
Warning
Part 21+
***************
Aku dan Jihan sampai di rumah Bu Rima jam 4 sore. Ines, Bian, dan Devan keluar mendengar suara mesin mobilku yang memasuki halaman rumah. Mereka langsung membantu mengeluarkan belanjaan dari dalam bagasi dan membawanya ke dapur.
“abis ini mau langsung ke Guci?” tanya Jihan ketika kami menata belanjaan di dapur.
“buseett Jihan...lo gak abis-abis ya tenaganya…baru juga sampai padahal” ucap Devan yang terkesima dengan keaktifan Jihan.
“ihh biar sekalian capek lah…kan mayan tuh abis aktivitas seharian trus ditutup dengan berendam air panas di Guci. Beuhh…langsung nanti malam bisa tidur nyenyak gue Dev…” aku setuju dengan ide Jihan kali ini.
“boleh tuh…nanti berangkatnya yang cewek naik mobil Demi trus yang cowok naik mobil Alfi” kata Ines yang memberi usulan. “setuju…biar Devan gak bucin terus sama Ines soalnya” ucap Jihan yang setuju dengan usulan Ines. Devan langsung cemberut mendengar usulan Ines.
“yang…kok kamu tega banget sih sama aku?” tanya Devan yang merajuk ke Ines dengan memasang tampang sedih.
“heh raja bucin, lo kan udah sering sama Ines…mau balik dari Tegal trus lo langsung ngamar sama Ines juga terserah…sekarang itu waktunya kita liburan, bukan nemanin lo honeymoon pranikah” Bian berdehem ketika mendengar ucapan frontalku, “kenapa Bi? Aku gak salah kan ngomong gini…” lanjutku yang bertanya kepada Bian. Bian hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaanku.
“udah-udah gausah debat. Gue setuju sama lo Dem. Pokoknya aku mulai sekarang bakal sama Demi dan Jihan terus…kamu juga harus nikmatin masa single kamu sama Alfi dan Bian” Devan makin cemberut mendengar keputusan Ines. Aku dan Jihan hanya tertawa mengejek kearah Devan yang terlihat kesal.
Selesai menata belanjaan di dapur, kami langsung menyiapkan diri untuk pergi ke Guci. Sesuai dengan kesepakatan awal, mobilku akan diisi oleh Jihan dan Ines sedangkan mobil Alfi diisi oleh Mas Bagas, Bian, dan Devan. Mobil Alfi dikemudikan oleh Bian karena Alfi masih setengah sadar saat akan berangkat ke Guci. Mobilku dikemudikan oleh aku karena Jihan hanya bisa mengemudikan mobil matic sedangkan Ines tidak bisa mengemudikan mobil.
“yang…ini yang bisa nyetir mobil pada numpuk di mobilnya Alfi loh…kamu kalau mau bertiga aja kasian Demi yang nyetir terus…kan kamu sama Jihan gabisa nyetir” kata Devan yang masih berusaha membujuk Ines untuk pindah ke mobilnya Alfi dan bertukar posisi dengan yang lain.
“kamu ngeremehin Demi?? Orang Bian aja disetirin sama dia dari Semarang sampai sini kok” ketus Ines.
“ya tapi abis itu Deminya sakit yang…kamu tukeran sama Bian aja ya…biar Bian yang bawa mobilnya Demi…atau aku yang ikut kalian jadi aku bisa bawa mobilnya Demi…please” Devan mulai merengek dengan memegang lengannya Ines.
“selow Dev…kemarin gue emang drop setelah nyetir lama…tapi kalo ke Guci doang mah aman gue” ucapku yang menenangkan Devan.
“gini aja deh, mobil Demi nanti di depan aja, biar Bian yang nyetir dibelakang sekalian awasin kalian” usul Mas Bagas yang akhirnya dengan berat hati disetujui oleh Devan.
