
Warning
Part 21+
***************
Bughhh….
Tiba-tiba Bian datang menarik Mas Bagas dan langsung meninjunya. Mas Bagas yang tidak siap langsung tersungkur jauh hingga menabrak kaki meja yang terdapat peralatan masak diatasnya.
“AAARRRGHHHHH!!!!” teriak Bian pilu saat melihat keadaanku yang mengenaskan. Aku yang lemas tidak berdaya hanya bisa menangis melihatnya.
“DEMI!!!!!” teriak Alfi dan Devan ketika melihatku.
Bian langsung menutup tubuh polosku dengan jaketku dan kembali beralih dengan Mas Bagas. Bian terlihat kalap menghajar Mas Bagas sambil mengumpat kasar menggunakan bahasa Jawa. Alfi dan Devan berusaha menarik Bian agar berhenti menghajar Mas Bagas yang sudah babak belur.
Alfi yang sudah habis kesabaran melihat Bian yang tidak mau berhenti langsung melayangkan tinju di wajah Bian.
Bughhh…..
“SADAR KAMU BI!!!!” teriak Alfi saat Bian jatuh di pelukan Devan.
“kamu bisa ikut terseret kalau kamu seperti ini” ucap Alfi pelan setelah meredakan emosinya.
“dia…” sambil menunjuk Mas Bagas, “biar aku sama Devan yang urus. Sekarang kamu fokus sama Demi. Dia membutuhkan kamu saat ini” lanjutnya.
Bian berhasil mengatur dirinya langsung melihatku dengan tatapan pilu, “aku gatau harus bagaimana dengannya. Hatiku...” ucap Bian terputus, “hatiku sakit saat ini melihat keadaannya” Bian mulai terisak ketika bertatapan mata denganku. Aku hanya bisa menangis dalam diam melihatnya yang menangisi keadaanku.
“gaada cara lain Bi…yang bisa menolong Demi saat ini adalah kamu. Cuman kamu yang bisa melakukannya” ucap Devan sambil memeriksa tubuh Mas Bagas yang pingsan akibat pukulan Bian.
“ini…” Devan memperlihatkan sebuah botol kecil di tangannya, “Demi diberi obat perangsang dengan dosis tinggi. Melihat kondisinya saat ini, mau gak mau kamu harus melakukannya Bi…” lanjutnya. Bian mengerang frustasi mendengar ucapan Devan.
“kita percaya kamu Bi…kamu gaakan lari dari tanggung jawab” ucap Alfi sambil menepuk pundak Bian, “ayo Dev…kita bawa Mas Bagas pulang. Kita harus diskusi dengan Bu Rima terkait masalah ini” Devan langsung membantu Alfi memapah Mas Bagas keluar rumah.
“oiya Bi…” panggil Devan sebelum pergi, “ini kunci motor Mas Bagas” Devan melempar kunci motor yang diambil dari saku celana Mas Bagas kearah Bian yang langsung ditangkap olehnya.
“thanks Dev…jangan lupa tutup pintunya” ucap Bian yang kemudian berjalan kearahku.
__ADS_1
“Bian…” lirihku ketika Bian sampai di hadapanku. Bian langsung menghapus air mata di pipiku sambil ikut menangis melihat keadaanku.
“maafkan aku…maafkan aku yang datang terlambat” isaknya kemudian memelukku.
Bian langsung melepas pelukannya ketika mendengar suara desahanku.
“Demi sayang…aku harap nanti kamu bisa memaklumi apa yang aku lakukan kepadamu. Maafin aku yang harus mengorbankanmu untuk semua ini” ucap Bian yang menatapku sendu kemudian mencium bibirku dengan penuh gairah.
Aku hanya pasrah mengikuti nafsu dan permainan Bian yang membantuku menghilangkan reaksi obat di dalam tubuhku. Tidak ada lagi suara tangisan dan isakan sedih, hanya suara desahan dari kami yang menikmati permainan dosa yang kami ciptakan sendiri.
“aarrggghhh Biaaannn…sakiiittt” erangku kencang saat Bian berhasil menembus pertahanan yang selama ini kujaga. Hilang sudah harta berharga milikku yang terpaksa dikorbankan karena ambisi gila seseorang. Perasaanku hancur, melebihi hancurnya saat Bian memporak-porandakan hatiku dengan kepergiannya 4 tahun yang lalu.
“arghh…” erang kami bersama setelah berhasil melakukan pelepasan untuk yang terakhir kalinya setelah beberapa kali kami mengulang permainan dosa itu.
