
Bian benar-benar membuktikan tanggung jawabnya sebagai seorang suami di hadapan kedua orang tua kami. Perlahan aku mulai menikmati kehamilanku bersama Bian. Bersama kami belajar membina rumah tangga dan mempersiapkan diri sebagai calon orang tua. Kami mulai memahami kebiasaan masing-masing yang baru terlihat setelah menikah. Terkadang kami juga berselisih paham mengenai perbedaan, tapi sebisa mungkin kami berdiskusi untuk mencari jalan tengahnya. Kami menjadikan hubungan di masa lalu sebagai pelajaran bahwa komunikasi dan kepercayaan adalah kunci utama untuk menyelesaikan permasalahan.
Salah satu hal yang sempat membuat kami bertengkar di awal pernikahan adalah keputusanku untuk tinggal sementara di Jakarta sembari menunggu persalinanku. Pertimbanganku adalah aku malas ganti dokter karena sudah merasa nyaman dengan dokter Gina yang menangani kehamilanku. Selain itu, aku juga harus membimbing Luna untuk mengendalikan cake shop karena setelah melahirkan aku berniat untuk menetap di Kediri mengikuti Bian. Aku harus menyerahkan tanggung jawabku secara perlahan agar Luna nantinya benar-benar siap saat aku benar-benar melepasnya. Nantinya Luna akan tetap memberikan laporan secara rutin kepadaku tiap bulannya agar aku bisa memantau perkembangan cake shop, namun untuk operasionalnya aku menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada Luna. Aku juga meminta Tisha untuk mendampingi Luna mengelola cake shop. Tisha hanya sebatas mendampingi saja karena dia juga bekerja di perusahaan lain.
Akhirnya Bian mengijinkanku untuk menetap sementara di Jakarta sampai aku melahirkan. Bian memahami pertimbanganku untuk kembali ke Jakarta. Aku bersyukur kedua orang tua kami ikut menyetujui keputusanku.
Aku dan Bian selalu melakukan video call setiap harinya untuk menjaga komunikasi kami. Tiap dua minggu sekali Bian ke Jakarta untuk memantau secara langsung kondisiku. Bian menyesuaikan jadwal pemeriksaanku sehingga setiap bulannya Bian selalu menemaniku check up kandungan.
Semenjak aku menikah dengan Bian, aku tidak lagi mengalami gangguan kehamilan. Seolah memahami mama dan papanya telah bersatu, kandunganku selalu baik dan sehat. Keinginanku selama kehamilan juga masih dalam batas wajar. Sebisa mungkin Bian memenuhi keinganku. Jika benar-benar tidak bisa, Tisha atau Luna akan menggantikan Bian untuk memenuhi permintaanku. Orang tuaku dan Bian juga turut memenuhi keinginanku saat mereka mengujungiku di Jakarta.
*****
“serius pekerjaanmu bisa dipantau dari sini mas? Nanti tiba-tiba ada panggilan mendadak lagi…” tanyaku kepada Bian yang saat ini sedang memijat kedua kakiku yang bengkak karena terlalu lelah beraktivitas.
“serius kok…kalopun nanti ada panggilan mendadak, mas nanti akan meminta papa untuk menggantikan. Lagian juga mas punya asisten. Mas harus siaga mulai sekarang karena mas takut kalo tiba-tiba mereka lahir saat mas tidak ada di sisi kamu” jawab Bian sambil mengusap perutku.
Aku senang dengan sikap Bian yang terlihat antusias menyambut kelahiran buah hati kami. Setiap kami lagi bersantai seperti saat ini, Bian selalu menyempatkan waktunya untuk mengusap dan mencium perutku sambil mengajak bicara kedua bayi kami. Meskipun aku merasa sedikit tidak nyaman karena gerakan mereka di dalam perutku yang sangat aktif, aku merasa bahagia bisa merasakan keaktifan mereka yang menerima interaksi dari kami.
Tak terasa usia kandunganku mulai memasuki minggu ke-34. Perutku yang sangat besar membuatku cepat lelah. Bian akhirnya memutuskan untuk menemaniku di apartemen sampai tiba waktunya aku melahirkan. Semenjak usia kandunganku memasuki minggu ke-32, aku hanya menghabiskan waktu di apartemen. Sesekali aku berjalan di taman sekitar apartemen untuk menghirup udara bebas dan merilekskan tubuhku agar persalinan nanti berjalan lancar. Tanggung jawab cake shop sudah sepenuhnya kulimpahkan ke Luna karena aku sudah tidak sanggup jika harus pergi keluar.
Sejak kedatangan Bian, setiap malam dia selalu memijat kakiku karena aku selalu merasa lelah meskipun hanya beraktivitas di dalam apartemen. Walaupun hamil besar, aku harus tetap bergerak agar persalinanku nanti berjalan lancar.
