
Sesaat setelah melahirkan, aku sempat mengalami pendarahan karena kondisiku drop pascamelahirkan. Kelelahan akibat aku memaksa untuk melahirkan bayi kembar secara normal yang lebih cepat dari waktunya menjadi faktor aku mengalami pendarahan. Selama aku bedrest total, kedua bayiku menerima ASI dari yang kupompa. Aku sedih karena mereka harus menunda untuk meminum ASI secara langsung. Aku baru bisa bertemu dan menyusui mereka se0cara langsung empat hari setelah melahirkan.
Bian dengan setia mendampingiku di rumah sakit. Orang tua kami, Sarah, Tisha, dan Luna bergantian menemani Bian untuk mendampingiku. Aku dan Bian sepakat untuk tidak menerima kunjungan dari orang luar karena Bian ingin aku fokus dengan pemulihanku. Akhirnya Jihan, Ines, Alfi, dan Devan akan mengunjungiku setelah aku dan kedua bayiku keluar dari rumah sakit.
Setelah 10 hari mendekam di rumah sakit, akhirnya aku bisa membawa kedua bayiku pulang ke apartemen. Aku terharu melihat keluarga dan teman-temanku di apartemen ternyata menyiapkan kejutan untuk menyambut kehadiran anggota keluarga baru kami.
Satu persatu aku dan Bian menerima ucapan selamat. Si kembar sudah seperti barang yang dioper kesana kemari karena setiap orang yang ada di apartemenku berebutan untuk menggendongnya.
“ini mah Bian versi mininya…gak wajah, sikapnya, fotocopy Bian banget ini…ck kasian amat lo Dem cuman nyumbang warna kulitnya doang” aku mencibir ucapan Alfi yang mengejekku ketika dia menggendong salah satu bayiku.
“ya bagus lah kalo anak gue kulitnya cerah…jadi kalian bisa lihat Mas Bian versi terangnya” gelak tawa terdengar saat aku menanggapi ucapan Alfi.
“Tante Demi…nama dedek bayinya siapa?” tanya Gabby setelah dia menicum bayiku yang digendong oleh Devan. Aku melirik Bian yang duduk disampingku, kuanggukkan kepala saat Bian menatapku.
Alfi dan Devan langsung memindahkan si kembar kembali ke pangkuanku dan Bian saat mengetahui kami akan mengumumkan nama kedua buah cinta kami.
“baik, disini aku dan Demi akan mengumumkan nama kedua bayi kami. Pertama untuk bayi yang ada di pangkuanku…” Bian menarik napas sejenak, “kami akan memberinya nama Enrico Alfariel Demian, sedangkan yang ada di pangkuan Demi akan diberi nama Enzio Alfarabi Demian. Keduanya memiliki makna yang sama, yaitu anak pertama yang lahir sebagai pemimpin nantinya. Aku dan Demi sengaja tidak membedakan makna nama mereka, hanya mencari nama yang beda dengan makna yang sama. Untuk kata Demian, aku dan Demi sepakat mengambilnya dari kedua nama kami, Demi dan Bian” jelas Bian.
“jadi panggilannya Rico dan Zio?” tanya Jihan setelah mendengar Bian mengumumkan nama anak kami.
“iya…panggilannya Rico dan Zio kalo kalian suka. Aku membebaskan kalian memanggil nama depan atau nama tengah untuk mereka” jawabku. Akhirnya semua mulai memanggil nama Rico dan Zio sebagai nama panggilan untuk si kembar.
“Dem…perbedaan mereka apa?” tanya Ines saat menggendong Rico, sedangkan Zio sedang dibawa oleh papa.
“coba lo lihat Zio deh” Ines mengikuti arahanku melihat Zio yang sesekali menggeliat di pangkuan papa.
“kalo Zio itu suka menggeliatkan tubuhnya sesekali. Ya bisa dibilang lebih ekspresif dikit lah. Kalo Rico ini bener-bener anteng banget. Tapi kalo nangis, kencengan Rico daripada Zio. Lo gak akan bisa nemuin perbedaan fisiknya karena mereka identik banget. Gue sebagai ibu kandungnya aja awalnya sering salah ngira mana Rico dan mana Zio. Mungkin nanti dari perbedaan matanya. Biasanya sih kalo fisiknya mirip, perbedaannya di mata” jelasku.
“trus biar gak lupa gimana tuh?? Kalo pas mereka menggeliatkan tubuhnya bareng gimana?” tanya Jihan.
