Demian

Demian
BAB 2 - Galau


__ADS_3

Tanganku dengan lihai menguleni adonan kue yang biasa kulakukan untuk mengisi stok kue di etalase. Tapi, hari ini aku merasa kurang semangat dalam menjalankan aktivitas. Biasanya, menyibukkan diri di dapur untuk membuat segala macam kue merupakan moodbooster bagiku. Pikiranku terlalu fokus dengan kejadian di mall kemarin.


Flashback On


“Demi?? Ini Demi kan??” panggil seseorang yang suaranya terdengar familiar di telingaku.


Aku melihat seseorang yang memanggil namaku, seorang laki-laki berperawakan tinggi sekitar 175 cm, kulit putih bersih, dan mata sipitnya yang langsung mengingatkanku akan seseorang.


“De-van?” sapaku ragu memastikan bahwa aku tidak salah memanggilnya.


“wah gilaa…gue tadinya ragu mau manggil lo Dem, pangling soalnya gue pas lihat lo. Apa kabar lo Dem? Gak nyangka gue bisa ketemu lo disini” ucap Devan yang tidak menyangka bisa bertemu denganku sambil mengambil tempat duduk di sebelah Tisha, sedangkan orang yang duduk disebelahnya hanya cuek tanpa mau ikut campur dengan keberadaan Devan.


“gue baik, lo sendiri gimana? Kapan balik ke Indonesia?” tanyaku yang masih agak terkejut melihat kehadirannya. Entah mengapa perasaanku kurang nyaman saat Devan mencoba mengajakku berbincang. Rasanya seperti deg-degan karena menantikan sesuatu yang keluar dari mulutnya.


“gue juga baik. Seminggu yang lalu gue balik, soalnya kan udah kelar ambil S2 di Jepang. Makanya gue langsung balik ke sini karena dosen yang ngerekomendasiin gue udah pensiun dan beliau mau gue segera ngajar di kampus” jelas Devan. “oiya mumpung gue ketemu lo disini, gue mau ngasitau juga nih kalau 2 bulan lagi gue mau married ama Ines. Buat undangannya ntar gue share aja yak di grup cemara” lanjut Devan. Grup cemara adalah sebutan grup kami saat kuliah yang berisi tim KKN-ku dulu. Ya, Devan merupakan teman KKN-ku dulu yang akhirnya berjodoh dengan Ines, teman satu jurusanku.


Aku terkejut dengan apa yang Devan ucapkan, “woahh…really?? Congrats my brother akhirnya married juga lo. Gak nyangka yaa waktu berlalu begitu cepat. Lo yang abis lulus S1 langsung ke Jepang buat ambil master, trus tiba-tiba pas balik ke Indo langsung married hahaha” aku tertawa mengingat cerita Devan dari kuliah sampai mengetahui bahwa dia akan melepas masa lajangnya sebentar lagi.


Devan ikut tertawa mendengar tawaku, “hahahaha, iya nih…lagian gue udah pacaran lama sama Ines, gue juga udah gaada urusan lagi jadi yaa gas aja married” balas Devan.


“eh iya, gue kan dulu bisa ama Ines karena lo nih, trus kita mulai pacaran di tempat KKN kita dulu, rencananya pas nikahan nanti gue mau ngejadiin geng cemara sebagai salah satu bridesmaid dan groomsmen nih. Ines sih dah setuju, so…lo mau ya jadi salah satu bridesmaid?” DUARR…hatiku mencelos saat mendengar permintaan Devan. Terjawab sudah apa yang daritadi membuat perasaanku kurang nyaman saat aku berbincang dengannya.


Jadi bridesmaid dengan teman-teman KKN? Sudah pasti aku akan bertemu dengannya lagi. Empat tahun berlalu sejak pertemuan terakhir kami dan aku akan bertemu kembali dengannya di acara pernikahan Devan. Bagaimana ini? Apa aku sudah berhasil menghilangkan perasaan itu? Bagaimana jika usahaku menghapus perasaan selama 3 tahun ini sia-sia karena pertemuan kami nantinya? Arghh…ingin rasanya aku berteriak saat ini juga.

