Demian

Demian
BAB 21 - Shock Therapy


__ADS_3

Kupandang alat yang kupegang saat ini, tanda positif yang tercetak di alat tersebut seketika membuat duniaku kembali hancur untuk yang kesekian kalinya. Aku melakukan tes lagi dengan beberapa alat yang berbeda karena masih tidak percaya dengan kenyataan yang kudapat. Aku terduduk lemas melihat semua alat menunjukkan hasil yang sama.


Perlahan aku mengambil HP yang kuletakkan di samping gelas yang menampung urin pagiku, kemudian membuka kalender bulanan yang mencatat seluruh siklus haidku. Ternyata benar, tanggal dimana aku melakukannya bertepatan dengan puncak masa suburku. Setelah pertemuanku dengan Devan di mall, malamnya aku mendapat haid hari pertama dan berakhir saat malam sebelum keberangkatanku ke Solo. Berdasarkan perhitungan, aku mendapat masa subur seminggu setelah haid hari terakhirku yaitu tepat saat aku mengalami kejadian itu. Aku tidak bisa lagi mengelak dengan kenyataan yang membuatku terpukul.


Betapa bodohnya diriku, mengapa hal ini tidak kupikirkan setelah kejadian itu? Setidaknya aku bisa mengantisipasinya sebelum terjadi hal seperti ini. Aku merutuki kebodohanku yang hanya terlarut dalam kesedihan dan tidak berpikir jauh mengenai dampak dari kejadian itu.


Bagaimanapun juga nasi telah menjadi bubur. Aku harus belajar menerima kehadirannya dalam diriku. Tidak mungkin aku melenyapkannya hanya karena ambisiku yang ingin memulai hidup baru. Lagipula melenyapkan dia, berarti aku menghabisi separuh nyawaku sendiri. Mau tidak mau aku harus siap menerima konsekuensinya.


Perlahan aku mengusap lembut perutku yang masih datar, “mama akan melindungimu sayang…mama tidak akan pernah membenci kehadiranmu. Walaupun kamu hadir karena kesalahan, percayalah kalau kamu hadir karena bukti cinta mama dan papa” kataku berlinangan air mata ketika aku mengusap perutku, menyapanya untuk yang pertama kali.


Aku menguatkan diriku agar tidak lemah seperti sebelumnya. Aku teringat janjiku dengan Luna bahwa aku tidak akan menangisi hal yang berhubungan dengan kejadian itu. Tidak ada lagi air mata penyesalan yang boleh kucurahkan. Selama sebulan terakhir, aku mulai menata hidupku kembali agar seperti sedia kala.


Sebulan setelah kejadian itu, aku merasakan keanehan dalam diriku, dimana tubuhku tiba-tiba terasa lebih sensitif dan nafsu makanku meningkat. Ingin rasanya aku tetap berpikir positif jika aku baik-baik saja, tapi tidak bisa saat mengetahui jika aku telat mendapat siklus bulananku selama dua minggu dan aku mulai merasakan gejala morning sickness. Aku akhirnya nekat melakukan tes itu untuk membuktikan semua kecurigaanku salah, namun ternyata takdir berkata lain. Aku mengandung buah cintaku dengan Bian.


Setelah menenangkan diri, aku langsung bersiap menuju rumah sakit untuk memeriksakan kandunganku. Aku menghubungi Luna untuk menjaga cake shop selama aku pergi. Awalnya Luna penasaran dan mendesakku untuk memberitahu kemana aku akan pergi, tapi aku berhasil meyakinkannya jika aku pergi bukan untuk melakukan hal yang membahayakan diriku. Aku memaklumi Luna yang mengkhawatirkanku semenjak aku menceritakan semuanya.


Aku mengendarai mobil menuju rumah sakit khusus ibu dan anak yang terletak dekat dengan apartemen. Setelah sampai, aku langsung mendaftar dan menunggu antrian pemeriksaan. Aku berharap bisa mendapat dokter kandungan perempuan. Kebetulan aku melihat jadwal dokter kandungan perempuan satu-satunya di pagi ini. Aku mendapat antrian terakhir karena aku memang belum mengetahui jadwal dokter di rumah sakit ini.