“ya untuk sementara kita bedain bajunya. Nanti Mas Bian mau beli gelang inisial nama mereka biar gak lupa” jawabku. “tapi ada satu perbedaan nyata mereka dimana yang tau hanya aku”
“apa?” tanya Ines dan Jihan bersamaan.
“Rico kalo nyusu maunya di sebelah kanan, sedangkan Zio di sebelah kiri. Mas Bian aja gak menyadari hal itu” bisikku yang membuat Ines dan Jihan membulatkan mulutnya.
“eh lihat deh baby Rico membuka matanya” ucap Jihan tiba-tiba yang membuatku dan yang lain mengalihkan pandangan kami ke arah bayi yang berada di dekapan Ines.
Aku memang melihat Rico membuka matanya, tapi tiba-tiba raut wajahnya perlahan berubah dan dia mulai mengeluarkan isakan. Aku langsung sigap mengambil Rico dari tangan Ines karena aku paham tangisannya menandakan dirinya haus.
“adududu…anak mama haus ya…cup cup cup...” aku mulai menimang-nimangnya karena tangisannya semakin kencang. Buru-buru aku membawanya masuk ke dalam kamarku.
“mas awasin Zio jangan sampai ikutan nangis juga. Aku belum mompa ASI soalnya” pesanku sebelum menutup pintu kamar.
Aku langsung menyingkap baju dan melepas kancing dalaman yang memang khusus untuk menyusui. Tangisan Rico perlahan mereda setelah menemukan apa yang dia cari. Sembari menunggu Rico selesai, aku mencari alat pompa ASI untuk memompa milikku yang satunya.
__ADS_1
Aku kebingungan mencari keberadaan pompa ASI milikku karena aku memang belum sempat menyusun barang-barang dari rumah sakit. Belum sempat aku menemukan pompa ASI, Bian menyusul ke dalam kamar membawa Zio yang sedang menangis.
“sayang…mas dan yang lain gabisa nenangin Zio ini” Bian terlihat panik saat menggendong Zio karena tangisannya tak kunjung berhenti, bahkan wajahnya memerah karena terlalu lama menangis.
“yaudah sini Zio aku barengin aja, soalnya Rico baru minum juga. Ini mas tolong bantu atur posisinya” Bian membantuku mengatur posisi Rico dan Zio yang ditidurkan di atas bantal, sedangkan aku juga mengatur posisiku agar bisa menyusui dengan nyaman.
“iya sayang…cup cup cup” aku langsung mengeluarkan milikku yang satunya dengan cepat. Menemukan apa yang dicari, Zio langsung melahap rakus milikku bahkan sampai terdengar suara saat mulutnya menghisap milikku.
“anak mama kehausan ya…maafin mama ya belum sempat mompa ASI buat kalian” aku mengusap pelan pipi Zio yang masih terdapat bekas air matanya. Rico terlihat tenang disampingnya, tidak terusik dengan tangisan saudaranya karena terlalu fokus dengan aktivitasnya. Aku tersenyum melihat mereka yang sangat lahap meminum ASI. Untung saja aku tidak mempunyai masalah dengan ASI, aku bersyukur bisa memproduksi banyak untuk asupan mereka.
“sayang…maafin mas ya” ucap Bian tiba-tiba saat aku sedang menikmati aktivitas menyusuiku.
“maaf karena apa mas?” tanyaku heran.
“karena mas belum bisa mengontrol emosi dalam mengasuh mereka. Jujur saat melihat mereka menangis, seketika mas langsung panik dan bingung apa yang harus mas lakukan untuk menghentikan tangisannya. Padahal sebenarnya mas tau apa yang harus dilakukan, tapi pikiran dan raga mas seolah tidak sinkron” raut wajah Bian terlihat bersalah saat mencurahkan isi hatinya.
“gapapa mas…namanya juga lagi masa transisi menjadi orang tua baru. Aku juga kadang merasa seperti itu, tapi sebisa mungkin aku tidak terlihat panik di hadapan mereka. Perlahan kita belajar sama-sama ya” jawabku menanggapi curahan hatinya.
“makasih ya sayang…kedepannya kita berjuang bersama menghadapi perubahan rutinitas kita dengan mereka. I love you mamanya Rico dan Zio” ucap Bian sambil mencium keningku.
“I love you too papanya Rico dan Zio”
*****
Apa mungkin mereka menunggu kepulangan papanya? Tadi memang Bian menghubungiku jika dia akan sampai sesudah isya karena harus menyelesaikan beberapa urusan di pabrik. Biasanya memang jadwalnya Bian untuk menyuapin makan malam si kembar karena Bian selalu sampai rumah jam 5 sore.
