
Aku pulang ke rumah Bu Rima bersama Ines. Sebelum masuk ke dalam rumah, aku menuju dapur yang berada di dalam warung untuk makan siang bersama Ines karena kami melewatkan makan siang bersama dengan yang lain.
“tadi yang bantuin Jihan masak siapa Nes?” tanyaku ketika aku mengambil sayur bayam dalam panci.
“Devan tadi yang bantuin Jihan” aku menganggukkan kepala mendengar jawaban Ines.
Selesai makan siang dan membersihkan peralatan, aku masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang karena sejujurnya aku masih belum siap jika harus bertatapan langsung dengan Bian. Aku langsung menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan bersiap melaksanakan solat dzuhur.
Ketika aku berjalan menuju kamar selesai wudhu, di ruang tengah aku melihat Bian sedang memakan bolu yang tadi kubuat. Bian melihatku yang hendak membuka pintu kamar yang ternyata dikunci dari dalam. Aku mengetuk pintu dengan tergesa-gesa memanggil Jihan yang sedang di dalam kamar. Alfi dan Devan tidak mungkin berada di kamar karena ketika aku akan masuk ke dalam rumah, mereka menghampiri Ines di dapur dan saat ini pasti mereka masih disana.
“Jihan!!” aku mengetuk pintu lebih keras. Kudengar sahutan Jihan dari dalam yang menjawab panggilanku.
Sembari menunggu Jihan membuka pintu, aku membalikkan badan untuk memastikan keberadaan Bian. Pandangan mataku bertemu dengan matanya yang menatapku dalam sambil memakan bolu di tangannya tanpa berniat untuk berbicara atau mendekatiku. Aku kembali menatap pintu kamar dan mengetuk lebih cepat, untungnya Jihan langsung membukanya kali ini.
“lama amat sih buka pintu doang” sewotku ketika menutup kembali pintu kamar setelah aku masuk ke dalam tanpa melihat Bian lagi.
“ya sorry deh…tadi aku pakai headset soalnya, baru dengar pas kamu ngetuknya agak kencang tadi” ucap Jihan menyesal.
Aku tidak menanggapi jawabannya dan langsung melaksanakan solat dzuhur. Selesai solat, aku merebahkan diri di samping Jihan dan langsung memejamkan mata.
“nanti bangunin aku jam 4 ya Ji…aku mau tidur dulu” gumamku tanpa membuka mata. Aku langsung tertidur setelah mendengar jawaban Jihan.
Ternyata aku membutuhkan waktu tidur lebih lama. Aku baru mendengar suara Jihan yang membangunkanku ketika jam menunjukkan angka 5. Aku langsung mandi sore secara kilat dan segera melaksanakan solat ashar karena waktu ashar hampir habis. Selesai solat, aku melihat Jihan dan Ines yang masih asyik di atas ranjang dan tidak akan menunjukkan tanda-tanda untuk menyiapkan makan malam.
“kita mau masak apa buat dinner?” tanyaku setelah membereskan mukena.
“kita gak masak Dem” jawab Ines sambil memainkan HP nya.
“oh??? Mau makan diluar?” tanyaku heran.
“engga…malam ini para cowok mau jadi koki di dapur, tadi siang Devan pas bantuin aku bilang nanti malam biar cowok aja yang masak, gantian katanya” jelas Jihan.
“kira-kira masak apa ya mereka??” tanyaku yang penasaran dengan menu makan malam ini.
*****
“are you kidding us??” tanyaku ketika melihat menu makan malam yang disajikan.
“kenapa memangnya? Ada yang salah dengan masakan kita?” tanya Alfi yang bingung dengan pertanyaanku.
“kalian nyiapin semuanya dari jam 5 yang bikin ekspektasi gue tinggi dan ternyata hasilnya…” Ines tak kuasa melanjutkkan ucapannya karena terperangah melihat masakan para cowok.
“emang hasilnya kenapa yang?” tanya Devan dengan wajah tanpa dosanya.
“gue kira lo bisa masak menu yang lebih dari ini Dev” ucap Jihan sambil menatap makanan tersebut dengan ekspresi tidak percayanya.
“sebenarnya gue bisa masak kalau ada pendamping yang bisa masak. Berhubung pendamping gue semuanya gak bisa masak…ya jadinya ini” kata Devan sambil menggaruk tengkuknya yang kuyakin tidak gatal.
Aku, Ines, dan Jihan berusaha untuk bersabar melihat menu makan malam ini dan ekspresi para cowok yang seperti tidak merasa bersalah.