Sembari menunggu, aku berjalan mengelilingi rumah sakit. Kebetulan aku melewati bangsal perawatan bayi yang baru dilahirkan. Tanpa sadar aku memegang perutku. Cukup lama aku berdiri di depan ruangan itu yang terpisah oleh kaca transparan sampai aku tersadar jika aku harus kembali ke bangsal rawat jalan untuk menunggu panggilan antrian. Tidak lama setelah aku tiba, namaku dipanggil dan ada suster yang menyambutku untuk dilakukan pemeriksaan awal. Setelah itu, aku digiring menuju ruang dokter.


“siang dok…” sapaku ketika memasuki ruangannya yang hampir memasuki waktu dzuhur, “siang juga…” jawabnya sambil tersenyum melihatku.


Kami berjabat tangan seraya memperkenalkan diri. Kesan pertama ketika bertemu dengan dokter Gina yaitu ramah, aku bersyukur ternyata usianya masih terbilang cukup muda, mungkin sekitar 35 tahun.


“jadi Bu Demi…” ucap dokter Gina, “ada keluhan apa?” tanyanya lembut.


Aku langsung menjelaskan keluhanku yang kurasakan akhir-akhir ini dan tak lupa memberitahu tes yang kulakukan sebelum datang ke rumah sakit. Dokter Gina sesekali mengangguk sambil menulis sesuatu di kertasnya.


“yaudah kalau begitu Bu Demi silahkan berbaring untuk mengetahui lebih jelasnya” kata dokter Gina. Aku mengikuti arahan suster yang menjadi asisten dokter Gina untuk berbaring di atas ranjang.


Air mataku bercucuran selama proses pemeriksaan. Dokter Gina mengatakan jika usia kandunganku saat ini berusia 6 minggu dan kemungkinan aku mengandung janin kembar karena dokter Gina melihat dua titik putih dalam rahimku, walaupun yang satu masih terlihat samar. Untuk lebih jelasnya, aku harus periksa kembali bulan depan.


Dokter Gina memberiku penjelasan tentang kegiatan dan konsumsi yang boleh dan dilarang selama kehamilan trimester awal serta apa saja yang mungkin akan kurasakan selama awal kehamilan. Dokter Gina juga menyarankanku untuk mengonsumsi susu kehamilan agar bisa mengurangi rasa mual. Aku juga berterus terang tentang apa yang terjadi padaku. Dokter Gina mencoba memahami kondisiku dan memberi dorongan semangat. Aku dilarang memikirkan permasalahanku teralu berat karena bisa berdampak pada kondisi kandunganku.


Setelah puas berkonsultasi dengan dokter Gina dan meminta kontaknya agar aku bisa bertanya kapan saja, aku keluar dari ruangannya dan berjalan menuju bagian farmasi untuk menebus obat yang sudah diresepkan oleh dokter Gina.


Sembari menunggu antrian, aku kembali menatap foto usg pertamaku dengan tatapan sendu. Mama bingung sayang…apa papa kalian perlu diberitahu mengenai kehadiran kalian? tanyaku yang bermonolog dalam hati.


Mama takut kalo papa tidak bisa menerima kalian…apalagi setelah ucapan mama yang terakhir ke papa kalian. Pasti sekarang papa kalian membenci mama, lanjutku dalam hati sambil menghapus air mata yang mulai mengalir di pipiku.


Aku memandang orang-orang disekitarku yang juga sedang menunggu panggilan untuk menebus obat. Beberapa diantaranya merupakan pasangan yang memeriksakan kehamilannya. Tampak sang suami mengusap lembut perut sang istri sambil tertawa bahagia. Terbesit rasa iri dalam diriku karena aku harus mengalami ini dengan kondisi yang berbeda. Ingin rasanya aku memberitahu Luna, Tisha, dan teman-teman KKN termasuk Bian mengenai kondisiku. Tapi aku malu, terlebih aku tidak sanggup membayangkan bagaimana reaksi mama, papa, bahkan eyang saat mengetahui aku telah membuat aib keluarga dengan kehamilanku diluar nikah.

__ADS_1


Tanpa sadar aku memegang foto usgku dengan erat, seakan takut diambil oleh orang lain. “kalian harus membantu mama agar kuat dan tangguh ya…kita hadapi semuanya bersama-sama” gumamku kemudian mencium foto tersebut lama.


