
Rumah tersebut sudah terisi lengkap dengan segala perabotan. Konsep interior rumah tersebut sangat modern dengan nuansa putih, hitam, dan abu-abu. Aku menyukainya karena warna tersebut terlihat netral. Perabotan yang dipilih Bian juga terlihat elegan jadi memiliki kesan mewah. Ternyata aku belum cukup mengenal Bian dengan baik.
Bian menuntunku untuk berjalan menuju kamar di lantai dua. Sekali lagi, aku dibuat kagum dengan interior kamar tersebut yang benar-benar terlihat berkelas. Aku tidak bisa membayangkan berapa bayak uang yang dikeluarkan Bian untuk ini semua.
“kamu bersih-bersih dulu ya, koper biar aku yang beresin” titahnya sambil membuka pintu yang ternyata merupakan walk in closet.
Aku mengikuti Bian masuk kedalamnya dan melihat pakaian lengkap milik Bian tersusun rapi sesuai dengan peruntukannya dan warna. Di sisi lain, aku melihat pakaian perempuan, tas, sepatu, dan berbagai aksesoris lainnya.
“itu milikmu…kamu adalah orang pertama yang mengetahui isi rumahku. Orang tuaku bahkan baru tau rumah ini tadi sebelum kita kesini” ucapnya yang membuatku bernapas lega.
Setelah aku perhatikan, pakaian perempuan yang disiapkan Bian merupakan pakaian khusus hamil. Aku senang ternyata Bian begitu memperhatikanku. Aku sendiri bahkan belum terpikir untuk membeli baju khusus hamil karena aku masih merasa nyaman dengan pakaianku sebelumnya.
Cup…
Aku mencium pipi Bian yang saat ini berdiri di sampingku. Aku juga memeluknya dari samping.
“terima kasih, mas…” Bian menegang mendengar ucapanku dan langsung melepas pelukan kami.
“tadi kamu bilang apa?” tanyanya yang mencoba memastikan ucapanku barusan dengan menangkup kedua pipiku.
“terima…kasih…mas” ulangku perlahan. Aku meletakkan kedua tanganku di dadanya, “sekarang mas kan suamiku, rasanya kurang sopan jika seorang istri memanggil suaminya hanya dengan sebutan nama. Bian itu panggilan ketika aku menjadi temanmu, sedangkan mas itu panggilan ketika aku menjadi istrimu…” belum selesai aku berbicara, Bian mendaratkan bibirnya di bibirku.
“ternyata lebih manis kalau menciumnya setelah sah” aku tertawa mendengar ucapan Bian.
“aku baru tau kalau mas bisa ngelawak juga” ucapku yang menggoda Bian.
“cuman kamu, Sarah, dan mama yang bisa membuatku lebih ekspresif. Entah dari dulu hanya kamu satu-satunya orang luar yang mampu membuatku bisa menjadi diriku sendiri” jujurnya, “oiya satu lagi, hanya kamu dan mama yang bisa melihat diriku luar dalam” aku mengerutkan kening mendengar ucapannya.
“mama cuman lihat pas aku masih kecil, kalau sekarang cuman kamu yang bisa melihatnya…” lanjutnya menggantung sambil menatapku dalam, “dan merasakannya…” bisiknya dengan nada menggoda. Aku terperangah ketika memahami maksud ucapannya
“pervert…” sungutku sambil memukul pundaknya. Bian tertawa lepas setelah berhasil menggodaku. Aku mengambil daster favoritku serta dalaman di dalam koper dan langsung menuju kamar mandi.
Aku berendam cukup lama di kamar mandi untuk merilekskan tubuhku yang terasa letih karena aktivitas hari ini. Saat aku keluar kamar, aku tidak melihat keberadaan Bian. Aku mengecek walk in closet dan melihat bahwa pakaianku telah disusun rapi olehnya. Samar-samar aku mendengar suara di luar kamar. Terlihat Bian sedang mengepel lantai bawah. Aku mengetahui jika Bian merupakan orang yang memperhatikan kebersihan dan kerapihan. Tapi aku tercengang melihat Bian mampu membersihkan rumah sebesar ini seorang diri.