Kami mulai masuk ke dalam mobil sesuai dengan pembagiannya. Aku duduk di depan kemudi ditemani oleh Jihan yang duduk di sampingku, sedangkan Ines duduk di kursi belakang.
“kamu udah pasang mapsnya kan Ji?” tanyaku sambil memasang seat belt, kemudian mulai menghidupkan mesin mobil.
“udah” jawab Jihan sambil meletakkan HP-nya yang digunakan sebagai acuan maps di dashboard.
“ternyata mereka ngeremehin kita guys. Ayo…kita tunjukkan seberapa tangguh kita” ucapku sambil tersenyum miring. Ines yang mendengar ucapanku langsung teriak sambil bertepuk tangan heboh sedangkan Jihan langsung bersorak “Let’s do it!!” sambil mengepalkan tangannya di udara.
Aku mulai menggerakkan persneling dari posisi netral untuk berpindah ke gigi satu. Mobilku memang bertransmisi manual. Aku lebih menyukainya karena dari awal aku belajar mengendarai mobil dengan papa, selalu menggunakan mobil miliknya yang bertransmisi manual. Dulu awalnya aku ingin belajar menggunakan mobil mama yang bertransmisi matic, tapi papa berkata kalau mau bisa mengendarai mobil harus dimulai dari yang manual dulu. Papa berkata kalau udah mahir yang manual pasti yang matic juga langsung lancar. Kalau dari awal menggunakan matic belum tentu bisa manualnya.
Aku baru percaya ketika melihat Jihan yang ternyata hanya bisa mengendarai mobil matic karena dari awal dia belajar menggunakan mobil matic. Kebiasaan mengendarai mobil manual milik papa, akhirnya membuatku membeli mobil manual karena aku merasa setiap mengendarai mobil matic, tangan dan kaki sebelah kiri lebih banyak menganggur dan itu justru membuatku kurang nyaman dalam berkendara. Untungnya adikku Tisha, juga sama pemikirannya denganku dalam hal berkendara, jadi tidak sulit jika aku sharing dengannya.
__ADS_1
Aku mengemudikan mobil dengan lihai di sepanjang perjalanan. Awalnya Bian bisa mengimbangi kecepatanku, tapi aku melaju semakin cepat dan bergerak jauh meninggalkan rombongan cowok setelah melewati perbatasan desa. Kami bertiga tertawa heboh bisa mengalahkan Bian dan kawan-kawan.
“kayaknya Devan ngomel-ngomel sama Bian tuh…trus Bian yang emang dasarnya kayak patung cuman dikacangin aja hahahaha” aku dan Ines tertawa mendengar ucapan Jihan yang membayangkan situasi di mobilnya Alfi.
Setelah menumpuh perjalanan kurang lebih 15 menit, akhirnya aku tiba lebih dulu di tempat pemandian air panas Guci. Aku tidak langsung memarkirkan mobilku ke tempat tujuan. Aku menunggu rombongan cowok yang masih belum tiba di depan gapura pintu masuk. Setelah 10 menit menunggu, akhirnya mobil yang dikendarai Bian tiba di tempat kami menunggu. Ines langsung bertanya kepada Mas Bagas tempat pemandian air panas yang menyediakan fasilitas private pool. Awalanya para cowok ingin di tempat terbuka, tapi Ines dan Jihan memaksa untuk berendam di private pool agar misinya terlaksana. Aku hanya menundukkan wajahku resah karena memikirkan misi gila mereka.
“guys…aku pake tanktop aja deh yaa…gabisa aku pakai ginian di depan mereka lho…” kataku ketika kami sedang berada di ruang ganti.
Saat ini kami sedang berada di ruang ganti untuk berganti pakaian. Sebenarnya kami sudah mengenakannya di rumah tapi aku langsung menarik Ines dan Jihan ke ruang ganti ketika mereka akan melepas pakaian mereka di pinggir kolam.
