
Sembari mempersiapkan barang-barang yang kubutuhkan untuk reuni dengan teman-teman KKN yang nantinya akan kubawa ke rumah terlebih dahulu, tiba-tiba aku mendengar notifikasi chat WA masuk ke dalam HP-ku. Mataku terbelalak melihat siapa yang mengirim pesan itu.
Kamu besok berangkat jam berapa?
Beneran kamu besok nyetir sendiri ke Solo?
-Bian-
Entah mengapa aku merasa gugup saat membuka pesan itu, apa mungkin karena sudah lama aku tidak chattingan dengannya? “isshh mengapa dia harus chat aku sih…gimana aku mau ngelupain perasaanku coba...huufftt” gumamku pelan.
Paling lambat jam 6 pagi aku jalan, kalo bisa abis subuh dah siap.
Engga kok, aku pulang sama adikku, nanti gantian nyetirnya.
Aku segera mengirim pesan balasan itu dan melanjutkan packing barang. Tidak lama, suara notifikasi kembali terdengar.
Yaudah hati-hati ya besok, kabarin aku kalo kamu dah berangkat besok pagi.
Jangan tidur malam biar besok gak ngantuk pas perjalanan.
-Bian-
Aku terperangah melihat pesan yang dikirim oleh Bian. Ini Bian kan? Orang terkaku yang pernah kukenal dan bodohnya aku memiliki perasaan kepadanya. Mengapa aku tidak bisa memahami dirinya? Kadang aku melihat dia begitu cuek, tapi ada masa dimana dia akan bersikap peduli. Entahlah aku tidak mau terlalu pusing memikirkannya. Aku harus segera istirahat untuk perjalanan esok hari. Membiarkan pesan itu terbaca tanpa membalasnya, aku menyelesaikan sisa-sisa barang yang belum di packing. Setelah selesai, aku bergegas membersihkan diri sebelum tidur.
*****
“Mbak Demi, ayo bangun mbak…udah jam setengah 4 nih….ayo beres-beres apartemen dulu sebelum pergi” ucap Tisha yang membangunkanku sambil menepuk badanku.
“eumhhh….iya” jawabku yang masih setengah sadar.
Aku beranjak bangun dan duduk untuk mengatur napas, “kamu nyapu sama ngepel ya, nanti mbak yang beresin tempat tidur sama masak buat sarapan dan bekal” kataku setelah sepenuhnya sadar.
Tanpa menunggu lama, Tisha langsung mengerjakan apa yang kusuruh. Aku juga mengerjakan bagianku, dimulai dari merapikan tempat tidur dan setelah itu berjalan menuju mini pantry untuk menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat sarapan dan bekal saat perjalanan nanti. Aku memang sengaja membawa bekal agar nanti tidak perlu mampir untuk beli makanan di luar. Snack yang digunakan sebagai camilan ringan selain makanan berat juga sudah kusiapkan sejak kemarin.
Setelah reunian dengan teman-teman KKN, aku tidak langsung pulang. Aku menuju tempat Tisha di Bogor untuk menjemputnya agar besok bisa berangkat ke Solo pagi hari. Tisha yang tidak mengetahui perubahan rencana kepulangan kami awalnya protes. Setelah mendengar alasanku, akhirnya dia mau untuk tetap ikut pulang bersamaku.
Setelah semua persiapan beres, aku dan Tisha sarapan bersama, mandi, dan melaksanakan solat subuh berjamaah. Jam setengah 6 kami sudah siap untuk berangkat. Kami sepakat bahwa yang menyetir pertama adalah Tisha. Akhirnya mobilku keluar meninggalkan apartemen bersamaan dengan notifikasi WA yang masuk ke dalam HP-ku.
Bian : Kamu udah berangkat?
Demi : Iya, ini baru aja keluar apartemen.
Bian : Yaudah hati-hati ya kamu di jalan. Ini kamu sambil nyetir?
Demi : No…yang pertama bawa adikku, nanti gantian kalo dah capek dia.
Bian : Oh I see. Kabarin aku kalo udah sampai di rumah ya. Aku kepikiran kamu ini karena kamu nyetir ke Solo.
What??? OH MY GOD!! Bian khawatir sama aku? Dia kerasukan apa ya? Benar-benar beda banget sama Bian 4 tahun yang lalu.
Demi : Selow….aku sama adikku udah biasa kok tiap bulan gini.
Bian : Oke…tapi ini beneran kamu Kamis mau nyetir ke Tegal sendirian?
__ADS_1
Demi : Iya Bi…udah biasa kok aku nyetir jarak jauh gini.
Bian : Tapi kan ini kamu sendirian Dem….adik kamu emang ikut?
Demi : Ya engga lah….adikku nanti balik ke Jakarta hari Minggu naik kereta.
Chatku yang terakhir hanya dibaca oleh Bian. Entahlah aku tidak mau memikirkan soal Bian terus-menerus. Kalau masih mau mikirin kapan aku move on? Cukup sudah 3 tahunku menjadi sia-sia gara-gara aku bertemu kembali dengannya. Aku tidak mau kembali rapuh seperti dulu karena memendam perasaan dan berharap terlalu dalam padanya.