Aku terpesona melihat Bian yang saat ini dalam kondisi shirtless. Melihat badan Bian yang mengkilap akibat keringat membuatku gigit jari.
__ADS_1
Saat Bian menuju teras, aku berjalan menuju dapur. Aku membuka kulkas yang terisi lengkap. Bian benar-benar tipe orang yang “well-prepared”.
Mengetahui Bian yang pasti lelah setelah membersihkan rumah, aku berinisiatif untuk memasak makan malam. Tiba-tiba aku menginginkan makanan yang berkuah. Akhirnya aku memutuskan untuk memasak sup dan ayam fillet krispi. Aku juga membuat tiramisu sebagai makanan penutup.
“sayang??? Kamu ngapain masak?” tanyanya panik ketika melihatku berkutat di dapur. “kita order aja yaa buat dinnernya...kamu kan gaboleh kelelahan” lanjutnya.
“ihh aku juga biasa masak selama di rumah orang tua mas…lagian aku lagi ngidam makanan yang berkuah-kuah…rasanya pasti segar” ucapku sambil membayangkan kuah sup mengalir di kerongkonganku.
“yaudah mas bantuin ya” kata Bian yang mencoba mengambil alih pisau di tanganku. Aku sempat menahan senyum mendengar Bian mulai mengucapkan kata “mas” untuk menyebut dirinya.
“no no no…badan mas penuh keringat gini ntar malah netes lagi di masakannya” ucapku sambil menjauhkan badannya yang mencoba mendekatiku, “mending mas mandi trus istirahat bentar, pasti mas capek abis bersihin satu rumah. Nanti aku bangunin lagi kalau udah matang” lanjutku.
Selain penuh keringat, aku tidak ingin gagal fokus melihat otot di perut Bian yang memanggilku untuk menyentuhnya. Kandunganku yang sedikit lemah pasca pendarahan kemarin membuat dokter melarangku untuk berhubungan badan dengan Bian. Gairahku yang meningkat karena hormon kehamilanku membuatku sebisa mungkin menjaga jarak dengan Bian. Tapi melihat Bian seperti ini terus, takut membuatku khilaf menyerangnya. Bian sendiri juga memaklumi kondisiku sehingga dia tidak melakukan interaksi yang begitu intens, hanya sekedar memeluk atau menciumku singkat.
Setelah Bian pergi menuju kamar untuk bersih-bersih, aku melanjutkan kegiatan memasakku. Kami makan malam selesai solat maghrib. Untuk pertama kalinya, kami melakukan solat berjamaah sebagai pasangan suami istri.
“kayaknya lidah mas mulai sekarang hanya bisa menerima masakan kamu deh yang…” komen Bian setelah menelan suapan pertamanya.
“bisa aja kamu mas…” ucapku tersipu malu.
“capek?” tanya Bian ketika melihatku memijat kaki di atas ranjang dengan minyak aromaterapi favoritku.
Aku menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Bian, “mungkin karena aku banyak berdiri hari ini” jawabku sambil mengoles minyak aromaterapi di seluruh kaki. Bian mengambil alih botol minyak tersebut dan melanjutkan aktivitas memijat kakiku.
“eh gausah mas…Mas Bian pasti lebih capek dari aku. Sini aku aja yang pijat mas” kataku yang menghalangi Bian untuk memijat kakiku.
Bian menahanku untuk mengubah posisiku, “rasa capek mas gak sebanding dengan rasa capekmu yang beraktivitas sambil membawa si kembar” jawabnya.
“pasti sekarang kamu mulai cepat lelah karena beban perut yang semakin besar” lanjutnya sambil sesekali mengelus perut buncitku. Saat ini tubuhku memang terlihat sedikit melebar seiring dengan bertambahnya usia kandunganku yang memasuki 16 minggu. Perutku terlihat lebih besar dari usia kandungan seharusnya karena terdapat dua janin didalamnya.
“mas...” panggilku kepada Bian, “mmm??” sahutnya sambil tetap memijat kakiku.
“pas mas ngelamar aku di rumah sakit, aku dengar mas udah cinta sama aku dari 5 tahun yang lalu. Berarti pas KKN dong?” tanyaku yang penasaran dengan cerita Bian yang mulai memiliki perasaan kepadaku. Telinga Bian memerah mendengar pertanyaanku. Aku diam menunggu jawaban Bian selama beberapa saat.
