Demian

Demian
BAB 6 - Tamu Mama dan Papa


__ADS_3

“Lun, kamu kalo ketawa terus mbak potong gaji kamu selama 3 bulan kedepan” aku kesal mendengar Luna yang tidak berhenti menertawaiku ketika panggilanku tersambung dengannya.


“ahahaha…ma-maaf mbak…aku…aku…aduh…hahaha…” Luna terus-menerus tertawa yang membuatku semakin kesal dengannya


“Lunaaa…..” geramku.


“oke oke...aku serius sekarang” jawab Luna yang mulai mengatur napas agar tidak tertawa lagi, “sekarang Mbak Demi ceritain gimana tadi” lanjut Luna setelah berhasil mengontrol emosinya.


“jadi gini Lun…” kataku yang mulai bercerita.


Flashback On


*percakapan via telepon*


Bian : WHERE HAVE YOU BEEN DEMETRA!!!!


Demi : s-sorry Bian…aku…baru…buka HP.


Bian : *menghela napas* alhamdulillah kamu baik-baik aja. Aku bahkan udah packing baju buat nyusulin kamu Dem sampai kamu tidak meneleponku tadi.


Demi : sorry bi…sebenarnya aku tuh kalo lagi perjalanan jauh emang suka matiin HP. Kan aku pergi sama adikku, jadi kalau orang rumah nanyain kabar ya ke adikku. Orang-orang yang udah tau juga gabakal


ngehubungin aku Bi…sorry aku gak ngasitau kamu, karena aku gatau kalau kamu bakal nungguin kabar


aku.


Bian : aku juga minta maaf tadi sempat ngebentak kamu. Aku…a-aku…*menghela napas sejenak* aku khawatir sama kamu Dem.


Demi : *diam*


Bian : kalau kamu matiin HP pas lagi di jalan, berarti nanti pas ke Tegal kamu gimana Dem? Ntar kalau ada


apa-apa nanti gaada yang bisa ngehubungin kamu dong…kan kamu nanti sendirian?


Demi : iya sih…tadi aku udah ngomong sama ortuku. Kata mereka nanti aku disuruh naik kereta aja, nanti


mobilku mau diantar ke Jakarta sama ortuku sekalian ngantar adikku balik ke Bogor. Sebenernya aku agak kurang setuju sih. Aku kasihan sama ortuku yang harus ke Jakarta cuman ngantar mobilku doang abis itu balik ke Solo lagi.


Bian : aku juga gak setuju kalau kamu nyetir sendirian Dem…hari ini aja kamu sukses bikin aku uring-uringan

__ADS_1


sendiri karena kamu gaada kabar, apalagi nanti.


Demi : yaudahlah nanti aku coba bujuk ortuku lagi. Paling ya nanti aku bakal nyalain HP biar ortuku bisa


nanyain aku. Kan permasalahannya itu doang.


Bian : tapi kamu sendirian loh Dem ini. Aku aja yang cowok buat nyetir sejauh itu aja masih mikir-mikir.


setidaknya ada yang nemenin satu orang itu masih aman.


Demi : iya sih…tapi seriusan aku udah biasa kok. Oiya aku mau tanya, gimana ceritanya kamu bisa dapet alamat rumahku dari Luna? Orang itu….awas aja nanti kupotong gajinya karena udah ember mulutnya.


Bian : oh itu….hehehe aku inget kamu punya cake shop, trus aku cari website sama sosmednya karena aku mikir pasti ada kontak yang bisa dihubungi. Pas aku nemu dan aku hubungin kontaknya ternyata itu Luna asistenmu. Tadinya dia emang gamau ngasitau alamat kamu, cuman aku paksa dia dan dengan sedikit imingan akhirnya dia mau ngasih alamat kamu. Dia gak salah kok Dem, aku yang maksa dia buat ngasitau alamat kamu kok.


Demi : *menghela napas* aku harap kamu berjanji untuk gak menyebarluaskan alamat rumahku yang di Solo ya Bi…soalnya yang tau alamat rumahku cuman Luna sebagai orang luar. Orang yang tau alamat


rumahku itu orang yang benar-benar udah aku percaya dan aku anggap sebagai keluarga. Luna udah aku anggap sebagai adikku sendiri karena dia gapunya siapa-siapa lagi. Kamu bisa aku percaya kan?


