Demian

Demian
BAB 7 - I'm an Idiot


__ADS_3

Aku menutup pintu kamar dengan sedikit kasar dan langsung menghempaskan diri ke atas ranjang. Aku kesal dengan mama dan papa karena obrolan di ruang tamu tadi.


Flashback On


“mama sama papa apaan sih?? Kok kesepakatannya aku berangkat bareng Bian? Kemarin bukannya udah sepakat aku berangkat sendiri asal HP tetap nyala?” protesku setelah mendengar keputusan mama dan papa.


“ya itu kan sebelum Bian dateng ke rumah sayang….sekarang mumpung ada Bian yang tujuannya sama kayak kamu, kenapa gak sekalian bareng aja? Kan lebih enak juga ada temennya” kata papa yang menjawab protesku dengan sabar.


“pokoknya kamu besok berangkat sama Bian. Mama lebih tenang kalo kamu ada temennya” aku baru saja akan membuka mulut, langsung menutup kembali mendengar ucapan mama.


Aku diam tidak bisa mengajukan protes lagi. Kuberikan tatapan tajam ke arah Bian yang hanya dibalas dengan tatapan datarnya. Hal ini malah membuatku semakin kesal. Aku tidak tahu dengan jalan pikirannya saat ini. Apa-apaan coba dia sampai nekat menyusulku ke Solo.


“terserah mama sama papa aja deh….aku mau protes juga gabakal didengerin” kataku datar dan berdiri meninggalkan ruang tamu dengan langkah yang sedikit dihentak-hentakkan menuju kamar.


Flashback End


Tepat pukul 7 malam, Tisha mengetuk pintu kamarku dan menyuruhku keluar untuk makan. Aku bergegas keluar dari kamar dengan menggunakan kaus tipis berlengan pendek dan hotpants. Aku mencepol rambut secara asal saat berjalan menuju ruang makan. Sesampainya di meja makan, seperti biasa aku menyapa eyang, mama, dan papa dengan ciuman di pipi. Aku juga melihat Bian ikut bergabung untuk makan malam.


“aku kira kamu udah pulang Bi?” tanyaku kepada Bian setelah menyapa eyang, mama, dan papa.


“hush…kok kamu gitu sih ngomongnya?” tegur mama kepadaku, “nak Bian malam ini nginap disini biar gak ribet pas kalian berangkat besok” jelas mama.


“besok kalian mau berangkat jam berapa?” tanya mama sambil mengambil makanan untuk eyang dan papa.


“kalo Bian pengennya abis subuh udah jalan tante, biar sampai sana gak terlalu siang” jawab Bian sopan sambil tersenyum kecil.


“gimana sayang?” tanya papa yang meminta peresetujuanku

__ADS_1


“mmm boleh deh” kataku yang menyetujui usulan Bian. Aku memasang wajah jutek saat mengetahui mama dan papa senang jika aku akan berangkat bersama Bian.


“abis makan langsung masuk kamar, cuci muka, sikat gigi, solat isya, trus langsung tidur. Jangan teleponan dulu ama Luna, libur dulu malam ini” jelas mama panjang lebar.


“iya ma…lagian juga aku telepon Luna kan ngomongin toko ma…” balasku sambil mengambil nasi dan lauk.


“iya ngomongin kerjaan…ngomonginnya cuman 30 menit sisanya julid kan” aku mencebikkan bibirku ketika mendengar ucapan mama.


Akhirnya kami makan malam dalam diam. Selesai makan malam, aku langsung berjalan ke kamar untuk melakukan rutinitas yang disebutkan mama tadi sebelum tidur. Setelah mengganti pakaian menjadi pakaian tidur, aku langsung merebahkan diri ke atas ranjang dan membuka WA. Di grup KKN sudah ramai membahas mengenai keberangkatan mereka menuju Tegal. Mereka memang berencana akan berangkat jam 11 malam agar sampai subuh di Tegal. Belum ada tanda-tanda pesan dari Bian yang mengatakan bahwa dia tidak jadi berangkat bersama mereka. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menelpon Jihan


“assalamualaikum Dem…” sapa Jihan setelah panggilanku tersambung dengannya.


