
“gimana perjalananmu Dem?” tanya Jihan ketika menyambutku di stasiun.
“aku gabisa tidur, perutku terasa agak kenceng selama perjalanan. Tapi aku gabisa menahan ngidamku terlalu lama…ayo kita ke pabrik CokelatKu sekarang. Mungkin mereka sudah tidak sabar” jawabku lesu sambil menunjuk perutku.
“yaampun bumil satu ini benar-benar luar biasa ya ngidamnya. Ayo deh kita wujudin keinginan kamu itu” ucap Jihan terkekeh sambil membawa koperku dan menggiringku menuju mobilnya.
Saat duduk di dalam mobil Jihan, aku langsung merebahkan sandaran tempat duduk untuk merilekskan perutku yang terasa tidak nyaman sejak di kereta. Aku juga mengoleskan minyak aromaterapi di perut dan pinggang untuk membantu mengurangi ketegangan di perutku. Awalnya Jihan mengusulkan agar aku beristirahat di hotel dulu, namun karena aku sudah tidak sabar ingin menikmati cokelat, aku tetap memaksa Jihan untuk langsug pergi ke pabrik Bian.
Keluar dari parkiran stasiun, kami segera menuju pabrik cokelat Bian. Aku memasang gps untuk mempermudah perjalanan kami. Ditengah perjalanan, tiba-tiba Jihan memutar balik mobilnya sehingga kami justru bergerak menjauhi lokasi tujuan.
“Ji…kamu kenapa gak ikutin gps nya?? Ini kita malah menjauhi pabrik loh…” ucapku yang bertanya-tanya melihat Jihan yang tiba-tiba terlihat serius memandangi jalan di depannya.
“bentar Dem…aku mau memastikan sesuatu dulu” jawab Jihan datar.
“memastikan apa??? Duh ini urusin cokelat dulu hmmm…” protesku mulai merajuk. Jihan mengacuhkan protesku dan tetap mengendarai mobil dengan pandangan serius.
Aku akhirnya minum susu hamil kemasan rasa cokelat untuk mengganjal perutku karena kesal diacuhkan oleh Jihan. Selain ingin memakan cokelat, saat ini aku juga merasa lapar karena sudah masuk jam sarapanku. Tapi aku ingin sarapan dulu dengan CokelatKu dari pabriknya langsung. Terlihat menyusahkan memang diriku saat ini.
Tiba-tiba Jihan memarkirkan mobilnya di depan sebuah gedung SMA. Pandangan Jihan fokus kedepan seperti memperhatikan sesuatu, aku akhirnya ikut memandang ke depan untuk melihat apa yang diperhatikan oleh Jihan.
Air mataku menetes saat mengetahui orang yang selama ini kurindukan sedang mengantar seorang gadis SMA. Hal yang membuatku sakit adalah melihat kemesraan mereka secara langsung, dimana Bian membuka pintu mobil untuk gadis itu bahkan memeluk dan mencium keningnya. Air mataku mengalir semakin deras di pipi melihat mereka tertawa bahagia.
“dasar buaya darat” umpat Jihan yang langsung membuka pintu mobil untuk melabrak Bian.
Aku tidak sempat menahan Jihan yang terlihat emosi. Tiba-tiba aku merasakan sakit di perutku yang teramat dalam.
“arghhh” rintihku sambil memegang perutku.
Kulihat Jihan menampar Bian saat menemuinya. Bian terlihat terkejut dengan kedatangan Jihan, aku melihat mereka terlibat adu mulut. Aku yang tidak tahan dengan rasa sakit di perutku mencoba membuka pintu mobil. Disaat aku mencoba untuk keluar, aku merasakan sesuatu mengalir di pahaku. Kulihat darah merembes keluar membasahi kedua pahaku.
Jantungku berdegup kencang melihat darah itu, pikiranku blank saat ini mengetahui kandunganku dalam kondisi bahaya. Saat aku keluar mobil, aku yang tidak mampu menopang tubuhku langsung terjatuh. Namun seseorang menangkap tubuhku agar tidak menyentuh tanah. Kulihat Bian saat ini menahan tubuhku dan memandangku dengan khawatir, terkejut, dan marah.
“tolong…selamatkan…mereka” rintihku dan selanjutnya pandanganku menggelap.
*****
Aku tersadar saat mendengar suara isak tangis seseorang di sampingku. Saat aku membuka mata, terlihat orang tersebut sedang mengusap perutku dan sesekali menciumnya. Aku mengumpulkan kesadaranku dan mencoba mengingat apa yang terjadi padaku.