Bian : kamu bisa pegang janjiku Dem.


Demi : hmmm yaudah ya Bi, aku mau telepon Luna dulu. Soalnya ini kan aku ninggalin café sama dia selama seminggu dan besok ada banyak orderan, jadi aku harus kasih dia briefing dulu.


Demi : waalaikumsalam


Flashback End


“kamu diiming-imingin apa sih Lun sama dia? Kok kamu sampai mau bocorin alamat rumah mbak di Solo ke dia?” tanyaku sewot kepada Luna setelah menceritakan percakapanku dengan Bian.


“dia bakal ngirimin aku cokelat dengan berbagai varian mbak. Mbak kan tau sendiri cokelatnya mas Bian dah terkenal dan kualitasnya udah gak diragukan lagi. Aku mau beli cokelatnya dia aja paling harus sebulan sekali kalau mau beli yang ukurannya gede. Itu dia ngasih cuma-cuma lho mbak…maaf ya aku mengkhianati Mbak Demi karena cokelat-cokelat itu” jelas Luna yang membuatku menghela napas panjang.


“kamu kalau udah diomongin cokelat dikit aja langsung keblinger Lun…payah kamu” gerutuku yang membuat Luna cengengesan.


“hehehe ya gimana ya mbak…kalo diuangkan itu hampir 500rb tau mbak. Kan kalau buat mahasiswa kayak aku, itu jumlah yang besar buat beli cokelat. Selain itu, kapan lagi coba makan cokelat terkenal sebanyak itu, gratis pula…buat aku posting di sosmed juga biar pada mupeng teman-temanku hehehe” jawab Luna cengengesan.


“btw emang apa sih mereknya? Katamu cokelatnya Bian itu udah terkenal” tanyaku yang penasaran dengan ucapan Luna sebelumnya.


“masak mbak gatau sih? Padahal mbak sering banget loh ngemilin cokelatnya. Mbak kan holang kayah…jadi beli cokelat itu mah kecil buat mbak” aku masih diam karena belum menemukan jawabannya, “ck itu loh mbak…cokelat favorit mbak Demi” jawab Luna yang geregetan denganku.


“hah??? CokelatKu?? Bian yang punya?” aku terkejut saat mengetahui cokelat favoritku selama ini berasal dari pabrik cokelat milik Bian.

__ADS_1


Sama seperti Luna, cokelat merupakan salah satu makanan favoritku. Dari semua cokelat yang kukonsumsi, aku paling menyukai cokelat premium itu karena kandungan gulanya yang sedikit dan benar-benar alami rasa cokelatnya. Aku tahu cokelat yang selama ini kumakan merupakan salah satu merek cokelat lokal yang berasal dari Jawa Timur, tapi aku benar-benar baru mengetahui jika cokelat itu berasal dari pabrik cokelat yang dikelola oleh Bian. Seingatku, Bian hanya menceritakan jika dia hanya mengelola kebun cokelat dan kedai cokelat. Aku tidak tahu jika kebun cokelat milik Bian memiliki pabrik untuk memproduksi brand cokelat sendiri.


“iya…beruntung kan Mbak Demi bisa kenal Mas Bian yang notabene bos cokelat. Bisa minta cokelat gratis itu…nanti mintanya dobel ya mbak trus satunya kasih ke aku” kata Luna yang sangat excited mengetahui Bian ternyata pemilik brand cokelat ternama.


“halah kamu Lun…harusnya mbak marah sama kamu. Kamu tuh berkhianat tau gak…masak diiming-imingin cokelat aja langsung bocor tuh mulut…huh” sungutku.


“dihh…kan aku bocor buat kebaikan mbak. Lagian nih ya…kayaknya Mas Bian sama deh kayak mbak” kata Luna yang tiba-tiba terdengar serius.


“sama gimana maksudmu?” tanyaku yang penasaran dengan ucapan Luna


“sama-sama suka tapi cuman dipendem doang…hahahaha” aku merengut mendengar jawaban Luna yang berhasil mengerjaiku.