Di perjalanan, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngemil, tidur, dan sesekali berbicara dengan Tisha agar tidak bosan. Setelah chattingan dengan Bian, aku menonaktifkan HP agar tidak ada yang mengganggu perjalananku. Setelah memasuki area Jawa Tengah, aku bertukar posisi dengan Tisha. Ketika aku menyetir, aku menyuruhnya untuk istirahat. Aku memutar lagu untuk menemani kesendirianku sambil sesekali ngemil.
Setelah menempuh kurang lebih 8 jam perjalanan (karena kami harus beberapa kali berhenti di rest area untuk istirahat), akhirnya mobil yang kukendarai tiba di tempat tujuan. Sesampainya di rumah, kami disambut oleh simbok, asisten rumah tangga orang tuaku yang sudah lama bekerja sejak aku masih SD. Ketika sampai, aku tidak menemukan kedua orang tuaku karena sedang pergi ke pasar. Aku yang lelah karena melakukan perjalanan jauh langsung menuju kamarku untuk membersihkan diri sembari menunggu waktu ashar. Setelah solat ashar, aku merebahkan diri di atas kasur dan tak membutuhkan waktu lama untuk terlelap.
Suara ketukan pintu dari luar kamar membangunkanku. Mendengar suara mama yang memanggilku untuk bangun, aku melihat jam di dinding kamar yang ternyata sudah memasuki waktu maghrib. Aku menjawab panggilannya yang menunjukkan bahwa aku sudah bangun. Aku beranjak bangun dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah solat, aku mendengar mama kembali memanggilku untuk makan malam. Aku bergegas melepas mukena dan bersiap untuk keluar kamar.
Di ruang makan, aku melihat orang tuaku, eyang, dan juga pengasuh eyangku. Melihat eyang, aku menghampiri beliau dan berlutut dihadapannya.
“eyaaangg….Demi kangen sama eyang” kataku setelah mencium tangannya dan mencium kedua pipinya, “eyang sehat??” tanyaku sambil memegang erat kedua tangannya. Eyang hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
Eyang saat ini memang sudah tidak bisa berbicara akibat penyakit stroke yang dideritanya selama beberapa tahun terakhir. Selain itu, eyang juga harus duduk di kursi roda karena sudah tidak mampu berjalan lagi. Eyang ini adalah ibu dari mama. Setelah cerai dengan eyang kakung ketika mama masih kecil, eyang memutuskan untuk menjadi single parent bagi mama. Eyang yang terbiasa hidup berdua dengan mama akhirnya tetap tinggal bersama mama meskipun mama sudah menikah dan memiliki anak. Papa yang sudah tidak memiliki orang tua dengan senang hati ikut membantu mama merawat eyang. Aku sangat menyayangi eyang sebagai satu-satunya nenek yang kumiliki.
Setelah temu kangen dengan eyang, aku menghampiri papa yang masih terlihat segar di usianya yang ke-55 dan melakukan hal yang sama dengan apa yang kulakukan pada eyang. Tidak hanya papa, aku juga melakukan hal yang sama dengan mama yang juga masih terlihat segar di usianya yang genap 50 tahun.
“karena Demi sama Tisha pulang, mama udah buat makanan kesukaan kalian” kata mama setelah aku selesai mencium pipinya.
“wahh thank you ma…” mataku berbinar melihat ayam cah jamur favoritku di atas meja makan.
Setelah Tisha muncul di ruang makan, kami menyantap makan malam dalam diam. Selesai makan, kami berkumpul di ruang keluarga tanpa eyang karena harus beristirahat. Di ruang keluarga, aku bercerita mengenai keseharianku mengurus cake shop dan Tisha bercerita mengenai persiapannya menjelang ujian skripsi yang akan dilaksanakan minggu depan.
“ma...aku nanti cuman sampai hari Rabu aja ya di rumah. Adek nanti balik sendiri pas hari Minggu” kataku tiba-tiba.
“engga ma, aku kemarin kan abis reunian sama teman-teman KKN dulu, nah pas ketemuan si Devan ngide ngajakin kita ke Tegal buat nostalgiaan gitu ma...niatnya mau berangkat Rabu malam biar disana 4 hari full. Nah kan pas banget sama jadwal kepulanganku, trus aku akhirnya bilang mau nyusul dari sini Kamis paginya” jelasku, “oiya ma…si Devan akhirnya bakal nikah loh sama Ines temen kuliahku. Keren ya ma mereka pacaran 5 tahun bisa awet sampai mau naik ke pelaminan” lanjutku yang memberitahu mama tentang pernikahan Devan dan Ines.
“wahh mereka mau menikah akhirnya?” tanya mama terkejut.
“iya ma….awet banget mereka pacarannya sampai sekarang mau nikah” jawabku, “jadi gimana ma yang aku mau nyusulin mereka dari sini?” tanyaku kembali membahas topik awal.
“berarti kamu nyetir sendiri dong pas nyusul mereka?” sepertinya mama kurang setuju dengan rencanaku ini.