“bayiku!!!” teriakku ketika aku berhasil mengingat semuanya. Aku langsung bangun memeriksa kondisi perutku yang masih terlihat sama seperti sebelumnya. Orang yang sedang mengusap perutku terkejut melihatku sudah sadar.
“tenang sayang…mereka baik-baik saja” ucapnya sambil menangkup kedua pipiku. Aku menyadari jika orang yang berada disampingku adalah Bian. Wajahnya memerah dan terdapat sisa air mata di pipinya.
__ADS_1
Tangisku pecah mendengar ucapannya yang mengatakan jika kandunganku baik-baik saja. Bian memelukku dan menenangkanku, kemudian dia mencium seluruh wajahku sambil terisak.
“sayang, maafin aku…karena aku, kamu hampir kehilangan mereka. Maafin aku yang membuat kalian menderita. Aku tidak bisa memaafkan diriku kalau mereka pergi meninggalkan kita” lirihnya sambil terisak ketika menyatukan kening kami.
“kamu gak salah Bian…aku yang terlalu memaksakan diri untuk mewujudkan keinginanku” jawabku pelan berusaha menenangkannya. Bian menggelengkan kepala mendengar jawabanku.
“kalo aja aku tau sodara yang dimaksud Alfi adalah kamu, pasti aku langsung ke Jakarta untuk mewujudkan keinginan kalian. Kamu tidak perlu sampai harus jauh-jauh kesini untuk mewujudkan keinginanmu. Papa macam apa aku ini…” Bian tetap menyalahkan dirinya saat melihat kondisiku saat ini. Bian bergerak menuju perutku dan kembali menciumnya.
“maafin papa ya nak…karena papa tidak peka dengan keinginan kalian. Papa bahkan tidak mengetahui bahwa kalian telah hadir di perut mama. Maafkan papa yang tidak memperjuangkan kalian” gumamnya sambil memeluk perutku posesif. Aku terenyuh melihat sikapnya yang mau menerima kehamilanku setelah apa yang terjadi pada kami.
“Bian…” panggilku lirih. Bian mengacuhkan panggilanku dan terus menangis meratapi kesalahannya. Aku mengusap kepalanya yang saat ini sedang fokus mencium perutku. Bian mengalihkan pandangannya kearahku setelah tanganku diatas kepalanya.
“stop menyalahkan dirimu oke…kamu gak salah Bi. Aku yang terlalu egois dengan semuanya” ucapku menenangkannya.
Tiba-tiba Bian mengenggam kedua tanganku erat, “Demi sayang…jangan tinggalin aku lagi ya…cukup dua kali aku kehilangan kamu. Kamu adalah duniaku di masa lalu, sekarang, dan selamanya. Aku akan benar-benar gila jika kali ini aku kembali kehilangan kamu” ucapnya memohon kemudian mencium kedua tanganku secara bergantian.
“Bi…aku udah melihat semuanya tadi dengan jelas. Kamu tidak perlu terbebani dengan kehadiran mereka. Aku tidak akan memaksa kamu untuk bertanggung jawab. Aku gamau dicap sebagai pelakor Bi…” lirihku.
“kamu salah paham sayang…itu semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku akan jelaskan semuanya…” Bian terdiam ketika aku menyentuh bibirnya dengan telunjuk untuk mengisyaratkan tanda diam.
“tidak perlu Bian…aku gamau memendam rasa sakit itu yang berdampak pada kandunganku” terlihat tatapan sendu Bian yang putus asa karena aku menolak mendengarkan penjelasannya. Aku mencoba mengikhlaskan Bian secara damai tanpa perlu mendengar penjelasan yang mungkin terdengar menyakitkan.
Tiba-tiba pintu ruang inapku dibuka secara kasar oleh seseorang. Terlihat papa, mama, Tisha, dan Jihan masuk ke dalam kamar.
“PAPA!!!” teriakku histeris melihat Bian tak berdaya dibawah kurungan papa. Bian terlihat pasrah menerima amukan papa dan tidak berusaha melawannya. Aku mencoba bangkit dari ranjangku dan bergerak untuk melindungi Bian. Aku tidak peduli dengan selang infusku yang mulai mengeluarkan darah di selangnya dan teriakan mama yang mencoba menahanku.