Mulai memasuki minggu ke-35, orang tuaku dan Bian menyusul ke Jakarta untuk menemaniku menantikan detik-detik persalinanku yang diprediksi dalam waktu dekat ini. Kemungkinan aku akan melahirkan lebih cepat karena saat pemeriksaan terakhir, salah satu bayi dalam kandunganku sudah memposisikan kepalanya di bawah. Orang tuaku dan Bian akhirnya memutuskan untuk langsung ke Jakarta setelah mendengar kondisiku yang terakhir. Mereka tidak ingin melewatkan momen kelahiran cucu pertama mereka.
Sejak pemeriksaanku yang terakhir, Bian menjadi protektif kepadaku dan selalu mengekoriku saat aku beraktivitas. Wajah Bian juga kembali datar seperti awal aku bertemu dengannya karena terlalu tegang menantikan persalinanku selama beberapa hari terakhir ini. Beberapa kali aku mencoba mencairkan suasana untuk mengurangi ketegangan Bian, tapi Bian tetap pada pendiriannya.
Akhirnya aku tidak memberitahu Bian saat aku mengalami kontraksi pertamaku di pagi hari saat aku membuat sarapan. Aku berusaha bersikap biasa walaupun aku menahan sakit di perutku. Untungnya kontraksi tersebut segera menghilang. Diam-diam aku mengirim pesan pada dokter Gina tentang apa yang baru saja kurasakan. Dokter Gina akhinya mulai memantau perkembangan kondisiku dari jauh. Saat aku kembali merasakan kontraksi, aku akan mengabarkan kondisiku ke dokter Gina. Tentu saja aku melakukannya secara diam-diam. Aku bersyukur Bian tidak curiga dengan kondisiku saat ini. Bukannya aku tidak ingin Bian mengetahui kondisiku, hanya saja aku tidak ingin Bian panik mengetahui kondisiku saat ini.
Malam harinya, aku mulai sering merasakan kontraksi yang terjadi cukup lama. Aku langsung mengirim pesan kepada dokter Gina mengenai kondisiku. Akhirnya dokter Gina menyarankan agar aku segera menemuinya di rumah sakit. Bian yang tadinya sudah terlelap akhirnya terbangun karena merasakan ketidaknyaman diriku.
“mas, kita kerumah sakit sekarang yuk…dokter Gina udah nungguin disana” pintaku sambil menahan rasa sakit. Awalnya Bian masih belum sadar dengan kondisiku, tapi saat aku meremas tangannya karena menahan rasa sakit, Bian langsung sadar sepenuhnya.
“udah waktunya???” tanyanya terkejut. Aku hanya mampu menganggukkan kepala menjawab pertanyaannya.
Sesuai dugaanku, Bian langsung panik mengetahui aku akan segera melahirkan. Saking paniknya, Bian sampai meluapkan emosinya karena tidak menemukan kunci mobilku. Sambil menahan sakit, aku berusaha bangun dari ranjang untuk menghentikan Bian yang masih sibuk mengeluarkan barang-barang di laci lemari sambil meluapkan kata-kata emosinya.
“mas…” panggilku sambil menahan tangannya. “ini apa?” tanyaku sambil menunjukkan kunci mobilku yang berada di kantong celana Bian. Bian meraup wajahnya saat melihat kunci mobil itu. Mengetahui aku akan melahirkan dalam waktu dekat, Bian memutuskan untuk selalu membawa kunci mobilku kemanapun dia pergi. Maksudnya agar tidak kelimpungan saat mencarinya ketika sewaktu-waktu kami harus pergi ke rumah sakit. Tapi yang ada justru dia melupakan idenya sendiri saking paniknya.
“tenangkan diri mas…jangan panik kayak gini, nanti aku malah ikutan panik” ucapku menenangkannya.
Aku membimbing Bian untuk mengatur pernapasan agar kembali tenang. Setelah kembali tenang, akhirnya kami keluar apartemen menuju basement untuk mengeluarkan mobil. Untungnya Bian sudah menyiapkan segala keperluan dan menyimpannya di bagasi jauh-jauh hari.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk kami sampai di rumah sakit, aku langsung dibawa masuk ke ruang periksa dan bertemu dengan dokter Gina yang sudah menungguku.
__ADS_1
“masih pembukaan lima ya Bu Demi. Ibu harus tetap tenang agar kondisi tubuh ibu tetap stabil dan tenaganya tidak banyak terkuras. Ini juga ketubannya sudah pecah, semoga saja pembukaannya berlangsung cepat agar bayinya bisa segera dikeluarkan” jelasnya setelah memeriksa kondisiku. Ternyata ketubanku sudah pecah saat perjalanan menuju ke rumah sakit.
