberi kabar yang lain” aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Kami akhirnya berpisah di tempat pengecekan tiket dan aku langsung masuk ke dalam kereta.
__ADS_1
Demi kalian mama rela nekat ke tempat papa kalian. Semoga disana nanti papa tidak menemukan keberadaan kita ya sayang, ucapku dalam hati sambil mengusap perut buncitku.
...****************...