Demian

Demian
BAB 22 - Girls Talk


__ADS_3

“guys…kok kita kayak gak kenal satu sama lain sih?? Jangan canggung gini dong. Aku lebih suka keramaian” ucap Ines yang memecah keheningan kami.


Saat ini aku sedang mengendarai mobil bersama Ines dan Jihan menuju Puncak. Aku merasa canggung jika harus membuka obrolan dengan mereka sejak pertemuan terakhir kami di Tegal.


“Demi…kamu udah gak marah sama kita kan?” tanya Jihan yang membuka pembicaraan denganku.


“ehh…engga kok…ngapain juga marah sampai segitunya…lagian juga udah lewat lama ini” aku mencoba tersenyum agar aku terlihat baik-baik saja.


Sebenarnya selain merasa canggung, aku juga sedang malas berbicara karena aku sedang menahan mual yang menyerang diriku sejak awal keberangkatan tadi. Sebisa mungkin aku menahannya sampai aku menemukan masjid terdekat. Aku benar-benar tidak tahan dengan rasa mualku ini. Padahal sebelum berangkat aku sudah minum susu pereda mual dan makan cokelat untuk mencegah mual.


“mmm guys…aku mampir ke toilet dulu ya…udah gatahan nih” kataku sambil pura-pura menahan sakit perut ketika melihat masjid di pinggir jalan.


Aku memarkirkan mobil tanpa mematikan mesin. Dengan membawa tas selempang, aku keluar dari mobil dan berjalan tergesa-gesa menuju toilet.


Hoek…hoek…hoek…


Cukup lama aku berada di toilet sambil mengoleskan minyak angin di dada dan perutku. Sebenarnya aku ingin berangkat sendiri agar bisa leluasa jika sewaktu-waktu aku mengalami mual seperti ini. Setelah beberapa kali memuntahkan cairan bening, aku mebasuh wajahku dengan air dan memakai lipstick berwarna pink untuk menyembunyikan bibir pucatku. Aku bergegas kembali menuju mobilku agar Ines dan Jihan tidak menunggu lama dan menaruh curiga padaku.


Untungnya Ines dan Jihan tidak protes karena telah menungguku lama, mungkin mereka memaklumi sakit perutku yang sebenarnya hanya alasan yang kukarang saja. Ketika aku melanjutkan perjalanan, mereka berdua sibuk dengan HP masing-masing yang membuatku lega tidak harus membuka pembicaraan. Biasanya aku lebih banyak diam saat merasakan mual.


Sayang-sayangnya mama jangan rewel ya…mama kan lagi nyetir. Mama gamau teman-teman mama curiga dengan kondisi mama, ucapku dalam hati menenangkan kandunganku.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, kami akhirnya tiba di villa yang disewa oleh Devan selama 3 hari kedepan. Villa yang sangat luas dengan beberapa bangunan, memiliki kolam renang ditengah-tengah villa, dan terdapat bangsal yang nantinya dijadikan tempat pemberkatan Ines dan Devan.


Sesampainya di villa, beberapa petugas sibuk melakukan dekorasi untuk persiapan acara esok. Beberapa kali Ines dan Jihan mengarahkan petugas tersebut apabila terdapat perubahan tata letak dekorasi. Aku hanya diam tanpa ikut berbicara karena memang sejak awal aku tidak campur mengenai pelaksanaan pernikahan Ines dan Devan.


Ines datang ke villa lebih awal untuk menikmati spa sebagai salah satu rangkaian pernikahan dalam rangka mempercantik diri. Fasiltas spa yang tersedia lengkap di villa membuat Ines mengajakku dan Jihan ikut serta. Sebagai teman terdekat, Ines ingin mengenang momen masa lajangnya denganku dan Jihan selama satu hari ini.


Melihat Ines dan Jihan yang sedang menikmati pijatan di tubuhnya membuatku ragu, karena saat ini aku sedang mengandung yang berarti tidak bisa sembarangan melakukan pijatan. Aku membisikkan sesuatu ke mbak yang bertugas untuk melakukan perawatan padaku. Untungnya mbak tersebut paham dan akhirnya aku bisa melakukan pijatan tanpa harus menganggu kandunganku.