“hahaha….tapi serius deh mbak. Pas dia neror aku tuh, dia emang keliatan khawatir tau sama mbak. Kan kata mbak dia orangnya diem gitu kan…tapi pas lagi panik heboh baget tau mbak. Wahh…kalo tau kayak gitu, aku sih mendukung banget kalau Mbak Demi jangan sampai ngelupain perasaan mbak, mending tetep dipendem aja mbak…Mas Bian juga kayaknya menaruh perasaan juga sama mbak” jelas Luna panjang lebar setelah puas menertawaiku.


Apa iya Bian memiliki perasaan yang sama denganku? Mendengar perkataan Luna malah membuatku semakin bimbang antara aku harus membuang jauh perasaan itu atau tetap mempertahankannya sembari menunggu kepastian untuk mengetahui apakah dia memiliki perasaan yang sama denganku atau tidak. Hah…kalo seperti ini malah membuatku semakin terlihat bodoh karena tetap menunggu sesuatu yang tidak pasti. Aku tidak boleh menumbuhkan harapan itu, meskipun aku melihat Bian yang berlaku beda kepadaku setelah pertemuan kembali kami, tapi aku tidak boleh terkecoh dengan perhatiannya.


Akhirnya aku mengalihkan pembicaraanku dengan Luna malam itu dengan pembicaraan mengenai cake shop. Aku mengakhiri panggilan dengan Luna sekitar jam setengah 2 dini hari.


*****


Selama di rumah, aku membantu papa untuk menjaga toko kelontong yang ada di samping rumah. Toko kelontong yang dimiliki oleh papa ini merupakan toko kelontong yang cukup besar karena pembeli di toko ini rata-rata membeli barang secara grosir. Tisha selama di rumah membantu mama di rumah kecantikan milik mama. Mama merupakan seorang penata rias yang memiliki bisnis rumah kecantikan yang cukup terkenal di Solo.


Hari Rabu siang, aku membawa mobilku ke bengkel langganan papa untuk dilakukan pengecekan sebelum nantinya kugunakan untuk perjalanan ke Tegal. Setelah negosiasi yang cukup alot, aku akhirnya diizinkan mengendarai mobil sendiri ke Tegal dengan catatan, aku harus selalu memberi kabar tiap 2 jam sekali dan HP-ku harus selalu aktif agar bisa dipantau oleh mama melalui GPS.


Aku kembali ke rumah menjelang maghrib setelah sebelumnya aku melakukan wisata kuliner. Memasuki halaman rumah dan memarkirkan mobil di garasi, aku bergegas masuk ke dalam rumah melalui pintu samping yang berada di dalam garasi. Samar-samar aku mendengar suara tawa papa dan mama dengan seseorang. Aku yang penasaran dengan tamu papa akhirnya mengintip melalui celah antara dinding dan lemari pajangan dari kayu jati yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga. Saat sedang berusaha mengintip, tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatangan Tisha yang menepuk punggungku dari belakang. Saking terkejutnya, aku sampai melompat dan reflek ingin berteriak. Untungnya aku segera menutup mulutku dengan tangan agar suara teriakanku tidak keluar.


“rese banget sih kamu dek” bisikku geram.


Tisha hanya mengendikkan bahunya cuek sebagai responnya. Aku kembali mengintip melalui celah dinding dan lemari untuk melihat tamu papa dan mama. Sebelum aku melihat dengan jelas, tiba-tiba terdengar suara Tisha yang membuatku ingin mencekiknya.


“MAA…TUH MBAK DEMI DI BELAKANG LEMARI…DAH BALIIIIKKK ” kata Tisha dengan suara lantang.


Adik kurang ajar, umpatku dalam hati. Aku mendelikkan mataku ke arah Tisha yang berjalan menuju kamarnya di lantai dua sambil cekikikan.


“Demi sayang?” panggil mama, “udah pulang? Kok gak ngucapin salam?” lanjutnya.


Aku keluar dari tempat persembunyianku di balik lemari dan berjalan sambil menundukkan wajah kearah ruang tamu, “maaf ma tadi aku masuk lewat garasi. Iya tadi aku gak langsung ngucapin salam soalnya ngedengerin papa sama mama lagi asik ngobrol sama tamu” aku mengangkat wajahku usai berbicara untuk melihat siapa tamu papa dan mama. Tubuhku kaku ketika pandangan mata kami bertemu.


“Bian????”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2