__ADS_1


“Dem…Demi?? Gimana Dem?? Mau kan lo jadi bridesmaid?” Devan melambaikan tangan di depan wajahku sambil memasang raut wajah bertanya.


“eh…oh iya Dev, sorry. Iya boleh kok, gue mau jadi bridesmaid di pernikahan kalian” aku merutuki diriku dalam hati saat aku mengiyakan permintaannya. Duh…kenapa aku langsung bilang iya sih….bego bego bego, keluhku dalam hati.


“yesss…kalo lo setuju, Sabtu depan kita ketemu di butik Tante Asna ya..semua baju yang berhubungan dengan pernikahan gue diurus sama Tante Asna soalnya” Tante Asna merupakan mamanya Alfi, teman KKN-ku selain Devan. Mata Devan terlihat senang karena aku menyetujui ajakannya.


“karena lo dah setuju, abis ini gue mau ngajakin Jihan. Dia pasti setuju kalo ada lo. Buat Alfi dan Bian, mereka kemarin dah setuju buat jadi groomsmen. Wahh gasabar nihh gue nunggu minggu depan. Pasti bakal asik nih kita selain fitting baju, kita bakal reunian KKN lagi setelah 4 tahun gak ketemu sejak pertemuan terakhir kita pas wisuda. Pokoknya, gue gamau tau lo hari Sabtu harus meluangkan waktu lo seharian buat reuni KKN kita” ucap Devan yang terlihat bersemangat dengan agenda pertemuan kami.


Kami memang memutuskan untuk tetap berteman walaupun KKN telah usai. Banyak dari teman-teman sejurusanku dulu yang heran melihat kedekatan kami yang sering meluangkan waktu untuk berkumpul di sela-sela kesibukan tugas akhir. Walaupun kedekatan kami hanya berlangsung selama setahun dan kami harus berpisah serta sempat lost contact setelah kelulusan, akhirnya tiba saatnya kami berkumpul kembali setelah berpisah selama 4 tahun.


“Sabtu ya….oke deh gue agendain kegiatan buat Sabtu depan” gumamku sambil menulis kegiatan dan melingkari tanggal di kalender yang terdapat di buku agenda yang biasa kubawa kemana-mana. Sudah dikatakan aku orang yang perfeksionis bukan? Aku selalu membuat plan schedule setiap harinya untuk menerapkan kedisiplinan diri. Daily schedule, monthly agenda, meal planning, financial organizing, bahkan workout tracking milikku tercatat rapi di buku agenda yang berbeda sesuai peruntukkannya. Untuk buku yang berisi daily schedule dan monthly agenda selalu kubawa kemanapun aku pergi.


“oke Dem, itu aja yang mau gue omongin. Untung aja gue ketemu lo langsung jadi gak susah buat ngehubunginnya. Kalo gitu gue duluan ya…gue mau nyusulin kakak gue di lantai atas. Bye Demi, see you on Saturday” pamit Devan yang beranjak pergi dari tempatku. Aku hanya tersenyum sambil melambaikan tangan saat berpisah dengannya.


Flashback End


“Mbak Demi…mbaakk” panggil seseorang yang membuatku tersadar dari lamunanku.


“eh iya, ada apa…apa kuenya udah jadi? Kalo udah langsung pindahin ke etalase aja” kataku yang reflek menjawab panggilan dari Luna, asistenku.


“mbak…gimana mau jadi kuenya kalo adonannya aja masih mbak uleni gitu. Mbak kenapa sih hari ini kok aku perhatiin ngelamun terus? Kayak gak semangat gitu bikin kuenya” tanya Luna yang khawatir melihat kondisiku hari ini.


“eh apa iya?” aku tersentak melihat tanganku masih memegang adonan mentah. “astaghfirullah…ma-maaf deh Lun…ini mbak minta tolong kamu lanjutin ya bikinnya. Mbak mau ke atas dulu” tanpa mendengar jawaban Luna, aku langsung memindahkan baskom yang berisi adonan ke hadapan Luna, dan bergegas pergi membersihkan tanganku.