“ARGHHH KEMBALIKAN WAKTU 2 JAM GUE!!!” teriak Ines yang akhirnya tidak mampu menahan emosinya, “2 JAM YANG!!! AKU KASIH KAMU WAKTU SEGITU AKU KIRA SELAMA INI KAMU UDAH JAGO KARENA KAMU MANDIRI DI JEPANG. TAPI APA??? MI INSTAN??? BAHKAN AKU BISA BIKIN SEMUA INI DENGAN BAIK DALAM WAKTU KURANG DARI 15 MENIT YAAANGGG!!!” aku dan yang lain hanya bisa meringis melihat Ines membabi buta memarahi Devan dengan memegang erat pundaknya dan mengguncangnya.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menu makan malam kami yang berupa mi instan, hanya saja melihat wujudnya yang sangat tidak menggugah selera dengan campuran sayuran yang potongannya tidak karuan dan hanya telur mata sapi yang digunakan sebagai lauk terlihat meragukan apakah makanan tersebut layak dimakan atau tidak.
“ya kan aku biasanya masak buat sendiri yang…dan kalau masak paling cuman manasin makanan kaleng atau bikin mi…kalau mau makan enak ya tinggal beli di restoran ada banyak” jawab Devan sambil meringis melihat wajah Ines yang berapi-api menatapnya.
“air…gue butuh air…walaupun sekarang dingin tapi rasanya gue kayak mau kebakar” geram Ines sambil berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.
“katanya tadi lo bantuin Jihan masak Dev…kok sekarang lo bilang kalau lo gabisa masak?” aku masih bingung dengan ucapan Devan.
__ADS_1
“ya seperti kata gue tadi, kalau gue bisa masak kalau yang mendampingi gue. Jihan kan bisa masak, makannya gue bisa karena dapat arahan. Nah ini…Bian sama Alfi aja cuman tau masak mi yaudah akhirnya gue putusin buat masak mi…kalau nekat masak menu yang aneh-aneh gue gamau ambil resiko nanti hasilnya gak karuan” jelas Devan yang membuatku mengangguk paham.
“tapi bukannya lo harusnya bisa masak ya? Dulu setiap liat story kalian, pasti lo sama Ines suka di dapur buat masak bareng, gue yakin pasti Ines selalu ngajarin lo masak sebelum berangkat ke Jepang kan?” tanya Jihan yang masih bingung dengan penjelasan Devan.
“eh…mmm…i-it-ituu…” kulihat Devan gugup dan kembali menggaruk tengkuknya, wajahnya juga mulai memerah.
“kayaknya gue tau deh jawabannya…pasti lo gak bantuin Ines dan ngeliatin cara dia masak kan?? Ngeliat wajah lo yang kayak gitu, pasti lo malah ngelakuin hal lain sama Ines kan??” tuduhku sambil memicingkan mata kearah Devan, “gila ya lo!! Mesumnya gaada obat emang” aku memukul pundaknya beberapa kali dengan sedikit kencang yang membuat Devan meringis kesakitan.
“hah? Maksudnya apaan?” tanya Alfi yang kembali membuka suara karena bingung dengan ucapanku.
“halah gausah sok bingung lo Al…lo dan Devan kan sama, cuman karena lo jomblo aja makannya belum bisa nunjukkin sifat asli lo” Alfi yang mendengar jawabanku mulai tersenyum mesum kepadaku. Aku bergidik ngeri melihatnya. Bian berdehem cukup keras melihat tingkah Alfi.
“eitss…santai mas bro…aku gaakan menikung teman kok” Alfi langsung merangkul Bian yang masih menatap Alfi dengan tatapan dingin. Aku melihat tingkah mereka dengan tatapan malas.
“emang Ines sama Devan ngapain Dem?” tanya Jihan yang memang belum mengetahui sejauh mana hubungan Ines dan Devan.
“yaampun…temanku masih polos ternyata. Gini ya my baby Jihan, kamu tau kan Ines dan Devan itu udah pacaran 5 tahun…dan kamu juga tau sendiri bagaimana bucinnya mereka berdua. Apa kamu masih tetap berpikir gaya pacaran mereka hanya sebatas pelukan dan pegangan tangan seperti anak ABG yang baru jatuh cinta?” Jihan akhirnya langsung paham mendengar penjelasanku.
“emang lo udah gak polos lagi ya Dem?” tanya Alfi yang langsung kuhadiahi pelototan mata. Devan tertawa heboh mendengar ucapan Alfi bersamaan dengan Ines yang kembali ke ruang tengah dimana kita berkumpul.