Tubuh Bian langsung menindihku setelah selesai dengan kegiatan kami. Bersama, kami mengatur napas yang tidak beraturan setelah melakukan kegiatan yang banyak menguras emosi dan tenaga. Setelah melakukan kegiatan laknat selama berjam-jam itu, tubuhku terasa lebih ringan dan kembali normal seperti semula. Reaksi obat itu kini telah menghilang sepenuhnya, digantikan dengan rasa penyesalan dan luka yang begitu menyakitkan.
Aku menutup mataku yang terasa berat setelah lelah melakukan kegiatan menjijikkan itu. Aku berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang kebetulan melintas di dalam dunia khayalanku, dan berharap saat aku terbangun nanti semuanya akan baik-baik saja.
*****
“kalian kenapa?” tanyaku lemah yang langsung disambut oleh pelukan erat Jihan dan Ines. Melihat mereka menangis, aku juga ikut mengeluarkan air mata kembali ketika mengetahui bahwa semua itu bukanlah mimpi.
“maafin aku ya…” lirihku yang terisak dalam pelukan kami.
“engga Dem…kita yang harusnya minta maaf sama lo. Gue gak nyangka ide awal kita nostalgia disini malah berujung petaka” jawab Ines sesenggukan setelah melepas pelukan kami. Jihan juga akhirnya melepas pelukannya.
Aku mencoba bangkit dari posisi tidurku untuk bersandar di dinding. Ketika aku mencoba menggerakkan tubuhku, tulang-tulangku seperti ingin terlepas dari tempatnya. Jihan dan Ines membantuku untuk duduk.
Kemudian aku bertatapan dengan Bu Rima, tiba-tiba beliau memelukku sambil menangis tersedu-sedu memohon maaf atas perbuatan bejat Mas Bagas terhadapku. Sebenarnya aku sakit hati dengan perbuatannya dan mungkin tidak akan pernah bisa memaafkannya karena aku harus mengorbankan diriku sendiri untuk mengahadapi kegilaannya. Tapi melihat Bu Rima yang memohon belas kasihan dariku, akhirnya aku menghargai sikap Bu Rima yang mencoba meminta maaf atas kelakuan anaknya.
“saya sangat menghargai jika Bu Rima meminta maaf kepada saya atas nama anak ibu, tapi maaf…untuk saat ini saya masih belum bisa memaafkan sepenuhnya. Kejadian tadi membuat saya menjadi trauma akan perlakuan laki-laki. Walaupun anak Bu Rima tidak jadi melakukannya, tapi tetap saja kejahatan dia di awal membuat saya tetap melakukannya. Pada akhirnya, saya harus merelakan mahkota yang saya jaga untuk suami saya kelak kepada seseorang yang belum tentu jadi pasangan saya. Saya harap Bu Rima bisa mengerti posisi saya saat ini” jelasku yang berusaha memberikan pengertian kepada Bu Rima.
“tapi apa tidak sebaiknya kita selesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan? Saya tidak sanggup jika Bagas harus mendekam di penjara dalam waktu yang lama” ucap Bu Rima yang mencoba bernegosiasi denganku.
“saya hanya mau dia merenungi perbuatannya. Disini bukan hanya dia saja yang menerima hukuman, saya, anak ibu, bahkan Bian sama-sama menerima hukuman kami masing-masing. Saat ini saya mencoba untuk bersikap legowo dengan apa yang menimpa saya” jelasku dengan sedikit emosi. Jihan dan Ines berusaha menenangkanku.
Bu Rima akhirnya keluar dari kamar setelah gagal bernegosiasi denganku. Setelah kepergian Bu Rima, aku meminta Ines dan Jihan untuk membantuku berjalan ke kamar mandi. Saat aku menyibakkan selimut, aku masih mengenakan pakaian yang sama dengan tadi pagi. Aku yakin semua ini pasti dipakaikan oleh Bian.
__ADS_1
Aku berjalan tertatih-tatih karena rasa nyeri yang luar biasa di area intiku. Ines dan Jihan akhirnya menungguku mensucikan diri di luar kamar mandi.
Saat aku membersihkan tubuhku dengan sabun, air mataku kembali menetes melihat kondisi tubuhku yang penuh dengan tanda dari Bian. Aku juga menemukan sisa cairan milik Bian dan darah yang mengering di area intiku ketika aku mencoba membersihkannya. Aku merasa jijik dengan diriku saat ini yang sudah tidak berharga lagi, tidak ada yang bisa kubanggakan dalam diriku.