Setelah menebus obat, aku bergegas keluar dari rumah sakit dan langsung bergerak menuju cake shop. Aku tidak ingin Luna menaruh curiga kepadaku yang izin terlalu lama.


*****


Kondisiku memburuk setelah mengetahui kehamilanku. Gejala morning sickness yang kualami semakin parah. Aku harus sampai rela datang ke cake shop di siang hari karena rasa mual tersebut baru berhenti jika sudah memasuki jam 10 pagi. Saking takutnya, aku sampai harus menghubungi dokter Gina via telepon untuk meberitahukan keluhan yang kualami.


Dokter Gina mengatakan jika hal tersebut wajar mengingat kehamilan setiap orang berbeda-beda. Morning sickness yang berlebihan bisa disebabkan oleh aku yang mengandung janin kembar. Aku harus tetap memaksa sarapan agar setidaknya bisa mendapat sedikit asupan gizi. Untunglah rasa mualku hanya terjadi di pagi hari. Sebagai gantinya, aku bisa makan siang dua kali porsi biasanya untuk menggantikan jatah sarapan yang selalu terbuang percuma.


Aku bersyukur Luna tidak bertanya lebih lanjut mengenai kebiasaanku yang akhir-akhir ini berubah. Semoga saja dia memang tidak menyadari perubahanku secara perlahan ini.


*****


H-seminggu menjelang pernikahan Ines dan Devan, aku menghubungi Tante Asna sebagai perancang busana untuk pernikahan Ines dan Devan. Aku ingin melakukaan fitting terakhir gaun bridesmaid lebih dulu agar tidak bertemu dengan yang lain, terutama Bian. Aku sungguh belum siap jika harus bertemu kembali dengan mereka. Lebih baik aku bertemu kembali saat pesta pernikahan.


“assalamualaikum tante” sapaku ketika masuk ke dalam ruang kerjanya.


“waalaikumsalam” jawabnya kemudian melihatku, “eh kamu udah sampai Dem…langsung dicoba aja gaunnya, siapa tau ada yang perlu di rombak lagi” lanjutnya.


Aku melihat gaun dan jas milik Ines dan Devan, pakaian pengiring pengantin, serta beberapa gaun dan jas lain milik keluarga Ines dan Devan. Mataku tidak berkedip melihat barisan gaun dan jas sebagai atribut pernikahan Ines dan Devan tergantung rapi di sekeliling ruangan Tante Asna.


Dengan ditemani Tante Asna, aku mulai mencoba gaun tersebut. Sebenarnya aku sedikit risih dengan pandangan Tante Asna kepadaku yang terlihat menilaiku. Untungnya perubahan tubuhku tidak mempengaruhi gaun yang kukenakan. Gaun tersebut sangat pas melekat di tubuhku.


“udah nyaman belum di kamu? Apa masih ada yang kurang?” tanya Tante Asna sambil memutar diriku agar bisa dilihat oleh Tante Asna secara keseluruhan.


“alhamdulillah udah pas kok tan…” jawabku puas sambil mematut diri di depan cermin.


Aku kembali melepas gaun dibantu oleh Tante Asna. Saat posisi Tante Asna dibelakangku untuk menurunkan resleting gaun, tiba-tiba jantungku serasa berhenti berdetak mendengar suara bisikannya di telingaku.


“berapa usia kandunganmu?”


*****


Perlahan aku meminum teh hijau yang diberikan oleh asisten Tante Asna. Tanganku sedikit gemetar saat memegang cangkir tersebut karena terlalu syok dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Tante Asna.


“kamu jangan tertekan dengan pertanyaan tadi. Alfi sudah menceritakan semuanya sama tante tentang musibah yang menimpamu” kata Tante Asna yang berusaha menenangkanku.


“aura kehamilanmu terpancar jelas meskipun kamu berusaha menutupinya. Naluri tante sebagai seorang ibu bisa langsung merasakan kalo kamu berbeda” jelasnya, “jadi…sudah berapa minggu?” tanyanya kembali.


“sekarang masuk 7 minggu tante” jawabku pelan, “aku mohon tante jangan memberitahu siapa-siapa ya…tante adalah orang pertama yang mengetahui kondisiku. Mama sama papa bahkan belum mengetahuinya” pintaku dengan tatapan memohon.