“oiyaaa lo sekarang sama dengan gue dan Ines Dem. Belum sepenuhnya sama sih…kan Bian baru bayar DP-nya dulu ya?” ucap Devan menggodaku kemudian tertawa dengan Alfi dan Jihan. Ines yang baru kembali duduk, bingung melihat Devan, Alfi, dan Jihan tertawa sedangkan aku dan Bian hanya diam memasang ekspresi datar.
“maksudnya Demi sama dengan kita dan Bian baru bayar DP apaan yang?” tanya Ines kepada Devan. Ines sudah kembali bersikap biasa setelah cukup lama menenangkan diri di dapur.
“itu loh yaangg…kan Bian dan Demi sebentar lagi bakal sama kayak kita” jawab Devan sambil memberi kode dengan menaik-turunkan kedua alisnya, “kemarin kan Bian udah kasih DP ke Demi di kolam renang” Ines yang baru paham dengan penjelasan Devan langsung mencubit perutnya yang membuat Devan mengaduh kesakitan.
Aku yang terlanjur malu akhirnya mengambil piring kosong dan mulai mengambil mi dalam wajan juga telur mata sapi. Aku mulai menyendokkan makanan tersebut ke dalam mulut. Rasanya sedikit keasinan, tapi aku tetap mengunyahnya pelan-pelan.
“kalian masih mau ngobrol terus dan gak makan?” tanyaku setelah menelan suapan pertama.
Akhirnya satu per satu mulai mengambil porsinya masing-masing. Aku, Ines, dan Jihan hanya diam memakan mi “luar biasa” itu karena kami masih menghargai para cowok yang sudah berusaha memasaknya.
“oiya ada nih…mmm kayaknya dia dah mau nyampai sih…soalnya ini tadi dia bilang maghriban dulu di jalan” jawabku sambil membaca pesan Mas Bagas. Aku mengetahui Bian menatapku dalam ketika aku membicarakan Mas Bagas, tapi aku tetap bersikap cuek dan mengabaikan tatapan itu.
Tidak lama setelah aku membaca pesan Mas Bagas, tiba-tiba terdengar suara mesin motor yang memasuki halaman rumah.
“assalamualaikum” sapa Mas Bagas ketika memasuki rumah.
“waalaikumsalam” jawabku, Jihan, Alfi, dan Bian.
“eh Mas Bagas udah pulang…makan mas” tawar Jihan ketika Mas Bagas duduk di antara kami.
“makasih Mbak Jihan, tapi maaf sebelumnya saya sudah makan dengan teman di jalan tadi” tolak Mas Bagas secara halus, “oiya ini tadi saya beli martabak manis rasa keju. Dimakan ya…semoga suka” kata Mas Bagas sambil meletakkan bungkus makanan tersebut di tengah-tengah kami.
“waahh makasih ya mas” jawab kami kepada Mas Bagas.
“iya sama-sama. Oiya saya pamit mau ke kamar dulu ya…mau bersih-bersih” Mas Bagas bangkit dari posisi duduknya dan bergegas menuju kamarnya.
Setelah Mas Bagas pergi, aku yang sudah menghabiskan makan malamku berniat mengambil martabak manis untuk mentralisir rasa asin dalam mulutku. Ketika aku baru membuka bungkusnya, Bian memegang tanganku erat tanpa mengucap kata apapun. Namun melihat dari tatapannya, aku paham jika Bian melarangku untuk memakan martabak manis pemberian Mas Bagas. Aku menghela napas mencoba meredakan emosiku yang mulai naik. Perlahan aku mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya.
“fine…bolu gue tadi siang masih ada kan?” tanyaku kepada yang lain, “mulut gue asin banget soalnya, harus makan yang manis” lanjutku.
Alfi menunjuk kearah lemari, dan terlihat piring yang berisi bolu di salah satu rak. Aku mengambil piring tersebut dan menghabiskan bolu yang tersisa sebanyak dua buah. Untungnya moodku segera membaik setelah mengunyah bolu tersebut karena melihat sifat posesif Bian yang kambuh.
Setelah menghabiskan bolu dan meminum air putih, aku bergegas mengangkat piring kotorku ke dapur. Namun, Bian melarangku karena para cowok akan membereskannya. Aku kembali meletakkan piring tersebut dan berjalan menuju kamar.
Aku melakukan sikat gigi, cuci muka, dan wudhu setelah bermain HP di kamar selama kurang lebih setengah jam. Ketika aku berada di dalam kamar mandi, samar-samar aku mendengar suara seseorang di luar kamar mandi sedang melakukan video call. Kebetulan aku bisa mendengar suara obrolannya dari dalam. Ternyata dia adalah Bian.