__ADS_1


Sesampainya di ruanganku yang berada di lantai atas ruko, aku langsung menjatuhkan diri ke sofa. Aku memejamkan mata untuk menenangkan pikiranku yang kacau karena pertemuanku dengan Devan kemarin. Tiba-tiba, pintu ruanganku terbuka dan Luna masuk ke dalam sambil membawa cangkir yang berisi hot matcha latte kesukaanku.


“nih mbak, diminum dulu, biar relax” kata Luna sambil menyodorkan cangkir itu kepadaku.


“thanks ya Lun” jawabku saat menerima cangkir itu, kemudian meminumnya perlahan. “adonan dipegang siapa jadinya?” tanyaku setelah selesai minum.


“udah dipegang ama aksa tadi. So…mau cerita gak nih? Ntar dipendem sendiri jadi kentut malahan” tawaku pecah mendengar ucapan Luna.


Aku menceritakan pertemuanku dengan Devan kemarin yang memintaku menjadi bridesmaid sampai agenda reuni di hari Sabtu nanti. Luna yang memang sudah tau tentang cerita masa laluku hanya menganggukkan kepala mencoba memahami perasaanku.


“Mbak Demi masih ada rasa ama dia..fix no debat” tanggapan Luna pertama kali setelah aku selesai bercerita.


“gak lah…aku gamungkin masih suka ama dia. Udah 3 tahun loh ini Lun” aku mencoba mengelak pernyataan Luna, walaupun aku sendiri masih ragu dengan ucapanku ini.


“mbak, aku kan udah kenal Mbak Demi dari awal mula cake shop ini berdiri. Waktu dulu kita masih jatuh bangun ngembangin ini cake shop, disitu aku juga belajar memahami karakter Mbak Demi. Untungnya Mbak Demi juga percaya sama aku sampai Mbak Demi akhirnya mau cerita apa yang dulu menjadi motivasi Mbak Demi kerja mati-matian tanpa memikirkan hal lain” ucap Luna sambil berjalan menuju kulkas untuk mengambil air mineral, kemudian ia meminumnya hingga seperempat botol sebelum melanjutkan ucapannya.


“mungkin dulu aku masih belum berani memberikan tanggapan lebih dalam mengenai cerita mbak, tapi buat sekarang kalo boleh aku menanggapi, sebenarnya apa yang Mbak Demi lakuin selama ini cuman pengalihan sementara mbak. Mbak fokus sama cake shop sampai seperti sekarang ini selain untuk mewujudkan mimpi mbak juga untuk pengalihan pikiran mbak agar tidak terfokus ke dia. Giliran mbak merasa kalau mbak udah melupakannya dan tiba-tiba dihadapkan fakta bahwa mbak akan bertemu dia lagi, mbak langsung kembali seperti dulu. Perasaan Mbak Demi ke dia itu masih sama mbak, mbak masih suka sama dia dan perasaan itu semakin besar sampai sekarang” aku menghela napas panjang mendengar penjelasan Luna yang jelas memahami perasaanku saat ini, hanya saja aku terlalu gengsi untuk mengakuinya dan mengelak bahwa aku sudah menghapus perasaan itu.


“trus mbak harus gimana nih? Serius deh mbak capek kalo harus gini terus. Mbak merasa usaha mbak sia-sia gitu selama 3 tahun ini” keluhku yang frustasi tidak menemukan jalan keluar dari permasalahan ini.


“kalo ini aku gabisa jawab mbak, yang bisa menemukan jawabannya ya Mbak Demi sendiri. Kalo misalkan Mbak Demi masih penasaran, ya Mbak Demi harus cari tau sendiri. Gimana caranya? Ya tanyakan aja ke dia langsung saat bertemu nanti bagaimana perasaannya ke mbak. Kalo mbak takut, yaudah mbak harus merelakan perasaan mbak, mbak harus belajar melupakannya” jawaban Luna malah semakin membuatku gak tenang karena aku sibuk berperang dengan diriku sendiri.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2