“Papanya jangan tegang gitu dong…nanti mereka malah takut buat keluar” aku tertawa mendengar ucapan dokter Gina yang mencoba bercanda dengan Bian karena melihat wajah Bian sangat tegang disampingku.
“tuh mas, jangan pasang wajah galak dong…nanti mereka jadi takut pas lihat wajah papanya menyeramkan” ucapku yang ikutan menggoda Bian. Kulihat Bian mulai tenang saat mengetahui kondisiku yang baik-baik saja.
Sembari menunggu jalannya pembukaan, aku dipindah oleh perawat ke ruang inap untuk menunggu proses persalinan. Aku tidak didampingi oleh Bian karena dia harus mengurus adminitstrasiku. Aku berjalan ringan di dalam kamar untuk mengalihkan rasa sakit sambil mengabari orang tuaku dan Bian serta Luna dan Tisha. Aku juga memberitahu Ines, Devan, Alfi, dan Jihan terkait dengan kondisiku.
“tadi aku telepon mama sama papa, mereka katanya udah on the way kesini” kata Bian memberitahu saat menyusulku ke dalam ruang inap.
“iya aku yang memberitahu mereka tadi” lirihku menanggapi karena tak kuasa menahan rasa sakit di perutku.
“mas…” rintihku memanggil Bian. Bian meletakkan koperku asal dan langsung menghampiriku yang sudah mulai mengeluarkan bulir-bulir keringat di kening.
“ayo mas bantu naik ke ranjang…biar bisa dielus-elus punggungnya” Bian memapahku untuk naik ke atas ranjang dan mulai mengelus punggung dan perutku.
“kamu caesar aja ya sayang…mas gak tega lihat kamu kesakitan kayak gini” saran Bian yang tidak tega melihatku merintih kesakitan.
“pembukaanku cepat kok mas…aku juga mampu untuk melahirkan normal kok, I’m OK” aku tetap pada keinginan awal untuk melahirkan secara normal. Bian akhirnya mengalah untuk mengikuti keinginanku.
“mas…” panggilku saat rasa sakit mulai berkurang, “hmmm??” jawabnya sambil menatapku lembut. Sesekali Bian mengusap keringat di wajahku menggunakan sapu tangan yang diambil dari tas perlengkapanku.
“aku lapar…” kataku pelan, “tolong belikan nasi goreng depan rumah sakit mas…biar ada tenaga nanti pas melahirkan”
Bian tidak merespon permintaanku, dia malah sibuk dengan HP-nya. Hal itu membuatku sedikit kesal.
“mau makan cokelat dulu?” ucap Bian yang menawarkan alternatif lain untuk mengganjal rasa laparku.
Akhirnya aku memakan cokelat matcha favoritku yang memang selalu dibawa kemana-mana oleh Bian sembari menunggu pesananku. Tidak lama kemudian, kedua orang tua kami, Tisha, dan Sarah masuk ke dalam ruang inapku.
“udah pembukaan berapa?” tanya mama yang langsung mengambil alih posisi Bian untuk mengusap pinggangku.
“tadi sih masih pembukaan lima ma…sebentar lagi dokter Gina kesini buat ngecek lagi” jawab Bian yang menggantikanku karena saat ini aku sedang menahan rasa sakit yang kembali muncul.
“sini sayang…mama suapin kamu” ucap mama Hera, mertuaku sambil menyodorkan sendok berisi nasi goreng yang kupesan ke mulutku. Sambil menahan sakit, aku tetap memaksakan diri menghabiskan nasi goreng tersebut agar aku memiliki tenaga untuk persalinanku nanti. Beberapa kali aku berhenti karena mengerang menahan sakit. Aku mulai mengeluarkan air mata karena tak kuasa menahan rasa sakit. Mama dan Bian dengan sabar mendampingi dan menenangkanku.
Aku memalingkan wajah saat mama Hera kembali menyuapkan makanan. Nasi goreng tersisa sedikit tapi rasanya aku tidak sanggup untuk menghabiskannya. Akhirnya mama Hera menyodorkan air minum kepadaku sambil mengusap air mata yang terus mengalir di wajahku.
“sabar ya sayang…sebentar lagi kan mau ketemu mereka” ucap mama Hera menenangkanku.
“sakit ma…rasanya aku gak sanggup menahannya lagi. Semua tulangku rasanya seperti ingin lepas semua…aghh” aku mengeratkan peganganku pada mama dan Bian yang berada di sisiku. Bian dengan telaten mengusap keringat yang terus mengalir di tubuhku.
Dokter Gina datang untuk memeriksa kondisiku. “sudah pembukaan delapan, sepertinya kita langsung ke ruang bersalin saja ya” ucap dokter Gina.