“iya…aku udah jatuh cinta sama kamu pas kita KKN karena kamu orang pertama yang memahami sikapku. Kamu tau sendiri kan, gak semua orang tahan dengan sikap datar dan diamku. Dulu kamu selalu memotivasiku untuk bisa beradaptasi dengan yang lain. Saat yang lainnya tidak sabar dengan sikapku, kamu tetap berada di sampingku. Lambat laun, aku mulai terbiasa dengan keberadaanmu dan mulai menunjukkan sikap asliku. Apalagi saat dulu kita menjadi partner untuk finalisasi laporan, kamu sering menghabiskan waktu bersamaku untuk mengurus laporan akhir KKN kita disaat yang lain mulai sibuk dengan persiapan tugas akhirnya. Rasa cintaku juga semakin besar ketika kita menghabiskan waktu bersama di perpustakaan untuk menyelesaikan skripsi bersama” jelas Bian yang mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1
“sebenarnya aku ingin mengungkapkan perasaanku ke kamu setelah wisuda, tapi papa memintaku segera pulang untuk membantu mengelola kebun. Aku udah memantapkan hati untuk melamar kamu suatu saat nanti, namun aku dilema. Kalo aku ngungkapin perasaanku terus kita LDR, aku takut kamu berharap lebih padaku yang belum ada kepastian, disamping itu aku juga masih belum mapan. Aku ingin memantaskan diri sebelum aku bertemu dengan orang tuamu. Makannya aku memutuskan untuk memutus komunikasi kamu dan pasrah jika nanti aku diberi kesempatan untuk bertemu kamu kembali, aku akan berusaha mendapatkanmu” lanjutnya yang membuatku tertegun. Pantas saja waktu itu Bian sempat meminta padaku untuk tidak meninggalkannya. Walaupun dia mengatakannya secara tidak sadar, aku mengetahui jika sebesar itu dia memendam perasaanya padaku.
“ternyata keberuntungan berpihak padaku. Saat pertama kali aku melihatmu di butik mamanya Alfi, aku bertekad untuk memilikimu. Bahkan aku sempat berpikir jahat untuk merebutmu dari pasanganmu kalau kamu udah memilikinya. Untungnya kamu masih sendiri, jadi aku berusaha mendekatimu dengan menyusul ke Solo agar bisa kenal dengan keluargamu dan bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersamamu” aku tersenyum geli mendengar kegigihan Bian berusaha mendekatiku kembali bahkan sampai memiliki rencana gila.
“aku kira reuni di Tegal bisa mempermudah kedekatan kita. Namun lagi-lagi aku harus menghadapi ujian bahwa aku memiliki saingan disana. Kamu tau…saat aku melihatmu tidak berdaya karena perbuatan bejat Mas Bagas, hatiku sangat hancur, apalagi saat kamu menatapku sedih dengan kondisimu yang mengenaskan. Di satu sisi aku berusaha mengontrol diriku agar tidak ikut tergoda. Namun saat melihat tubuh polosmu yang ternyata sempat dijamah, emosiku tersulut dan aku tidak bisa mengontrol diriku. Akhirnya aku juga ikutan bejat karena sudah merenggut kesucianmu sebelum waktunya. Saat itu aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Ditambah dengan kabar kehamilanmu yang baru kuketahui membuatku semakin merasa bersalah. Aku tidak menyalahkanmu yang menyembunyikan kondisimu, tapi aku merasa gagal karena tidak bisa memahami situasi dan terlalu pasrah dengan takdir” ucapnya menyesal.
“stop menyalahkan diri mas terus-menerus. Disini aku juga bersalah karena aku terlalu egois memikirkan diriku. Semuanya berawal dari kita yang saling tidak percaya dan mementingkan ego masing-masing. Mungkin kalau aku tidak salah mengartikan kedekatan mas dengan Sarah dan mas yang juga tidak salah mengartikan kedekatanku dengan Mas Bagas, mungkin tidak akan ada drama seperti ini” jelasku dengan bijak.
