Demian

Demian
BAB 15 - Komitmen


__ADS_3

Ingin rasanya aku menenggelamkan diri ke dasar kolam saat melihat Jihan, Ines, Alfi, Devan, juga Mas Bagas memergokiku bercumbu dengan Bian. Aku mengatur napasku yang tidak beraturan dan menatap Bian yang ada di sampingku yang juga diam mengatur napasnya. Rambutnya berantakan dan bibirnya terlihat bengkak akibat kegiatan “panas” kami.


“ada yang mau menjelaskan tentang kejadian barusan?” tanya Jihan pelan setelah mengatasi keterkejutannya. Ya, tadi yang berteriak menyadarkan kami adalah Jihan.


“a-a-aku…aku…t-tadi k-kita…” aku bingung bagaimana cara menjelaskannya. Tiba-tiba air kolam terasa dingin di kulitku, padahal seharusnya air tersebut terasa hangat. Tubuhku sampai ikut bergetar karena tidak siap menghadapi situasi saat ini. Aku hanya menundukkan kepala karena takut dengan tatapan mereka yang terus memandangku intens.


“kami tidak perlu menjelaskan tentang apa yang kalian lihat. Aku yakin kalian pasti paham dengan apa yang kami lakukan tadi” sela Bian sambil merangkulku tiba-tiba.


Aku yang terkejut dengan tindakannya langsung mengalihkan tatapanku ke arahnya. Bian tersenyum lebar menatapku ketika aku menatapnya, dia mengecup bibirku singkat dihadapan Jihan, Ines, Alfi, Devan, dan Mas Bagas. Ines dan Jihan kembali berteriak heboh melihat aksi Bian.


“WOAHH!!! Baru kali ini gue liat Bian senyum selebar itu” Ines berdecak kagum melihat Bian tersenyum.


“apa kalian mau sekalian check in?? biar gue reservasiin mumpung kita lagi ada di hotel” kata Alfi sambil tersenyum menggoda kearahku dan Bian.


“nah benar itu…yang harus check in seharusnya lo sama Bian Dem...” timpal Devan yang memberikan senyum menggoda kepadaku dan Bian. “kayaknya gue harus belajar dari Bian cara melakukan adegan tadi dehh…lebih hot sepertinya” ucap Devan yang menatap Ines dengan mesum, “yang, nanti kita juga ngelakuin itu di kolam yaa…biar hot juga” Devan langsung mengaduh kesakitan saat menerima cubitan dari Ines di perutnya.


“waahh pas banget ya…ngelakuin adegan hot di dalam kolam yang hot” kata Mas Bagas yang ikut berkomentar. Aku melihat sekilas ada tatapan marah yang terpancar dari matanya, namun Mas Bagas langsung ikut tersenyum menggoda ketika mengetahui aku menatapnya.


“duh Demiiii…kamu membuat mataku tidak suci lagi melihat adegan tidak senonoh ituuuu” ucap Jihan heboh sambil mengipas-ngipaskan wajahnya dengan tangan.


Aku yang terlanjur malu langsung menyembunyikan wajahku di dada Bian. Bian langsung memelukku dan mengusap punggungku melihat aku tengah menahan malu.


“eh Dem…itu pundak kamu kenapa? Kok kayak memar-memar gitu?? Tadi pas ganti masih mulus-mulus aja kok…” tanya Jihan ketika memperhatikan pundakku penuh dengan kissmark dari Bian saat aku memeluknya.


“wah Bian bahaya ini…untung kita buru-buru kesini, coba kalau engga?? Bakal kebablasan itu” ucapan Alfi ditanggapi heboh dengan yang lain dan mereka semakin gencar menggodaku dan Bian. Aku semakin mengeratkan pelukanku pada Bian karena rasa malu yang benar-benar luar biasa.

__ADS_1


Setelah kejadian itu, Bian benar-benar tidak membiarkanku untuk terlalu akrab dengan Mas Bagas yang mencoba mengajakku berinteraksi. Aku dibiarkan bebas ketika bersama Jihan, Ines, Alfi, maupun Devan. Namun ketika Mas Bagas mendekatiku, Bian langsung menempatkan dirinya disampingku.