“waalaikumsalam Ji…eh gimana kamu sama Ines? Udah di rumahnya Alfi?” tanyaku yang menanyakan keberadaannya.


“baru mau otw nih…nunggu jemputan si Devan. Ini si Alfi tadi ngechat aku bilang katanya Bian gajadi ikut bareng. Kenapa lagi tuh orang? Udah mana diem-diem doang lagi si Bian gak ngasitau alasannya…eh kamu besok jam berapa berangkat?” aku terkekeh mendengar ocehan Jihan yang terdengar rempong seperti biasanya.


“heh??? Lho kok….kok bisa?” tanya Jihan yang terkejut mendengar ucapanku.


“ya bisalah….tau-tau tadi sore muncul dia di rumahku. Nih tadi aku abis makan malam sama dia, mungkin sekarang dia lagi mau istirahat di kamar” jelasku santai.


“HAH??? DIA NGINAP DI RUMAH KAMU???” aku langsung menjauhkan HP-ku dari telinga mendengar teriakan histeris Jihan.


“iya bebb….gausah heboh gitu juga bisa kali” ucapku setelah kembali mendekatkan HP ke telinga.


“wahh fix itu Dem…si Bian gabisa jauh dari kamu. Gila ya tuh orang kesambet apa coba selama 4 tahun ini. Perasaan dulu gak kayak gini deh” kata Jihan yang mulai menggodaku dengan Bian lagi.


“ck apaan sih Ji mulai lagi deh…dia itu tadi bilang ke Solo mau ke tempat temannya masalah kerjaan. Trus mampir ke rumahku sekalian biar bisa bareng gitu ke Tegal” jelasku kepada Jihan agar tidak menggodaku lagi.

__ADS_1


“halah modus doang itumah dia…ciyeee yang besok berduaan ke Tegal bisa puas itu kamu mandangin dia selama perjalanan. Sekalian nostalgia tuhh kan udah 4 tahun gak berduaan. Dulu pas kuliah kan kalian sering banget berduaan semenjak abis KKN” aku kesal dengan Jihan yang kembali menggodaku seperti saat kuliah dulu.


Jihan adalah orang pertama yang mengetahui perasaanku terhadap Bian sebelum Luna. Hanya Jihan dan Luna yang tahu bagaimana dulu aku yang begitu menderita memendam perasaan dalam diam itu. Sama seperti Luna, sebelum berpisah dengan Bian, Jihan menyarankan agar aku berterus terang mengenai perasaanku padanya atau membuang jauh perasaan itu. Tetapi karena aku memiliki mental “chicken” alias takut untuk mengungkapkan maupun membuangnya akhirnya hanya bisa memendamnya selama bertahun-tahun tanpa kepastian yang jelas. Memang selama 3 tahun terakhir Jihan tidak mengetahui kabarku mengenai perasaan yang terpendam itu, tapi aku yakin jika Jihan saat ini masih merasa jika perasaanku kepada Bian masih sama seperti dulu.


“dah ah…kalo cuman mau ngeledekinp aku doang mending aku tidur biar besok gak kesiangan bangunnya” ucapku yang akhirnya mengakhiri panggilanku dengan Jihan.


Setalah mengakhiri panggilanku dengan Jihan, aku langsung bersiap untuk istirahat. Biasanya, sebelum tidur aku minum segelas air putih. Namun aku teringat jika selesai makan malam aku lupa membawa air putih ke dalam kamar. Dengan langkah malas, aku membuka pintu kamar dan berjalan menuju dapur. Ruangan yang gelap tidak menyulitkanku untuk berjalan menuju dapur.