“duh Demi…kan kita udah sepakat tadi…gausah rewel kayak bayi deh…ikutin aja kita” ucap Ines yang sedang berada di dalam kamar mandi untuk buang air kecil. Aku langsung menatap penampilanku di kaca dengan sedih.
Bagaimana tidak sedih kalau aku saat ini mengenakan sport bra yang hanya menutupi dadaku dan hotpants ketat yang mengekspos paha putihku. Aku tidak memiliki keberanian besar seperti Jihan yang mengenakan halter mengekspos bagian belakangnya dan Ines yang mengenakan bandeau mengekspos bagian pundaknya. Kami bertiga kompak mengenakan hotpants ketat sebagai bawahan.
Aku memang membawa satu sport bra karena niatku nanti akan kulapisi dengan kaus saat berendam. Hotpants yang kukenakan saat ini adalah milik Jihan. Aku tidak membawanya karena aku berpikir tidak akan terpakai. Aku memang menyiapkan pakaian khusus untuk berendam, yaitu celana legging selutut dan kaus slimfit lengan pendek. Aku tidak menyangka jika hanya sport bra yang kugunakan untuk berendam, sedangkan pakaian lain tetap tersimpan rapi dalam koper karena rencana gila Ines dan Jihan
“heh Ines…ini kan yang mau ngisengin Devan elo. Napa harus bawa-bawa gue sih” sewotku kesal sambil masuk ke dalam salah satu bilik kamar mandi untuk buang air kecil.
“kan senasib dan sepenanggungan Dem” ucap Ines yang kudengar sudah keluar dari dalam kamar mandi saat mendengar suara pintu yang dibuka. Aku hanya mendengus mendengar jawabannya.
“buruan Dem…gausah lama-lama di dalam” kata Jihan yang juga sudah keluar dari kamar mandi
“bawel kamu Ji…aku kan tadi baru masuk” aku langsung menyiram kloset dan membenahi celanaku. Aku langsung keluar dari kamar mandi.
“woahh Demi...body mu aduhai bangettt…aku yang ngeliat aja mupeng gimana Bian nanti ya??” aku langsung melempar wadah tisu yang kubawa kearah Jihan.
“tapi emang bener tau…itu dada lo di suntik apa gimana sih? Kok bisa mengembang secara sempurna gitu?” tanya Ines yang kagum melihat aset kembarku terlihat paling besar diantara Ines dan Jihan.
“kena baking powder…kan setiap hari gue bikin kue” jawabku cuek sambil mengenakan handuk kimonoku sebelum keluar.
Ketika kami keluar dari ruang ganti, para cowok sudah berganti pakaian dan menunggu kami di gazebo. Aku berjalan menunduk sambil memeluk tas yang berisi baju ganti dan merapatkan handuk kimonoku. Aku tidak ingin melihat tatapan para cowok yang menatap penampilan kami saat ini.
“KALIAN!!!” aku mendengar teriakan Devan yang heboh melihat penampilan kami saat ini.
Ines yang berjalan didepanku bersama dengan Jihan hanya cuek menghiraukan panggilan Devan. Aku berlari kecil menyusul mereka dan memegang lengan Jihan dari belakang agar tidak terpisah. Aku berusaha untuk tidak melihat ke samping dimana para cowok sedang menatap tajam kami yang berjalan melewatinya.
Aku, Ines, dan Jihan meletakkan barang-barang kami di gazebo samping gazebo para cowok. Kami sengaja memisahkan diri karena Ines memang sengaja membuat Devan kelabakan. Rencana Ines memang ingin Devan bisa menahan diri agar tidak terlalu bucin dengannya. Memancing perhatian Devan dan kemudian mengacuhkannya adalah rencana Ines saat ini. Tentunya rencana tersebut didukung oleh Jihan dan akhirnya memaksaku untuk mengikuti rencana gilanya.
“Nes…itu Devan kayaknya udah siap menerkam lo itu” bisikku sambil melirik ke arah Devan yang memerah wajahnya menatap Ines. Aku juga melihat Bian, Alfi, dan Mas Bagas terus menatap kami tanpa kedip, terutama Bian yang menatapku tajam.