Akhirnya aku, Jihan, dan Ines harus berpuas diri menghabiskan waktu di kolam pancuran agar para cowok tidak bergabung bersama kami yang membuat Bian semakin protektif kepadaku. Para cowok akhirnya menghabiskan waktu dengan adu kecepatan berenang di kolam utama.


“so…udah gak galau lagi kan sama perasaan sendiri?? Udah kejawab semuanya dengan jelas tuh tadi” aku hanya tersenyum malu mendengar ucapan Jihan.


Karena kejadian itu, aku akhirnya mengetahui bagaimana perasaan Bian kepadaku. Walaupun tidak diutarakan secara langsung, tapi melalui sikap dan tindakannya aku mengerti jika perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Namun aku masih penasaran dengan perempuan yang bernama Sarah itu. Ada hubungan apa Bian dengannya? Aku juga penasaran dengan sikap Bian yang melarangku untuk berdekatan dengan Mas Bagas. Apa dia mengetahui jika Mas Bagas memiliki perasaan padaku? Tapi aku dan Mas Bagas kan sepakat untuk berteman saja. Mungkin aku akan menanyakan semuanya langsung kepada Bian nanti.


Kami akhirnya keluar dari hotel setelah melaksanakan solat maghrib di musholla hotel dan menuju ke warung sate yang terkenal di Tegal untuk menyantap makan malam. Walaupun Bian telah mendeklarasikan untuk memiliki hubungan dekat denganku, tidak membuat kami para cewek melanggar kesepakatan awal. Aku, Jihan, dan Ines akan tetap bersama dalam satu mobil tanpa adanya gangguan dari para cowok. Devan kembali protes karena mengira dengan dekatnya aku dan Bian akan membuat dirinya bisa puas berduaan dengan Ines. Ternyata Ines tetap pada pendirian awal untuk membiasakan Devan agar tidak terlalu bergantung padanya. Bian sendiri tidak masalah dengan hal itu. Asal aku hanya dekat dengan cewek, sikap protektifnya tidak akan kambuh.


Ketika kami sampai di tempat makan tujuan, ternyata tempat tersebut sangat ramai oleh pengunjung. Kami terpaksa harus pisah tempat untuk makan karena tidak ada satu meja yang full kosong. Kami terbagi menjadi dua dimana Alfi, Bian, dan Devan yang masuk lebih dulu duduk di satu meja yang sama setelah diarahkan dengan pelayan. Aku, Jihan, Ines, dan Mas Bagas diarahkan untuk duduk di satu meja yang sama dengan Ines yang duduk di sampingku dan Mas Bagas duduk dihadapanku.


Selama menunggu pesanan, Ines dan Jihan berbincang serius mengenai pernikahannya dan topik yang dibicarakan kurang aku pahami. Akhirnya Mas Bagas membuka topik baru denganku agar aku tidak hanya diam melihat interaksi Ines dan Jihan. Topik yang Mas Bagas bicarakan mengenai cerita lucu dari pengalaman hidupnya. Aku tertawa menanggapinya karena cerita yang disampaikan memang sangat lucu. Aku lupa dengan janjiku kepada Bian untuk tidak terlalu mengakrabkan diri dengan Mas Bagas, sehingga aku tidak menyadari jika wajah Bian memerah menahan emosi melihatku tertawa lepas dengan Mas Bagas.


Selesai makan, kami langsung bersiap-siap untuk pulang. Ketika aku hendak menekan tombol unlock di kunci mobil, Bian mengambil alih kunci mobilku secara tiba-tiba.


“tapi Bian, tadi kesepakatannya kan ciwi-ciwi harus bareng terus gaboleh ada cowok…” ucapan Ines langsung dipotong oleh Bian.


“sekali ini saja Nes…aku mohon” melihat raut wajah Bian yang terlihat serius membuat Ines langsung menyetujuinya tanpa ada debat lagi.


Bian langsung menarik tanganku untuk masuk ke dalam mobil. Aku hanya diam saja karena bingung dengan sikap Bian yang tiba-tiba berubah menjadi dingin. Setelah mobilku jalan, aku memberanikan diri untuk membuka percakapan.