*****


Keadaan villa semakin ramai dengan kedatangan keluarga inti dari Ines dan Devan. Alfi, Bian, dan Devan juga sudah datang namun berada di bangunan yang berbeda dari tempat para cewek. Mengetahui keberadaan Bian entah mengapa membuatku ingin memeluknya. Tiba-tiba saja aku merasa keinginanku akan hal itu sangatlah kuat. Apa ini yang dinamakan ngidam? Tapi mengapa harus ngidam memeluk Bian?


Aku, Ines, dan Jihan berkumpul di kamar pengantin Ines untuk mengabiskan waktu bersama sebelum Ines berubah statusnya esok hari. Kami asyik dengan kegiatan kami masing-masing. Aku yang sedang terbaring di atas ranjang bergerak gelisah karena menahan rasa ngidamku yang sebenernya enggan kuwujudkan. Tapi di satu sisi aku juga berpikir, bagaimana jika ngidamku tidak terwujud? Aku takut nanti berdampak pada janin yang kukandung.


“arrghhh…” erangku frustasi sambil mengacak rambutku kasar kemudian berjalan keluar kamar. Aku tidak peduli dengan Ines dan Jihan yang mungkin heran melihat tingkahku.


Tidak ada pilihan lain. Aku harus segera bertemu dengan Bian dan mewujudkan keinginanku. Ahh sayang…kenapa kalian ingin sekali mama memeluk papa…padahal mama kan masih belum siap bertemu dengannya, protesku dalam hati sambil mengusap perut.


Keberuntungan sedang berada di pihakku ketika aku melihat Bian sedang berdiri di tepi kolam renang. Entah apa yang sedang dilakukannya, tapi yang jelas aku langsung berjalan perlahan menghampirinya dan segera memeluknya dari belakang. Bian sempat terkejut karena dipeluk secara tiba-tiba.

__ADS_1


“biarkan dulu seperti ini…kamu diam saja” kataku saat memeluknya erat sambil menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam. Kalian senang kan bisa bertemu dengan papa…jangan rewel lagi ya sesudah ini…jangan sampai papa curiga dengan kita ya sayang, kataku dalam hati kepada calon buah hatiku.


Cukup lama aku memeluk Bian dari belakang. Bian membalasnya dengan mengusap kedua tanganku yang melingkar di pinggangnya. Demi janin yang kukandung, aku rela melakukan hal memalukan ini setelah perlakuan menyakitkanku padanya. Setelah puas dengan keinginanku, aku melepas pelukannya dan bersiap kabur dari hadapannya. Namun tanganku ditarik oleh Bian yang membuatku kembali jatuh ke dalam pelukannya.


“sekarang giliranku” bisiknya di telingaku sambil memeluk erat diriku. Aku kembali berpelukan dengan Bian yang sudah membalikkan badannya. Kurasakan hembusan napas Bian di leherku yang mencoba menghirup aromaku dalam-dalam.


Aku pasrah dengan perlakuan Bian dan kesal dengan diriku yang merasa nyaman dipeluk olehnya. Mengapa kalian berdua lebih berpihak kepada papa daripada mama?? keluhku dalam hati yang protes dengan kandunganku.


Aku berusaha melepas pelukan kami, “enough Bi…makasih atas pelukannya. Maafkan sikapku tadi. Aku harus kembali ke kamar, takut Ines dan Jihan menunggu” tanpa menunggu jawaban Bian, aku langsung kabur dari hadapannya.


*****


“lo darimana sih Dem…kok kayak ngos-ngosan gitu?” tanya Ines saat melihatku kembali ke dalam kamar dengan tergesa-gesa.


Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan Ines. Aku mengusap butir-butir keringat di dahi dan berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan bersih-bersih.