Sejak aku kembali ke Kediri dengan membawa Rico dan Zio, Bian selalu pulang kerja tepat waktu bahkan sebisa mungkin dia menyelesaikan pekerjaannya lebih awal agar bisa quality time dengan si kembar. Mungkin karena sejak hamil aku selalu ngidam tentang hal yang berhubungan dengan Bian, Rico dan Zio terlihat lebih dekat dengan papanya. Padahal mereka lebih banyak menghabiskan waktu denganku setiap harinya.
Aku saat ini memang sedang menikmati peranku sebagai ibu rumah tangga seutuhnya. Sejak aku menyerahkan tanggung jawab cake shop kepada Luna, aku hanya memantau perkembangannya sebulan sekali dari laporan yang dikirim via e-mail olehnya. Sebelumnya Bian sudah memutuskan jika aku akan di rumah sampai usia Rico dan Zio dua tahun, kemudian aku diijinkan membantu mengelola operasional kedai miliknya. Bian tidak menghalangi keinginanku yang akan tetap bekerja meskipun sudah memiliki anak, asal aku tetap memprioritaskan kebutuhan Rico dan Zio juga tidak melupakan kewajibanku sebagai istri.
Masa transisiku dari yang sebelumnya merupakan seorang wanita karir kemudian berubah menjadi seorang ibu rumah tangga ternyata membuatku sedikit kesulitan. Bahkan mama Hera sampai turun tangan langsung untuk membantuku mengasuh Rico dan Zio saat Bian sedang kerja. Aku masih belum bisa mengatur jadwal kegiatanku di rumah. Bian memang mempekerjakan seorang asisten rumah tangga untuk membantuku dalam mengurus rumah, tapi hal tersebut tidak serta merta membuatku fokus hanya mengurus anak. Aku merupakan tipe orang yang menomorsatukan kebersihan dan kerapihan, tidak sepenuhnya memberi tanggung jawab kepada simbok untuk mengurus rumah. Beberapa urusan yang tidak bisa kupercayakan kepada orang lain tetap menjadi tanggung jawab utamaku.
“loh sayang…ini anak-anak kok gak kamu suapin makan malamnya?” tanya Bian yang ternyata sudah pulang kerja. Aku akhirnya meninggalkan Rico dan Zio yang tidak mau makan malam dengan mendudukkan mereka di baby chair sambil memegang mainan milik mereka sembari menungguku menyiapkan makan malam untukku dan Bian yang sempat terbengkalai karena mengurus si kembar.
“gak tau lah…pusing aku mas. Mereka daritadi cuman nyembur makanannya terus. Mungkin mereka tau kali kalau ini jam papanya nyuapin mereka. Yaudah aku tinggal masak aja…ini aja makan malam buat kita belum siap loh gara-gara daritadi aku sibuk ngebujuk mereka buat makan” omelku karena terlanjur kesal dengan jadwalku yang berantakan. Aku memang tipe orang yang perfeksionis, selalu membuat jadwal untuk kegiatan yang kulakukan. Bian, Rico, dan Zio juga kubuatkan agenda agar bisa kupantau secara langsung aktivitas mereka.
Bian akhirnya keluar dari dapur tidak menanggapi omelanku. Bian memang sudah mengetahui kebiasaanku yang akan terus berbicara panjang lebar untuk meluapkan emosi dan akan diam dengan sendirinya jika sudah merasa puas. Aku memang berani mengoceh banyak jika hanya ada Bian.
“papa bersih-bersih dulu ya boys…nanti kita makan malam bersama” kata Bian sambil berjalan menuju kamar kami. Aku memang melarang Bian untuk menyentuh si kembar setelah pulang kerja dan membiasakannya untuk langsung membersihkan diri.
Kurang dari 10 menit Bian sudah kembali ke ruang makan untuk menemui si kembar. Aku juga mulai memindahkan makanan dari dapur ke meja makan.
“kalian tau ya kalau papa pulang telat…mama kalian sampai mengomel gara-gara kalian gamau makan sebelum papa pulang” aku melengos mendengar ucapan Bian yang menggodaku. Sesuai dugaanku, mereka akhirnya mau menelan makanannya saat tahu Bian menyuapinya.
“pa...pa...pa...” aku dan Bian langsung bertatapan ketika mendengar suara si kembar.
__ADS_1
“kata pertama merekaq!!!” ucapku dan Bian bersamaan.
*****
“HUAAA INI GAK ADIL...” teriakku protes.