“CUKUP PA!!! JANGAN PUKULIN BIAN LAGI…” pintaku histeris sambil memeluk tubuh Bian yang terbaring lemah tak berdaya. Aku menyentuh pelan wajahnya yang terlihat babak belur. Bian mencoba tersenyum untuk menenangkanku ditengah rasa sakit yang menderanya.
“jangan…nangis…lagi…” ucapnya terbata-bata, “nanti…mereka…ikutan…sedih” lanjutnya kemudian mengusap perutku. Aku hanya bisa menangis mendengar ucapannya.
“KAMU NGAPAIN NGELINDUNGIN DIA??? DIA AJA GABISA NGELINDUNGIN KAMU DAN KANDUNGAN KAMU!!!” hardik papa kepadaku kemudian menarikku untuk menjauh dari Bian. Aku melawan usaha papa yang mencoba memisahkanku dari Bian.
“Bisa dibicarakan baik-baik kan pa?? Aku mohon jangan pakai kekerasan” lirihku sedih.
Aku mengerang saat kembali merasakan sakit di perutku. Melihat raut wajahku yang kesakitan, Bian mencoba bangkit dan mengangkat tubuhku untuk dibaringkan ke atas ranjang. Kulihat Tisha keluar dari kamar untuk memanggil dokter. Aku menggenggam erat tangan Bian untuk meredakan rasa sakitku. Bian mencoba menenangkanku dengan membisikkan kata-kata di telingaku. Tisha kembali masuk ke dalam kamar diikuti oleh dokter dan perawat.
Dokter langsung memeriksa kondisiku dan perawat memperbaiki infusku yang sempat terlepas. Selama pemeriksaan, aku menahan Bian untuk tetap mendampingiku dan menggenggam tangannya erat. Papa terlihat masih emosi dan mama berusaha menenangkannya. Tisha dan Jihan berpelukan satu sama lain sambil memandangku sedih.
“Bu Demetra jangan terlalu stress ya…kasihan bayinya ikut terguncang akibat emosi dari ibu…Bu Demetra harus bedrest total setelah ini. Faktor kelelahan dan tekanan dalam diri ibu memicu pendaharan seperti tadi. Kandungannya dijaga ya bu…tenangkan diri ibu” jelas dokter yang menasihatiku.
“untuk keluarga pasien tolong jangan melakukan hal-hal yang bisa memicu stress pada pasien. Jika ada permasalahan, bisa dibicarakan baik-baik dan jangan sampai membuat pasien terbebani” lanjut dokter ketika melihat wajah Bian yang babak belur dan merasakan atmosfer ketegangan di ruang inapku.
__ADS_1
“pa…gausah emosi lagi ya…aku gapapa kok…aku juga udah bicara sama Bian tadi” lirihku setelah dokter dan perawat pamit undur diri.
“saya mau dengar penjelasan nak Bian…bisa jelaskan ini semua?” tanya papa tajam kepada Bian yang duduk disamping ranjangku, membelakangi papa.
Sebelum Bian menjawab, tiba-tiba pintu ruang rawatku kembali dibuka oleh seseorang. Aku melihat sepasang suami istri dan seorang gadis SMA yang kulihat tadi bersama Bian.
“Bian…ada apa ini? Tadi Sarah tiba-tiba pulang sambil nangis cerita masalah kamu” tanya pria paruh baya itu.
“astaghfirullah nak, kamu kenapa babak belur seperti ini?” tanya wanita disamping pria paruh baya itu saat melihat wajah Bian yang babak belur. Terlihat raut wajah khawatir dari wanita itu saat melihat kondisi Bian.
“Bian gapapa ma…” jawab Bian pelan. Tiba-tiba Bian bangkit dari tempat duduknya dan berlutut di depan wanita disampingnya yang kuketahui merupakan mama Bian. Bian bersimpuh di hadapan mamanya dan mencoba memeluk kedua kakinya.
“ma…ampuni Bian…Bian telah melakukan dosa besar. Bian telah melukai hati mama dan Sarah sebagai seorang perempuan. Bian sudah mengambil kehormatan seorang gadis yang Bian cintai bahkan sampai menghamilinya” aku terisak mendengar ucapan Bian yang menyayat hati. Kulihat mama Bian menutup mulutnya tidak percaya dan mulai mengeluarkan air mata.