Ditemani cahaya dari lampu tidur, kami bertiga melakukan girls talk untuk nostalgia mengenai perjalanan cinta Ines dan Devan yang dimulai dari masa pendekatan sampai akhirnya jadian saat kami KKN. Cerita berlanjut dengan kisah LDR mereka sampai akhirnya memutuskan untuk meresmikan hubungan mereka dalam suatu ikatan pernikahan. Kami membayangkan hari esok, saat dimana Ines dan Devan saling mengucapkan janji suci. Tiba-tiba Ines bangun dari tidurnya dan mengambil HP miliknya.


“guys aku mau ngasitau kalian sesuatu, terutama buat Demi” celetuk Ines sambil memainkan HP-nya.


“nah ini dia” ucapnya kemudian memperlihatkan foto seorang balita perempuan yang sangat menggemaskan.


“ihhh…lucu banget. Ini siapa Nes, kok seperti tidak asing wajahnya?” tanya Jihan yang gemas dengan foto balita tersebut.


“namanya Gabriella, usia 3 tahun, dan merupakan buah cintaku dengan Devan” aku dan Jihan melongo mendengar ucapan Ines.


“ANAK KALIAN??” teriakku heboh setelah sadar dari keterkejutanku. “tapi…kalian gapernah cerita sebelumnya…” aku masih terkejut dengan fakta mencengangkan yang disampaikan Ines.


“maafin gue ya Dem…sebenarnya gue mau ngenalin Gabby sama kalian pas pemberkatan besok” ucap Ines yang menyesal.


“ceritain…semua…” perintah Jihan penuh penekanan.


Ternyata saat wisuda, Ines sudah dalam kondisi hamil 8 minggu. Kehamilan Ines merupakan sesuatu yang tidak direncanakan sebelumnya. Mereka kecolongan karena Ines lupa minum pil pencegah kehamilan. Devan yang memang tidak suka menggunakan pengaman tetap mengeluarkannya di dalam yang akhirnya membuahkan hasil.


Ines akhirnya tidak memberitahukan kehamilannya pada Devan karena Devan sedang fokus untuk persiapan S2 di Jepang. Devan baru mengetahuinya ketika Ines akan melahirkan. Kondisi Ines yang sudah mengalami pecah ketuban namun bayinya tidak kunjung keluar akhirnya membuat kakak Ines menghubungi Devan karena tidak tega dengan kondisi Ines yang kesakitan.


Untungnya, Devan saat itu sedang berada di Indonesia untuk memperingati hari kematian papanya. Dalam kondisi marah dan kecewa karena telat mengetahui kehamilan Ines, Devan akhirnya tetap mendampingi proses persalinan Ines. Mungkin memang sudah rencana Tuhan saat bayi yang dikandung Ines menunggu kehadiran papanya untuk menyambut kehadirannya di dunia.


Setelah kelahiran Gabriella, Devan awalnya enggan untuk kembali ke Jepang karena berniat untuk menikahi Ines. Tapi, Ines meyakinkan Devan agar tetap menyelesaikan studinya dan berjanji akan menikah setelah Devan berhasil mendapatkan gelas masternya. Selama ini Gabriella diasuh oleh Ines dibantu dengan mamanya. Namun selama persiapan pernikahan, Gabriella dititipkan di tempat kakaknya Ines.


“pantes aja aku gapernah melihat anakmu di rumah…ternyata dititipin di rumahnya kak Alex toh…” kata Jihan setelah mendengar cerita Ines, “tapi kalian pintar ya menyembunyikan fakta sebesar ini” lanjutnya yang menyindir Ines.

__ADS_1


“yang penting kan sekarang kalian udah tau…aku juga nyeritain ini buat sharing pengalaman sama Demi agar tidak menyembunyikan kehamilannya terlalu lama sama Bian. Jangan seperti aku dan Devan” ucap Ines sambil menatapku penuh arti.


“ap-apaan sih lo…k-kok jadi gue sih…” elakku yang gugup karena terkejut mendengar ucapan Ines. Aku tidak menyangka jika Ines bisa mengetahui rahasiaku yang berusaha kututup rapat-rapat.