“ada apa Bi? Kok tiba-tiba kamu mau balik sama aku?” aku berusaha bersikap lembut dengan mengusap pelan lengannya agar sikap Bian menghangat. Bian hanya diam mengacuhkan pertanyaanku. Aku menghela napas mencoba bersabar menunggu dia buka suara.


Tiba-tiba Bian menepikan mobil yang dikemudikannya di tempat sepi. Aku tidak mengetahui lokasi kami saat ini. Ketika aku akan membuka mulut untuk bertanya, tiba-tiba Bian menarik tengkukku dan mulai menciumku kasar. Aku yang tidak siap dengan serangannya memukul dadanya agar menghentikan ciumannya. Akhirnya Bian menjauhkan dirinya dariku.

__ADS_1


“kalau kamu gak cerita, aku gak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi Bi…” kataku lembut sambil mengusap rahangnya. Aku masih mencoba untuk berbicara lembut kepadanya karena aku tahu jika berbicara dengan emosi tidak akan menyelesaikan permasalahan.


“aku gasuka kamu tertawa dengan Mas Bagas Dem. Mulut ini…” Bian menyentuh bibirku, “aku ingin membersihkannya setelah kamu bebas tertawa dengannya. Dia itu memiliki rasa denganmu Dem, bahkan dia seperti ingin menelanmu bulat-bulat pas melihat penampilanmu di kolam renang tadi. Aku bisa melihat pancaran cinta dan nafsu di matanya. Hatiku terbakar cemburu jika kamu terus bersikap baik dan terbuka padanya. Itu membuat dia merasa memiliki peluang untuk memilikimu” lanjutnya.


Aku tersenyum mendengar kejujurannya, “aku udah tau Bi…Mas Bagas udah cerita semuanya. Aku juga udah bicara dengannya kalau aku tidak bisa menerima perasaanya. Sebagai gantinya, aku menerima perminataan pertemanan darinya. Aku sadar jika Mas Bagas masih mengharapkanku, tapi aku paham batasannya kok Bi…kamu percaya sama aku kan?” aku mengusap lembut pipinya kemudian mulai mencium bibirnya. Aku nekat melakukannya lebih dulu untuk meyakinkan dia akan ucapanku.


Saat aku akan melepas ciumanku, Bian menahan tengkukku dan mulai mencium bibirku lembut. Setelah sekian lama kami berciuman, Bian mengakhiri ciuman kami.


“aku sayang kamu Demetra” aku tersenyum mendengar ungkapan sayang Bian padaku.


“aku sayang kamu juga, Bian” balasku lembut.


Bian mulai mencium bibirku kembali. Aku merasa Bian semakin kecanduan dengan bibirku setelah kami saling membuka hati dan menerima perasaan.


“Bi…stop…kita gaboleh seperti ini” ucapku terengah-engah ketika ciuman Bian mulai turun ke leherku. Aku merasakan napas Bian tersengal-sengal di leherku, menahan gairah dalam dirinya.


“sayang maafin aku…aku belum bisa mengontrol diriku dengan baik” sesal Bian dalam pelukanku. Aku hanya mengusap punggungnya untuk menunjukkan jika aku baik-baik saja.


“aku percaya kamu Bi…kamu akan menjagaku hingga nanti tiba waktunya kita resmi bersatu” ucapku sambil menenangkan Bian.


Bian kemudian melepas pelukanku dan tersenyum padaku, “iya…aku juga gamau melakukannya sebelum aku mengambilmu dari orang tua kamu. Kamu jangan khawatir ya…” ucapnya sambil mengusap puncak kepalaku.


“oiya aku mau minta maaf juga atas sikapku tadi di kolam renang. Aku benar-benar lepas kendali saat itu karena melihat penampilanmu dan juga rasa cemburu yang menguasai tubuhku” lanjutnya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum menerima permintaan maaf dari Bian.


Aku senang jika Bian benar-benar menyayangiku dengan tulus dan bukan karena hanya nafsu semata. Aku berharap jika aku dan Bian bisa menjaga komitmen kami hingga Bian memantapkan dirinya untuk memintaku dari mama dan papa. Aku percaya jika Bian akan memegang ucapannya untuk benar-benar menjagaku sampai tiba waktunya nanti.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2