
Namaku Demetra Vinda Chairani, usia 25 tahun dan seorang wiraswasta. Aku memiliki cake shop yang cukup besar dan terkenal di Jakarta. Awal mula aku merintis bisnis ini bermula ketika kuliah aku gemar membuat kue yang kujadikan bekal untuk camilan saat kuliah. Teman-temanku yang mengetahui aku selalu membawa kue saat ke kampus akhirnya selalu minta kepadaku karena aku selalu membuat kue yang berbeda tiap harinya. Melihat teman-temanku selalu memberikan respon positif terhadap kueku, aku akhirnya mengembangkan hobiku yang satu ini menjadi sumber pemasukan dengan menitipkan kue buatanku di kantin kampus. Alhamdulillah, hal tersebut memberikan dampak positif dimana aku mampu menghasilkan uang sendiri yang kujadikan sebagai uang saku tambahan karena aku tidak ingin membebani kedua orang tuaku.
Aku merupakan anak rantau dari Solo yang memutuskan untuk kuliah di salah satu kampus ternama di Bogor. Orang tuaku yang berada di Solo rutin mengirim uang bulanan kepadaku karena mereka tidak ingin aku kesusahan saat jauh dengan mereka. Kiriman dari mereka bisa dikatakan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari. Berhubung aku memiliki cita-cita bisa mempunyai cake shop sendiri, aku menyimpan uang kiriman dari orang orang tua untuk dijadikan modal usaha nanti. Aku memenuhi kebutuhan sehari-sehari dari uang penjualan kue di kantin kampus dan uang beasiswa yang kudapat tiap bulannya. Walaupun aku berasal dari keluarga yang berkecukupan, aku tetap aktif mencari beasiswa. Beasiswa yang kudapat ini tentunya beasiswa untuk mahasiswa berprestasi karena aku merupakan salah satu mahasiswi berprestasi di kampus.
Setelah lulus kuliah, uang kiriman orang tua yang selama ini kutabung sejak kuliah sebagian digunakan untuk membeli apartemen dan sisanya dijadikan modal untuk menyewa ruko. Untuk modal tambahan, aku nekat meminjam uang di bank. Aku berhasil merintis usaha yang kuimpikan sejak dulu dengan baik. Bisnis cake shop impianku berkembang dengan sukses selama 3 tahun ini.
Setelah memarkirkan mobil di depan ruko yang berdekatan dengan pintu masuk stasiun, aku menghubungi seseorang yang tadi mengirim pesan padaku untuk memberitahu jika aku sudah sampai. Almaira Dewi Latisha atau biasa dipanggil Tisha adalah adik perempuanku dan menjadi saudaraku satu-satunya yang saat ini sedang kuliah semester akhir di kampus yang sama denganku. Entahlah, dia sangat terobsesi dengan apa yang berhubungan denganku, sampai kuliah saja dia lebih memilih kampus yang sama denganku daripada tawaran beasiswa kuliah di luar negeri.
Sembari menunggu sidang akhir, Tisha terkadang tinggal di apartemenku untuk membantu mengurus cake shop. Sebagai seseorang dengan latar belakang IT, Tisha bertanggung jawab dalam pengelolaan website toko. Selain itu, dia juga merupakan seorang freelance di berbagai perusahaan startup. Orang lain tidak akan percaya jika adikku merupakan seorang “pawang komputer” karena penampilannya lebih cocok sebagai seorang model.
Secara keseluruhan, kami memiliki postur yang cukup mirip. Aku dan Tisha memiliki tinggi sekitar 165 cm. Kami juga memiliki rambut panjang sepunggung, bedanya rambut Tisha lurus dengan warna cokelat caramel sedangkan rambutku bergelombang dengan warna burgundy. Mama memang menyukai anak-anaknya memiliki rambut panjang. Kami hanya boleh memangkasnya jika sudah terlalu panjang dan berganti warna saat memangkas rambut. Wajah kami juga tidak terlalu jauh berbeda, hanya saja bentuk wajahku lebih bulat dibandingkan Tisha. Selain itu, aku tidak memiliki lesung pipi sedangkan Tisha memilikinya di kedua pipi bulatnya.
Walaupun secara fisik kami memiliki banyak kesamaan, kepribadianku dan Tisha justru bertolak belakang. Aku merupakan tipe orang yang sangat perfeksionis, teliti, dan concern terhadap pengelolaan finansial. Sebaliknya, Tisha merupakan orang yang terlihat cuek dan lebih sering menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang. Wajar saja karena dari sekolah dia sudah menggunakan keahliannya yang “ajaib” itu untuk menghasilkan uang, dan uang yang dihasilkan juga tidak main-main jumlahnya. Walaupun begitu, aku sering mengingatkannya agar tidak berlebihan dalam menggunakan uangnya.