Selesai mandi, aku langsung melaksanakan solat dzuhur dengan posisi duduk karena aku tidak mampu menopang tubuhku sendiri saat ini. Aku berdoa memohon ampun kepada-Nya karena telah melakukan dosa besar. Aku sadar jika perbuatanku akan menjadi beban terbesar yang harus kupertanggungjawabkan nantinya. Aku siap jika nantinya ada hukuman lain yang akan menimpaku setelah ini.
“Demi…yuk makan siang dulu” ucap Ines yang mulai menyuapiku dengan telaten. Aku yang sedang kehilangan nafsu makan hanya sanggup menerima 5 suapan.
“nih Dem minumnya” kata Jihan yang membantuku untuk minum.
“yang lain pada dimana?” tanyaku yang baru sadar tidak melihat keberadaan para cowok.
“masih di kantor polisi. Mas Bagas dan temannya langsung dibawa kesana setelah Bian datang membawa lo yang pingsan. Pas kalian belum balik Devan ngejar temannya Mas Bagas yang yang kabur karena udah bantuin Mas Bagas ngelancarin aksinya” jawab Ines.
“tadi Bian sempat menghajar Mas Bagas lagi disini sebelum dibawa pergi. Bu Rima nyoba negosiasi sama Bian untuk diselesaikan baik-baik, tapi Bian ngotot jika masalah ini harus dibawa ke jalur hukum mengingat ini udah masuk kategori kejahatan kriminal yang direncanakan. Karena gagal bernegosiasi dengan Bian, akhirnya Bu Rima mencoba negosiasi sama kamu” lanjut Jihan menimpali.
“kalau kamu sadar tadi pasti kamu gaakan kuat ngelihat Bian yang mengamuk setelah membaringkanmu disini. Belum pernah aku melihat Bian kalap seperti itu. Untung aja tadi Alfi tetap stay saat Devan ngejar temannya Mas Bagas. Soalnya kalau gaada Alfi kayaknya Mas Bagas bakal mati di tangan Bian” aku melihat jika Jihan berkata jujur saat melihat raut wajahnya masih menampakkan sedikit ketakutan.
“keadaan Mas Wisnu gimana pas ditangkap Devan?” tanyaku penasaran.
“sama mengenaskannya dengan Mas Bagas Dem. Apalagi Devan sendirian ngejarnya, puas dia ngehajar tuh orang tanpa ada yang cegah. Devan ngejar sampai ke desa sebelah, ternyata dia lagi sembunyi di rumahnya yang lain. Gue gatau gimana Devan bisa nemuin tuh orang. Gue sendiri aja ngeri pas lihat dia balik sambil nyeret orang itu, yang waras diantara mereka bertiga cuman Alfi doang tadi” aku bergidik ngeri membayangkan kejadian saat aku masih belum sadar. Aku saja yang mendengar cerita Ines dan Jihan merasa takut, apalagi mereka yang melihat secara langsung.
“udah Dem…jangan mikirin tadi. Lebih baik kamu istirahat dulu aja buat mulihin tubuh dan pikiranmu” aku menganggukkan kepala mendengar saran Jihan.
“yaudah aku mau tidur dulu sebentar, nanti bangunin aku kalau mereka udah balik. Soalnya aku mau langsung pulang setelah ini. Aku tidak tahan rasanya jika harus berlama-lama disini” ucapku sambil mencoba untuk berbaring. Aku bersyukur Jihan dan Ines tidak menanyakan perihal kepergianku dengan Mas Bagas. Aku memang sedang tidak ingin menceritakan hal tersebut karena takut kembali kecewa dengan kejadian itu.
“oiya Nes, nanti lo sama Devan temanin gue pulang ya? Biar Bian bareng Alfi sama Jihan. Kan gak mungkin gue ngajak Alfi bareng, dan gak mungkin lagi gue sama Bian. Gue belum siap kalau harus bertemu lagi dengannya” pintaku kepada Ines.
“nanti gue tanya Devan dulu ya Dem…gue sih oke-oke aja. Jihan gapapa kan cewek sendirian nanti kalo Devan mau?” tanyanya kepada Jihan.
“gapapa kalau Demi nyamannya seperti itu” jawab Jihan.
Akhirnya aku kembali terlelap untuk mengistirahkan tubuhku yang belum benar-benar pulih.
...****************
...
__ADS_1