“I know…makannya kalau mau lebih sukses cepat buka kimono lo itu” aku langsung memegang tali kimonoku yang akan dilepas paksa oleh Ines.
“e-e-eh…gue bisa sendiri Nes” aku langsung berdiri membelakangi Ines.
Aku memejamkan mataku sejenak dan mengambil napas dalam-dalam. Tas sudah kuletakkan di gazebo, aku juga sudah mengoleskan lotion di seluruh tubuhku dan sudah melakukan pemanasan ringan di ruang ganti. Kulihat kearah samping, terlihat kolam renang yang terlihat sepi karena memang kami memesan kolam ini secara privat di dalam hotel sampai maghrib, jadi tidak ada pengunjung lain selain kami. Kalau aku melepaskan handuk kimonoku, aku harus segera memasukkan diri ke dalam kolam itu agar aku tidak terlalu lama dilihat oleh para cowok.
__ADS_1
Perlahan aku melepas tali kimono yang mengikat tubuhku. Setelah tali itu terlepas, dengan gerakan secepat kilat aku melepas kimonoku dan langsung berlari menuju kolam untuk menceburkan diri.
BYURR…kurasakan hangatnya air kolam membasahi tubuhku. Aku langsung berenang satu putaran untuk melemaskan otot-ototku. Selesai melakukan satu putaran aku langsung meraup wajahku dan meletakkan tanganku di pingir kolam.
“ihhh Demetra!!! Kan kita mau selfie dulu sebelum basah…ini kamu gak sabar langsung gas aja nyebur” teriak Jihan kesal di gazebo setelah aku muncul ke permukaan kolam.
“ck kelamaan…keburu masuk angin aku ntar…mending disini enak…angeeett” balasku santai sambil membasuh wajahku dengan air kolam.
“trus kita selfienya gimana wee…ah Demi gaasik nihh” ucap Ines yang ikut-ikutan menyalahkanku.
“yaelah…kan tadi di ruang ganti udah puas selfie…ntar aja kalo udah bilas” kataku santai, “lagian kalian gak kedinginan apa setengah bugil kayak gitu gak masuk ke kolam” lanjutku.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah gazebo tempat dimana para cowok berada. Setelah aku perhatikan, ternyata semua cowok hanya mengenakan celana boxer dan shirtless. Sempat beberapa detik aku memandangi tubuh atletis Bian dan untuk pertama kalinya aku melihat roti sobek miliknya yang terlihat sempurna. Aku juga melihat tubuh Alfi, Devan, dan Mas Bagas yang sama seperti Bian. Aku juga baru sadar jika Devan memiliki tato salib di punggungnya ketika dia membalikkan badan.
“HI THERE!!! Daripada kalian bengong gajelas kayak gitu…mending buruan masuk ke kolam. Kalian juga gak kedinginan apa setengah bugil kayak gitu??” ucapku setengah berteriak ke para cowok.
Tanpa menunggu respon dari mereka, aku berjalan secara santai mengelilingi kolam yang berbentuk letter L tersebut. Aku berenang menuju ujung kolam yang dibatasi oleh tembok dan harus melewati tanaman sulur yang menutupinya untuk masuk ke dalam kolam tersebut. Saat aku menyibak tanaman tersebut, ternyata terdapat pancuran air yang cukup besar didalamnya. Selain itu, kedalaman kolam itu sepertinya lebih rendah dibandingkan kolam utama, karena aku melihat ada tangga di dasar kolam. Aku berjalan menaiki tangga tersebut, dan benar saja kedalamannya hanya sebatas pinggangku. Aku berniat untuk membelakangi pancuran tersebut agar bisa mengenai punggungku. Ketika aku membalikkan badan, aku terkejut ternyata Bian mengikutiku dari belakang. Bibirku secara tidak sengaja mencium dadanya.