“disini sinyalnya lebih kuat Sar…kalo di dalam agak putus-putus”
__ADS_1
…..
“tadi abis makan malam trus tadi mau tidur setelah sikat gigi, eh kamunya nelepon”
…..
“ah nanti kamu ngambek lagi…kan mas gabisa meluk kamu kalo kamu lagi ngambek”
…..
“iya mas juga kangen sama kamu…ingin buru-buru hari Senin supaya bisa segera pulang dan meluk kamu. Mas kangen juga sama pijatan kamu, nanti pijatin punggung mas ya sambil mas cerita itu”
…..
“pijatan kamu itu tiada duanya. Gaada perempuan manapun yang mengalahkan pijatan cantiknya mas untuk saat ini”
…..
“hahahaha…gombal juga sama kamu ini”
…..
“yaudah sana istirahat. Mimpi indah ya…nih mas kasih cium online biar cepat tidur”
…..
“ya kan sekarang mas gak di samping kamu…nanti kalau mas udah pulang mas cium kamu sepuasnya sebelum tidur”
…..
“waalaikumsalam”
Aku berusaha untuk menahan tubuhku di dinding agar tidak jatuh setelah mendengar obrolan Bian dengan perempuan yang aku yakini bernama Sarah karena dia sempat menyebut kata “Sar”. Air mataku mengalir tanpa bisa kucegah. Kututup rapat mulutku agar tidak mengeluarkan suara isakan. Aku tidak menyangka jika Bian ternyata seperti itu. Sakit sekali rasanya hatiku mendengar obrolan mesra mereka, I feel broken heart now.
Aku segera menghapus air mata di wajah dan mengambil wudhu kembali. Aku tidak boleh lemah. Sebelum Bian mempermainkanku terlalu jauh, aku harus segera mengakhirnya besok sebelum kembali ke Jakarta. Setelah memastikan bahwa tidak ada orang diluar kamar mandi, aku segera membuka pintu dan berjalan menuju kamar. Sebelum sampai, aku bertemu dengan Mas Bagas yang hendak keluar kamar.
“eh Demi” sapa Mas Bagas ketika melihatku.
“eh iya mas. Mau kemana?” tanyaku ketika melihat Mas Bagas seperti ingin keluar rumah.
“ini mau ketemu teman di pos” jawabnya. Tiba-tiba keningnya berkerut ketika memandangi wajahku.
“kamu abis nangis? Ada apa?” tanya Mas Bagas khawatir.
“oh gapapa mas…tadi mataku kemasukan sabun terus keluar air mata banyak. Mungkin saking perihnya jadi bengkak seperti habis menangis” jawabku berbohong.
“tipikal seorang Demetra” kata Mas Bagas yang membuatku bingung, “besok mau ikut mas gak liat sunrise?” aku terkejut ketika Mas Bagas mengajakku keluar berdua.
Aku berpikir sejenak dengan ajakannya, aku takut Bian kembali marah seperti tadi pagi. Tapi tunggu, aku kan besok berniat untuk mengakhiri hubungan kami, untuk apa aku mengkhawatirkan dirinya? Dia juga pasti sibuk bermesraan dengan perempuan yang bernama Sarah itu.
“boleh deh mas…emang mau liat dimana? Trus jam berapa berangkatnya?” Mas Bagas tersenyum mendengar jawabanku.
“ada bukit di balik desa ini. Nanti kita berangkat jam 4 sekalian subuh disana” jawabnya.
Aku menyetujuinya dan segera pamit untuk pergi ke kamar. Aku segera melaksanakan solat isya dan bersih-bersih wajah. Tanpa sepengetahuan Ines dan Jihan, aku menyiapkan perlengkapan yang kubawa untuk melihat sunrise di bukit dan mengenakan langsung pakaian yang kupakai besok, jadi ketika bangun aku hanya tinggal melapisi dengan jaket tebal yang kuletakkan di atas koper. Aku memang berniat untuk tidak memberitahu yang lain karena aku ingin menenangkan diri tanpa adanya gangguan dari manapun. Untungnya Ines dan Jihan sudah terlelap ketika aku sibuk menyiapkan barang-barang.
“Ji, pinjam HP kamu bentar dong” Jihan bergumam tanda mengiyakan. Aku langsung mengambil HP Jihan dan membukanya. Untung HP Jihan tidak diberi password, aku langsung mengatur alarm di angka 4:45.
Maafin aku Ji, gumamku dalam hati. Setelah mengatur alarmnya, aku langsung ikut terlelap.
__ADS_1
...****************...