__ADS_1
Aku dan Tisha saling melengkapi, menyayangi, dan melindungi satu sama lain walaupun kepribadian kami berbeda. Apalagi kami hidup di daerah perantauan dan jauh dari orang tua, aku harus bisa menjadi orang tua pengganti bagi dirinya saat sedang berjauhan dengan orang tua kami.
“hai mbak” sapa Tisha ketika masuk ke dalam mobil.
“hai” balasku datar. Aku mengubah posisi dudukku menyamping ke kiri untuk menatap adikku, “you know what?? Kamu itu menganggu waktu istirahat mbak. Minggu ini tuh mbak capek banget dek ngurusin cake shop yang lagi padat-padatnya” protesku kesal.
“yaahh…maaf deh mbak…” aku mendecakkan lidah saat melihat tampang Tisha yang pura-pura menyesal, “lagian kalo cake shop lagi padat harusnya mbak tuh refreshing cuci mata di luar. Gak bosen apa mbak setiap istirahat di apartemen mulu?”
“gak bosen tuh…buktinya mbak happy-happy aja. Lagian nih mbak kalo mau refreshing gak harus ke mall juga keleus…disuguhin film atau novel juga mood mbak bakal baik sendiri” balasku sambil menghidupkan mesin mobil dan mulai meninggalkan pelataran ruko.
“ishh apaansi dek…dah ini kita kemana jadinya? Kan kamu yang mau jalan-jalan, mbak mah ngawasin aja biar kamu gak kalap belanja” gerutuku sambil menyingkirkan tangan Tisha yang masih berusaha mencolek daguku.
“hehehe biar mbak gak bete terus gara-gara aku ajakin keluar, kita ke Kokas aja deh yang deket…lagian aku udah lama juga gak kesana gara-gara sibuk skripsian. Ntar aku sekalian nginep juga ya...” kata Tisha sambil memperbaiki posisi duduknya setelah menggodaku.
__ADS_1
Aku hanya diam tidak meresponnya dan fokus mengemudikan mobil menuju tempat tujuan kami. Setelah memarkirkan mobil, kami masuk ke dalam mall. Aku dengan sabar menemani Tisha yang keluar masuk toko sesuka hati hingga tak terasa 3 jam sudah aku berjalan mengelilingi mall menemani Tisha yang masih semangat berbelanja.
“dek, kamu gak capek apa? Ini kaki mbak rasanya kayak mau lepas tau gak daritadi jalan mulu. Udah berapa kali tuh kita naik turun ekskalator. Lagian juga ini udah masuk jam makan siang tau...dan mbak belum solat juga. Emang kamu gak solat apa dek?” keluhku saat melihat adikku masih semangat memilah-milah baju yang akan dibawa ke fitting room.
“ihh sabar napa mbak…tanggung nih belanjanya. Ntar aku traktir deh lunchnya ya..ya..ya” ucap adikku sambil memasang wajah memelas padaku.
“engga ah…pokoknya ini yang terakhir kamu belanja. Abis ini kita solat trus makan. Mbak tadi cuman sarapan roti dan minum susu pas di mobil doang soalnya. Kalo kamu masih tetep lanjut, mbak tinggal duluan” tegasku kepada Tisha agar dia segera berhenti belanja.
“iya-iya deh…janji ini yang terakhir. Tunggu dulu ya mbakku yang paling cantik…mmuuahh” ucap Tisha manja kemudian mencium pipiku dan langsung berlari menuju fitting room untuk memilih pakaian yang pas.
Aku menggelengkan kepala melihat kelakuan Tisha yang sudah tidak asing lagi bagiku. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, Tisha menepati janjinya untuk mengakhiri belanja hari ini. Kami berjalan menuju musholla untuk melaksanakan solat dzuhur. Selesai solat, kami mencari restoran untuk makan siang. Setelah menemukan restoran, memesan makanan, dan menunggu pesanan tiba, aku melihat belanjaan Tisha dan belanjaanku yang tadi dipaksa beli oleh dia. Tidak lupa aku kembali mengingatkannya seperti biasa agar tidak terlalu boros dalam menggunakan uang.
Makanan yang kami pesan akhirnya tiba. Aku yang sangat kelaparan pun melihat makanan itu penuh binar. Tanpa pikir panjang, aku segera menyantap makan siangku. Keliling mall selama 3 jam membuatku kalap menghabisi makan siangku. Sembari menyantap makan siangku, kudengar ada seseorang memanggil namaku.
__ADS_1
“Demi?? Ini Demi kan??” panggil seseorang yang suaranya terdengar familiar di telingaku.
...****************...