__ADS_1
Aku lagsung duduk di kursi roda yang dibawa oleh perawat. Sebelum keluar aku memeluk dan memohon doa restu kepada orang tuaku dan Bian, juga Tisha dan Sarah.
“ma…maafin aku kalau selama ini aku belum bisa menjadi anak yang baik buat mama ya…sekarang aku bisa merasakan bagaimana dulu sakitnya mama saat menungguku lahir. Doakan semoga persalinanku nanti lancar” isakku sambil memeluk orang yang telah melahirkanku. Setelah pelukan kami terlepas, mama mencium seluruh wajahku sambil memberikan dukungan.
Kini aku beralih kepada mama Hera. Seperti ucapanku kepada mama, aku juga meminta maaf dan memohon doa restu. “…terima kasih karena mama sudah melahirkan Mas Bian hingga aku bisa bertemu dan bersanding dengannya” mama Hera juga memeluk dan mencium wajahku sambil memberikan dukungannya.
Dengan didorong oleh Bian, kami bergegas menuju ruang bersalin. Rasa takut, cemas, sakit, dan bahagia bercampur menjadi satu menantikan detik-detik aku berjuang untuk melahirkan bayi-bayiku. Tangan Bian tidak pernah lepas dari genggamanku agar aku bisa membagi rasa sakitku padanya.
Saat dokter Gina dan perawat sibuk mempersiapkan peralatan. Aku yang sudah terbaring di ranjang memeluk Bian yang duduk di sampingku sambil mengeratkan peganganku.
“semangat sayang…pasti kamu bisa” ucap Bian yang menyemangatiku.
“dok…saya sudah tidak tahan ini…rasanya seperti ada yang mau keluar” rintihku memanggil dokter Gina. Dokter Gina kembali mengecek bagian bawahku.
“sudah sempurna pembukannya…Bu Demi dengarkan aba-aba saya ya…dalam hitungan ketiga nanti ibu harus mengejan” ucapnya menginstruksikanku.
Beberapa kali aku harus mengejan untuk mengeluarkan bayi pertamaku. Aku mencoba untuk tidak berteriak karena takut akan menghabiskan tenaga. Aku hanya mengerang kencang untuk mengeluarkan bayiku.
“ayo mengejan sekali lagi sambil saya bantu mengeluarkannya…satu…dua…tiga…”
“eeeeuuunngghhh…..” erangku cukup panjang sampai akhirnya terdengar suara tangisan bayi.
“…oeeekk….oeeekk…oeeekk” tangisku pecah saat mendengar suara tangis itu untuk pertama kalinya. Kulihat Bian juga mengeluarkan air matanya ketika mendengar suara itu.
“mas…anak kita” lirihku lemas.
“iya…anak kita” ucapnya kemudian mencium seluruh wajahku. Kami belum lega sepenuhnya karena aku masih harus mengeluarkan bayi kami satu lagi. Sembari menunggu dorongan itu, aku mengistirahatkan diri sambil sesekali minum air putih.
“dok, ada dorongan lagi” ucapku saat kembali merasakan dorongan yang sama seperti sebelumnya.
Aku kembali mengejan untuk mengeluarkan bayi keduaku. Tidak seperti yang pertama, aku hanya perlu mengejan dua kali untuk mengeluarkan bayiku.
“selamat ya Bu Demi…anaknya laki-laki semua dan tampan seperti papanya. Mereka juga sehat dan normal ya bu…” ucap dokter Gina. Rasa lega dan bahagia menyelimutiku saat kedua bayi yang kulahirkan normal dan sehat.
“terima kasih sayang…kamu sudah berjuang melahirkan kedua anak kita. Mereka nanti yang akan mendampingi mas untuk melindungi kamu” ucap Bian terharu karena aku berhasil melewati proses persalinan.
Setelah dibersihkan, Bian mengadzani kedua bayi kami secara bergantian. Dengan dibantu perawat, aku mencoba mendekap kedua bayi kami di dadaku. Tubuh mereka yang sangat kecil bisa kudekap keduanya. Aku menangis dan tersenyum secara bersama ketika bersentuhan dengan mereka untuk pertama kalinya.
Perlahan mereka mulai mencari sesuatu di dadaku. Mereka langsung meminumnya dengan rakus saat berhasil menemukannya. Aku, Bian, dan perawat yang menemani kami tertawa kecil melihat mereka bergandengan tangan di dekapanku.
Welcome to the world my baby twin boys
“aku mencintaimu sayang…” ucap Bian yang kemudian mencium keningku.
__ADS_1
“aku juga mencintaimu mas…” jawabku setelah Bian melepas ciuman kami.
...****************...