“iya ma….gapapa ya? Lagian kan aku udah biasa nyetir Jakarta-Solo PP” kataku sambil berusaha meyakinkan mama.
“ya iya sih udah biasa…tapi kan itu kamu gak sendiri, gantian sama adek. Ini nanti kamu gaada temen lho sayang” kata papa yang akhirnya ikut berbicara mengenai rencanaku.
“ya terus gimana dong? Masak aku gaikut…kan udah lama banget kita gak ketemuan, kapan lagi coba? Mumpung pada bisa juga. Lagian ini kan ibaratnya liburan terakhir kita pas semuanya masih single gituu” aku mulai memasang ekspresi sedih agar mama dan papa menyetujui rencanaku.
“bukannya mama sama papa gak ngebolehin kamu buat ikut, tapi mama pengennya kalau kamu mau nyusul gak nyetir sendiri sayang. Mama takut ada apa-apa sama kamu dijalan. Kamu kan kebiasaan kalo lagi perjalanan, HP dimatiin dan akhirnya mama kalo nanya kabar lewat adek terus. Kalau nanti kamu sendiri, mama mau nanya kabar ke kamu gimana coba?” jelas mama panjang lebar.
“atau gini aja, kamu nyusul ke Tegal naik kereta aja, nanti mobil biar dibawa papa sama mama sekalian nganter adek balik ke Bogor” usul papa yang langsung disetujui oleh mama.
“yaudah deh gapapa…tapi nanti papa sama mama capek lagi. Trus eyang gimana?” tanyaku dengan raut wajah lesu mendengar keputusan papa.
“papa sama mama gapapa kok sayang..lagian nanti kan papa sama mama cuman nganter adek balik ke Bogor aja, trus abis itu nganterin mobil kamu ke apartemen. Paling hari Rabunya kami pulang biar eyang gak lama sendiri, nanti kami naik pesawat aja yang cepat” jelas papa panjang lebar.
Aku yang sebenarnya kurang menyetujui ide papa akhirnya terpaksa menyetujuinya. Kemudian, adikku mengganti topik pembicaraan membahas film yang saat ini sedang kami tonton. Aku yang teringat belum menghidupkan HP kembali setelah perjalanan tadi akhirnya pamit untuk ke kamar terlebih dahulu.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, aku mencari keberadaan HP-ku yang ternyata masih berada di dalam tas selempang. Sambil menunggu HP aktif, aku berjalan menuju kamar mandi untuk sikat gigi, cuci muka, dan wudhu untuk melaksanakan solat isya. Saat aku duduk di depan meja rias setelah solat untuk melakukan bersih-bersih wajah, terdengar suara notifikasi yang berbunyi secara beruntun, menunjukkan bahwa banyak pesan masuk ke dalam HP-ku. Mataku membulat sempurna saat melihat notifikasi di layar.
25 missed calls from Bian
10 missed calls from Luna
17 messages form Bian
5 messages from Luna
Aku membuka pesan yang dikirim oleh Bian terlebih dahulu. Pesan dari Luna akan kubalas dengan telepon nanti.
Kamu dah sampai mana Dem?? - 9.57 am
Ini kamu lagi nyetir ya? Kok centang satu? - 10.15 am
Demi??? Kamu lagi isoma? - 12.05 pm
Kamu udah sampai mana sekarang? - 1.00 pm
Udah sampai rumah kamu? - 2.10 pm
Are u OK? Sampai sekarang kamu masih nonaktif ini - 2.32 pm
Aku hampir gila nunggu kabarmu Dem - 3.08 pm
Deeemmmmiiiii - 3.15 pm
?????? - 3.32 pm
Aku berharap tanda centang ini segera berkembang biak Dem - 4.01 pm
Kamu tau? Aku sekarang lagi neror Luna asistenmu - 4.05 pm
Aku nemu kontaknya di web cake shopmu - 4.05 pm
Aku maksa dia buat ngasih alamat rumahmu di Solo - 4.06 pm
Akhirnya aku tau alamat rumahmu - 4.59 pm
Oke karena kamu ngilang, aku akan nyusul kamu buat mastiin keadaan kamu - 6.06 pm
Aku serius Dem…sampe jam 10 kamu gak aktif aku bakal nyusul kamu ke Solo - 6.30 pm
Jam 9 malam dan kamu masih ngilang?? Oke aku udah
siap2 buat otw - 9.10 pm
Aku langsung panik melihat pesan Bian yang terakhir karena aku lihat jam di HP menunjukkan angka 9.45 yang berarti 15 menit sebelum jam 10, dipastikan Bian akan berbuat nekat menyusulku kesini. Tanpa pikir panjang aku langsung menelepon Bian untuk memastikan keadaannya.
“hal…” aku yang baru akan berbicara ketika panggilan sudah tersambung langsung dipotong oleh teriakan Bian.
“WHERE HAVE YOU BEEN DEMETRA!!!!” aku langsung menjauhkan HP-ku dari telinga dan meringis mendengar teriakan Bian.
__ADS_1
...****************...