Saat aku sudah dekat dengan dapur, samar-samar aku mendengar suara, seperti suara lemari yang dibuka dan ditutup secara bergantian. Di tengah kegelapan, aku melihat bayangan seorang pria yang sedang membuka tutup lemari kitchen set. Siapa dia? Apa itu papa? Tapi biasanya papa kalau ke dapur selalu menyalakan lampu dapur. Apa ada maling menyusup ke dalam rumah? Wah gak beres ini…


Aku berjalan mengendap-ngendap ke dapur untuk menyergap orang tersebut. Aku mencari barang yang bisa kugunakan sebagai tameng dan berjaga-jaga jika orang tersebut menyerangku balik. Kebetulan aku menemukan sapu yang tergantung di dinding samping dapur. Dengan langkah pasti aku berjalan tanpa menimbulkan suara. Ketika aku sudah berdiri di belakang orang tersebut, aku mengangkat tanganku bersiap-siap untuk memukulnya. Bersamaan dengan itu, orang itu membalikkan badannya dan langsung memegang tanganku yang sudah menggantung di udara. Aku yang terkejut langsung bersiap untuk mengeluarkan teriakanku. Namun sebelum aku melakukannya, kurasakan mulutku dibekap oleh tangannya.


“ssttt…ini aku” bisiknya. Ternyata orang tersebut adalah Bian. Aku gak kepikiran jika Bian akan keluar kamar.


Kuhempaskan tangannya dengan kasar karena telah berani menyentuh bibirku, “kamu ngapain sih gelap-gelap gini di dapur? Aku kira kamu maling tau gak?” bisikku dengan nada kesal.


“aku haus, mau minum. Tapi aku gatau gelasnya ada dimana” jawabnya setelah melepaskan genggamannya pada tanganku yang membawa sapu. Setelah lepas dari genggamannya, aku segera mengembalikan sapu ke tempat semula dan menyalakan lampu dapur yang saklarnya terletak di dekat gantungan sapu.


“kalo mau nyari gelas, ya nyalain lampu lah. Emang kamu ninja yang bisa melihat dalam kegelapan” sewotku setelah menyalakan lampu dapur dan melihat Bian secara jelas yang mengenakan celana training panjang dan kaos berwarna putih polos yang mencetak tubuh atletisnya. Aku yakin pasti terdapat roti sobek yang tersembunyi dibaliknya. Aku sempat terpana dengan badannya selama beberapa detik sebelum kembali memasang wajah kesal.


Kuambil dua gelas dari dalam lemari dekat tempat cuci piring dan membawanya ke dispenser samping kulkas untuk diisi air. Setelah terisi, aku menyerahkan gelas yang berada di tangan kiriku untuk Bian yang ternyata berdiri di belakangku. Menghiraukan pandangannya yang sedari tadi menatapku dalam, aku menghabiskan air yang berada di tanganku hingga setengah gelas, kemudian aku mengisi lagi gelas tersebut hingga kembali penuh. Aku yang kesal melihat Bian sedari tadi tidak berhenti menatapku akhirnya memandangnya balik sambil berkacak pinggang.


“ada apa lagi?” tanyaku dengan ketus.


Bian hanya diam sambil terus memandangku tanpa kedip. Selama beberapa detik kami diam saling berpandangan, aku tersadar bahwa pandangan mata Bian ternyata tidak mengarah ke wajahku, melainkan kearah badanku. Mataku terbelalak saat aku mengikuti arah pandangannya. Ternyata penampilanku saat inilah yang mengenakan set piyama berbahan satin dengan atasan tanktop dan hotpants berwarna merah menyala menjadi alasan Bian sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dariku. Hal yang membuatku ingin menghilang saat itu juga adalah aku tidak mengenakan dalaman sehingga dua aset kembarku tercetak dengan jelas dibalik tanktop itu. Tanpa mengucapakan sepatah kata, aku langsung berlari secepat yang kubisa menuju kamar. Aku menutup pintu kamar dengan tetap secara halus tanpa menimbulkan suara yang bisa membangunkan orang satu rumah, meletakkan gelas yang kupegang di atas nakas secara asal, membanting diriku ke atas ranjang, dan berteriak sekeras mungkin dengan ditutup oleh bantal.


“ARGHHH I’M AN IDIOOOTTTT!!!!”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2