“sabar sayang…” ucap Bian yang berusaha menenangkanku.q
“aku yang hamil, susah payah ngelahirin…eh gataunya wajahnya mirip kamu semua. Udah gitu mereka malah dekat sama papanya alih-alih aku yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama mereka. Trus sekarang…mereka malah nyebut kata 'papa' untuk ucapan pertamanya. Aku cemburu masss…” aku benar-benar meluapkan emosiku secara totalitas hari ini.
Aku melihat Bian yang terlihat menggoda di mataku saat ini. Senyum terbit di wajahku saat mengetahui apa yang harus kulakukan untuk meredam emosiku. Perlahan aku memindahkan posisiku untuk duduk di pangkuannya.
“aku marah lho mas sama kamu…kamu udah membuat si kembar berpihak ke kamu” ucapku sambil menggerakkan telunjukku di dadanya dengan tetap memasang ekspresi cemberut. Bian mengetahui jika aku menginginkan dirinya untuk melampiaskan emosiku.
“yuk kita ke kamar kalau kamu mau melampiaskan amarahmu sama mas” usul Bian sambil menahan gairahnya yang mulai muncul akibat sentuhan yang kuberikan. Aku menggelengkan kepala menolak usulannya.
“tapi disini dingin lho yang…nanti kamu masuk angin” saat ini memang kami sedang bersantai di halaman belakang rumah. Aku menghiraukan ucapan Bian dan langsung menyerangnya dengan ganas.
“arghhh…” erangku dan Bian bersamaan setelah kami melakukan pelepasan terakhir.
Aku menjatuhkan badanku di atas Bian yang terkulai lemas setelah aktivitas panas kami. Aku yang kalap karena emosi akhirnya bisa menumbangkan seorang Bian.
“maafin aku ya mas…aku hari ini lagi emosi banget soalnya. Mungkin karena mama gak datang kali ya…aku jadi kewalahan mengurus si kembar yang lagi aktif-aktifnya. Ditambah aku tiba-tiba merasa jealous dengan kedekatan kalian, padahal kemarin-kemarin juga biasa aja” aku akhirnya mengeluarkan keluh kesahku pada Bian.
Bian hanya mengusap lembut punggung polosku tanpa mengucapkan apapun. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Apa Bian juga kesal karena disambut oleh omelanku saat pulang tadi?
Aku melepaskan pelukan kami dan menatap Bian dalam. “mas tadi marah ya pas pulang tadi disambut omelan gak jelasku?”
“jujur mas tadi sempat kesal karena mendengar ocehanmu saat seharusnya mas disambut dengan senyuman hangat. Mas memang sudah terbiasa dengan kebiasaan kamu yang satu itu. Mungkin karena posisinya tadi mas juga lelah makannya mas jadi ikutan kesal melihat sikapmu tadi” aku semakin merasa bersalah mendengar ucapan jujur dari Bian.
“yaah…maafin aku ya mas…kedepannya aku akan berusaha mengatur emosiku agar tidak meluap saat mas pulang kerja…” Bian mengecup bibirku singkat yang membuatku terdiam.
“harusnya mas bisa memahami kalau kamu juga lelah mengurus anak-anak dan juga keperluan mas. Pekerjaan mas tidak sebanding dengan pekerjaanmu yang mengabdi sepenuhnya pada keluarga. Mas salut sama kamu selama 6 bulan ini benar-benar totalitas mengurus mas dan si kembar. Mas tau kamu sampai sekarang masih mengalami kesulitan karena sebelumnya kamu adalah wanita karir, mas benar-benar berterima kasih kamu sudah menjadi ibu dan istri yang baik untuk kita. Masalah si kembar, mas yakin perlahan mereka akan lebih dekat dengan kamu karena mas tidak akan bisa mengalahkan ikatan ibu dan anak” jelas Bian yang membuatku kembali memeluknya.
“oiya…kalau kamu mau mas memaafkan kamu, kita lanjutin yang tadi. Kamu gak lupa kan kita masih menyatu sekarang?” aku membulatkan mataku menyadari posisi kami saat ini. Aku melihat Bian mengedipkan sebelah matanya untuk menggodaku.
“kalo si kembar nangis gimana mas?” aku mencoba menahan Bian yang akan membawaku.
“kamu lupa kalo mas hafal jadwal mereka…lebih baik kamu bersiap untuk mengahadapi kekalahanmu selanjutnya” tanpa melepaskan penyatuan kami, Bian mengangkat tubuhku dan berjalan masuk ke dalam rumah.
“kamu jangan coba-coba melepasnya karena kita akan melakukannya di setiap ruangan” ucapnya yang membuatku bergidik ngeri menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.
Habislah aku…
...****************...
__ADS_1