“Bian???” aku langsung terkejut dengan keberadaan Bian yang sama terkejutnya dengan tindakanku tadi, “s-sorry…a-aku…ga-gatau…ka-lau ada kamu tadi” seketika aku gugup ketika bertatapan dengannya.
Kapan dia nyusulnya? Kok aku gatau sih? tanyaku dalam hati.
“eh…gapapa Dem. Aku juga salah tadi gak manggil kamu” ucap Bian yang juga terlihat salah tingkah.
“ada apa Bi? Kamu mau ngomong sesuatu?” tanyaku kepadanya karena aku melihat dia menatapku diam seperti ingin mengatakan sesuatu.
“engga…engga ada kok…cuman…” aku menunggu Bian mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba Bian membalikkan badanku dan melakukan sesuatu yang membuat mataku terbelalak.
“kamu ngapain Bi???” tanyaku yang terkejut mengetahui Bian mencium lama pundakku.
Beberapa kali kudengar suara kecupan Bian di pundakku. Aku tidak tahu mengapa Bian melakukan itu, tapi entah mengapa aku menikmati ciuman itu.
Bian membalikkan badanku sehingga aku bisa bertatapan lagi dengannya. Aku melihat Bian seperti menahan sesuatu. Matanya terlihat seperti, bergairah?
“aku harap kamu tetap berada didekatku atau bersama dengan Jihan dan Ines. Jangan sekali-kali kamu mau didekati oleh Mas Bagas. Janji?” Bian mendesakku sambil memegang erat kedua pundakku.
“tapi…kenapa? Kan aku bebas mau sama siapapun juga. Mas Bagas itu sama seperti kamu…dia temanku. Kamu gak bisa melarangku untuk dekat dengan siapapun Bi” ucapku yang bingung dengan permintaan Bian. Aku mendengar helaan napas dari Bian dan melihat tatapan sendunya.
“pokoknya kamu harus berjanji setelah ini Dem” ucap Bian kemudian bola mataku seperti ingin keluar dari tempatnya ketika benda kenyal itu menyentuh bibirku. HE STEAL MY FIRST KISS!!!
Perlahan bibir itu mulai ******* dan lidahnya membasahi seluruh bibirku. Aku menutup mata merasakan kecupan lembut darinya. Tangan Bian yang semula memegang pundakku perlahan turun menuju pinggang, mendekapku erat. Aku reflek membuka mulutku ketika tangan Bian menyentuh pinggangku yang terbuka. Hal tersebut dimanfaatkan baik oleh Bian dengan memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Tiba-tiba aku merasa sesak, ingin rasanya aku mendorong Bian agar menjauh dariku tapi tanganku justru berkhianat dengan memegang pundak dan meremas rambutnya yang basah.
Aku dan Bian tidak mempedulikan lingkungan sekitar, hanya fokus dengan pertautan bibir dan lidah kami. Tangan Bian bahkan sudah mulai menggerayangi perut dan punggung bawahku yang terekspos kemudian perlahan naik menuju kedua aset kembarku. Aku melenguh disela ciuman kami ketika dia berhasil meremas aset kembarku yang tertutup oleh sport bra yang kukenakan. Aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika dia melakukannya, nikmat yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Rasanya ada bagian lain dalam diriku yang ingin disentuh juga olehnya.
Entah berapa lama kami melakukan ini, rasanya aku tidak ingin menghentikannya begitu pula dengan Bian. Tanganku saat ini mulai menggerayangi roti sobeknya yang sangat menggiurkan bagiku. Suara decakan bibir yang saling bercumbu dengan desahan tertahan dari kami memenuhi telingaku. Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan seseorang yang kukenal, yang membuatku mendorong Bian untuk segera menjauh dariku.
__ADS_1
“ARRRGGGHHHH KALIAAAANNN!!!!” teriak seseorang yang mengakhiri kegiatanku dan Bian.
...****************...