“apapun bentuk perjalanan takdirnya kalau kita memang ditakdirkan untuk bersatu, bagaimanapun caranya kita akan dipersatukan. Mungkin kejadian itu menjadi jalan untuk kita bersatu seperti ini. Kalo ditanya apakah aku menyesal mungkin aku akan jawab iya…” lanjutku yang membuat Bian menatapku kecewa.
“apa kamu menyesal menikah dengan mas dan mengandung buah cinta kita?” tanyanya sendu.
“aku menyesal karena pernah mengalami kejadian mengenaskan itu, tapi aku tidak menyesal menikah dengan mas karena aku juga mencintai Mas Bian. Memang awalnya aku sempat menyesal bisa kecolongan seperti ini, tapi aku menyadari bahwa mereka tidak bersalah. Mereka hadir karena bukti cinta kita, jadi tidak ada alasan bagiku untuk membenci mereka. Bagaimanapun mereka juga separuh nyawaku, bagian dari hidupku” jawabku sambil mengusap perutku. Bian memegang tanganku yang berada di atas perut sambil tersenyum menatapku.
“maaf ya mas kalau aku masih menyesali kejadian itu…bagaimanapun kejadian itu meninggalkan luka mendalam dan membuatku trauma. Mas mau kan membantuku menutup luka itu dan membuatku mengikhlaskannya?” tanyaku ragu kepada Bian.
Bian mencium keningku lama kemudian menatapku lembut, “tanpa kamu memintanya mas akan membantumu melupakannya. Mas akan berusaha membuatmu bahagia dengan pernikahan kita. Mas yakin lambat laun luka itu akan menutup tanpa kamu sadari” aku memeluk Bian mendengar jawabannya yang sangat memahami kondisiku. Semoga saja luka itu bisa segera kering dan menutup sepenuhnya. Walaupun membekas, aku akan menerima dengan ikhlas.
“oiya mas aku mau tanya…gimana caranya mas bisa nemuin aku di bukit? Waktu itu aku kan kabur…” tanyaku setelah melepas pelukan kami. Mengingat kejadian itu membuatku penasaran bagaimana Bian, Alfi, dan Devan bisa menemukanku.
“oh itu…mas melacak keberadaanmu lewat HP kamu. Ingat pas mas mengunci pintu kamar saat kamu mau nganterin bolu? Waktu kamu pergi keluar, mas sempat menghubungkan gps HP mas dengan HP kamu yang kamu tinggal. Mas yang saat itu masih terlalu posesif benar-benar melakukan berbagai cara agar kamu tetap dalam pengawasan mas meskipun kita jauh” jelas Bian menjawab rasa penasaranku.
Aku menganggukkan kepala mendengar jawabannya, “eh tapi kan waktu itu aku sempat kerumah sakit untuk cek kandungan…mas tau juga?” tanyaku ketika mengingat saat aku memeriksakan kandunganku pertama kali setelah perpisahanku dengan Bian.
“pas kamu memutus komunikasiku setelah telepon kita yang terakhir, mas yang menghargai keputusanmu akhirnya memutus sambungan gps kita. Mas juga ikut introspeksi diri setelah hubungan kita berakhir” jawabnya.
Tiba-tiba raut wajah Bian menjadi cemberut karena menyadari kebodohannya, “tau gitu harusnya gak mas putus ya sambungannya, kan mas jadi bisa tau lebih awal. Argh…jadi nyesal kan…” sungutnya yang membuatku tertawa lepas melihat ekspresinya.
“sudahlah mas, toh mas juga tau kan pada akhirnya…” ucapku menenangkan Bian sambil tetap menahan tawa melihatnya.
“ahh kamunya tetap ngetawain mas…mas merasa bodoh ini…” keluh Bian yang mulai merajuk padaku. Aku kembali menertawakan Bian yang menatapku kesal.
Aku mengatur diriku agar kembali tenang, “kan tadi kita abis melow-melow…sekarang gantian bercanda dong…biar gak sedih terus” Bian akhirnya ikut tertawa bersamaku setelahnya.
Akhirnya waktu malam pertama sebagai pasangan suami istri kami habiskan dengan pillow talk untuk saling mengenal kembali satu sama lain dan menyusun rencana rumah tangga kami kedepannya.
__ADS_1
...****************...