__ADS_1


“tante janji akan tutup mulut…tapi mau sampai kapan kamu akan menutupinya? Perut kamu akan semakin membuncit kedepannya” aku terdiam mendengar pertanyaan Tante Asna.


“nanti ada saatnya aku akan memberitahu semuanya tentang kondisiku, tapi untuk saat ini aku masih belum siap jika harus memberitahu yang lain” lirihku.


Akhirnya setelah berbincang cukup lama mengenai kehamilanku dengan Tante Asna, aku pamit pulang. Gaunku nanti akan langsung diantar ke villa di Puncak karena H-1 pernikahan aku akan menginap di villa bersama Ines dan Jihan.


Di tengah perjalanan pulang menuju Jakarta, aku kembali memikirkan ucapan Tante Asna yang bisa merasakan aura kehamilanku. Apa mama juga bisa merasakannya? Mama kan juga seorang ibu. Mungkin nalurinya lebih kuat karena aku anak kandungnya, bahkan mungkin bisa merasakannya ketika aku melakukan panggilan telepon maupun video. Aku belum siap melihat raut wajah kecewa mama karena kondisiku saat ini. Mungkin dalam beberapa waktu kedepan aku harus melakukan komunikasi dengan mama via chat saja sehingga mama tidak akan curiga dengan perubahanku yang bisa diketahui dari suara atau ekspresi wajah.


*****


Ternyata rencana tinggal lah rencana. Aku yang baru sampai di apartemen tidak menyadari jika ada orang di dalam apartemenku. Saat aku membuka pintu apartemen dan masuk ke dalamnya, aku kembali mendapat shock therapy untuk yang kedua kalinya.


Di sofa depan TV, Luna dan Tisha duduk menungguku. Mereka memang sudah mendapat izin bebas keluar masuk ke dalam area privasiku. Hal yang membuatku deg-degan adalah stok susu hamil dan vitamin penguat kandungan milikku berserakan di atas meja.


“eh...k-kalian…kapan datang?? Kok gak ngasitau dulu?” tanyaku gugup.


“mbak bisa jelasin ini semua?” tanya Tisha tajam.


Aku diam membisu, bingung, dan takut bagaimana cara menjelaskannya. Aku hanya bisa menundukkan kepala.


“JAWAB MBAK!!!” bentaknya yang membuatku terkejut. Aku memang sering bertengkar dengannya, tapi belum pernah dia membentakku seperti ini.


“mbak minta maaf dek…” kataku berlutut dihadapannya, “sebenarnya ini juga bukan keinginan mbak…mbak akan cerita semuanya sama kamu”


Aku menceritakan kembali perjalanan liburanku di Tegal yang berakhir tragis karena kejadian memilukan itu dan berterus terang mengenai kehamilanku kepada Tisha dan Luna.


“mbak…maafin aku yang udah bentak mbak” lirih Tisha yang berlinangan air mata sambil memelukku, “aku gatau kalau ternyata saat aku kembali ke Jakarta, mbak malah mengalami kejadian itu…maafin aku” lanjutnya yang membuat kami menangis berdua.


Luna memberiku dan Tisha waktu untuk meluapkan emosi kami. Setelah puas, kami langsung melepas pelukan dan menenangkan diri.


“Jadi ini alasan Mbak Demi akir-akhir ini selalu datang siang ke cake shop?” tanya Luna yang menatapku sedikit kecewa karena aku tidak jujur kepadanya.


“maafin mbak ya Lun…mbak malu kalo harus memberitahu ini. Mbak tidak ingin kembali menunjukkan hidup mbak yang semakin menyedihkan” jawabku tersedu-sedu.


“Luna pasti memahami Mbak Demi kok…seperti aku juga” balas Tisha yang mencoba menenangkanku, “trus mama sama papa gimana?” tanya Tisha saat mengingat orang tua kami.


“mbak takut dek, belum siap…takut mama sama papa gabisa nerima kehamilan mbak” jawabku, “mbak pasti akan bilang sama mama dan papa…tapi engga sekarang” lanjutku.


Tisha memahamiku dan tidak memaksaku untuk berterus terang kepada mama dan papa dalam waktu dekat. Dia bahkan akan menemaniku ketika aku memberitahu kehamilanku kepada mereka nantinya. Mulai hari ini juga Tisha akan menemaniku di apartemen sembari menunggu wisuda kelulusannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2