Jihan menatapku penuh selidik, “mau ngasitau apa Demi?” tanya Jihan dengan menatapku dalam.


“mau ng-ngasitau ap-apaan…” sanggahku kemudian menutup perutku dengan kedua tangan.


GOD…HELP ME!!! teriakku dalam hati.


“Demetra…gue ini seorang ibu yang pernah merasakan hamil juga. Lo gabisa nutupin kehamilan lo dari gue. Sekarang lo bilang berapa usia kandungan lo…” kata Ines sambil menatapku dalam. Begitu pula dengan Jihan yang menunggu kejujuranku.


“darimana lo bisa nebak kalau gue lagi hamil?” tanyaku berani.


“gampang…lo akhir-akhir ini sulit dihubungi karena lo takut ketahuan dengan perubuhan lo yang bisa dibilang aneh itu” jawab Ines sambil menggerakkan kedua tangannya membentuk tanda kutip ketika mengucapkan kata "aneh".


“trus tadi pas lo minta berhenti di masjid, diam-diam gue ngikutin lo ke toilet dan mendengar lo muntah-muntah. Sorry kalau gue kayak gitu, tapi dari awal keberangkatan emang wajah lo udah agak pucat dan lo berusaha nutupin dengan make up” lanjutnya.


“dan tadi lo tiba-tiba kesal trus keluar kamar, gue ngikutin lo lagi dan gue lihat lo meluk Bian di tepi kolam renang. Gue tebak itu pasti lo lagi ngidam kan? Lo gamungkin meluk Bian seperti itu kalau bukan karena keinginan baby. Gue masih inget pertemuan terakhir kita dimana lo komunikasinya kurang baik sama Bian” jelas Ines yang membuatku kalah telak dan tidak bisa menutupinya lagi.


“Dem…please kamu jujur ya sama kita” ucap Jihan sambil mengusap rambutku yang kugerai.


Aku menghela napas panjang, “8 minggu” lirihku. Ines dan Jihan langsung memelukku dan kami bertiga menangis bersama.


“guys please kalian diam ya setelah ini…para cowok jangan dikasitau dulu, terutama Bian” pintaku ketika pelukan kami terlepas.


“Bian papanya Dem…dia harus tau juga. Jangan sampai kayak Devan yang baru tau pas gue mau ngelahirin” ucap Ines yang berharap aku memberitahu kehamilanku pada Bian.


Aku menggelengkan kepala lemah, “gue mau mastiin sesuatu dulu Nes…lo tau sendiri kan gue masih belum tau siapa perempuan yang selama ini berhubungan sama Bian. Gue mau tau semua tentang dia dan orang-orang disektiranya dulu sebelum kami kembali memulai hubungan”


“kalau misal Bian ternyata punya cewek disana, kamu mau apa Dem?” tanya Jihan kepadaku.


“mungkin aku akan memberitahunya jika dia memiliki anak saat anakku bertanya mengenai papanya. Aku gaakan minta pertanggungjawabannya. Bian punya kehidupannya sendiri. Kehidupanku saat ini berpusat pada mereka” jawabku sambil mengusap perutku, “mereka lah hidupku sekarang dan nanti” lanjutku.


“mereka? Janin lo kembar?” aku mengangguk menjawab pertanyaan Ines.


“pokoknya kalo lo butuh apa-apa, bilang sama gue ya Dem. Anak lo, anak gue juga” aku terharu mendengar ucapan Ines yang perhatian padaku.


“aku juga Dem…meskipun nantinya aku jarang di sisi kamu, tapi sebisa mungkin tiap sebulan sekali aku akan ke Jakarta buat nemenin kamu dan calon keponakan-keponakan aku” ucap Jihan sambil mengusap lembut perutku yang terasa kencang meskipun masih terlihat datar.


Kami bertiga kembali berpelukan erat. Aku cukup bahagia saat ini melihat Ines dan Jihan masih mau menerima kondisiku dan memberikan perhatian lebih. Lihatlah sayang…masih banyak yang peduli dan sayang sama kalian, ucapku dalam hati kepada kandunganku.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2