“sungguh Bian tidak berniat untuk merusak perempuan yang Bian cintai karena Bian sayang sama mama dan Sarah. Semua terjadi karena Bian ingin melindunginya…Bian tidak rela dan akan hancur kalau dia jatuh di tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Bian juga tidak menyangka jika kejadian itu akan menghadirkan dua nyawa yang tidak bersalah. Maaf Bian baru jujur sekarang karena Bian bingung ma…perempuan yang Bian cintai menjauhi Bian. Dia pasti merasa salah paham dengan Bian. Sebelum Bian meluruskan kesalahpahaman ini, Bian memohon restu untuk bertanggung jawab dengan menikahinya dan meminta mama untuk bisa menerimanya dan kedua calon cucu mama” jelas Bian panjang lebar sambil berlinangan air mata. Bian mengangkat kepalanya untuk melihat wajah orang yang telah melahirkannya.
Pria paruh baya yang kuyakini merupakan papa Bian datang menghampiri Bian yang masih setia berlutut di kaki mamanya. Mama Bian yang berlinangan air mata tersenyum lemah ke arah Bian.
“mama maafkan asal kamu bisa mempertanggungjawabkan semuanya” ucap mama Bian yang tersenyum lemah melihat Bian.
Mama Bian berusaha membantu Bian untuk berdiri dan memeluknya. Terdengar lirihan Bian yang berkali-kali mengatakan maaf di telinga mamanya dan mama Bian berusaha menenangkannya.
“pa…” lirih Bian memanggil papanya ketika melepas pelukan dengan mamanya
“papa akan memaafkan kamu setelah kamu bisa mempertanggungjawabkan ini semua. Papa mengajari kamu untuk bisa bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan” tegas papa Bian dengan tatapan sangarnya sambil menepuk pelan pundak Bian.
Bian berjalan menuju gadis SMA yang sedari tadi berdiri di depan pintu. Aku menatapnya sendu ketika Bian merangkul gadis itu.
“om, tante, Tisha, Jihan, dan khususnya Demi…aku minta maaf jika selama ini kalian salah paham denganku. Sungguh aku tidak bermaksud untuk mempermainkan perasaanmu Demi, kamu adalah satu-satunya perempuan yang kuharapkan bisa menjadi pasanganku kelak. Aku paham mengapa kamu menjauhiku. Disini aku mau memperkenalkan kalian dengan seseorang di sampingku saat ini” jelas Bian yang kemudian meminta persetujuan dengan gadis itu melalui tatapannya. Gadis itu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“perkenalkan, namaku Sarah. Aku adik kandungnya Mas Bian” ucap gadis SMA itu yang membuat mataku melebar sempurna.
Adik??? Jadi selama ini aku cemburu sama adik kandungnya sendiri?? tanyaku dalam hati.
Ditengah keterkejutanku, mamanya Bian menggenggam erat tanganku dan memberiku senyuman hangat. Aku membalasnya dengan senyuman canggung.
“Dem…kamu udah tau semuanya kan? Aku tidak akan mengkhianati kamu, maafin aku yang tidak menjelaskannya dari awal sehingga membuat permasalahan ini menjadi rumit. Aku juga minta maaf jika sikapku sebelumnya sangat posesif kepadamu. Selama kita berpisah, aku merenungkan semuanya dari awal kita bertemu kembali” Bian mencoba menarik napas dalam sebelum berbicara kembali
“semuanya berawal dari kita yang saling tidak percaya satu sama lain. Kamu yang menyangka aku ada hubungan dengan Sarah karena beberapa kali kamu mendengar interaksiku dengannya, dan aku yang masih meragukanmu ketika Mas Bagas mendekatimu. Andai saja aku menjelaskan semuanya dari awal, mungkin kamu tidak harus mengalami semua ini. Tapi kita tidak perlu menyesali semuanya. Aku akan mencoba memperbaiki semua” lanjut Bian.
Tiba-tiba Bian berjalan menghampiri mama dan papa yang duduk di sofa sudut ruangan. Bian berlutut dihadapan mereka dan menundukkan kepala.
__ADS_1
“Om Arwin, Tante Retha…dihadapan keluarga Bian, saya ingin meminang Demetra Vinda Chairani sebagai istri saya. Saya sudah jatuh cinta dengannya sejak kami dipertemukan 5 tahun yang lalu. Ijinkan saya mempertanggungjawabkan apa yang telah saya lakukan kepada Demi. Apapun kondisinya, saya memang berniat akan mempersuntingnya. Mungkin dengan kondisi ini kami bisa sadar dengan sikap kami masing-masing. Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa kepada om dan tante, tapi saya berharap om dan tante bisa merestui Demi bersama dengan saya untuk berubah menjadi lebih baik lagi” jelas Bian yang membuatku deg-degan mendengar ucapannya.
...****************...